Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Tembakan


__ADS_3

Halaman belakang Mansion Arsyid- Istambul- Turkey- 09:22 am


Sean benar benar mempersiapkan semuanya.


Dekorasi berwarna putiih dengan mawar merah terpasang dimana mana. Bahkan lantai dipenuhi oleh kelopak mawar.


Makanan kelas atas serta kue pernikahan setinggi 3 meter telah tersedia.


Pelayanan yang begitu baik serta pengamanan yang ketat.


Shofia tersenyum. Dia pagi ini sudah bersiap dengan gaun selututnya yang berwarna biru tua dengan manik manik kecil diarea roknya.


Gaun Shofia sangat tertutup. Berlengan panjang serta menutupi dada.


High heel peraknya mengetuk ngetuk lantai, mencari keluarganya.


Sebenarnya, Shofia mencari Kabir. Karena acara pernikahan sudah terselenggara tadi jam 8 tapi dia tak terlihat.


"Kemana lelaki itu?"


Shofia sedikit khawatir. Apa lelaki itu masih tidur? Tapi mana mungkin.


Atau sakit?


Shofia memang tak melihat lelaki itu setelah acara makannya dengan Kabir kemarin.


Setelahnya, dia meminta pelayan untuk mengantarkan makanan kekamarnya.


Shofia terus saja berkeliling untuk mencari lelaki itu.


Tapi tetap saja tak melihatnya.


Akhirnya karena lelah dia memilih duduk dan meregangkan otot otot kakinya yang lelah.


Sampai dia melihat Kabir berlari kearahnya.


Memakai tuxedo hitam serta tatanan rambut seperti dulu, dia menghampiri Shofia.


Seperti melihat masa lalu, saat Kabir berpenampilan seperti ini, dia rindu. Sangat rindu.


"Shofia"


"Iya, kenapa?"


Kabir tak menjawab, dan malah memeluk erat wanita itu. Dia begitu terkejut atas sikap Kabir yang seperti ini.


Ya, semenjak kecelakaan itu Kabir sangat membatasi interaksinya dengan Shofia. Bahkan menyapa saja enggan.


Walaupun dua hari ini, Kabir bersikap lebih akrab tapi tetap membatasi sikapnya.


Tapi, ini?


"Ada apa?"


"Aku ingat, aku mengingatmu kembali!"


Shofia sedikit terkejut, ini kalimat yang sangat ingin dia dengar dari dulu. Bahkan dia begitu saja meneteskan air mata.


"Kamu ingat siapa aku?"


"Ya, wanita yang sangat aku cintai"


"Tapi, Celline adalah kekasihmu?"


"Biarkan saja, aku hanya mencintaimu.. jangan tinggalkan aku"


"Aku tak pernah meninggalkanmu, bukan?"


Shofia begitu gembira, Kabir ingat padanya.


Didalam pelukan Kabir sangat nyaman dan menenangkan.


"Setelah ini mari kita menikah"


"Kau melamarku?"


"Ya... menebus kesalahanku selama ini,.. biarkan aku menjagamu selalu"


"Ya... terima kasih"


"Aku akan mengajakmu berkeliling setelah acara ini selesai.."


"Harus... Dan membuat perayaan yang meriah"

__ADS_1


"Tentu... aku mencintaimu"


Shofia tak menjawab, dia tersenyum begitu gembira apalagi semua tamu undangan menonton mereka dan bertepuk tangan dengan keras.


Tapi senyum kegembiraan itu sirna saat dari kejauhan ada yang mengacungkan senjata kearah mereka.


Shofia terkejut dan segera membalik posisi mereka.


Tanpa ada suara tembakan, tapi Shofia begitu kesakitan dipunggungnya.


Ada yang merobek tubuhnya.


"Ka-kabir..."


Kabir menyadari kalau Shofia semakin lemas dan mencoba mencengkeram Kabir sekuat tenaga seperti meminta pertolongan.


Kabir terkejut saat punggung Shofia basah karena darah yang terus keluar. Kabir sampai tak bisa berbuat apapun.


"Shofia.. Shofia... bangun.. Shofia!!!"


"Terima kasih telah mengingatku"


Kabir segera mengangkat Shofia membawanya kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat.


Dia tak peduli dengan seruan seruan dari orang lain. Yang dia pedulikan hanya keselamatan Shofia.


Dia begitu cemas.


"Shofia kamu harus bertahan"


"Ya.. tentu"


"Kita akan berkeliling, oke?"


"Ya..."


Setelah sampai dirumah sakit dan Shofia sudah masuk kedalam ruang operasi karena tahi kalau ada peluru yang bersarang dipunggungnya.


Kemeja putih Kabir telah berlumuran darah bahkan tuxedonya sudah kusut dan dia lepas.


Menghela nafas panjang. Dia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


Banyak langkah kaki yang berlari kearahnya. Mereka pasti keluarganya dan keluarga Shofia.


"Kabir.. bagaimana keadaan Shofia?"


"Dia didalam, sedang dilakukan operasi Kak"


"Apa yang terjadi?"


"Ada yang menembak Shofia"


Semua orang menoleh kearah lorong, disana ada Sean dan Zahra yang masih memakai pakaian pengantin.


"Maksutmu? Di penjagaan yang ketat itu masih ada penyusup?"


"Aku perkirakan dia merupakan salah satu tamu undangan.."


"Kamu tahu?"


"Karena semua melalu pengecekan dan pistol itu tak terdeteksi"


"Jenis baru?"


"Ya... jenis yang belum aku ketahui.."


"Lalu? Kenapa mengincar Shofia?"


Morgan benar benar tak habis pikir, Adiknya terus saja terkena masalah.


"Bukan Shofia, tapi aku... karena sebelum tertembak Shofia membalik badanku"


"Dia bersamamu?"


"Ya, aku sudah mengingat Shofia dan mengatakkan semuanya..."


"Apa menyebabkan kerumunan?"


"Ya, karena acara lamaranku.."


"Jadi, kamu menarik perhatian?"


"Iya.. kenapa?"

__ADS_1


Sean terdiam. Dia menyadari sesuatu.


"Tunggu... sasaran mereka bukan kamu ataupun Shofia, tapi aku"


"Maksutmu?"


"Penembak berpikir kalau yang sedang berpelukan itu aku dan Zahra, karena kamu juga memakai tuxedo hitam dan Shofia juga memakai gaun yang indah... jadi dia pikir kalianlah pengantinnya.."


Zahra sedikit kaget dengan ucapan suaminya. Bagaimana bisa Sean menjadi buronan untuk ditembak.


"Kenapa mereka ingin membunuhmu?"


"Entah.. aku tak tahu.. yang pasti kamu akan tetap aman..."


"Kalian, pulanglah... aku akan menjaga Shofia"


"Tapi..."


"Permisi.. ada keluarga nona Shofia"


Pembicaraan mereka terpotong saat seorang lelaki keluar dari ruang operasi. Sepertinya dia dokter.


"Saya suaminya, bagaimana keadaannya?"


"Keadaan nyonya Shofia lumayan stabil, tapi sewaktu waktu bisa saja menurun karena tubuhnya memang tak begitu kuat... dan tembakan itu, mungkin memiliki kadar racun"


"Racun? Apa sudah dikeluarkan?"


Rio yang memang mengikuti keluarga Dominic kerumah sakit segera berbicara.


Bagaimanapun juga dia ahli obat dan racun.


"Sudah... tapi sepertinya racunnya sudah menyebar"


"Bolehkah saya ikut menangani Shofia, saya seorang ahli bedah dan juga obat obatan"


"Tapi tuan, kami tak bisa membiarkan orang asing ikut masuk"


"Biarkan dia ikut! Dia akan menyelamatkan cucuku!"


Kakek Arsyid mengintrupsi sang dokter. Ya, rumah sakit ini milik keluarga Arsyid. Dan bagaimanapun dokter harus mematuhi perintahnya.


"Baik tuan.. silahkan ikut saya"


Rio mengangguk. Sebelum ikut memasuki ruang operasi, Rio melihat keluarga Shofia dan keluarga Kabir.


"Kalian berdoalah.. aku akan berusaha.. Kabir! Aku akan membawa calon istrimu kembali!"


Kabir mengangguk. Dia tahu, temannya dapat diandalkan.


Saat semua orang sedang merenung terdiam. Langkah kaki yang sedang berlari, membuat semua orang menoleh.


Dia Max.


"Hah.. hah... aku menemukan penembaknya!"


"Siapa?"


"Ehm... aku ingin berbicara dengan Sean dan Kabir saja"


"Baiklah... ayo!"


Sean dan Kabir beranjak dari duduknya. Dan melangkah pergi.


"Mom.. kak Luna, aku titip Shofia ya"


"Iya.. selesaikan masalah ini!"


"Ya..."


Sean mengecup kening Zahra dan bergegas penyusul Kabir dan Max.


Kabir tahu, Max yang tak ingin terus terang didepan semua orang, kemungkinan ini bersifat sensitif.


Mungkin ini tentang kehidupan Sean ataupun Kabir. Atau memang keduanya.


"Kenapa harus pergi, kemobil?"


"Setidaknya, dimobilku yang tak ada penyadap suara"


"Baiklah"


Jadi ini memang sensitif. Max begitu berhati hati.

__ADS_1


*******


__ADS_2