
Seakan waktu berjalan begitu cepat.
Setiap malam Shofia hanya bisa menangis memanggil nama Kabir.
Saat siang hari, dia begitu tenang dan menangani semuanya dengan baik.
L's corp dan Dominic group tertangani dengan baik.
Butiknya juga berkembang pesat bahkan dalam kurun waktu 4 bulan ini, Shofia sudah mendapat pelanggan wanita wanita kelas atas yang selalu memesan rancangannya.
Ya, sudah 4 bulan hampir 5 bulan Kabir menghilang.
Rio dan Max seakan hilang arah karena Kabir tak ada. Veer pun tak ada kabar.
Ya, tak ada kabar perkembangan.
Perutnya pun semakin terlihat puncit.
Walaupun belum terlalu besar. Untungnya anak didalam perutnya tak terlalu merepotkan. Tak pernah ada drama merepotkan. Tanpa mual dan muntah.
"Kabir..... Aku merindukanmu.... Apa kamu tak rindu denganku dan anak kita?"
••••
"Aku sangat merindukanmu, Shofia... Bagaimana kabarmu dengan anak kita?"
Hidupnya selama hampir 5 bulan ini begitu monoton. Hanya berada didalam kamar dengan pengawasan ketat.
Sampai Kabir teringat, sudah pukul 10 malam. Dan waktunya seseorang akan meengambil baju baju kotornya.
Berusaha berfikir.
Pikirannya buntu.
Sampai pintu terbuka, dan terlihat Sarah, pelayan yang biasa mengantar makanan padanya datang.
"Kenapa kamu?"
"Pembantu yang mencuci baju sedang bercuti, jadi saya yang mengambil baju"
"Oh.... Dimana kalian mencuci ini??"
"Di tempat laundry halaman belakang"
"Kalau ada yang sudah tak terpakai?"
"Akan dibuang dibak sampah luar rumah untuk para pemulung"
"Oh... Aku ingin besok sarapan dengan sandwich dan kopi"
"Baik"
Akhirnya sebuah ide datang. Pakaiannya yang dia pakai diawal datang, tak pernah dicuci. Dia sembunyikan, karena didalam kerah kemeja itu ada sebuah chip tipis.
Dan 1 Minggu lagi akan ada yang mengambil bajunya.
Tak berapa lama pelayan itu keluar dengan setumpuk pakaian.
"Kalau pakaianmu hanya kekecilan, mungkin akan dipakai pegawai lain.."
Dan seketika dia terduduk kembali setelah akan tertidur.
Sial.
Ya, siapa yang tak mau pakaian bermerk miliknya. Pasti para pelayan sangat suka.
"Oh...."
Sampai akhirnya dia mengingat sesuatu. Ikat pinggangnya.
Menunggu satu Minggu kemudian pastil lumayan melelahkan.
Setelah pelayan itu pergi. Kabir segera menuju kamar mandi. Mengambil ikat pinggangnya dari lemari dan memotongnya menggunakan gunting yang ada dikotak obat.
Setelah dirasa ikat pinggang itu rusak dan tak dapat dipakai, Kabir membuangnya kedalam tempat baju kotor.
Hanya tinggal menunggu waktu itu.
Setelahnya, Kabir kembali kekamar untuk tidur.
"Semoga kau disana baik baik saja sayang...."
__ADS_1
Kemudian Kabir jatuh tertidur.
°°°
Sampai satu Minggu kemudian, pakaian kotor Kabir sudah menumpuk. Seorang palayan lelaki datang membawa troli pakaian bersih.
Menyimpan pakaian itu kedalam lemarinya dan memasukkan keranjang pakaian kotor kedalam troli.
"Kemana alan? Selama hampir 5 bulan aku tak pernah melihatnya"
"Tuan Alan sedang ada perjalanan bisnis tuan"
"Oh.... Enak sekali lelaki itu, aku dikurung sedangkan dia mencari mangsa lagi"
Kabir berpura-pura merajuk dan melihat pelayan lelaki itu tertawa pelan.
Kabir memang sengaja, agar terlihat menyukai sesama jenis. Agar tak ada kecurigaan.
Setelah pelayan itu pergi, Kabir tersenyum meremehkan.
"Mari kita tunggu apakah rencana ini berhasil..."
Kabir menunggu lagi.
Tapi dia tetap menyiapkan rencana berikutnya.
1 hari....
2 hari ...
1 Minggu...
1 bulan....
2 bulan...
"Sial..."
Kabir mendesis tak suka. Rencananya dua bulan lalu pasti gagal.
Kabir berjalan tak menentu.
Ini hampir makan siang. Sebentar lagi Sarah akan datang.
Sampai akhirnya dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Kabir segera memasuki kamar mandi. Melepas kaosnya dan hanya memakai celana pendeknya.
Dan mengambil kemejanya dahulu, mengambil gunting dan merobek kerah kemejanya.
Mencoba mengeluarkan sebuah chip tipis.
Ya, chip ini yang bisa melacak keberadaannya.
Masih ada tanda merah padam, masih tak ada signal.
Sial.
Kabir segera menggunting sebuah plester untuk luka. Dan menempelkannya chip itu.
Semoga upayanya ini berhasil.
Dan setelah itu pintu kamarnya berderit, ada yang masuk.
Benar, ini waktu makan siang dan Sarah datang dengan nampan yang penuh dengan makanan.
"Kemana tadi pagi kemari, darl?"
Sarah tersipu, suara pelan tapi serak itu membuat bulu kuduknya meremang. Begitu menggoda.
Sedangkan yang mengucapkan itu sejujurnya ingin muntah.
"Saya tadi harus mengurus gudang, tuan..."
"Oh... Apa kamu punya uang???"
Dengan pelan, Kabir menyentuh pundak Sarah dari belakang. Lalu mengelus sedikit leher wanita itu.
"Untuk apa tuan?? Anda tak bisa kabur?"
"Aku tak ingin kabur, tapi aku ingin berolahraga... Maukah membeli pengaman??"
__ADS_1
Berbicara disamping telinga Sarah dan itu lumayan memancing Sarah.
"Maksud tuan?"
"Apa kamu tak bisa melihat, aku begitu siap..."
Dengan enggan Kabir mengecup telinga Sarah.
"Aku akan membelinya"
"Belilah sendiri, dan jangan menyuruh orang lain... Mereka tak tahu kalau aku normal"
"Iya ... Tunggulah"
"Aku akan menunggumu disini, diatas ranjang itu"
Kabir berbisik.
Dan Sarah dengan antusias pergi begitu saja.
Setelah pintu tertutup dan terkunci. Kabir tersenyum remeh.
Misinya berhasil.
Kabir sudah melekatkan chip miliknya dipita yang dikenakan Sarah.
Ya, setiap bisikan yang diungkapkan Kabir, lelaki itu merobek sedikit pita Sarah dengan gunting kecil.
Entah kapan, tapi yang pasti pita itu akan keluar dari rumah ini.
Dan sekarang dia harus memikirkan langkah selanjutnya, lebih tepatnya bagaimana menghindari wanita pelayan itu.
Sial.
Bagaimana menghindari wanita itu? Dia tak ingin melakukan hubungan ranjang dengan wanita itu.
Ya, saat dia menggoda pelayan itu bahkan mencium telinganya, sebenarnya membuat Kabir mual dan ingin muntah.
Dia seperti tak bergairah dengan wanita lain selain Shofia. Dia akan sangat antusias kalau saja Shofia yang dia goda.
Mencoba menjernihkan pikiran, Kabir malah teringat dengan istrinya, Shofia.
Kalau Shofia benar hamil, pasti kandungan wanita itu sudah membesar.
Bagaimana keadaanny?
Kalau benar benar hamil, pasti dia sangat kerepotan.
Dia pasti mengurus berbagai hal sendiri, apa Max dan Rio membantu Shofia ?
Berbulan-bulan tak bertemu tak membuat Kabir terbiasa dengan rindu.
Rindunya pada Shofia semakin menumpuk, bahkan dia selalu memimpikan Shofia yang sedang menangis menanti Kabir pulang.
Dia benar-benar harus pergi.
Tapi sebelum ide ide lain muncul, Kabir menoleh kearah pintu. Pintu kamar terbuka dan menampakkan Alan dengan baju santai.
"Bagaimana kabarmu.? Beberapa bulan disini apa kamu menyerah?"
"Tidak! Aku akan terus berusaha kabur!!"
"Cobalah.... Aku akan terus membuatmu merengek!!"
Setelah mengatakan semuanya, Alan segera menutup pintu.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Kabir begitu kesal, dan marah.
Dia harap rencananya kali ini berjalan dengan mulus.
Ya, dia berharap kalau orang orangnya segera menemukannya.
Menghembuskan nafas, ingin sekali dia mengakhiri semua ini.
Tapi saat teringat sang istri yang begitu dia cintai rasanya dia memiliki harapan lain.
"Aku mencintaimu, Shofia... Aku harap kamu menungguku"
********
PPKM lagi kawan, tetap jaga diri ya...
__ADS_1