Perfect Idol

Perfect Idol
Permintaan maaf


__ADS_3

Hira berjalan menuju arah kolam renang yang ada di kediaman Nyonya Ella. Akses menuju kolam memang sengaja dibuka, tapi belum ada siapapun yang menuju kesana karena para tamu undangan sedang sibuk menikmati jamuan makan. Bintang terlihat ingin mengikuti Hira, tapi dia berusaha menahan dirinya.



Hira duduk di kursi panjang yang ada di dekat kolam renang itu. Entah mengapa setiap melihat air yang ada di kolam renang, Hira merasa lebih tenang. Tak disangka ada seseorang yang menghampiri Hira.


"Kenapa kesini?"


Hira pun langsung menengok dan menemukan ada Cleo yang berdiri di sampingnya.


"Mau lihat kolam renang," jawab Hira.


Cleo mendengus sambil menatap kearah Hira.


"Lo gak sedih, kan?" tanya Cleo dengan nada arogan.


"Maksudnya?" Hira mengeryitkan dahinya.


"Ha-ha-ha ... masa lo gak sedih kalo Bintang udah resmi jadi tunangan gua?"


Dengan arogannya, Cleo menertawakan Hira dengan puas.


Hira pun beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa kesal tapi tidak ingin memperkeruh keadaan.


"Gua permisi dulu," ucap Hira.


Hira pun bermaksud untuk pergi meninggalkan Cleo. Belum jauh Hira melangkah, Cleo pun dengan sengaja mendorong Hira kearah kolam renang.


Byur!


Hira pun akhirnya tercebur kedalam kolam renang dan Cleo hanya melihat Hira yang meminta pertolongan dengan terkikik geli.


"Tolong!" teriak Hira yang kesulitan bernapas karena tidak bisa berenang.


"Lo gak bisa berenang? Ups ... sorry, gua juga gak bisa berenang," ujar Cleo sambil menutup mulutnya.


"Tolong! Tolong! Tolong!"


Hira terus berteriak meminta tolong, tapi tak ada satu pun yang mendengar.


Cleo pun beranjak untuk meninggalkan Hira tanpa belas kasihan.


"Gua pergi dulu, ya...." ucap Cleo.


Baru saja Cleo ingin melangkah pergi, datanglah Bintang yang langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan Hira. Tak lama kemudian, Tirta dan member Number One yang lain pun datang menyusul.


Kenapa ada mereka disini, sih! batin Cleo menggerutu.


Bintang menggendong Hira yang sudah tidak sadarkan diri keluar dari kolam renang. Bintang pun langsung memberikan CPR untuk Hira karena Hira tak kunjung sadar.


"Ra! Sadar, Ra!" teriak Bintang panik.


Cleo yang melihat kejadian itu hanya bisa menggigit jarinya dan bingung.


Tirta ingin sekali membantu Hira, tapi dia lebih memilih untuk mengalah karena Bintang sudah lebih dulu menolong Hira. Matanya tertuju kepada Cleo yang terlihat gundah. Tirta pun curiga bahwa Cleo lah dalang dibalik terceburnya Hira ke kolam renang. Akhirnya Tirta pun mendekati Cleo.


"Lo kan yang dorong Hira?" tanya Tirta.

__ADS_1


"G-gua gak dorong dia, kok...." Cleo terlihat gugup saat menjawab pertanyaan dari Tirta.


"Gak mungkin Hira ceburin dirinya sendiri ke kolam renang, karena Hira gak bisa berenang," ujar Tirta.


Cleo hanya terdiam tak dapat berkata-kata lagi.


.


.


.


***


Tak berapa lama, kehebohan itu pun terdengar oleh tamu-tamu undangan. Mereka pun berbondong-bondong datang menuju kolam renang, tak terkecuali Nyonya Ella. Pemandangan Bintang yang sedang menolong Hira pun menjadi perbincangan mereka.


"Wah ... itu si Bintang kok malah nolongin cewek lain ... sampe ikutan basah kayak gitu," ujar salah satu tamu.


"Jangan-jangan ini pertunangan paksa lagi," sahut tamu yang lain.


Nyonya Ella yang mendengar perbincangan mereka pun berusaha menjelaskan.


"Pikiran kalian tidak benar ... Bintang memang anak yang baik, jadi siapapun yang mengalami musibah itu pasti akan ditolong," jelas Nyonya Ella dengan alibinya.


***


Sementara itu, Bintang masih berusaha membuat Hira sadar.


"Ra! Bangun ... ini aku Bintang."


Beberapa saat kemudian, akhirnya Hira pun tersadar. Bintang terlihat senang dan langsung memeluk Hira.


"B-bintang?"


Bintang hanya mengangguk sambil masih memeluk Hira erat. Mungkin kali ini perasaannya tidak dapat dipendam lagi. Dia begitu merindukan Hira, gadis yang begitu dia cintai.


"Maafin aku, Ra...." lirih Bintang.


Belum sempat Hira menjawab, Bintang pun mengangkat Hira dan menggendongnya. Hal itu sontak membuat semua orang kaget, terutama Nyonya Ella. Nyonya Ella merasa seperti sedang terkena serangan jantung yang tiba-tiba. Dia bingung dan tak dapat berbuat apa-apa untuk memberikan alibi lagi kepada semua orang.


Bintang menggendong Hira melewati kerumunan tamu undangan. Dia membawa Hira menuju kamarnya. Langkah kaki Bintang pun diikuti oleh keempat temannya.


***


Sesampainya di kamarnya, Bintang langsung membaringkan Hira di atas tempat tidurnya. Dia pun meminta salah satu pembantu perempuan yang ada di rumah itu untuk membantu Hira mengganti pakaiannya.


Bintang pun keluar dari kamarnya. Di depan kamarnya sudah ada keempat temannya yang menunggu.


"Bagus! Gua bangga dengan lo!" teriak Marcel sembari menepuk-nepuk pundak Bintang.


"Tadinya gua kesel banget dengan lo, kak! Tapi setelah ngeliat kejadian tadi, rasa kesel gua ilang," ujar Jerry.


"Good job, Bin!" ucap Dean sambil memberikan dua jempolnya.


Tirta hanya tersenyum sambil menepuk pundak Bintang.


***

__ADS_1


Tak berapa lama, Nyonya Ella dengan wajah penuh amarahnya pun datang menghampiri Bintang.


"Bintang! Apa-apaan kamu! Siapa gadis itu?!" teriak Nyonya Ella.


"Dia gadis yang saya cintai," jawab Bintang tegas.


"Apa?! Apa kamu sudah gila! Kamu baru saja selesai bertunangan, Bintang!" geram Nyonya Ella.


"Pada awalnya saya tidak pernah menyetujui pertunangan ini, tapi Anda begitu memaksa bahkan mengancam ibu saya!" teriak Bintang.


Marcel, Dean dan Jerry saling menatap. Mereka bertiga heran, mengapa Bintang bilang Nyonya Ella telah mengancam ibu dari Bintang, padahal Nyonya Ella adalah ibunya. Namun rasa heran itu tidak dirasakan oleh Tirta yang memang sudah mengetahui kenyataannya.


Nyonya Ella merasa sangat kesal dan menggertakan giginya. Dia pun akhirnya pergi meninggalkan mereka.


"Dasar nenek lampir," gumam Bintang.


Marcel, Dean dan Jerry memandang Bintang dengan wajah yang menandakan ingin diberikan sebuah penjelasan. Bintang yang paham situasi itu pun langsung tersadar.


"Oke ... nanti gua jelasin ke kalian," kata Bintang sambil nyengir kuda.


Tak berapa lama, pembantu yang membantu Hira berganti pakaian pun keluar. Bintang pun langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu udah ngerasa lebih baik, kan?" tanya Bintang.


"Iya," jawab Hira singkat.


Bintang tertawa saat melihat Hira memakai baju kaosnya yang terlihat kebesaran.


"Gak nyaman, ya ... pake baju begini. Aku anterin pulang, ya?"


"Pertunangan kamu, gimana?" tanya Hira.


Bintang tersenyum smirk menanggapi pertanyaan Hira.


"Liat aja besok beritanya ... paling kacau, he-he," ujar Bintang santai.


Hira hanya tersenyum mendengar perkataan Bintang.


"Maafin aku, ya? Mau kan maafin aku?" tanya Bintang memastikan.


Hira mengangguk sambil tersenyum kepada Bintang.


"Jadi kamu maafin aku?" Bintang masih tidak percaya.


"Iya ... aku maafin kamu, kok...."


"Hore!"


Bintang terlihat sangat senang dan langsung memeluk Hira erat.


.


.


.


***

__ADS_1


^Yeah! Author gak tega bikin mereka berdua menderita lama-lama, hehe^


__ADS_2