
Acara pertunangan antara Bintang dan Cleo ditutup dengan pemandangan yang membuat para tamu undangan menjadi banyak pertanyaan, karena kejadian Bintang yang menolong Hira. Banyak yang berspekulasi bahwa pertunangan itu hanyalah settingan.
Cleo sedari tadi masih berada di kolam renang dan terlihat khawatir jika pertunangannya akan dibatalkan karena Bintang sudah berani melawan Nyonya Ella. Dean yang baru saja dari kamar Bintang, tak sengaja melihat Cleo yang masih duduk di kursi samping kolam renang.
Dean pun menghampiri Cleo yang terlihat sedang menundukkan kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.
"Gak masuk?" tanya Dean.
Cleo mengangkat kepalanya dan langsung menatap tajam Dean.
"Mau ngapain lo kesini? Mau ngetawain gua juga?!" teriak Cleo.
Dean pun berjongkok dan mengusap lembut rambut Cleo.
"Mana mungkin gua ngetawain lo," ucap Dean.
Cleo menghempaskan tangan Dean dari kepalanya.
"Gak usah pegang-pegang gua!" bentak Cleo sembari beranjak dari kursinya.
Dean pun ikut berdiri.
"Lebih baik lo terima kenyataan ... Bintang itu gak suka sama lo!" ujar Dean sambil memegang kedua pundak Cleo dan menatap matanya tajam.
"Gak bisa! Bintang itu milik gua!" teriak Cleo emosional sambil melepaskan tangan Dean dari pundaknya.
Cleo pun hendak pergi meninggalkan Dean, tapi Dean langsung menarik tangan Cleo dan memeluknya erat.
"Ada gua, Cleo! Kenapa lo selalu liat ke Bintang yang gak mencintai lo!" teriak Dean emosional.
Cleo berusaha melepaskan pelukan Dean. Namun karena eratnya pelukan itu, Cleo pun tidak dapat melepaskan pelukan Dean.
"Lepasin gua, Dean!" berontak Cleo.
"Gua sayang sama lo! Gua janji gua bakal bikin lo bahagia," ucap Dean.
"Lepasin gua! Sebelum gua teriak!" ancam Cleo.
Dean pun akhirnya melepaskan pelukannya dari Cleo. Cleo yang terlihat kesal pun langsung menampar pipi kiri Dean.
Plak!
Suara tamparan yang keras mendarat di pipi Dean. Dean hanya diam dan menunduk walaupun diperlakukan seperti itu oleh Cleo.
"Inget! Lo harusnya ngaca siapa diri lo! Latar belakang keluarga lo jauh beda dengan gua ... walaupun sekarang lo itu artis terkenal tapi tetep aja lo itu cuma anak seorang janda yang profesinya pemilik salon!" cerca Cleo.
Dean hanya diam tak menjawab cercaan dari Cleo dan hanya menatap punggung Cleo yang mulai menjauh darinya.
Kenapa lo beda sekarang? Kemana Cleo yang gua kenal dulu, batin Dean.
.
.
.
__ADS_1
***
Sementara itu, di kamar Nyonya Ella. Nyonya Ella terlihat sangat kesal dan frustasi, dia pun membanting barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Tuan Haris suami Nyonya Ella pun berusaha menasehatinya.
"Sudahlah berhenti ... mengamuk seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah," nasehat Tuan Haris.
Nyonya Ella merasa tidak terima akan nasehat suaminya. Dia malah bertambah kesal dan mendekati suaminya yang duduk di kursi roda itu.
"Kamu sebaiknya diam! Sekarang kamu bisa apa?! Kamu saja hanya duduk di kursi roda begini!" bentak Nyonya Ella.
"Astaghfirullah! Istighfar ... jangan sampai setan mengendalikan pikiranmu," ujar Tuan Haris.
"Kamu gak usah sok nasehatin aku! Aku lagi pusing kalo sampe pertunangan Bintang dan Cleo gagal! Lagian Bintang kurang ajar! Anak yang gak tau terimakasih!" teriak Nyonya Ella.
"Bintang juga manusia ... dia juga punya perasaan. Aku kira pertunangan ini memang tidak ada paksaan. Ternyata malah seperti tadi kejadiannya," tukas Tuan Haris.
"Semuanya baik-baik saja sebelum gadis yang entah darimana itu muncul! Bisa-bisa kerjasama dengan orang tuanya Cleo gagal," ujar Nyonya Ella.
Tuan Haris bingung harus bagaimana lagi menasehati istrinya itu. Nyonya Ella memang terkenal sangat tempramen dan apapun yang menjadi keinginannya harus tercapai. Dia merasa marah karena tujuannya sudah dirusak oleh Bintang.
.
.
.
***
Esok harinya, berita tentang kacaunya acara pertunangan Bintang dan Cleo menjadi berita utama. Hal itu tepat seperti dugaan Bintang, bahwa berita itu akan menjadi viral. Para fans Number One pun mencari tahu siapa wanita yang ditolong oleh Bintang. Nama Hira terekspos setelah salah satu teman sekampusnya memposting sebuah artikel tentang Hira di media sosial.
Pak Agung terlihat sangat pusing karena berita gagalnya pertunangan Bintang dan Cleo. Tak lama kemudian, datanglah Nyonya Ella untuk menemui Pak Agung di kantornya. Tanpa basa-basi, Nyonya Ella langsung membahas perihal kacaunya pertunangan antara Bintang dan Cleo.
"Siapa gadis itu sebenarnya?!" tanya Nyonya Ella.
"Dia adalah penerjemah baru di agensi," jawab Pak Agung.
"Cih! Bagaimana seorang penerjemah yang tak berkelas bisa kenal dengan Bintang?"
Nyonya Ella terlihat sangat penasaran.
"Saya tidak tahu pasti ... yang jelas anak gadis itu sangat berprestasi, maka dari itu saya menjadikannya salah satu penerjemah agensi," tutur Pak Agung.
"Saya tidak peduli mau dia berprestasi atau tidak! Satu hal yang jelas dia telah merusak acara pertunangan tadi malam," ujar Nyonya Ella.
Pak Agung tak langsung menjawab, tapi akhirnya dia mengingat sesuatu.
"Sepengetahuan saya, gadis itu dekat dengan Tirta bukan dengan Bintang," ujar Pak Agung.
"Tirta? Ah ... teman satu grup dengannya, kalau tidak salah dia adalah anak sulung dari Erlangga Dewantara," tanggap Nyonya Ella.
Pak Agung mengangguk tanda mengiyakan.
Seketika wajah Nyonya Ella menjadi cerah dan dia pun tersenyum penuh arti. Entah apa yang dipikirkan olehnya saat itu.
.
__ADS_1
.
.
***
Dorm Number One.
Dean terlihat sangat tak bergairah sembari duduk di depan TV yang masih menyala. Tak lama kemudian, datanglah Marcel yang langsung mengambil remote TV dan mematikannya.
"Kenapa muka lo kusut amat?" tanya Marcel.
"Gua kangen nyokap, Cel," jawab Dean.
"Temuin kalo kangen ... lagian lusa kita baru berangkat ke Dubai," saran Marcel.
Dean hanya diam tak menanggapi, entah apa yang sedang dia pikirkan saat itu. Marcel begitu heran, karena biasanya Dean adalah anak yang cuek dan tidak pernah yang namanya bengong seperti hari ini.
Tiba-tiba Dean bertanya sesuatu hal kepada Marcel.
"Emang ada yang salah, ya ... kalo ibu kita seorang janda dan hanya berprofesi sebagai pemilik salon?" tanya Dean.
Marcel merasa heran dengan pertanyaan Dean yang tiba-tiba dan aneh.
"Gak ada yang salah ... emang kenapa, sih?"
Marcel begitu penasaran sampai-sampai dia menatap Dean dengan lekat.
Dean tidak menjawab dan langsung beranjak dari kursi. Dia meninggalkan Marcel sendirian yang masih penuh tanda tanya.
"Dean! Oy! Emang kenapa?!" teriak Marcel sambil beranjak mengikuti Dean dari belakang.
Dean tidak menjawab dan naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya. Karena masih penasaran, Marcel pun terus mengikuti Dean. Namun baru saja Dean masuk kedalam kamarnya, dia sudah menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Brak!
"Dean! Kok ditutup?!" teriak Marcel.
Teriakkan Marcel membuat Jerry keluar dari kamarnya.
"Kenapa, sih, Kak! Teriak-teriak kaya gitu!" protes Jerry.
"Dean kayaknya kesambet," bisik Marcel.
"Hah?!"
Jerry tak dapat berkata apa-apa dan hanya kaget.
.
.
.
***
__ADS_1
Next Episode 😁👍>>