
Shofia benar benar tak membuang buang waktu untuk tetap tinggal dengan semua kenangan dari Kabir.
Shofia memilih segera pergi dan menjemput semua impiannya.
Kehilangan kekasih serta kehilangan calon anak sangat membuatnya bertekad untuk berjuang keras demi masa depannya.
Seperti sekarang dia sudah ada di Bandar Udara Paris-Charles de Gaulle.
Menapakkan kaki di kiblatnya fashion, seperti mendapat sesuatu yang diinginkan dari dulu.
"Harga untuk semua kesakitan ini, aku harap bisa lebih baik"
Dengan koneksi keluarga Dominic serta keluarga Lee, dia hanya tinggal hidup nyaman disini.
Tak buruk memiliki koneksi yang sangat handal.
Bahkan apartment mewah sudah tersedia.
Ya, dia sudah mengantongi alamat apartment yang akan dia tempati. Lebih tepatnya aset milik keluarga Dominic.
Keluarga Kabir begitu memanjakannya.
Apartment mewah di jantung kota Paris sudah ada didepan mata.
Bahkan Shofia tersenyum gembira, saat melihat pemandangan kota saat malam hari dari jendela apartmentnya.
"Aku dulu bermimpi bisa bersamamu menikmati pemandangan ini, Kabir..."
Shofia tetap tersenyum tapi tersenyum dengan miris. Miris akan hidupnya.
Tok.. tok...tok...
Shofia menoleh ke arah pintu, siapa yang mengetuk pintunya?
Shofia segera memakai jubah tidurnya karena memang dia sudah mandi dan hanya memakai lingerie hitamnya.
"Iy- Kabir??"
Shofia terjengat saat melihat siapa yang mengetuk pintunya.
Shofia segera memeluk lelaki itu dengan erat. Memeluk dengan segala rindu yang terpendam.
Ya, yang ada didepan pintunya adalah sosok Kabir.
"Darl... siapa ini?"
Shofia melepas pelukannya karena Kabir tak memperdulikan pelukannya serta suara seksi menyapa pendengarannya.
Wanita seksi dengan pakaian ketat dibelakang Kabir.
"Aku tak tahu.. aku kemari hanya mengembalikan dompet yang terjatuh didepan kamar ini.. dan nona, mungkin kamu salah orang"
Lelaki yang sangat mirip dengan Kabir itu menyerahkan dompet kulit yang Shofia yakini itu adalah miliknya.
"Kabir, kamu Kabir kan?"
"Iya, saya Kabir Dominic"
"Aku tak salah, aku calon istrimu!"
"Nona jangan mengada ngada, aku tak kehilangan ingatan dan wanita ini, Celline adalah kekasih saya"
__ADS_1
Shofia terhuyung kebelakang. Apa apaan ini?
Dan segera menegakkan tubuhnya. Menatap lelaki itu dengan seksama.
Kabir yang dia kenal sangat rapi dan selalu berpenampilan formal saat diluar. Tapi ini, rambut acak acakan serta pakaian seperti anak anak geng jalanan, celana belel serta kaos hitam.
"Maaf, saya salah... terima kasih telah mengembalikan dompet saya..."
Shofia segera masuk dan menutup pintu, dia akan segera menangis.
Sedangkan Kabir didepan pintu, terdiam. Entah kenapa, dia merasakan sakit saat wanita dihadapannya menutup pintu begitu saja, dan dia merasa tenang saat wanita itu memeluknya tadi.
"Darl.. kenapa?"
"Tak apa, kita harus segera ke Manhattam"
"Tapi, kenapa harus sekarang?kita baru saja bertemu dua hari"
"Aku akan segera melamarmu, kita akan menikah"
"Menikah? Kamu tahukan kalau aku ini model, aku mana mungkin menjadi ibu rumah tangga!"
"Baiklah, aku tak akan mengekangmu dirumah"
"Janji?"
"Janji"
"Kalau begitu minum obat dulu, kamu melewatkan waktu minum obatmu"
"Iya, sebenarnya setelah aku meminum obat ini, aku merasa tak nyaman dan sangat pusing"
"Itu efeknya, Darl.. dokter juga berkata seperti itu, tapi ini demi kebaikanmu"
"Iya iya..."
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka terdengar oleh Shofia. Dia sangat terpukul.
"Sebegitu tak penting aku dihidupmu.."
Shofia terduduk disofa kamarnya, dan segera mencari ponselnya. Dia harus mencaritahu apa yang terjadi.
Menekan nomor ponsel ayah dari Kabir dan menunggu panggilan itu tersambungkan.
"Hallo darl.. ada apa? Tak suka dengan apartmentnya?"
"Dad, apa daddy tahu kalau Kabir sudah ditemukan?"
"Ma-maksutmu apa?
"Dad... aku yakin, daddy sudah tahu.. aku tadi bertemu dengan Kabir serta kekasihnya, Celline"
"Shofia, dengarkan daddy dulu"
"Jadi benar kalau selama ini Kabir tak hilang? Dad, apa harus seperti ini?"
"Shofia... kamu hanya tak ingin melihatmu lebih terpuruk, kami tahu kalau Kabir kehilangan sebagian ingatannya.. kami ingin menyembuhkannya terlebih dahulu"
"Dad.. alasan itu konyol! Kabir nampak sehat bahkan merencanakan sebuah pernikahan dengan Celline"
"Itu diluar kendali kami, Shofia... Kabir diam diam menyuruh Ar untuk mencari Celline, cinta pertamanya dan ingatannya kembali ke umur 22 tahun lebih tepatnya dia belum menjadi pimpinan L's corp serta Dominic Group.. ingatannya masih bersama Celline serta seluruh pergaulan bebasnya"
__ADS_1
"Dad..."
"Maafkan kami, Shofia... kamu tenang saja, hidup dengan damai serta kembangkan karirmu.. untuk Kabir, kami usahakan yang terbaik:
"Dad... biarkan ini berjalan semestinya saja.. jangan paksa Kabir mengingat semuanya kalau bukan karena kemauannya sendiri"
"Baiklah.. istirahatlah.. kamu pasti lelah"
"Ya, dad.. terima kasih untuk penjelasannya"
"Kabir akan hadir dipernikahannya Zahra, daddy harap kamu hadir dan membuat Kabir terpukau denganmu, Shofia"
"Ya, dad.. terima kasih"
Shofia menutup panggilannya dan segera berbaring mencoba memejamkan mata.
"Kabir, kalau kamu berubah padaku, aku juga akan berpura pura tak mengenalmu.. setidaknya aku tak akan sakit dengan semua kekecewaan ini"
Shofia terpejam begitu saja dan jatuh dialam mimpinya. Melupakan sejenak segala kesedihannya.
Tanpa Shofia sadari ada seseorang yang masuk, dia adalah Kabir.
Kabir tak menyangka saja kalau unit apartment yang ditinggali gadis ini atas nama keluarga Dominic, jadi dia dengan mudah mendapat kunci cadangan dari pihak pengelola.
Kabir masuk dengan perlahan. Saat melihat masuk, Kabir baru menyadari kalau Unit ini begitu mewah. Bahkan pemandangan kota terlihat jelas.
Kabir sedikit terkejut saat melihat Shofia yang tidur hanya mengenakan lingerie hitam.
Serta foto yang dipeluk oleh shofia, ini fotonya dengan gadis ini sedang berpelukan.
Apa hubungannya sebaik itu?
Tapi dia sama sekali tak ingat apapun.
Gambar difoto itu, Kabir mengenakan setelan formal serta Shofia memakai gaun berwarna putih. Seperti foto pra wedding.
Tapi Kabir heran, kenapa dirinya berpakaian sangat berbeda. Didalam foto itu dia terlihat begitu dewasa serta sangat berkharisma tapi seingat dia, dia tak pernah memakai setelan itu.
Dia ingat kalau umurnya hampir 26 tahun tapi entah kenapa ingatannya masih disaat berumur 22 tahun.
Apa benar kecelakaan yang dia alami mempengaruhi ingatannya?
Shofia begitu cantik dengan wajah campuran Asia- Inggris.
Kabir begitu terlena dengan kecantikan shofia. Kecantikan yang begitu polos.
Shofia tertidur dengan lingerie bodoh yang seketika membangunkan sisi liar Kabir.
Kecantikan Shofia, serta baju tidur yang dikenakan oleh Shofia benar benar membuatnya bodoh. Bahkan kepalanya begitu sakit sekarang.
"Kabir... jangan tinggalkan aku... aku sudah kehilangan anak kita, jangan kamu juga sekarang"
Kabir yang hampir saja keluar, mengernyitkan dahinya.
Dia kira kalau wanita cantik itu terbangun tapi ternyata mengigau.
Apa hubungannya dengan wanita ini seintim ini, sampai ditahap memiliki anak?
Menengok sekilas kearah wanita yang ada diranjang, Kabir lumayan terkejut karena wanita itu rupanya sedang mengigau menangis.
Dia harus mencaritahu, siapa wanita ini?
__ADS_1
*********