
"Entah kamu ingat atau tidak, tapi yang pasti aku ingat... gadis kecil pendiam dan tak mudah bergaul yang dibawa oleh pengacara Luna.. bertemu hanya dua kali tapi itu cukup membuat Kabir kecil tertarik tapi kamu malah menjauh dan tak terlihat lagi setelah itu"
"Kamu ingat itu?"
"Iya... gadis kecil yang cukup cantik tapi dingin... tak mau berbicara walau sudah diajak bicara.."
"Kamu tahu, itu adalah awal hari hari yang menyeramkan untukku"
"Maksutnya dari dulu kamu ditekan oleh ibumu"
"Ya, semenjak papa meninggal, mama tiriku memang menekanku, mungkin itu masa transisi-ku"
"Mama tiri? Maksudmu?"
"Ya, mamaku bukan istri sah papa, aku lahir karena ketidak sengajaan papa yang mabuk dan memaksa mama untuk ditiduri"
"Lalu, mamamu tak meminta pertanggungjawaban? "
"Tidak, mama memikirkan istri sahnya, dan untung papa memperhatikanku dengan baik tak membedakan bedakan..."
"Jadi, itu kenapa kamu tak ingin hamil sebelum menikah?"
"Ya...aku takut mengecewakan anakku kalau itu sampai terjadi"
"Lalu, mamamu?"
"Meninggal saat aku hampir berusia 3 tahun, setelah mama meninggal papa membawaku pulang ke kediaman Lee, saat itu mama Anita sangar marah dan papa jatuh sakit, sampai akhirnya menyusul mama... dan aku dirawat oleh kak Luna dan Kak Morgan"
"Shofia... apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu"
"Ya.. terima kasih Kabir"
Mereka melanjutkan obrolan obrolan ringan sambil menghabiskan makanan mereka.
Setelahnya, Kabir dan Shofia melanjutkan berjalan menyeberangi jembatan Bosporus. Jembatan ini lumayan panjang, dan jembatan inilah penghubung antara Turki Asia dengan Turki Eropa.
"Budaya disini sangat unik"
"Ya, budaya disini campuran antara Asia dengan Eropa"
"Bagaimana mungkin?"
"Ya, Turki merupakan perbatasan langsung antara Eropa dan Asia "
"Bagian mananya?"
"Dimana laut Marmara?"
"Saat kau mengikuti Selat ini maka kamu akan melihat laut Marmara "
"Oh... apa kita kelak akan kesana?"
"Ya, aku harap juga begitu.. kalau ada masa ya"
"Iya..."
Shofia sedikit tersenyum. Pemandangan disini sangat indah. Ada beberapa cruise yang berlabuh bahkan berlayar dibawah sana. Memang wisata cruise merupakan salah satu wisata favorit disini.
"Kabir"
"Iya..."
"Ibu kota Turki itu Ankara, bukan?"
"Iya.. kenapa?"
"Tapi kenapa banyak orang yang mengenal Istanbul dari pada Ankara?"
"Apa kamu tak pernah belajar sejarah?"
"Sejarah apa?"
"Kamu ingat Konstantinopel dan Bizantium?"
"Emm. .. apa ini tentang jalur sutra dan emm... kesultanan Ustmaniyah?"
"Tepat! Wilayah ini sangat strategis dulu dari daerah Eropa maupun Asia bahkan dekat dengan laut.. jadi dijadikan perebutan"
"Lalu?"
"Akibat perebutan itu dan kekuasaan yang berganti ganti, membuat banyak situs situs bersejarah disini termasuk Hagia Sophia"
__ADS_1
"Oh... jadi sekarang Istanbul tetap menjadi pusat bisnis dan pariwisata "
"Yups..."
Shofia mengangguk dan tersenyum pada Kabir. Kecerdasan Kabir memang harus benar-benar diakui.
Tapi senyuman itu menghilang saat sebuah mobil berhenti disamping mereka.
Didalam sana ada seorang lelaki dengan dua perempuan. Pakaian merekapun terlihat terbuka.
"Hei tampan... apa butuh tumpangan? Mendorong wanita cacat pasti melelahkan"
Shofia yang duduk dikursi roda sedikit bingung.
Entah apa yang dibicarakan tapi yang pasti tak baik untuk didengar.
Karena perkataan itu membuat raut wajah Kabir sedikit berubah.
"Bukan urusanmu!"
Kabir lantas kembali mendorong kursi roda Shofia.
"Jangan jual mahal, yang pasti temanku lebih bisa memuaskanmu daripada wanita cacat ini!"
"Sekali lagi kau mengatai wanitaku dengan mulut kotormu, aku tak segan segan padamu!!"
"Tampan.. temanku benar, bahkan aku lebih cantik dari pada dia!"
Wanita itu menunjuk kearah Shofia, dan itu membuat Shofia semakin bingung.
"Kabir.. ada apa?"
Shofia dengan sedikit pelan bertanya pada Kabir, yang sudah mulai marah.
"Oh, jadi wanitamu tak bisa berbahasa Turki ya... akan kuberi tahu, nona cacat!! Lelakimu itu, ingin bersamaku nanti malam"
Shofia cukup terkejut dengan perkataan wanita yang ada didalam mobil. Tapi Shofia tak ingin terprovokasi.
"KAU!!"
"Kabir tak usah dihiraukan... ayo pulang. .. mommy pasti menunggu"
"Baiklah... kalian! Tunggu pembalasanku"
Lelaki itu lebih memilih fokus mendorong kursi roda milik Shofia.
Disepanjang jalan Shofia tetap diam, dia tak mau memulai percakapan apapun, sama halnya dengan Kabir.
Dia memilih untuk diam sambil menyetir.
Sampai dirumah pun, mereka tetap diam. Entah apa yang mereka pikirkan.
Tapi yang pasti, Shofia memilih untuk pergi kekamarnya.
Shofia termenung.
Apa mungkin perkataan orang orang tadi benar.
Ya mungkin benar.
Apa yang dilihat dari wanita cacat sepertinya.
Masih bersyukur, dia dapat bergerak kembali kelak.
Ya, kelak. Kalau Tuhan mau memberinya kesempatan itu.
"Shofia..."
Shofia mendongak. Rupanya Kabir membawa nampak berisi obat-obatan.
"Minum obat dulu ya..."
"Terima kasih..."
Tak ada senyum di bibir Kabir. Setelah memastikan Shofia meminum obatnya.
Kabir segera beranjak. Dan bersiap meninggalkan Shofia.
"Kabir..."
Kabir menoleh kembali, dia urungkan untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kamu akan memikirkan kembali pernikahan kita?"
Kabir diam. Shofia sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu.
Dia takut, pertanyaannya menjadi bumerang yang membunuhnya.
"Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Aku hanya. .."
"Shofia, kamu berlebihan"
Kabir keluar begitu saja tanpa melihat lagi kearah Shofia.
Sontak Shofia meneteskan air mata, seharusnya dia tahu kalau akan menjadi seperti ini.
Apa yang mau diharapkan dari wanita cacat ini.
Disisi lain, Kabir mengepalkan tangannya sampai kupu-kupu jarinya memutih.
"Ar! !!!"
"Siap tuan"
"Cari orang-orang yang menghadangku tadi... cari sampai dapat dan sekap mereka"
"Baiklah tuan, saya laksanakan!"
Ar segera berlari menjauh, melaksanakan tugas dari sang boss.
"Kalian akan mendapatkan balasannya!!"
Terlihat raut muka Kabir yang menahan amarah.
Saat seperti ini, lebih baik tak mendekati Shofia. Dia takut amarahnya tak dapat dikontrol dan lepas kendali.
Mungkin kalau melukai dirinya sendiri tak apa, tapi dia takut akan melukai Shofia dan membuat wanita itu semakin terpuruk.
Sial.
Menjelang pernikahan mereka malah semakin kacau.
Kabir merogoh kantung celana miliknya dan mengambil ponsel pintarnya.
Menekan nomor sang asisten dan menelponnya.
"Aku mau, mereka bertiga sudah ada sebelum hari pernikahanku"
"Baik tuan..."
"Dan, buat mereka menyesal dan menginginkan mati saja"
"Siap tuan!"
Hah. ... dia harus meluruskan ini semua.
"Son!! Lihat persiapan dihalaman belakang"
"Ya mom! !!"
Ibunya selalu saja berteriak dari kejauhan.
Kabir lantas berjalan menuju halaman belakang, semua sudah tertata rapi. Besok dia akan menikah.
Saat melihat sekeliling, mencari kekurangan yang harus diperbaiki, Kabir menatap ke jendela kamar milik Shofia.
Wanita itu disana, menatapnya dengan lembut.
Sepertinya dia selesai menangis.
Spontan Kabir mengangkat tangannya dan membentuk sebuah sebuah hati.
Terlihat Shofia tersenyum kembali.
Saat melihat senyum Shofia, seperti setiap keraguan dan ketakutannya pergi. Bahkan kemarahannya entah pergi kemana.
Hatinya lega.
Tunggu besok, dia akan membuat Shofia seperti ratu.
__ADS_1
*****