
Marcel masih mencoba menenangkan Fani yang masih menangis. Kejadian itu pun diperhatikan oleh Abang penjual nasi goreng itu, dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah, Neng ... biarin aja cowok kayak gitu mah, kalo saya jadi cewek pasti saya lebih milih abang ganteng ini," kata Abang penjual nasi goreng sambil menunjuk Marcel dengan dagunya.
Fani seketika berhenti menangis dan wajahnya bersemu merah karena mendengar perkataan Abang penjual nasi goreng itu. Marcel pun menjadi salah tingkah dan menjadi canggung kepada Fani.
"Ha-ha-ha! Abang bisa aja ngeledeknya, orang lagi sedih malah diledekin," tanggap Marcel.
Abang penjual nasi goreng itu hanya tertawa sambil sibuk memasak nasi goreng pesanan orang di wajan penggorengan.
Akhirnya Marcel memutuskan untuk mengantarkan Fani pulang. Sebelum pulang dia membayar dulu nasi gorengnya.
"Berapa, Bang?" tanya Marcel.
"Lima belas ribu," jawab Abang penjual nasi goreng itu.
"Eh! Tapi kalo mau sekalian sama Neng cantik dan pacarnya yang kabur, totalnya jadi 45 ribu, he-he," tambah Abang penjual nasi goreng itu.
"Buset! Maen kabur aja tapi kagak bayar, dasar gak ada akhlak," gerutu Marcel.
Marcel pun mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan menyerahkan kepada penjual nasi goreng itu.
"Kembaliannya buat Abang," ucap Marcel sambil berjalan menuju mobilnya.
"Wah! Makasih loh, Bang! Gua doain semoga pedekate-nya lancar," sahut Abang penjual nasi goreng.
Marcel pun tersenyum canggung seraya memperlihatkan giginya, menanggapi ucapan Abang penjual nasi goreng itu.
Marcel mendekati Fani dan menggandeng tangan Fani yang masih mematung duduk di kursi. Fani pun kaget karena tiba-tiba Marcel menggandeng tangannya.
"Yuk! Gua anterin pulang," ajak Marcel.
"Eh ... i-iya...." tanggap Fani canggung.
Bak seorang putri raja, Marcel membukakan pintu mobil untuk Fani. Fani merasa malu sekaligus senang karena mendapatkan perlakuan istimewa dari Marcel.
"M-makasih, ya," ucap Fani gugup.
Marcel hanya tersenyum manis kepadanya dan berlalu untuk masuk kedalam mobil juga.
Senyuman Marcel ... sumpah! Kalo gua adalah marshmellow pasti gua akan meleleh, soalnya api cinta Marcel udah ngebakar gua. Apa ini musibah tapi membawa berkah? batin Fani.
***
Marcel pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya.
"Rumah lo dimana?" tanya Marcel.
"Gua ngekost disini, gak punya rumah, he-he, jawab Fani.
__ADS_1
Marcel hanya mengangguk dan Fani pun memberitahukan alamat kost-nya kepada Marcel.
***
Sekitar lima menit berlalu suasana pun menjadi hening. Marcel pun memecah suasana hening itu dengan mencoba mengajak Fani mengobrol.
"Emang lo asli mana? Maksudnya kota mana?" tanya Marcel penasaran.
"Uhm ... gua asal Palembang," jawab Fani.
"Ah! Iyakah? Gua juga asal sana, loh," ujar Marcel girang.
"Udah tau, kok, he-he," tanggap Fani.
"Ah! Iya ya, bukan rahasia lagi, ha-ha-ha."
Marcel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa obrolannya dengan Fani terasa garing. Marcel memutar otaknya, bagaimana caranya agar obrolan mereka berdua menjadi asyik.
"Ah! Lo ke Jakarta cuma buat kerja?" tanya Marcel.
"He-he, iya tapi awal mula niatnya mau kuliah," jawab Fani tiba-tiba memasang raut wajah sedih.
Marcel merasa tidak enak menanyakan hal tersebut kepada Fani karena melihat perubahan raut wajahnya yang tadi ceria menjadi sedih.
"Maaf, Fan...." ujar Marcel.
"Gak apa-apa, kok, he-he," tanggap Fani.
"Emang lo gak tarok uangnya di Bank?" tanya Marcel heran.
"Tadinya di Bank, tapi sepupu gua maksa buat suruh tarik, Kak. Alasannya sih masuk akal, katanya biar gak ribet saat mau daftar. Maksimal yang bisa ditarik per hari kan cuma lima juta," jelas Fani.
Marcel menghela nafasnya.
"Ada ya sepupu kayak gitu."
"Terus lo bilang gak ke orang tua, kalo uang pendaftarannya dibawa lari?" tanya Marcel lagi.
Fani menggeleng.
"Kasihan orang tua, Kak. Mereka cuma petani di desa, takutnya mereka stres kalo tau yang sebenernya," ujar Fani.
"Walaupun begitu, lo harusnya jujur. Pasti orang tua lo taunya lo kuliah, kan?" selidik Marcel.
Fani mengangguk.
Sejenak suasana menjadi hening karena obrolan mereka sepertinya cukup rumit.
"Terus gua denger, lo itu fans fanatik Number One?" tanya Marcel.
__ADS_1
"Iya, Kak," jawab Fani.
"Gua pernah denger dari Hira, kalo lo sampe bela-belain ngumpulin uang gaji selama setahun untuk nonton konser kami, bener?" tanya Marcel.
"Hee ... iya, Kak," jawab Fani sambil nyengir.
Marcel menepuk jidatnya.
"Fani ... Fani ... bukannya ngumpulin uang buat kuliah, malah ngumpulin buat nonton konser, ha-ha-ha," ledek Marcel.
"Namanya fans fanatik, Kak," kilah Fani.
Marcel pun menghentikan mobilnya di bahu jalan. Dia menatap Fani yang terlihat gugup saat bersama dengannya.
"Mulai sekarang, gak usah ngumpulin uang buat konser. Mending uangnya buat yang lain, contohnya kuliah mungkin," nasihat Marcel.
"Tapi, Kak!" protes Fani.
"Tenang aja, nanti tiap kami konser, kamu bakal dapat tiket VVIP gratis," ucap Marcel sambil tersenyum manis.
Wajah Fani berubah menjadi sumringah karena mendengar ucapan Marcel. Dia seperti merasa mendapatkan durian runtuh.
"Yang bener, Kak?!"
Marcel mengangguk sambil tersenyum.
Fani terlihat sangat senang mendengar berita yang sungguh baik itu. Fans mana yang tidak senang ketika mendapatkan tiket gratis untuk menonton idolanya, apalagi tiketnya VVIP.
Akhirnya mereka sampai didepan kost-an Fani. Marcel pun langsung berpamitan karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Marcel pun memutuskan untuk langsung pulang ke dorm. Dia tidak jadi jalan-jalan tapi hatinya sangat senang bisa bertemu dengan gadis yang membuat dirinya tertarik itu.
***
Didalam perjalanan pulang, tak sengaja Marcel melihat Doni sedang nongkrong di pinggir jalan bersama dengan teman-temannya. Bahkan Marcel melihat kalau Doni sedang merangkul seorang gadis dan terlihat sangat senang.
"Wah! Gak bener ini orang, cewek secantik dan sebaik Fani dikhianati, kurang ajar emang!"
Marcel terlihat sangat kesal melihat kelakuan Doni dibelakang Fani.
"Mudah-mudahan mereka putus beneran,deh. Apa gua kasih tau Fani aja kali, ya. Eh! Gua lupa kalo gak punya nomor Fani, hadeh!"
Marcel menepuk jidatnya karena merasa bodoh sehingga lupa meminta nomor Fani. Padahal sedari tadi mereka sudah mengobrol dan bahkan sangat akrab.
.
.
.
***
__ADS_1
^Marcel kurang paten pedekate-nya 🤣🤣🤣^
Next Episode 😁👍>>