Perfect Idol

Perfect Idol
Sadar diri


__ADS_3

Tirta masih menggandeng tangan Hira menuju mobilnya. Tirta membukakan pintu mobilnya dan meminta Hira untuk masuk kedalam. Kemudian Tirta pun masuk dan duduk di kursi pengemudi.


"Lo gak apa-apa kan, Ra?" tanya Tirta khawatir.


"Gua gak apa-apa kok, Ta," jawab Hira sembari tersenyum.


Tirta memegang rambut Hira yang basah. Tangan Tirta terasa lengket saat memegangnya. Hira pun menampik tangan Tirta karena merasa tidak nyaman dengan perlakuannya.


"Kenapa, Ra?" Tirta mengeryitkan dahinya sembari menatap Hira.


"Takut ada gosip lagi tentang kita, Ta," tukas Hira.


Tirta hanya tersenyum sedikit tertawa saat mendengar pernyataan dari Hira.



"Kaca mobil gua gelep, lagian disini sepi, jadi gak ada yang liat," ujar Tirta.


Hira hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa.


Melihat Hira yang hanya terdiam, Tirta pun mengeluarkan tisu basah yang ada di dashboard mobilnya. Tirta mengeluarkan satu helai tisu basah dan mengusap lembut wajah Hira yang lengket itu.


Hira hanya membeku sambil menatap Tirta yang sedang fokus mengelap bagian dahinya.


"Kok malah bengong? Gak mau ngelap sendiri?" tanya Tirta sambil tersenyum simpul.


Hira pun langsung mengambil tisu basah dari tangan Tirta dan mengelap wajahnya sendiri.


Tirta pun menghidupkan mesin mobilnya dan membawa Hira ke suatu tempat.


Di tengah-tengah perjalanan Hira pun merasa penasaran, kemanakah Tirta akan membawanya.


"Kita mau kemana, Ta?" tanya Hira penasaran.


"Udah ikut aja," jawab Tirta sambil tersenyum kearah Hira.


.


.


.


***


Setelah sekitar sepuluh menit perjalanan, akhirnya mereka berdua pun sampai di parkiran sebuah butik yang terbilang cukup besar. Dari penampilan gedungnya pun terlihat bahwa itu adalah butik ternama. Sebelum turun, Tirta pun memakai masker dan topinya terlebih dahulu.


"Yuk kita turun," ajak Tirta.


Hira hanya menurut dan turun. Hira mengikuti Tirta dari belakang dan sambil melihat-lihat sekeliling parkiran yang banyak sekali ditumbuhi bunga asoka merah yang ditata sedemikian rupa.


Bruk!


Tak sengaja Hira menabrak punggung Tirta karena tidak fokus melihat ke depan.


"Kenapa, Ra?" tanya Tirta sambil berbalik kearah Hira.


"He-he, gak kok, cuma kagum sama parkiran yang ditanami bunga," ujar Hira.


Tirta hanya tersenyum dibalik maskernya.


***


Mereka berdua pun masuk kedalam butik tersebut. Baru saja mereka masuk, ada seorang wanita cantik yang berumur diatas 30an tahun tersenyum kearah mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu ngajak siapa?" tanya wanita itu kepada Tirta sambil tersenyum.


"Ah! Ini temen aku, Kak. Kakak masih aja kenal aku walaupun aku udah pake masker dan topi," ujar Tirta.


"Iya jelas dong, udah berapa tahun kita kenal, Dek. Masa kakak gak kenal kamu," tukas wanita itu.


"Kenapa teman kamu rambutnya lepek gini, Dek?" Terlihat raut wajah heran pada wanita itu.


"Nanti aku ceritain," jawab Tirta.


Hira hanya diam saja karena bingung ingin bicara apa. Dia hanya tersenyum kepada wanita cantik yang baru dilihatnya itu.


"Kak, aku keatas, ya, kakak tau kan yang Tirta mau?"


Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Wanita cantik itu bernama Gabriela, dia adalah kakak sepupu Tirta yang merupakan seorang desainer muda yang handal. Dia mulai membuka butiknya pada lima tahun yang lalu saat dia masih berusia 27 tahun. Tirta sangat dekat dengan Gabriela sejak masih kecil, sehingga apapun yang sedang dialami dan dirasakannya selalu diceritakan kepada kakak sepupunya itu.


***


Tirta mengajak Hira ke sebuah ruangan yang cukup besar di lantai atas butik tersebut. Ruangan itu bisa dibilang sebuah kamar besar dengan balkon yang menyuguhkan pemandangan hiruk pikuk kota Jakarta.


"Mandi, gih."


Tirta meminta Hira untuk membersihkan badannya karena sudah lengket dengan air teh manis yang disiram salah seorang gadis penggemar fanatik Tirta.


Hira hanya diam tak menjawab.


Tirta pun menghela nafasnya, karena heran Hira sedari tadi tak banyak bicara.


"Oke, gua bakal turun dan lo mandi, nanti ada baju yang udah disediain di atas kasur," ucap Tirta.


"Hm ... oke," tanggap Hira singkat.


***


Tirta menuju ruang kerja Gabriela di lantai bawah. Terlihat Gabriela sedang duduk sambil mengerjakan sesuatu di laptop miliknya.


"Lagi ngapain, Kak?" tanya Tirta sambil tersenyum.


"Kamu dateng-dateng ngagetin aja!" teriak Gabriela kaget.


"He-he, Kak Gab bisa kaget juga," tukas Tirta.


Gabriela pun berhenti menggunakan laptopnya dan menutupnya. Tirta pun duduk di sebuah sofa bermotif garis hitam putih yang berada di ruangan tersebut.


"Jadi dia gadis itu? Siapa namanya?" tanya Gabriela.


"Hira," jawab Tirta singkat sambil tersenyum kearah Gabriela.


"Kamu mau rebutan sama Bintang?" Gabriela bertanya sambil berjalan mendekati Tirta.


"Gak, Kak," jawab Tirta dengan nada datar yang keluar dari mulutnya.


Gabriela hanya menggelengkan kepalanya melihat reaksi Tirta yang begitu datar. Dia tau benar bahwa Tirta memang sungguh menyukai Hira. Namun dia tidak ingin berebutan dengan temannya sendiri.


"Kamu gak pernah ngajak siapa-siapa kesini apalagi cewek," ujar Gabriela.


"Aku kan pernah ngajak temen-temen ku, Kak."


Gabriela hanya tersenyum mendengar reaksi dari Tirta. "Ya tapi kan cowok semua, Ta."


"Kamu gak ada kegiatan di agensi?" tanya Gabriela.

__ADS_1


"Hari ini cuma latihan biasa, tapi besok baru agak sibuk karena kami mau rilis single baru," jawab Tirta.


***


Sementara itu, Hira sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia pun ingin keluar untuk menemui Tirta. Baru saja dia melangkahkan kakinya kearah pintu, sudah ada suara ketukan dari luar.


Tok-tok-tok!


Hira pun bergegas menuju arah pintu dan membukakan pintunya. Baru saja membuka pintu, Hira kaget dengan seseorang yang berdiri didepannya sambil tersenyum.



"Kamu kok bisa disini?" tanya Hira heran.


"Tadi Tirta nelpon aku, katanya kamu lagi sama dia di butik, Kak Gab," jawab Bintang.


Hira hanya tersenyum sambil menampakkan gigi putihnya.


"Terus Tirtanya kemana?"


"Mungkin lagi di ruang kerja, Kak Gab."


Bintang pun menggandeng tangan Hira menuju lantai bawah tempat dimana Tirta dan Gabriela berada.


***


Di ruang kerja Gabriela.


Bintang menyapa Gabriela yang sedang mengobrol dengan Tirta.


"Halo, Kak Gab," sapa Bintang.


"Halo, Bintang," sahut Gabriela.


Tirta pun terfokus kepada tangan Bintang dan Hira yang saling menggenggam erat. Tirta mungkin merasa cemburu tapi dia pun sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa.


"Kalian kalo mau duluan gak apa-apa," ujar Tirta.


Karena mendengar ucapan Tirta, akhirnya Bintang dan Hira pun langsung pamit.


***


Tirta hanya duduk termenung di sofa empuk itu. Gabriela yang tadinya sudah memulai pekerjaannya pun menghentikan lagi pekerjaannya.


"Kamu gak nyesel gak mau saingan sama Bintang?"


"Aku gak bakalan nyesel, Kak. Cinta itu gak harus memiliki dan gak bisa dipaksakan. Asal orang yang kita suka atau cintai bahagia, itu pun udah cukup," jawab Tirta.


Gabriela pun tersenyum mendengar jawaban dari Tirta. "Ternyata, adik kecilku ini sudah dewasa."


Tirta hanya tertawa renyah saat mendengar ucapan dari Gabriela.


.


.


.


***


^Tirta sama aku aja 🤣🤣🤣^


Next Episode>>

__ADS_1


__ADS_2