
Setelah kejadian itu, Tirta pun berpamitan kepada ibu dan adiknya. Dengan perasaan kacau Tirta mengendarai mobilnya. Entah mengapa Tirta melajukan mobilnya menuju sebuah tempat selain dorm. Tirta pun mengirim pesan kepada seseorang.
Chat on.
"Ada di kosan?"
"Iya, kenapa, Ta?"
"Bisa keluar? Gua di depan kosan, lo."
"Hm ... oke."
Chat off.
***
Terlihat sosok seorang gadis berambut hitam panjang berjalan menghampiri Tirta yang sedang bersandar di depan mobilnya. Gadis itu ternyata adalah Hira.
"Ada apa, Ta? Malem-malem gini ke kosan gua," tanya Hira.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Hira, Tirta pun langsung menghampiri Hira dan memeluknya. Hira terkejut dan ingin melepaskan pelukan Tirta.
"Sebentar ... jangan lepas, lima menit aja, Ra," lirih Tirta.
Hira pun tak lagi berusaha melepaskan pelukan Tirta. Hira merasa bahwa Tirta mungkin sedang memiliki masalah. Hira pun menepuk-nepuk punggung Tirta.
"Ada masalah apa, Ta?" tanya Hira penasaran.
Perlahan Tirta melepaskan pelukannya ke Hira. Dia memandang Hira sambil memegang kedua bahu gadis itu.
"Bisa ikut gua sebentar? Kayaknya kalo ngobrol disini gak enak," ajak Tirta.
Hira hanya mengangguk dan mengikuti Tirta masuk kedalam mobilnya.
***
Mereka berdua pun sampai di sebuah taman kota, mobil Tirta hanya diparkir di pinggir jalan. Mereka berdua tidak turun dari mobil karena keadaan lumayan ramai. Akan terjadi keributan jika Tirta turun dan keluar dari mobil.
"Maaf ya, Ra, gua ganggu lo malem-malem begini," ucap Tirta.
"Gak apa-apa, Ta." Hira menanggapi ucapan Tirta dengan tersenyum kepadanya.
"Jadi, ada apa?"
Tirta pun menceritakan perihal kejadian yang dialaminya hari ini kepada Hira secara terperinci.
Hira pun akhirnya mengetahui dan mengerti penyebab Tirta bisa terlihat sangat sedih.
"Tapi kenapa kok, lo malah nemuin gua ketimbang temen-temen satu grup lo?" tanya Hira heran.
__ADS_1
Tirta terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Hira.
"Entahlah...." jawab Tirta singkat.
Hira pun tak bertanya lagi setelah Tirta memberikan jawabannya.
"Oke, gua anter lo pulang, ya?" ajak Tirta.
Hira hanya mengangguk.
***
Keesokan paginya, tersebar berita heboh pasal Tirta sang visual grup idol Number One berkencan. Ternyata pada malam Tirta menemui Hira, ada paparazi yang mengikuti dan memfoto mereka berdua. Foto yang tersebar adalah foto saat Tirta tengah memeluk Hira.
Ruang CEO, Smart Entertainment.
Pak Agung memanggil Tirta dan Hira menuju ruangannya.
"Apa benar kalian berkencan?" tanya Pak Agung memastikan.
Tirta dan Hira menjawab secara bersamaan. "Tidak, Pak!"
Pak Agung hanya tersenyum mendengar jawaban mereka berdua.
"Baiklah, kalian boleh melanjutkan aktivitas masing-masing." Pak Agung mempersilahkan Tirta dan Hira pergi.
Tirta dan Hira hanya heran dan saling menatap satu sama lain.
Pak Agung sering sekali bertatap muka langsung dengan para artisnya yang terjerat skandal percintaan, sehingga dia bisa tahu mana yang jujur dan mana yang berbohong.
***
Baru saja keluar dari ruang Pak Agung, Tirta dan Hira sudah ditunggu oleh Bintang dengan wajah yang masam. Belum sempat Tirta menyapa Bintang, Bintang sudah memukul wajah Tirta.
Buk!
Bintang memukul wajah Tirta bertubi-tubi hingga Tirta tidak sempat menghindar. Hira yang melihat hal tersebut pun berteriak dan berusaha menghentikan Bintang yang memukuli Tirta.
"Stop! Berhenti!" teriak Hira.
Bintang tetap saja memukul wajah Tirta walaupun Hira sudah berteriak. Wajah Bintang terlihat merah padam seperti menahan sebuah rasa kesal dan amarah yang mendalam. Karena kejadian itu, Pak Agung pun keluar dari ruangannya. Tak berapa lama, Marcel, Dean dan Jerry pun datang. Mereka lalu menarik tubuh Bintang untuk menjauh dari Tirta.
"Ada apa ini?!" pekik Pak Agung.
Mereka semua hanya diam saja.
"Kalian semua! Masuk ke ruangan saya sekarang!" perintah Pak Agung.
Hira membantu Tirta berdiri dan menuntunnya untuk masuk kedalam ruangan Pak Agung. Bintang yang melihat hal itu pun bertambah kesal. Dia melepaskan diri dari Marcel, Dean dan Jerry, lalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Bintang!" teriak Dean.
Bintang berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Dean yang memanggilnya.
Dean hendak mengejar Bintang, namun Marcel menghalanginya.
"Udah, biarin dia tenang dulu," ucap Marcel sambil menarik tangan Dean.
Hira hanya menatap punggung Bintang dengan mata yang berkaca-kaca. Tirta yang berada disampingnya hanya bisa diam memandang Hira yang terlihat ingin menangis itu.
Mereka semua pun memasuki ruangan Pak Agung kecuali Bintang yang sudah pergi.
***
Pak Agung duduk sambil memijat kepalanya. Dia melihat wajah Tirta yang nampak lebam dan dengan bibir yang sedikit mengeluarkan darah.
"Hah ... jadi, kenapa Bintang bisa memukul Tirta?" tanya Pak Agung.
Mereka berlima hanya saling memandang sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Agung.
"Bintang salah paham terhadap saya, Pak," jawab Tirta memberikan penjelasan.
"Salah paham tentang apa?" Pak Agung berusaha mengorek lebih dalam informasi dari Tirta.
Tirta terlihat sangat bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari Pak Agung. Karena sudah tertulis jelas peraturan dari agensi bahwa mereka tidak boleh berpacaran sebelum lewat lima tahun berkarir sedangkan mereka baru berkarir selama dua tahun dari semenjak debut.
"Ehm ... ada sebuah masalah dalam pembuatan lagu baru kami, Bintang tidak suka kalau saya mengubah sedikit liriknya sehingga dia marah," jelas Tirta dengan alasan bohongnya yang terlintas begitu saja dipikirannya.
Alasan Tirta bisa tepat karena Bintang merupakan orang yang perfeksionis dan tidak suka kalau pekerjaannya diganggu oleh orang lain. Kebetulan pula hari ini, Bintang menyerahkan draft lagu yang dibuatnya kepada pihak produser yang menangani rekaman untuk di evaluasi.
"Ini hanya sebuah masalah sepele, mengapa Bintang bisa semarah itu? Lagipula draft lagu yang dibuat tidak langsung begitu saja akan direkam," ujar Pak Agung heran.
"Ah ... mungkin Bintang sedang dalam mood yang tidak bagus, Pak." Marcel membantu Tirta memberikan alasan kepada Pak Agung.
Sejenak Pak Agung berpikir, apa mungkin masalahnya dengan Bintang yang membuat mood anaknya itu tidak pernah bagus. Karena hal itu, Tirta pun menjadi korbannya.
Pak Agung pun mempersilahkan mereka untuk keluar dan mengingatkan kepada Tirta untuk segera mengobati luka lebam di wajahnya karena wajah mereka adalah aset yang berharga bagi agensi.
***
Bintang yang masih sangat kesal pun mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Karena pikirannya yang kacau dan tidak fokus menyetir, mobilnya pun menyenggol sebuah pohon yang ada di pinggir jalan. Untung saja Bintang tidak apa-apa, hanya bagian bumper depan mobil yang sedikit penyok.
"Kenapa kalian berdua tega!" teriak Bintang kesal sambil memukul setir mobil dengan kedua tangannya.
"Buat apa lo nerima gua, kalo lo sama Tirta dibelakang gua?!"
Bintang terbakar cemburu dan emosi tanpa tahu kejadian yang sebenarnya terjadi.
***
__ADS_1
^Bintang jangan cemburu buta dong, dengerin dulu kek penjelasan dari Hira & Tirta 😩😩^
Next Episode>>