
Setelah dua hari Shofia istirahat dirumah, akhirnya hari ini Kabir mengajak Shofia berjalam jalan.
Hanya disekitar rumah, karena Shofia benar benar tak mau untuk jauh jauh dari rumah.
Seperti saat ini, Kabir membantu Shofia mengenakan sepatu, untuk bersiap pergi.
"Kenapa tak mau keluar lebih jauh?"
"Aku takut..."
"Takut apa?"
"Kabir! Lihat aku, aku cacat! Aku membuatmu malu!"
"Shofia... dengarkan aku, kalau aku malu pasti tak akan kuajak kamu berjalan jalan"
"Mungkin saja kamu sungkan?"
"Sungkan? Aku tak mungkin merasakan itu denganmu... ayolah kita pergi berjalan jalan.."
"No! Aku ini menyusahkan"
"Shofia, kamu wanitaku!"
Dengan sedikit kesal, Kabir membantu mengenakan mantel milik Shofia dan memasangkan sebuah selendang dikepalanya.
"Kita akan menikah dua hari lagi, jadi kita harus memanfaatkan waktu ini untuk berjalan jalan.. setelah menikah kita langsung terbang ke New York lagi"
"Apa kamu yakin menikahiku?"
"Sangat yakin... jangan menjadikan kelumpuhanmu sebagai alasan"
"Baiklah... aku tahu.. tapi..."
"Apa lagi?"
"Kita akan kemana?"
"Terserah kamu saja"
"Selat bosporus?"
"Apa menaiki cruise?"
"Kalau kamu mau.."
"Aku tak mau..."
"Lalu?"
"Menikmati pemandangan dari pinggir saja"
"Baiklah"
Akhirnya setelah kesepakatan itu, Shofia dan Kabir menuju kesana.
Hanya berdua, dan setiap hal yang Shofia tak bisa, dilakukan oleh Kabir.
Tak ada pengawal yang menemani mereka, ini kencan mereka sebelum menikah.
Dengan lalu lintas yang cukup lengang, Kabir dan Shofia sudah sampai disana.
Menggendong Shofia dan memindahkannya ke kursi roda sudah menjadi hal wajib bagi Kabir.
Kabir terus saja mendorong kursi roda Shofia.
"Kabir, biarkan aku sendiri yang melakukannya"
"Kenapa? Aku lebih bisa"
__ADS_1
"Tapi Kabir..."
Shofia sedikit tertunduk. Dia tak malu saat dicemooh oleh orang banyak, tapi Kabir tak bisa seperti ini. Dia lelaki yang berkuasa.
"Jangan pikirkan mereka..."
"Tapi..."
"Sayang..."
Kabir mencium bibir Shofia tanpa rasa malu. Melum*atnya sedikit dan melepaskannya.
Seketika pipi Shofia memerah.
"Kabir!!"
"Jangan cerewet... mari makan"
Orang orang yang melihatnya sedikit tertawa, ada juga yang mulai risih dengan mereka.
Kabir mendorong kursi roda milik Shofia lagi.
Kabir segera mencari Cafe ataupun restoran yang bisa melihat pemandangan Selatan bosporus.
Akhirnya Kabir memilih untuk duduk di depan Cafe yang menyiapkan tempat duduk dihalaman.
"Mau apa?"
Kabir membuka buku meni yang diikuti oleh Shofia.
"Terserah saja.. aku tak tahu"
"Baiklah"
Kabir memanggil pelayan lagi dan memesan dua makanan berat serta minuman untuk mereka berdua.
"Indahnya saat sore"
"Apa saat kamu kecil juga disini?"
"Iya... beberapa kali aku kemari"
"Kapan pertama kali kemari?"
"Saat Daddy menikahi mommy"
"Eh... bagaimana bisa? Kamu dan Zahra anak biologis mommy dan Daddy kan?"
"Iya.. tapi karena kesalahpahaman membuat mereka terpisah cukup lama"
"Berapa lama?"
"Kalau dihitung, dari mommy hamil sampai aku berumur 4 tahun"
"Lama ya... lalu bagaimana mommy menghadapi itu?"
"Dia pindah ke Korea Selatan.. mendirikan perusahaan perhiasannya disana dan merawat kami..."
"Pasti mommy sangat menderita "
"Ya... aku sangat ingat.. dulu saat malam hari mommy pasti menangis.. menyebut nama Daddy"
"Lalu, bagaimana dengan kehidupanmu?"
"Apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti aku dan Zahra? Kami hanya tahu bermain dan menemani mommy bekerja"
"Caramu bertemu dengan Daddy? "
"Saat aku berumur 4 tahun lebih awal kami bertemu.. saat itu mommy tak bisa menemani kami membeli es krim.. lalu kami pergi sendiri... siapa tahu kalau saat kami pulang, saat itu jam makan siang dan pejalan kaki disana sangat banyak"
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku tertarik oleh orang orang yang lebih besar... aku terpental, dan tertarik mobil yang melintas.."
"Apa kamu mengalami banyak luka parah? "
Kabir berhenti sejenak saat pelayan mengantarkan makanan. Kabir sedikit tersenyum.
Sedangkan Shofia memilih untuk menunggu Kabir meneruskan ceritanya.
Kabir kembali berbicara sambil menyiapkan roti cane untuk Shofia.
"Iya, aku kekurangan darah dan Daddy yang mendonorkan darahnya untukku.. Daddy pula yang menolongku dan membawa kerumah sakit"
"Zahra?"
"Zahra? Dia menuruti kata Daddy dan memanggil mommy"
"Apa kalian tahu kalau dad Leo adalah Daddy kalian?"
"Tidak... tapi setelahnya kami tahu, saat transfusi darah, Daddy mengambil sampel DNA-ku dan ternyata cocok, 99% adalah keluarga kandung"
"Pasti kalian bahagia"
"Ya... aku bahagia saat Zahra mengatakan kalau Daddy telah kembali... tapi ternyata mommy tak menyambutnya dengan baik dulu, dia marah dan menangis sejadi jadinya..."
"Aku tahu perasaannya mommy, pasti menyakitkan, sekian tahun masih terbelenggu dengan kesalahpahaman yang tak berarti. .. "
"Ya, aku pikir juga begitu, masalah mommy dan Daddy sangat rumit .. tapi untung Daddy tak pantang menyerah dan membuat mommy luluh lagi... dan harus menunggu mommy lama... dan akhirnya di Indonesia mommy aku meyakinkan diri bahwa ikut Daddy adalah hal yang baik"
"Maksutnya? "
"Mommy seorang kristen... dan Daddy muslim... Daddy sangat mencintai mommy, tapi dia tak pernah memaksa mommy untuk mengikutinya.. sesuka mommy saja"
"Oh..."
"Banyak insiden yang terjadi, mommy dan Daddy terombang ambing di dalam drama yang di buat oleh nenekku.. segala kesalahpahaman juga tak dapat ditolerir.. akhirnya nenekku dihukum dan meninggal.. sedangkan kakekku menikah lagi, dan kakek Arsyid tetap menjalani hidupnya dengan damai"
"Pasti mommy sangat menderita saat itu... merasakan setiap kesakitan yang ada... dan dipaksa untuk kuat"
"Ya.. aku tak menyangka saja, mommy bisa melewati masa tuanya dengan senyuman yang tulus"
"Ya... aku melihat, mommy dan Daddy sangat saling mencintai.. bahkan dihari tuanya dengan pernikahan yang lama, mereka masih saja mesra"
"Ya.. dan itu yang ingin aku katakan padamu..."
"Apa?"
"Apapun masalah yang kita hadapi, aku harap kita bisa saling menguatkan... dan percaya.. bahkan setiap masalah yang ada, membuat cinta kita semakin kuat dan besar"
"Iya aku mengerti, dan berharap begitu"
"Aku dan kamu tak tahu apa yang akan terjadi dihari mendatang, tapi aku harap kita bisa melewati semua ini bersama"
"Ya, aku juga berharap begitu... membangun keluarga kecil, merawat anak anak"
"Ya... aku akan mengusahakan semua keinginanmu, darl...."
"Terima kasih"
"Aku beruntung memiliki wanita sebaik kamu, bahkan mungkin kamu adalah hukuman terindah yang Tuhan berikan padaku"
"Maksutnya? "
"Dulu banyak yang menyumpahiku dengan kata kata yang sangat menyakitkan karena sikap dingin dan tak acuhku, banyak wanita yang disewakan oleh Max yang aku usir dan caci, dan mereka menyumpahiku akan karna yang berlaku"
"Kamu merasa aku adalah karma"
"Ya.. bagaimana tidak, kamu datang meninggalkan kesan yang entah buruk atau tidak, kita menaiki ranjang yang sama dan setelahnya kita bertemu disebuah hal tak terduga.. cinta masa kecil"
__ADS_1
"Cinta masa kecil? "
*******