
Rencananya, syuting videoklip akan dilakukan selama tiga hari. Hari ini mereka akan melakukan syuting disalah satu kafe recommended di Dubai, yaitu Roseleaf Cafe. Kafe ini memiliki desain interior yang cantik dan cozy. Kafe ini juga menyediakan berbagai jenis kopi dengan aroma yang autentik dan berbagai jenis teh. Teh yang paling terkenal di kafe ini adalah teh Australia Aromatik.
Kali itu adegan yang akan diambil adalah Bintang dan Cleo yang terlihat bahagia sembari menikmati kopi panas. Ada pula adegan dimana Bintang tidak sengaja menumpahkan kopi di baju yang dikenakan oleh Cleo, lalu Cleo ke kamar mandi dan bertemu Tirta.
"Jangan lupa kopinya diganti yang gak panas!" perintah sutradara kepada salah satu kru.
Sepertinya ada sesuatu hal yang terpikir oleh Bintang sehingga dia tersenyum penuh arti sambil melihat kearah Cleo yang duduk di kursi depannya. Cleo pun terlihat curiga dengan gerak-gerik Bintang.
"Kenapa lo senyum ke gua? Baru sadar kalo gua cantik?" tanya Cleo dengan pedenya.
"Pfftt ... mau lo secantik apapun ... bagi gua lo itu tetep nenek sihir," jawab Bintang sembari menahan tawanya.
Cleo terlihat sangat kesal dan menggertakan giginya.
.
.
.
***
Setelah break selama sepuluh menit, akhirnya mereka pun melanjutkan proses syuting. Adegan yang ditunggu oleh Bintang pun tiba, yaitu menumpahkan kopi ke baju Cleo.
"Oke! Kita mulai! Ready! Action!" teriak sutradara memberikan aba-aba.
Bintang pun memulai adegannya. Bintang duduk berdampingan dengan Cleo sembari beradegan akan foto bersama dengan Cleo yang memegang kamera dan Bintang memegang segelas kopi.
Byur!
Bukan ke baju Cleo tapi Bintang malah menyiram wajah Cleo dengan kopi yang dipegangnya.
Cut!
"Bintang! Kenapa kamu siram wajah Cleo bukan bajunya?!" teriak sutradara sambil beranjak dari kursinya.
"Sorry ... saya gak sengaja," ujar Bintang.
Cleo yang kesal pun langsung berlari meninggalkan Bintang dan ingin menangis. Sedangkan semua orang yang melihat pun tertawa kecuali Dean yang langsung mengikuti Cleo.
"Ha-ha-ha! Kak Bintang ... kasian make up-nya luntur nanti," ujar Jerry.
Bintang hanya tersenyum kearah Jerry dan Hira yang berdiri berdampingan.
"Udah-udah ... gak boleh gitu, Jer," ucap Hira.
Jerry hanya nyengir kuda kepada Hira.
.
__ADS_1
.
.
***
Ternyata Cleo berlari menuju toilet, dia terlihat sangat kesal dan menangis sesenggukan sambil mencuci wajahnya yang tersiram kopi tadi. Dia merasa sangat malu karena telah diperlakukan seperti itu oleh Bintang.
Dean hanya berdiri di depan pintu toilet dan terlihat ragu-ragu untuk masuk kedalam. Namun dia merasa tidak tega kepada Cleo dan akhirnya masuk kedalam.
Dean perlahan mendekati Cleo yang masih menangis di depan wastafel. Dia pun menepuk-nepuk pundak Cleo untuk menenangkannya.
"Sabar ... udah jangan nangis," kata Dean.
Cleo seketika menoleh kearah Dean dan langsung memeluknya.
"Hiks ... hiks ... emang salah, ya ... kalo gua suka sama Bintang dan berusaha dapetin hatinya," ujar Cleo sembari menangis sesenggukan.
Dean membalas pelukan Cleo dan mengusap lembut rambutnya.
"Gak ada yang salah, kok ... kita bebas menyukai dan mencintai seseorang, tapi kita harus tau dan sadar kalo perasaan gak bisa dipaksain," ujar Dean.
Cleo makin menangis kencang mendengar perkataan dari Dean. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Udah jangan nangis lagi."
Dean melepaskan pelukan Cleo dan mengusap air mata Cleo dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari kantung celananya. Cleo hanya menunduk dan masih menangis.
"Gua tau kalo lo suka banget sama Bintang tapi lo gak boleh paksain perasaan Bintang buat membalas perasaan lo," saran Dean.
"Sama dengan perasaan suka gua ke lo ... gua gak akan maksa lo buat suka sama gua juga," tukas Dean.
Dean memberikan sapu tangan itu kepada Cleo sebelum dia pergi.
"Pake ini buat hapus air mata lo ... tolong jaga baik-baik karena ini dari seseorang yang penting buat gua," pesan Dean.
Selepas Dean pergi, Cleo pun baru sadar dan memperhatikan sapu tangan pemberian Dean. Sapu tangan berwarna biru muda dengan tulisan nama Cleo.
"Ini ... pola rajutan ibu dan ini sapu tangan gua. Kak Dean kok bisa punya?" Cleo bertanya kepada dirinya sendiri.
Cleo masih belum sadar bahwa dulu sewaktu kecil, dia pernah memberikan sapu tangan itu kepada Dean.
.
.
.
***
Malam harinya, syuting pun sudah selesai. Esok adalah hari terakhir mereka syuting dan lusa mereka akan kembali pulang ke Indonesia. Cleo tidak mengganggu Hira dan langsung tertidur setelah pulang syuting.
__ADS_1
Hira bergumam sendiri sambil memandangi wajah Cleo yang sedang tertidur tanpa pulasan make-up.
"Dia cantik juga kalo gak pake make-up ... dia masih 16 tahun, kan ... masih muda banget. Dia beneran udah tidur? Selamat tidur Cleo, jangan sedih lagi dan jangan benci dengan gua, ya."
Hira pun merebahkan tubuhnya tepat di samping Cleo untuk tidur. Kegiatannya sebagai penerjemah untuk membantu prosesi syuting cukup melelahkan baginya.
Tiba-tiba Cleo membuka matanya. Ternyata Cleo masih belum tidur dan sedari tadi ternyata mendengar semua gumaman Hira.
Kak Hira ternyata baik banget ... dia bahkan gak marah sama sekali dengan gua. Padahal selama ini gua jahat banget ke dia. Sekarang gua paham, kenapa Kak Bintang suka banget sama Kak Hira, batin Cleo.
.
.
.
***
Di kamar Dean dan Jerry.
Dean membaringkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit-langit kamar hotel. Sedangkan Jerry sudah tertidur di samping Dean.
Gua udah putusin buat ngelupain Cleo. Gua cuma gak mau dia terbebani karena tau kalo gua suka banget sama dia, batin Dean.
Tak berapa lama, terdengar suara berisik dering ponsel. Ternyata sumbernya adalah ponsel milik Jerry. Dean pun berusaha membangunkan Jerry bahwa "Big Boss" menelepon.
"Jer! Bangun! Ada telepon, tuh!" teriak Dean sambil menggoyang-goyangkan tubuh Jerry.
"Apasih, Kak?!" sahut Jerry masih sambil memejamkan matanya.
"Ada telepon dari Big Boss," ujar Dean sembari membaca nama pemanggil telepon di layar ponsel Jerry.
Mendengar kata Big Boss, Jerry pun langsung terbangun dan menyambar ponselnya dari tangan Dean. Dia pun langsung mengangkat teleponnya dan beranjak dari tempat tidur menuju balkon.
Raut wajah Jerry nampak berubah menjadi serius ketika menerima telepon tersebut. Dia bahkan beberapa kali mengepal tangannya dan menggertakan giginya.
"Aku masih harus syuting besok ... mungkin lusa baru bisa pulang," ucap Jerry kepada seseorang yang disebut Big Boss melalui ponselnya.
"Baiklah ... aku akan segera pulang ketika proses syuting selesai," ucap Jerry seraya menutup ponselnya.
Dean yang sedari tadi memperhatikan pun menghampiri Jerry yang masih berada di balkon.
"Kenapa? Disuruh buru-buru pulang lagi?" tanya Dean.
"Ya biasa itu," jawab Jerry singkat.
.
.
.
__ADS_1
***
Next episode comming soon 😁👍