Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
wine with u...


__ADS_3

Shofia tampak anggun dengan gaun malam berwarna navy, serasi dengan tuxedo milik Kabir.


Ya, tentu gaun milik Shofia memiliki bagian dada yang tertutup tapi bagian punggung terbuka lebar.


"Kalau kau menjadi istriku, kupastikan kamu akan kukurung di kamar"


"Sayangnya aku bukan istrimu, Tuan Kabir"


"Lebih tepatnya belum"


"Emmm...  terserah"


Kabir menggandeng Shofia untuk masuk keaula Mansion, dan semua orang menatap mereka.


Ada yang memuji. Ada yang mengejek. Karena ada sebagian orang yang sudah tahu bagaimana posisi Shofia di keluarga Lee.


"Kamu punya aku, jangan takut"


"Aku tahu"


"Jadi, ayo kita menghampiri nenek sihir itu"


"Jangan berkata begitu"


"Baiklah, terserah padamu"


Kabir menuntun Shofia kearah keluarga Lee berkumpul. Ya, disegerombolan orang itu, hanya Shofia yang tak diinginkan.


"Selamat malam tuan dan nyonya"


"Selamat malam tuan Kabir, terima kasih telah datang"


"Sama sama... bagaimana kabar anda nyonya Anita?"


Anita tampak acuh. Bagaimana bisa, bocah ingusan hampir menjebloskannya kepenjara.


"Tuan Kabir, terima kasih mau membatalkan tuntutan itu"


"Tak perlu berterima kasih padaku, Tuan Morgan... kekasihku yang memintanya"


Anita melotot. Apa lelaki tampan ini buta, sampai memacari wanita seperti ini?


Dan semua orang melihat kearah Shofia. Ini buruk. Menjadi pusat perhatian diantrian nomor terakhir keinginannya.


"Jadi kalian memutuskan untuk berpacaran?"


"Tidak, tapi ditahap akan menikah"


"Jaga Shofia baik baik, dia sangat rapuh"


"Tentu.. aku sudah tahu salah satu faktor kerapuhannya, dan aku akan menghancurkan faktor itu"


Kabir melirik Anita, terdapat senyum meremehkan untuk wanita tua itu.


Sedangkan Anita sudah pucat. Ya, karena pengaruh Kabir sangat besar di kota ini. Kalau menyinggungnya, tak ada yang bisa menyelamatkannya termasuk Morgan.


"Yang terpenting, kamu menjaganya dengan baik, apapun halangannya harus tebas habis"


"Aku setuju itu... aku akan berkeliling dulu"


"Silahkan..."


Kabir menarik tangan Shofia. Dan wanita itu mengikutinya dengan patuh.


Kabir segera mencari meja, dan duduk berdua dengan Shayla.


Mereka menikmati makanan mereka.


Sampai suara yang familiar menyapa Shofia dengan lembut.


"Shofia..."


"Tristan.. kamu juga disini?"


"Ya, aunty Anita yang mengundang"


"Oh..nikmatilah pestanya"


"Baiklah, sebentar aku menyapa kak Morgan dan kak Luna.. nanti aku akan kesini lagi..."


"Iya, silahkan"


Tristan segera pergi. Sedangkan Kabir sudah sangat kesal dengan sikap akrab Tristan ataupun Shofia.

__ADS_1


"Apa tak bisa kamu biasa saja"


"Memang aku kenapa?"


"Kamu terlalu akrab"


"Kamu aneh... aku biasa saja seperti teman biasa"


"Huh.. lelaki itu menyukaimu... kamu pekalah!"


"Baiklah, baiklah... lalu kenapa kalau menyukaiku?"


"Dia sangat menyebalkan, dia ingin merebut perhatianmu"


"Kabir... jangan kekanakan.."


"Aku tak-"


Pembicaraan mereka terpotong saat Anita memanggil Shofia untuk naik keatas panggung.


Shofia sangat bingung. Tapi dengan dukungan Kabir, dia segera berdiri dan melangkah maju kedepan.


Shofia berdiri disamping Anita yang tersenyum.


"Hadirin sekalian, saya perkenalkan anak bungsu saya Shofia Nayanika... selanjutnya dia akan mewarisi kekayaan keluarga Lee sesuai hukum yang berlaku... apalagi, Shofia seorang yang ulet dan pandai"


"Mohon bimbingannya"


"Shofia ak-"


Suara Anita terhenti, saat terdengar suara musik dari arah belakang.


Dan rupanya kumpulan foto yang berbentuk video.


Isinya adalah foto foto saat di sky night club malam itu.


Terlihat jelas foto wajah Shofia tapi lelaki itu tak jelas bahkan posture tubuhnya tak terlihat.


"Ma- maksutnya ini apa?"


Anita masih menunduk, para hadirin lekas bergunjing sedangkan Shofia sudah siap berlari sebelum Kabir memegangnya.


Ya, Kabir memegang tangan Shofia dan merebut mikrofon dari Anita.


Semua senyap. Tak ada yang berkomentar. Dan Anita diam.


"Tempo hari, saya sudah mengatakkan pada nyonya Anita untuk tak mempermasalahkannya.. karena kami memang sepasang kekasih"


Terlihat Morgan naik keatas panggung.


"Maaf atas kesalah pahaman ini, silahkan nikmati pestanya..."


Morgan segera memberi isyarat untuk pergi mengikutinya. Dia sekarang benar benar muak.


Morgan menggiring semuaanggota keluarganya, termasuk Kabir untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Setelah sampai didalam ruang kerja itu, Morgan segera duduk disofa dan diikuti semua orang.


"Jadi bisa jelaskan maslah ini?"


Semua masih diam. Tak ada yang menjawab.


"Shofia, bisa katakkan semuanya?"


"Aku-"


"Aku yang akan menceritakan semuanya, dan ini yang akan aku ceritakan padamu tadi, Shofia"


Shofia sedikit menaikkan alisnya, ada apa?


Kabir menarik nafas panjang, dan memulai ceritanya dari awal melihat Shofia diganggu oleh lelaki tua, yang dia tahu adalah salah satu manager perusahaan kosmetik.


Kabir yang menyelamatkan Shofia, dan Kabir juga mencari cara lain agar Shofia sembuh.


"Cukup!"


Shofia berdiri begitu saja.


"Aku tahu mama membenciku, aku juga tak harus diakui dirumah ini, dan tak ingin warisan ini! Mama tak harus memberiku obat Hexa itu! Ma, aku sudah lelah"


"Shofia..."


"Kabir, aku ingin sendiri... dan kak Morgan... tolong coret saja namaku dari warisan papa... aku tak butuh"

__ADS_1


Shofia pergi begitu saja. Dia memang lelah.


Shofia segera memberhentikan taxi, tapi sebelum Shofia pergi, sudah ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Shofia, jangan kamu tanggung sendiri... aku selalu bersamamu"


"Kabir.. aku benar benar tak bisa seperti ini"


Kabir membalik tubuh Shofia, dan saat Kabir membenamkan wajah Shofia kedadanya. Dan saat itu juga, tangis Shofia pecah.


"Menangislah... aku akan selalu bersamamu"


Kabir tetap setia membuat Shofia tenang.


Tanpa mereka berdua sadari dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan raut yang tak terbaca.


"Kamu harus menjadi milikku!"


*


Setelah sedikit reda, Kabir segera membawa Shofia untuk istirahat di penthouse-nya. Hanya tempat itu yang paling dekat dari tempat ini.


Sampai disana, Shofia segera diajak untuk masuk dan duduk dimini bar-nya.


"Wine or wiskey?"


"Wine, please"


"Bagaimana toleransimu terhadap alkohol"


"Lumayan, tapi..."


"Apa?"


"Malam itu aku hanya minum satu slooky tapi sudah mabuk"


"Jangan dipikirkan, mau mabuk bersama?"


"Aku takut merepotkanmu"


"Tak apa kalau merepotkan diranjang"


"Mesum"


"Kenapa? Aku sudah tahu bagaimana bentuknya dan rasanya, jadi apa kamu tak mau tahu bentuk dan rasanya secara sadar?"


"Kabir!"


"Emmm.. for my princess"


Kabir memberikan sebuah gelas berkaki pada Shofia dan segera ditenggak oleh wanita itu.


Ada rasa menyengat saat meminumnya tapi sangat manis saat ditelan.


"Aku suka rasa wine"


"Kenapa?"


"Dari rasa yang menyengat menjadi manis yang candu"


"Shofia... kamu juga menjadi canduku"


"Kabir..."


"Apa? Aku menahan untuk tak menyerangmu beberapa saat ini... tapi setelah aku menceritakan hal tadi... aku tak tahan"


"Kabir..."


"Jadilah istriku Shofia... aku akan membantumu menyembuhkan segala luka pada hatimu... aku tak akan mengecewakamu"


Kabir mendekat pada Shofia, dan segera memepet Shofia agar bisa terkurung dibawah Kabir.


"I want u..."


******


Tetap pakai masker dan jaga kebersihan ya guys...


Tetap dirumah...


Dampak pandemi yang kalian rasakan guys?


Me: pemasukan berkurang, dan tak memiliki banyak ruang inspirasi

__ADS_1


__ADS_2