
Dua hari kemudian, saat Shofia sedang bermain dengan Rafael ditaman belakang, Fio datang dengan menunduk.
"Kak Shofia. ..."
"Iya... ada apa Fio?"
"Aku ingin mengatakkan sesuatu..."
"Apa? Katakan saja. ..."
"Aku hamil...."
"Oh... pacarmu akan kemari? Apa dia teman sebayanya? "
"Yang menghamiliku adalah kak Kabir. ... kak maafkan aku, aku tak tahu akan menjadi seperti ini, aku tak ingin membuat kakak bersedih tapi aku tak bisa menutupi ini... ayah akan marah dan bayi ini juga membutuhkan ayah"
Shofia menatap Fio, dan lekas berdiri.
"Ayo bicarakan kedalam"
"Iya...."
Shofia mendorong stoller Rafael dan dibelakangnya ada Fio yang berjalan pelan.
Shofia duduk diruang tengah. Dia memanggil pengasuh untuk membawa Rafael kekamar dan juga memanggil kepala pelayan lelaki.
Ya, untuk berjaga-jaga kalau Fio berbuat nekat.
"Duduk..."
"Iya...."
"Jadi, kapan kalian berhubungan?"
"Hanya sekali saat beberapa hari setelah tinggal disini"
"Oh.... sudah tes kedokter? "
"Sudah... kak... maafkan aku..."
Fio merogoh kantongnya dan memberikan selembar kertas.
Shofia mengambilnya dan segera membacanya. Shofia mengangguk.
"Kepala pelayan.."
"Baik nyonya..."
Kepala pelayan itu membuka laci dan mengambil sebuah kertas serta pena.
Dan menyerahkannya pada Shofia.
"Ini... tanda tangan"
Shofia menyodorkan kertas dan juga pena.
Surat perjanjian.
"Ini apa?"
"Kalau kamu tak bisa baca, akan aku bacakan..."
"Aku akan baca"
Fio melihat serta membacanya. Tak ada yang menguntungkan. Fio memutar otak.
"Kak... ini... jika anak ini benar anak kak Kabir, anak ini akan kakak rawat menjadi anak angkat dan ibunya akan diasingkan. ..."
"Ya... dan kalau kamu ketahuan berbohong, jangan salahkan kami kalau tak segan"
"Aku ibunya... aku harus yang merawatnya. .."
"Fio... satu yang harus kamu tahu, trik ini sudah puluhan wanita mempraktekkannya.. kamu begitu naif kalau aku bisa terprovokasi"
"Kak...."
"Tanda tangan atau tidak...."
"Baik...."
Fio menandatangani surat itu dan Shofia tersenyum.
"Fio.."
"Iya..."
"Mau aku ceritakan tentang wanita wanita itu..."
__ADS_1
"Maksudmu? Kak... aku ini sepupu mu, apa tega membuat bayi ini tanpa ibu?"
"Ya... kalau kamu mengira aku akan polos, kamu salah... aku sudah fasih dalam hal ini.... tentang wanita-wanita yang mengaku hamil. ... sebagian berakhir disel bawah basecamp milik Max, dan sebagian berakhir dipulau terpencil, atau kamu mau kamu berakhir ditangani saja??"
"Kak... kakak mengancamku? ?"
"Tidak... aku hanya ingin mengatakkan, entah itu anak Kabir atau bukan, kamu akan berakhir sama dengan mereka.. jadi jangan berharap banyak..."
"Kak... aku anak dari pamanmu!"
"Siapapun kamu... berani merusak keluargaku, tak akan ada ampun...aku termasuk orang yang kejam..."
Shofia beranjak pergi membawa surat itu dan meninggalkan Fio dengan keadaan yang kesal setengah mati.
"Kalau kamu tak mau mengalah, aku akan memusnahkanmu"
Fio juga pergi kekamar nya dan segera mempersiapkan segalanya.
"Yang akan menjadi nyonya hanya aku... bukan kamu atau siapapun..."
Fio bertahan seharian didalam kamar, dan itu lumayan membuat heran para penghuni rumah.
"Tumben sekali wanita itu begitu patuh"
Max berbicara dengan tenang setelah satu jam duduk diruang tamu dengan begitu lengang.
"Dia baru saja menandatangani surat itu..."
"Lalu..."
"Tak dapat berkata apapun...."
Rio tertawa saat melihat rekaman cctv tadi siang, dan itu lumayan membuat moodnya membaik setelah dia harus menggantikan posisi Kabir disetiap rapat.
"Tapi sepertinya dia mempersiapkan rencana"
"Iya.... dan sepertinya taktik lama"
"Sepertinya begitu...."
♡
Makan malam telah usai, dan Fio tetap diam.
Setelah makan malam, Kabir, Shofia, Max dan Rio menonton film.
"Merusak suasana"
Max begitu kesal, mereka menonton serial keluarga yang bagus malah terhenti.
"Ada apa?"
Kabir berbicara tanpa melihat Fio, dia masih saja bermain main dengan rambut Shofia yang tidur dipangkuannya.
"Kak Kabir. ... kak Shofia berselingkuh dengan Rio. ..."
"Oh... lalu?"
"Kamu harus percaya... lihat ini"
Fio menyodorkan ponselnya yang menampakkan sebuah rekaman serta foto foto Shofia dengan Rio.
"Aku sudah tahu...."
"Dia mengkhianati kak Kabir. .. jangan jangan Rafael juga anak dari Rio. .."
"Berhenti memancing emosi"
"Aku berbicara jujur...."
Shofia, Rio dan Max nampak tak peduli. Dan Kabir menatap kearah Shofia.
"Kalian sudah bermain-main nya. ..."
Ketiga orang itu mengangguk setuju, dan memang mereka sudah muak.
"Aku percaya dengan orang terdekat. ... apa istriku tak memperingatimu tentang penjara bawah tanah?"
Fio menegang. Dia mencoba tenang dan menatap mereka lagi.
"Kamu percaya dengan mereka? Aku sedang hamil anakmu, aku membelamu"
"Anakku atau bukan, akhir dari kamu adalah sama...."
"Kabir...."
"Apa?"
__ADS_1
"Rafael pasti juga bukan anakmu...."
Kabir dengan cepat menghampiri Fio, dan mencengkeram rahang Fio.
"Bicara sekali lagi, aku pastikan mulutmu aku robek"
"Kabir... sakit"
"Sakit??? Merasakan sakit.... kamu kira kami sedangkal itu?? Kamu salah"
"Kabir.."
"Kamu kira pernikahan kami yang sebentar membuat kami gampang berpisah, kamu salah.... dan kamu kira memprovokasi aku dan Rio berhasil?? Salah...."
"Akh...."
Kabir menghempaskan tubuh Fio dan gadis itu pura pura kesakitan.
"Max, bawa Adam kemari... dan juga bawa gadis ini kedalam penjara bawah tanah"
"Aku sedang hamil anakmu... aku mohon"
"Kamu harus tahu... aku tak pernah menidurimu"
"Malam itu kamu meniduriku"
"Kamu berhalusinasi"
"Tidak... kalian yang meminum obat halusinasi... Shofia dan Rio bahkan tidur bersama..."
"Kamu salah.. kamu yang berhalusinasi... Rio putar videonya"
"Baik. ..."
Rio segera membuka file dilaptopnya dan segera memutar video Fio yang sedang berhalusinasi.
"Kalian menjebakku! !"
"Kami atau kamu!?"
"Kabir!!!"
"Bawa dia ke sel... dan jemput Adam..."
"Oke..."
Max menelpon para pengawalnya dan menyeret Fio keluar.
Shofia masih terdiam. Dia menghela nafas.
Rio menepuk pundak Kabir, dan keluar. Memberi ruang pada kedua pasangan itu.
Rio tahu kalau mereka tertekan dengan semua ini. Biarkan berbicara sebentar.
"Darl. .."
"Hmmm...."
"Kenapa?"
"Hmmm.... aku merasa kalau aku ini memang tak diinginkan"
"Siapa yang bilang?"
"Uncle Adam memanfaatkanku... mama ingin membunuhku...."
"Darl... jangan berbicara seperti itu, kalau tak ada kamu, bagaimana denganku, dengan Rafael? ??"
"Tapi...."
"Banyak orang yang mencintaimu, darl... aku, kak Morgan, kak Luna, kak Mario, kak Eliz. ... banyak yang mencintaimu, bahkan keluargaku...."
"Kabir..."
"Aku sangat mencintaimu, sayang.... seberapa banyak orang yang membencimu... aku yang akan dibarisan paling depan dalam menjaga dan membelamu..."
"Kabir terima kasih..."
"Sayang... ingat... jangan selalu berterima kasih padaku... ini sudah kewajibanku mencintaimu dan melindungimu apapun kondisimu... aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan apapun yang terjadi"
"Aku beruntung memilikimu, aku beruntung bisa menjadi istrimu"
"Aku juga beruntung.... aku hanya berharap kita akan melewati ini semua dan menua bersama... merawat anak anak dengan baik"
"Aku mencintaimu"
"Aku juga...."
__ADS_1
*******