Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Terkurung


__ADS_3

"ALAN!!!! BAJING*N KAMU!!! KELUARKAN SAYA!!!"


Entah sedari kapan Kabir menggedor-gedor pintu, yang pasti ditangannya sudah mulai memerah dan sedikit mengeluarkan darah.


Suaranyapun juga semakin serak, sangking seringnya dia berteriak.


Tapi tetap saja tak ada suara yang menjawabnya.


Ya, Kabir disekap disebuah kamar yang lumayan mewah tapi tak ada jendela disana. Hanya sebuah ventilasi sebesar 30×30 cm.


Kabir sedari tadi sudah mencari jalan tapi tak dapat.


Kamar mandi tanpa ventilasi ataupun jendela. Lemari yang hanya berisi baju tanpa jalan rahasia.


Dan pintu yang sedari tadi dia gedori tak dapat membawakan hasil. Ya, dia tak bisa membuka pintu.


Kabir tahu pasti kamar ini memang didesain tanpa jalan keluar selain pintu cat putih ini.


Bahkan dia meraba setiap dinding dan menatap keatas untuk mencari celah tapi nihil.


Sampai hampir sehari dia terkurung tanpa makan, dia baru menyadari kalau dia membawa sebuah alat pendeteksi.


Kabir segera memasuki kamar mandi lagi dan membuka ikat pinggangnya.


Ya ikat pinggang bermerk house of Bijan itu sudah ditangannya.


Ikat pinggang dengan harga lebih dari USD 100 itu segera dia teliti dan menekan beberapa bagian.


Menunggu 15 menit sambil terus saja berdoa. Berdoa agar dia bisa terbebas dengan bantuan ikat pinggangnya.


Tapi hasilnya diluar dugaan.


Layar dibalik ikat pinggang itu tak menyala hanya berkedip Lambu merah dipojok.


Dan itu artinya disini memang tak ada jaringan yang masuk. Semua satelit telah diblokir diarea ini.


"Sial!!!"


Kabir tak menyangka kalau Alan memiliki kakuatan ini. Dia begitu meremehkan lelaki itu.


Ya,dia juga tak menyangka bisa tertangkap oleh Alan.


Mengingat kembali kejadian saat dibandara.


Kabir berjalan cepat menuju toilet terdekat dan segera menuntaskan keinginannya untuk buang air kecil.


Shofia pasti sedikit sebal kalau dia berlama lama diluar, tanpa bersamanya.


Tak ada yang mencurigakan.


Banyak orang disana. Toilet laki laki ini lumayan ramai.


Setelah dia menyelesaikan masalahnya. Kabir segera kearah wastafel untuk mencuci tangan.


Tapi entah mengapa, kepalanya menjadi pusing dan berbayang.


Saat melihat sekeliling, orang lain terlihat biasa saja tapi dirinya begitu pusing sampai ingin pingsan.


Dan dia benar-benar pingsan.


Setelah terbangun Kabir sudah berada dikamar ini. Kamar yang lumayan tertutup.


Bahkan suara didepan pintu pun tak terdengar.


Hampir putus asa dan sekarang benar-benar putus asa karena alat pendeteksi keberadaannya juga tak berfungsi.


Dan dia tahu siapa yang menyekapnya, dia adalah Alan.


Lelaki itu benar-benar tak normal.

__ADS_1


Dia sudah berteriak sambil menggedor-gedor pintu tapi tetap saja tak ada jawaban.


Sialan bukan?


Sampai akhirnya Kabir merasa lelah. Dia kemudian terduduk diranjang.


Melihat sekeliling.


Ya, kamar ini memiliki fasilitas yang lumayan bagus tapi tetap tak ada tv atau semacamnya. Rumah yang begitu suram.


Sedangkan kamar ini hanya memiliki beberapa ventilasi kecil yang dipagari dengan besi.


Ya, walaupun dirinya kuat menjebol ventilasi itu, tapi tetap saja tak bisa sangking kecilnya.


Lumayan sengsara walau hanya sehari.


Pikirannya terus saja tertuju pada Shofia. Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia akan sengsara?


"Bagaimana rasanya dikurung?"


Dari arah pintu terdengar suara serta suara pintu terbuka.


Dan suara familiar itu adalah Alan yang diikuti pengawal pengawalnya.


"KAMU!!!! Lepaskan aku dari sini, bajing*n!!"


"Melepaskanmu?? Kami gila?? Aku akan memberikan kebebasanmu kalau kau mau menjalin hubungan dennganku"


"Kamu gila!!!"


Emosinya naik dan dia segera menghajar Alan tapi segera dicegah oleh pengawalnya.


"Jangan lakukan kekerasan,tampan .... Pikirkan baik baik, kau akan bebas saat kau mau berada diatas tempat tidur denganku"


"Mimpi kamu!!"


"Maksudmu apa?"


"Pikirkan baik baik, dan jangan mencoba kabur! Kalau kau berani kabur aku pastikan kau akan melihat bayimu dan istrimu terkubur bersama!"


"Jangan sentuh keluargaku!"


" Aku tak akan menyentuhnya selagi kamu bersikap seperti anak baik"


Alan segera berbalik, dan kembali menoleh.


"Makan makananmu.. jadilah peliharaan yang penurut!"


"Kau!!!"


"Dan satu lagi, jangan harap kamu bisa ditemukan dengan mudah oleh mereka, ini akan sulit!! Menurutlah!"


"Brengs*k kau, Alan;!"


Alan hanya tersenyum mengejek dan segera keluar dari kamar.


Setelah Alan pergi, seorang pelayan perempuan datang dengan nampan berisi makanan.


Kabir mencoba melihat kearah pintu, dan rupanya terdapat beberapa pengawal disana. Dan mereka membawa senjata.


Sial.


"Tuan makanan anda sudah siap"


"Letakkan saja disitu"


Kabir melihat pelayan itu dengan seksama. Pelayan ini tak cantik tapi dia terlihat mudah dirayu.


"Apakah kau yang akan mengantarkan makananku setiap hari?"

__ADS_1


"Ya tuan"


"Cantik, aku suka..."


"Ah, tuan jangan seperti itu.. nanti tuan muda melihat"


"Memang kenapa, aku normal... Dan aku benar-benar ingin bersamamu"


"Tuan ..."


Kabir mendekat dan menunduk didepan pelayan itu tepat disamping dadanya tanpa menyentuh.


Berbisik pelan dan seksi.


"Besok, saat kau datang bawalah buku dan pena... Aku akan mengirim surat cinta"


"Tuan...."


"Aku harap bisa melakukan hal panas diranjang"


Kabir menegakkan kembali badannya saat terdengar suara sepatu memasuki ruangan.


"Kenapa lama sekali? Cepat keluar!"


"Baik"


Pelayan itu menunduk dan pergi. Terlihat di begitu takut disini.


Setelah mereka pergi. Kabir mencoba tenang dan duduk.


Butuh waktu lumayan lama untuk keluar sambil mengecoh pelayan itu.


Dia harus memikirkan jalan lain juga.


Dan ide lain muncul. Menatap sekeliling.


Kamar ini begitu polos. Ya, artian tak ada kabel atau apapun. Dan ini berita bagus untuk nya.


Disini tak ada kamera. Matanya sangat sensitif dengan kamera pengawas jadi dia tahu itu.


Dan matanya tertuju pada lukisan didepannya. Bukan matanya yang mencurigakan tapi kearah cela cela itu.


Dan ya, Alan lumayan pintar dia memakai alat penyadap suara. Pandai.


Kabir segera melepas semua hal yang berhubungan dengan alat penyadap itu.


Kabir mengacak ngacak kamar itu dan terdapat 5 titik alat penyadap.


"Kau bisamengurungku tapi jangan harap bisa mengintaiku terus"


Kabir segera mencari lagi dan hanya satu kamera pengawas. Ya, Alan memang pandai. Dia memasang kamera itu diluar ruangan.


Lebih tepatnya diluar ventilasi udara. Memang tak terlalu diperhatikan disana.


Dan bodohnya, Alan salah meletakkannya disana karena Kabir sudah tahu sedari awal.


Kabir dengan tangan kosong segera memanjat naik menggunakan kursi dan segera mencoba melepaskan cctv itu dari tempatnya.


Satu, dua kali tak berhasil. Kabir sedikit geram lalu meninjunya, walau tak terlepas, tapi cctv itu sudah menggantung tak menghadap kamar lagi.


Kabir tersenyum remeh. Dan memikirkan jalan lain lagi.


"Kau menganggapku bodoh seperti anak kecil, Alan.. kamu salah, aku akan terus mencoba kabur!"


*******


**maaf ya teman teman semua, saya jarang update cerita karena banyak sekali pekerjaan didunia nyata,


mohon mengerti ya ...😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2