Perfect Idol

Perfect Idol
Menyadari


__ADS_3

Akhirnya mereka pun sampai di Indonesia, Jerry tidak pulang bersama mereka karena dia dijemput oleh ayahnya.


Para member naik di dalam satu mobil Van khusus member Number One. Sedangkan Hira satu mobil dengan Cleo, beserta beberapa kru yang lainnya.


Di mobil Van Number One.


"Jadi anak orang kaya gak enak, ya?" ujar Dean.


"Ada enaknya ada gak-nya," sahut Marcel.


"Lebih gak enak lagi jadi anak haram," celetuk Bintang.


Seketika suasana pun menjadi hening karena celetukan Bintang.


"Lebih gak enak lagi kalo punya ayah jahat, ha-ha-ha...." ujar Tirta berusaha memecah keheningan.


Tidak ada satupun yang ikut tertawa dengan Tirta. Suasana malah makin bertambah canggung dan aneh. Tiba-tiba ada suara dari arah depan yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Lebih gak enak lagi kalo ditinggal pas lagi sayang-sayangnya," celetuk Bimo, manajer mereka.


Seketika suasana pun menjadi cair dengan celetukan Bimo yang dirasa tidak nyambung dengan topik pembicaraan.


"Kak Bimo curhat, ya?" goda Marcel.


"Gua denger Kak Bimo abis ditinggal nikah sama sang kekasih karena kelamaan ngelamar," ejek Bintang.


Tirta dan Dean hanya menanggapi dengan tertawa.


"Awas ya kalian! Biarin aja, nanti suatu saat dari kalian bakal ngalamin kayak gua," protes Bimo.


"Bercanda, Kak ... gak usah dimasukin ke hati," tukas Bintang.


"Gimana kalo Kak Bimo kita jodohin sama Kak Gab ... kan Kak Gab masih single terus punya butik yang udah ternama lagi," saran Marcel.


"Setuju tuh!" sahut Dean.


"Cantik, gak? Kalo cantik boleh, deh," ujar Bimo.


Tiba-tiba Tirta menginterupsi angan-angan mereka untuk menjodohkan Bimo dengan Gabriela, kakak sepupunya itu.


"Sebagai sepupunya gua gak setuju!" ujar Tirta.


"Pelit banget, sih!" protes Bimo.


Mereka pun tertawa karena mendengar penolakan secara langsung dari Tirta dan mendengar ekspresi kecewa dari suara yang dikeluarkan oleh Bimo.


.


.


.


***


Kediaman keluarga Pratama.



Jerry yang baru sampai rumahnya langsung menuju kamarnya dan berbaring di tempat tidur miliknya. Tiba-tiba Jerry dikagetkan dengan sosok hantu anak laki-laki yang pernah ditemuinya waktu itu.


"Ngapain lo berdiri dipojokan itu?" tanya Jerry seraya bangun dari tempat tidurnya.


"Tumben kamu pulang," ujar hantu anak laki-laki itu.


"Emang gak boleh? Udah lah gua mau tidur jangan ganggu," ujar Jerry sambil membaringkan tubuhnya lagi.

__ADS_1


Hantu anak laki-laki itu pun mendekat kearah Jerry dan berdiri tepat di depan wajahnya.


"Mau ngapain lagi, sih!" teriak Jerry.


Teriakkan Jerry pun tak sengaja terdengar oleh Nyonya Juwita yang kebetulan memang ingin menemuinya.


Kriet!


"Kenapa kamu teriak-teriak, Nak?" tanya Nyonya Juwita khawatir.


"Gak ada apa-apa kok, Bu," jawab Jerry sembari tersenyum.


"Kamu masih sering lihat yang halus-halus?" tanya Nyonya Juwita.


Jerry hanya mengangguk.


"Mau ditutup?" tanya Nyonya Juwita.


"Gak usah, Bu ... aku sekarang udah jarang liat, cuma kalo di rumah ini aja aku sering liatnya," jawab Jerry.


Nyonya Juwita pun mengangguk sambil mengusap punggung anak semata wayangnya itu.


Wajah Jerry terlihat lesu dan tak bersemangat. Dalam kelelahan yang sedang dia rasakan, dia memeluk sang ibu tercintanya. Rasanya dia ingin mencurahkan segala isi hatinya kepada orang yang telah melahirkannya itu.


"Lebih menakutkan kalo Jerry harus berhenti menyanyi ketimbang ngeliat hantu, Bu," lirih Jerry.


Nyonya Juwita merasa sedih jika melihat anaknya itu sedih. Dia merasa tidak tega tapi dia juga bingung bagaimana harus bicara dengan suaminya. Namun demi anak, dia pun memberanikan dirinya.


"Kamu istirahat, ya ... ibu mau siapin makan malam dulu," ucap Nyonya Juwita.


***


Ternyata Nyonya Juwita memutuskan untuk berbicara kepada Tuan Robby.


"Mas ... tentang Jerry...."


"Keputusan saya sudah bulat! Jerry harus pensiun dari dunia hiburan setelah sepuluh tahun berkarir!" bentak Tuan Robby.


"Saya sudah memberikan kesempatan yang cukup besar baginya untuk melakukan apa yang dia senangi tapi kamu harus berpikir, mau sampai dimana saya mengurus perusahaan sendirian? Sedangkan anak kita hanya Jerry satu-satunya, mau berharap kepada siapa lagi kalau bukan Jerry?" tukas Tuan Robby panjang lebar.


Nyonya Juwita tidak bisa berkata-kata lagi mendengar perkataan Tuan Robby. Karena perkataan suaminya itu memanglah benar. Kalaupun dia hamil sekarang dan punya anak lagi, pasti akan terlalu lama menunggunya.


"Baiklah, Mas ... tapi Mas jangan terlalu keras dengan Jerry," tutur Nyonya Juwita.


.


.


.


***


Esok lusanya di agensi.


Setelah pulang dari Dubai, mereka mendapatkan istirahat selama satu hari sebelum melakukan kegiatan seperti biasa di agensi. Hari itu mereka berlatih tanpa Jerry.


"Rasanya ada yang kurang, ya?" ujar Tirta.


"Si kecil gak ada, sih...." sahut Marcel.


Bintang dan Dean hanya mengangguk mengiyakan.


***


"Gua ke pantry dulu, ya ... pengen ngopi," permisi Dean.

__ADS_1


"Buatin gua juga, gak pake gula, ya...." pinta Bintang.


"Aneh gak pake gula," ujar Marcel.


"Gua kan udah manis, Kak," sahut Bintang.


"Pfftt...." Tirta berusaha menahan tawanya dengan menutup mulutnya.


.


.


.


***


Di pantry.


Saat Dean sedang fokus membuat kopi, tiba-tiba ada seorang gadis yang menepuk pundak Dean dari belakang sehingga membuatnya terkejut.



"Dor!" teriak gadis itu.


"Kak Selly! Bikin gua jantungan aja," ujar Dean.


"Ha-ha-ha! Gitu aja jantungan," tanggap Selly.


"Ya kakak ngagetin aja .... dasar! Eh ... kakak udah pulang dari Hongkong? Kapan?" tanya Dean.


"Udah lah dari dua hari yang lalu, he-he," jawab Selly sambil nyengir.


"Penyanyi solo terkenal mah sibuk terus, ya...." ujar Dean.


Kebersamaan Dean dan Selly pun ternyata dilihat oleh Cleo yang kebetulan ingin membuat minuman di pantry. Ada perasaan aneh yang menggelayuti pikirannya. Apa mungkin Cleo mulai merasa cemburu melihat Dean dengan gadis lain? Dia pun berusaha menepis perasaannya dan mencoba menyapa mereka.


"Hallo Kak Dean ... hallo Kak Selly," sapa Cleo.


"Hallo Cleo sayang," jawab Selly sambil memeluk Cleo.


Dean hanya tersenyum canggung kepada Cleo tanpa menjawab sapaannya.


"Gua duluan, ya ... kopi gua udah jadi," permisi Dean.


Dean terlihat sekali ingin menghindari Cleo karena dia sudah memutuskan untuk mulai melupakan Cleo.


Cleo hanya bisa menatap punggung Dean yang mulai menjauh dari pantry dan tak bisa berkata apa-apa. Selly pun memperhatikan raut wajah Cleo yang berubah sedikit kecewa karena kepergian Dean.


"Kenapa, Dek?" tanya Selly.


"Gak apa-apa, Kak," jawab Cleo.


"Ada yang mau diomongin sama Dean?" selidik Selly.


"E-eh ... gak ada, Kak," ujar Cleo dengan nada suara canggungnya dan sembari membuat secangkir teh herbal.


Selly hanya tersenyum smirk melihat kearah Cleo yang seakan salah tingkah itu.


Apa Cleo suka sama Dean? Kok aneh gitu, sih tingkahnya, bukannya kemaren dia baru aja batal tunangan dengan Bintang. Emang gampang banget move on-nya, ya? batin Selly penasaran.


.


.


.

__ADS_1


***


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2