Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Berjuang Bersama


__ADS_3

Shofia benar-benar menghabiskan waktunya dikamar. Duduk diatas tempat tidur, Shofia menggambar  gaun gaun cantik dan outfit kekinian lainnya.


Dia sangat menikmati waktu sendirinya, tak ada orang yang akan mengganggunya. Saat ingin sesuatu, dia hanya harus mengambil gagang telpon untuk memesan pada pelayan.


Sedangkan Kabir sedang menjalankan sholat jum'at bersama kakek dan ayahnya. Para lelaki itu sudah berangkat dari tiga puluh menit yang lalu.


Dan mommynya, Ellena sedang berjalan jalan ke pasar sutera dan berkeliling. Menghabiskan waktu. Wanita itu berkata, akan membeli beberapa kain untuk baju keluarga dan juga berbelanja untuk makan malam nanti.


Ya, mommynya berencana mengadakan makan malam yang istimewa sebelum Shofia dan Kabir pulang ke Paris.


Kembali pada Shofia, wanita itu sedikit mengeluh.


Bagaimana tidak, kalau perkataan Kabir tentang "Baby girl or baby boy?" Merupakan kode keras. Ya, Kabir menggila lagi, bahkan tempat tidurnya masih acak acakkan karena ulah mereka tadi.


Lelaki itu ganas dan liar.


Untung sang kakek menggedor-gedor pintu kamar memanggil Kabir untuk pergi sholat jum'at. Kalau tidak,  mungkin Kabir melupakan kewajibannya dan terus saja liar didalam kamar.


Tempat tidur mereka masih kusut, tapi Shofia tak dapat merapikannya. 


Shofia memilih untuk menggambar dan mengabaikan kondisi kamarnya.


Tinggal beberapa gambar lagi, Shofia akhirnya menyelesaikan setengah pekerjaannya.


Dan setengah lagi adalah pekerjaan dari para pelanggan barunya. Ya, wanita wanita yang menghadiri pesta pernikahannya beberapa hari yang lalu, benar-benar menghubunginya.


Shofia sangat menikmati ini semua. Bebannya seakan akan hilang begitu saja.


Dan seketika, dia teringat sesuatu dan tersenyum.


Shofia segera menghubungi para pelayan dengan intercom yang ada dikamarnya.


"Ya nyonya... ada yang bisa kami bantu?"


"Tolong antarkan kopi dan beberapa cemilan kemari, dan juga meja kecil"


"Baik nyonya"


Shofia mengakhiri panggilannya dan setelah beberapa menit terdengar ketukan pintu.


Shofia segera menyuruh mereka masuk, lalu menyuruh mereka untuk menatanya di balkon.


Shofia dibantu oleh seorang pelayan wanita segera berpindah ke kursi roda.


"Kalian bisa pergi sekarang"


"Baik nyonya"


Shofia mendorong kursi rodanya sendiri dan memposisikan dirinya disamping meja kecil yang berisi kopi dan camilan.


Duduk bersantai dan mencari inspirasi.


Indera penglihatannya menatap sekeliling.


Didepannya ada pagar pembatas. Pagar besi itu setinggi perut Shofia. Mungkin dia bisa berdiri sambil berpegangan pagar itu. Toh, pagar ini juga kokoh.


Shofia mendekatkan kursi rodanya sedikit lebih dekat dengan pagar.


Mengambil nafas panjang dan mengumpulkan niat.


Shofia segera berpegangan pada pagar dan berusaha untuk berdiri.


Kakinya lemas, tapi dia tetap berusaha menopang berat badannya.


belum sampai berdiri, Shofia sudah jatuh dikursi rodanya. Dia terengah.


Setelah terduduk sedikit lama, Shofia kembali mencoba untuk berdiri lagi.


Sedikit perlahan tapi tetap membuatnya lumayan lelah karena kakinya masih sulit untuk menopang badannya..


Shofia kembali terjatuh dan duduk kembali di kursi roda.

__ADS_1


Air matanya siap untuk menetes. Dia merasa tak berguna. Dia tak bisa berbuat apapun.


Air matanya luruh. Dia begitu sedih tapi kesedihan itu segera dienyahkan.


Shofia kembali mencoba untuk berdiri. Dia lelah tapi tetap terus saja mencoba.


Berkali kali dia mencoba dan kembali terduduk dan bahkan dia jatuh kelantai.


Dia menangis dan kembali menghapus air matanya.


Mencoba lagi.


Dan saat dia hampir menyerah, dia teringat orang-orang yang menyayanginya.  Terutama suaminya.


Shofia kembali mencoba dan akhirnya dengan susah payah dia bisa berdiri walau sedikit terhuyung.


Dia tersenyum.  Akhirnya setelah sekian waktu dia bisa berdiri.


Masih tetap berdiri, Shofia memejamkan mata. Menikmati udara lembab yang membuatnya tenang.


"Shofia"


Shofia merasakan seseorang melingkarkan tangannya diperut Shofia.


Ini suara Kabir.


"Kabir...."


Shofia tak berani melepaskan pegangannya pada pagar itu tapi dia sangat ingin membalas pelukan Kabir.


"Kamu sudah lama datang?"


"Sudah..  sejak kamu menangis tersedu sedu karena gagal mencoba"


"Kabir..."


"Bukannya aku tak mau menolong, tapi aku tahu kamu butuh semua ini, dan meluapkan semua emosimu"


"Aku benar-benar merasa tak berguna... bahkan aku berdiri saja tak bisa"


"Aku tak akan pergi meninggalkanmu, aku hanya ingin pantas untukmu"


"Aku tak butuh itu, kamu pantas.. kamu istimewa. ..."


"Kabir..."


"Sayang... kamu akan bisa berjalan, okay? Kita akan pulang besok, di Paris kamu akan mendapat perawatan yang bagus..."


"Kabir.. terima kasih, "


"Sayang.... kamu begitu cantik..."


"Kamu merayuku? "


"Tidak... kamu cantik saat menggerai rambut dan memakai badana seperti ini"


"Hmmm..."


"Sudah waktunya makan siang. . Mau turun saja atau Dibawa kemari?"


"Turun saja, auww. ."


"Kenapa? Duduk lah dulu"


"Kakiku tiba tiba sakit "


"Kamu berbaring dulu "


Kabir mengangkat Shofia, dan membaringkannya di ranjang.


Dan rupanya kakinya ada yang lecet.

__ADS_1


"Ini pasti karena jatuh tadi... apa masih sakit?"


"Ya.... aku merasakan kakiku sakit, Kabir "


"Itu pasti Shofia, kamu hanya lumpuh sementara waktu... kamu akan bisa berjalan lagi"


"Aku tak sabar untuk berjalan dan berlari lagi"


"Iya. ... setelah kamu bisa berjalan, aku akan mengajakmu ke pantai"


"Ya, aku tunggu itu"


"Shofia... aku benar benar mencintaimu "


"Aku juga Kabir, ,, aku mencintaimu "


Kabir memeluk Shofia dan mencium kening wanita itu.


Kabir segera menyuruh pelayan untuk mengantarkan makan siang dan juga kotak obat.


Makan siang hari ini, makanan yang biasa dia makan, makanan rumahan.


Para pelayan menyiapkan semua hal untuk makan siang mereka. Sedangkan Kabir memilih mengobati luka gores dikaki Shofia.


Shofia melihat Kabir yang serius mengobatinya sangat gemas dan ingin sekali menciumnya.


"Kabir...."


"Ada apa?"


"Cium..."


"Hmmm..."


Kabir sedikit heran, Kenapa wanita ini mengatakkan hal ini didepan para pelayan yang masih menata makanan.


Saat Kabir masih keheranan. Shofia sudah mencontohkan badannya untuk lebih dekat dengan Kabir.


"Kabir...."


Kabir tersenyum. Sangat jarang wanitanya merinisiatif lebih dahulu.


Kabir segera mengode para pelayan untuk pergi dan setelah pintu tertutup.


Kabir segera mencium Shofia. Shofia kembali membalas ciuman Kabir.  Dan meraba dada lelaki itu.


Membuka kemeja Kabir. Dan itu disambut dengan seringaian oleh Kabir.


"Kamu masih kuat?"


"Hmm..."


"Saat kamu sudah melepas semua kancing di bajuku, kamu tak akan bisa pergi sejengakalpun dari sini"


"Memangnya aku akan pergi kemana?"


"Entah. .. tapi aku benar-benar tak akan melepaskanmu sebelum aku puas, Shofia "


"Kabir..."


"Kamu harus bersiap, Shofia "


Shofia mengangguk, dia siap hangus bersama dengan segala sentuhan Kabir.


Kabir melihat Shofia pasrah dikungkungannya, sangat senang.


Shofia selalu tahu bagaimana menggoda nya.  Hanya dengan berbaring saja dia bisa membangkitkan sisi liarnya.


"Kabir ..."


Shofia memekik, Kabir kembali merobek dress bermerknya lagi.

__ADS_1


Lelaki ini tak sabaran.


*****


__ADS_2