
Leonardo Da Vinci-Roma, Italia
Shofia dan Kabir akhirnya sampai di Roma. Senyum cerah Shofia nampak begitu ketara, dan Kabir menyukai itu.
Ya, acara mandi mereka tidak berjalan begitu mulus, mereka menghabiskan waktu satu jam lebih untuk mandi, karena Kabir dengan senangnya melakukan hal yang tak terduga didalam kamar mandi.
"Kamu suka?"
"Ya... ini indah"
"Mau pergi kemana dulu?"
"Kemana ya... museum atau jalan jalan mencari makan?"
"Emmm...sepertinya ada yang lebih urgent"
"Apa?"
"Kita belum memiliki tempat tinggal"
"Apa? Lalu kita akan tidur dimana?"
"Ya terpaksa harus mencari apartemen sewaan atau hotel"
"Emmm.. kalau begitu hotel saja"
"Oke sayang... sebenarnya aku baru pertama kali keluar jauh tanpa persiapan"
"Eh..."
"Iya, aku tak membawa asisten hanya denganmu dan uang... tak memiliki properti apapun disini... aku seperti orang hilang"
Shofia tertawa terbahak dengan sikap Kabir yang kekanakan. Mereka sedang duduk di kursi tunggu.
Kabir duduk dikursi yang disediakan sedangkan Shofia duduk dikursi roda, berhadapan.
Kabir dengan manjanya mengelus punggung tangan Shofia dengan pipinya.
"Manja... lebih baik ayo cari makan didekat sini"
"Makan apa? Aku tak tahu arah... ya Tuhan"
"Kamu memang terlalu tergantung dengan asistenmu, Kabir!"
"Ya mau bagaimana, memang aku dari dulu bersama asistenku "
"Suamiku, kamu itu sangat ughhh- oh iya, cari ulasan di google, hotel yang bagus"
"Yakin menggunakan google "
"Yups"
"Baiklah, aku akan mencarinya"
"Bagus"
Kabir segera merogoh ponselnya, dan lekas mencari rekomendasi hotel yang baik.
"Kabir..."
"Hmmm..."
"Lapar..."
"Ayo kita kesalahsatu Cafe saja.."
"Iya..."
Kabir menyerahkan ponselnya pada Shofia, dan lekas mendorong kursi roda Shofia.
Shofia akhirnya melihat lihat rekomendasi hotel yang terampil digoogle.
"Aku sudah menemukannya. .. setelah makan kesana ya"
"Iya... yang terpenting jangan hotel bintang 3"
"Kenapa?"
"Sayang. ... aku mau semua sempurna di bulan madu kita"
"Jangan banyak mau, kamu saja yang tahu arah"
"Sebenarnya, aku ingin kita membangun kenangan yang tak pernah kita lupakan..."
"Hmmm...."
"Bayangkan 10 sampai 20 tahun kedepan, kita memiliki anak dan kita akan bercerita kalau kita tak tahu arah di Italia... pasti dapat dikenang"
"Tapi juga tidak dinegara orang bukan?"
"Tak apa"
Kabir dan Shofia segera memasuki sebuah Cafe dan memesan makanan.
Shofia masih dengan lahap memakan Burger dan juga latte nya.
"Pelan pelan saja, nanti kalau kurang bisa pesan lagi"
"Ehhmmmm. ...."
"Shofia...."
"Iya..."
__ADS_1
"Mau belajar berjalan, aku ingat kalau aku punya kenalan dokter"
"Mau.... kapan kesana?"
"Besok saja. .. hari ini ke hotel dan berkeliling kota Roma. ..."
"Sayang. ..."
"Ada apa istriku?"
"Kita berapa lama disini?"
"Satu minggu"
"Lama sekali?"
"Tak apa... setelah kita sampai di New York, kita akan sibuk"
"Baiklah"
Shofia tersenyum, dan menghabiskan latte miliknya.
Argentina Residen style hotel- Via de Torre Argentina 47- Largo Argentina Pantheon- Roma
"Lelahnya....."
Shofia menegangkan ototnya saat turun dari taksi.
Ya, jarak bandara ke tempat ini lumayan jauh perlu waktu 30 menit lebih untuk kesini.
"Kamu mencari tempat juga terlalu jauh...."
"Tapi menurut review hotel ini bagus loh"
"Baiklah, ayo kita masuk dan istirahat "
"Oke...."
Shofia dengan santai duduk dikursi roda, dan menunggu Kabir yang sedang reservasi.
"Oke kita mendapatkan kamar yang VVIP. .. kamu pasti suka"
"Sebagus apa?"
"Nanti juga tahu"
"Hmmmm....."
Shofia tersenyum. Dia tahu kalau suaminya tak akan mengecewakannya.
Dan benar, sampai didalam kamar, Shofia dibuat terkejut dengan penampilan dari kamar yang mereka tempati.
Kamar ini terlihat tak terlalu luas karena saat masuk, mereka langsung disuguhi sofa dengan ranjang lebar dengan dua gelas Wine diatasnya serta taburan bunga mawar disekeliling nya. Jendela disamping nakas juga tak begitu besar.
Disisi lain dari sofa itu adalah kamar mandi. Ini dua ruangan tanpa pintu.
Dia benar benar takjub.
Dengan hot tub, yang eksotis. Dilengkapi dengan lampu lampu yang membuat suasana menjadi menawan.
Kamar ini benar benar minimalis tapi begitu bagus. Apalagi tempatnya yang ramah dengan kursi rodanya.
"Suka?"
"Sangat suka..."
"Jadi harus menikmatinya bukan?"
Kabir mencium tengkuk Shofia, dan dibalas dengan pejaman mata oleh Shofia.
"Membuat baby, mau?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Kamu belum mandi, dan juga aku lelah...."
"Baiklah, aku akan mandi, tapi aku tak yakin kalau kamu tak tergoda"
"Kenapa?"
"Karena kamar mandi itu tak berpintu dan kamu bisa berfantasi liar dengan tubuhku"
"Kabir!!! Mesum!!!!"
"Hahahaha.... baiklah aku akan mandi, kamu tak mandi?"
"Mandilah..."
"Mandi bersama?"
"Kamu nanti mesum!"
"Tidak..."
"Benarkah? "
"Iya, sayang bukan kalau hot tub lebar itu hanya kamu isi sendiri"
"Kamu...."
"Akan aku isi dahulu airnya..."
__ADS_1
"Iya...."
Kabir berlalu menuju kamar mandi, sedangkan Shofia memilih untuk belajar berdiri untuk berpindah ke atas ranjang. Dia benar-benar bosan diatas kursi roda.
"Eh.... kamu bisa berpindah? "
"Iya, aku bosan diatas kursi roda.... "
"Tapi sakit tidak saat kamu berdiri?"
"Tidak tapi seperti lemas"
"Baguslah kalau tak sakit, ayo mandi"
Kabir segera melepaskan dress Shofia, dan melepas semua pakaian dalam Shofia.
Sebenarnya ini hal biasa setelah dia mengalami cedera, tapi ini masih saja begitu memalukan. Sangat memalukan.
"Kenapa bersemu merah?"
"Aku sebenarnya bisa melepas pakaiannya dalamku, Kabir. .. kenapa harus kamu lepaskan?"
"Totalitas sebagai suami yang penyayang"
"Hmmm"
"Ayo mandi"
Kabir segera menggendong Shofia untuk masuk ke hot tub yang sudah diberi aromaterapi.
"Terlalu panas atau terlalu dingin? "
"Sudah pas"
Akhirnya Shofia mengalihkan perhatiannya dengan gelembung gelembung sabun yang mengambang didepannya.
Dan tanpa sadar kalau Kabir juga melepas semua bajunya, dan ikut masuk kedalam hot tub.
"Kenapa kemari?"
"Tempatnya lebar, jadi aku kemari... jarang bukan kita begini"
"Kabir...."
"Hmmm...."
Kabir terus saja mengusap pundak Shofia dan terkadang menciumnya dengan lembut.
"Jangan begitu!"
"Kenapa?"
"Geli!"
"Ehhmmmm. . Entah kenapa kamu begitu halus dan wangi, sayang. ... ingin selalu dekat denganmu "
"Kamu perayu yang handal"
"Aku tak merayu, hanya saja faktanya begitu"
"Setelah ini kemana?"
"Ini sudah akan sore... mau kemana? "
"Alun alun"
"Boleh.... Kabir kapan kita ketempat temanmu?"
"Besok pagi, siapkan diri ya..."
"Iya... apa dia perempuan? "
"Laki-laki. .. sebenarnya kalau tak mempertimbangkan keahlian medisnya, tak akan aku bawa kamu kesana!"
"Kenapa?"
"Karena dia laki-laki "
"Memang kenapa? "
"Aku bisa cemburu, apalagi kalau perlakuannya seperti Anne mengobati kakimu tadi pagi "
"Kan yang menyuruh Anne mengobati kakiku, kamu!!"
"Ya, aku tahu... tapi ini nanti laki-laki, bagaimana aku tak cemburu kalau sampai dia memegang kakimu"
"Hanya mengobati kaki bukan? Kenapa begitu sensitif, dokter Rudy juga laki-laki"
"Tapi Rudy itu sudah tua, berbeda"
"Lalu yang ini?"
"Ini teman kuliahku dulu, jadi wajar kalau aku khawatir "
"Kabir...."
"Jadi, tolong beri obat agar tak khawatir"
"Obat penenang "
"Bukan, tapi pelepasan yang hebat"
"Mesum! ! Akhhh-"
__ADS_1
*****