
Pertunangan Bintang dan Cleo pun dikonfirmasikan batal. Ada pihak yang senang dan ada juga yang tidak senang. Banyak yang menganggap bahwa Hira lah yang menggoda Bintang terlebih dahulu sehingga Bintang tidak mau bertunangan dengan Cleo.
Semenjak kejadian itu, Hira menjadi tidak punya muka lagi atau malu saat ke kampus. Padahal dia bukanlah pihak yang bersalah dan dia bukanlah gadis penggoda seperti yang diberitakan. Kelas Hira pun menjadi tempat yang bahkan tidak nyaman baginya. Bahkan teman yang duduk di belakang kursinya pun sengaja menggosipkan dirinya.
"Susah ya kalo ada penggoda," sindir salah satu gadis.
"Gak sadar diri kali, ya? Baru-baru ini digosipin deket sama yang satunya, eh ... taunya malah ngerebut tunangan orang," sahut salah satu gadis lain.
Sepanjang jalannya mata kuliah di kelas, Hira berusaha fokus untuk belajar. Namun fokusnya terpecah karena suara orang-orang yang menggosip begitu kencang.
Kelas pun sudah selesai, baru saja Hira akan keluar teman-teman satu kelasnya pun menertawai dirinya, bahkan ada juga yang mencaci-makinya. Hira pun berlari kecil menuju luar kelas sembari menangis.
Sepanjang perjalanan menuju halte bus, Hira masih berlari sambil menangis. Tak sengaja dirinya pun bertabrakan dengan seseorang.
Bruk!
"Maaf...." lirih Hira sambil menunduk dan masih menangis.
"Hira?"
Ternyata orang yang ditabraknya adalah Tirta.
"Tirta?" Hira mendongak dan berusaha mengenali Tirta yang memakai masker dan topi.
Tirta yang melihat Hira yang menangis pun langsung menarik tangannya dan membawa Hira menuju mobilnya.
.
.
.
***
Di dalam mobil Tirta.
Hira tak berkata sepatah katapun, dia hanya menundukkan kepalanya. Tirta pun merasa bingung harus bagaimana. Akhirnya Tirta pun mencoba untuk mengajak Hira berbicara.
"Ada apa, Ra? Kenapa lo nangis?" tanya Tirta.
Hira tetap diam dan tidak menjawab.
Tirta menghela nafasnya. "Cerita aja sama gua, Ra ... siapa tau gua bisa kasih solusi."
"G-gua dibilang perebut tunangan orang, Ta."
Akhirnya Hira pun menjawab pertanyaan dari Tirta.
Tak lama kemudian, ponsel Tirta pun bergetar.
Drrt-drrt-drrt!
Ternyata itu telepon dari Bintang.
In call.
"Lo dimana, Ta? Liat Hira, gak?"
"Gua di parkiran kampus, di dalam mobil. Hira lagi sama gua, lo kesini aja."
"Oke, gua kesana."
Tut!
End call.
__ADS_1
***
Tak selang berapa lama, Bintang pun datang dan mengetuk kaca jendela mobil Tirta. Tirta pun membuka pintu mobilnya.
"Masuk ... bawa aja mobil gua, sini kunci mobil lo," ujar Tirta sembari keluar dari mobilnya.
Bintang pun memberikan kunci mobilnya dan masuk kedalam mobil Tirta.
"Makasih, Ta," ucap Bintang.
Tirta hanya tersenyum sembari berjalan menjauh.
.
.
.
***
Bintang menghidupkan mesin mobil dan melajukannya menjauh dari lingkungan kampus. Dia tidak bertanya apapun kepada Hira, karena dia tahu gadis yang disayanginya itu mungkin perlu waktu untuk menstabilkan emosinya.
Bintang membawa Hira jalan melaju cukup jauh dari arah kampus mereka. Entah kemana dia akan membawa Hira. Hira yang tadinya hanya diam menunduk pun mulai menikmati keindahan malam di sepanjang jalan melalui kaca jendela mobil.
"Perasaan kamu udah jauh lebih baik?" tanya Bintang yang masih fokus menatap kedepan.
"Udah lumayan, kok ... terus kamu mau ajak aku kemana?" Hira merasa sangat penasaran.
"Kamu duduk diem aja dan nikmati aja pemandangan sepanjang jalan," sahut Bintang.
Hira hanya tersenyum sembari menatap Bintang yang masih fokus menyetir mobil.
Bintang ... selama ini aku belum pernah pacaran dan pacar pertama aku itu kamu. Apa aku pantas untuk kamu? Kenapa perjalanan cinta kita rumit banget kayak gini? Gak kayak perjalanan cinta anak muda pada umumnya. Apa mungkin karena dunia kita berdua berbeda? Kamu seorang idola terkenal dan aku cuma gadis biasa, batin Hira.
"Apa aku seganteng itu? Sampe kamu gak ngedip lagi mandangin aku?" tanya Bintang.
Hira pun terkejut dan langsung berpaling menatap kaca jendela di sampingnya.
"Pfft ... terciduk jadinya langsung ngeles gitu," gurau Bintang.
Wajah Hira pun merona merah karena malu, dia tak berani menatap wajah Bintang yang sedang menertawakan dirinya.
.
.
.
***
Akhirnya mereka sampai di sebuah pantai yang berada di kawasan Ancol. Hira merasa senang dan lebih baik saat melihat pemandangan laut malam yang indah dihiasi lampu yang berwarna-warni. Bintang pun mengajak Hira berjalan menyusuri jembatan untuk lebih menikmati suasana malam itu.
"Kalo liat pemandangan kayak gini ... aku jadi inget waktu nyebrang pulau malam hari," ujar Hira.
"Kampung halaman kamu di seberang pulau, sih," sahut Bintang.
"Aku jadi kangen pulang kampung," ucap Hira.
"Aku malah belum pernah naik kapal feri," ujar Bintang sambil nyengir.
"Masa iya? Bohong kamu!" tanggap Hira serasa tidak percaya.
"Gak percaya banget ... aku itu kalo kemana-mana naik pesawat dan kalo naik kapal itu juga di tempat-tempat wisata tapi bukan kapal feri yang besar kayak gitu," jelas Bintang.
__ADS_1
"Kalo kapal pesiar?" tanya Hira lagi.
"Belum pernah ... tapi seru juga kalo kita liburan di kapal pesiar, he-he," ujar Bintang.
Hira pun langsung tersenyum sembari menatap wajah Bintang.
Bintang langsung mencubit pipi Hira gemas.
"Aku seneng bisa buat kamu senyum lagi," ucap Bintang.
Bintang menggenggam erat tangan Hira dan mengajaknya menyusuri jembatan itu. Sejenak mereka melupakan masalah yang sedang mereka hadapi sekarang. Mereka sangat bahagia sambil menikmati keindahan pantai dimalam hari dari atas jembatan.
.
.
.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Bintang pun mengantar Hira pulang. Perasaan Hira jauh lebih baik setelah menikmati pemandangan pantai malam hari yang indah. Sebelum turun dari mobil, Hira menanyakan sesuatu kepada Bintang.
"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Hira.
"Boleh," jawab Bintang sembari tersenyum.
"Apa kamu yakin kalo aku jodoh kamu nanti?"
Hira awalnya ragu menanyakan hal itu kepada Bintang tapi hati kecilnya sungguh ingin tahu.
Bintang tidak langsung menjawab pertanyaan Hira. Sejenak dia terdiam dan sempat berpikir.
"Aku bingung mau jawab apa, karena jodoh, rejeki dan maut Tuhan yang tentukan. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, sejujurnya aku belum ada pikiran untuk nikah saat ini. Pertunangan aku dan Cleo juga paksaan dari ibu tiri aku," jawab Bintang.
Hira terdiam saat mendengar jawaban dari Bintang. Mungkin dia salah menanyakan hal itu kepada Bintang saat ini. Dia pun menjadi sedikit menyesal karena telah menanyakan hal itu.
"Maaf ... aku tanya kayak gitu," ucap Hira.
Bintang tersenyum dan mengacak-acak rambut Hira.
"Gak apa-apa, kok ... kita masih muda dan banyak hal yang belum kita capai. Saat ini kita jalani aja hubungan kita, tapi kamu gak perlu khawatir karena bagi aku, kamu adalah hal yang terpenting dalam hidup aku selain ibuku," ungkap Bintang.
Hira pun langsung memeluk Bintang erat. Dia sangat senang saat Bintang berkata kalau dia adalah salah satu hal terpenting dalam hidupnya.
.
.
.
***
Next Episode 😁👍>>
Hello guys... bagi kalian yang suka novel bertabur cogan alias cowok ganteng. Bisa mampir ke novel adek onlen author 🤭🤭
Judul : Kabut Menjelang Pernikahan.
Penulis : Emekama.
Cerita tentang seorang gadis berusia 21 tahun yang bernama Keyra yang harus memilih salah satu pria untuk dinikahinya dari tujuh pria tampan yang mendekatinya.
Kuy kepoin dan baca 😁👍
__ADS_1