Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Berdiri Dengan Angkuh


__ADS_3

Kabir& Shofia homes- New York


Hari berganti, tak ada kabar dari Kabir hanya ponsel ponsel Rio dan Max terus saja berbunyi.


Dan itu membuat Shofia geram. Sedangkan kedua lelaki itu masih setia melihat layar laptop yang terus berkedip menampilkan saham L's corp dan Dominic group semakin menurun.


"Kenapa tak kalian angkat panggilan panggilan itu??"


"Mereka mencari Kabir... Apa yang harus kita lakukan?"


"Katakkan saja Kabir masih berlibur"


"Tak mungkin, besok adalah rapat pemegang saham dan juga pengesahan gedung apartement  baru, Dan Kabir harus hadir"


"Kenapa tak Daddy saja yang datang?"


"Tak bisa Shofia...."


"Kalau begitu aku saja..."


"Shofia... Aku pusing... Jangan membuat ide ide yang gila"


Rio mengacak rambutnya dan menghela nafas kasar, dia terlihat begitu frustasi.


"Memang aku kenapa? Aku ini istrinya, berhak untuk mewakilinya bukan?"


"Tapi, para pemegang saham ataupun para kolega yang hadir bukan orang yang gampang ditangani"


"Aku tak menggampangkan mereka semua, oke? Aku hanya mengatakan kalau aku bisa mencobanya, bukan? Dari pada tak memiliki jalan keluar?"


Mereka diam, dan akhirnya Max berdiri.


"Biarkan Shofia menangani masalah ini, aku sudah pusing, aku akan menghubungi Veer, lebih dahulu"


"Oke ..."


Shofia segera menatap Rio, dan tersenyum.


"Jangan tersenyum-senyum aneh, oke oke... Kamu yang akan menggantikan posisi Kabir... Tapi dengan catatan, jangan terlalu lelah... Kamu sedang hamil muda"


"Iya aku tahu...."


"Istirahatlah, besok hari yang melelahkan...."


"Iya..."


Shofia segera berdiri dan berjalan kearah kamarnya. Memasuki kamarnya dan mengunci pintu.


Dan inilah saat Shofia terduduk dan menangis lagi. Shofia tak sekuat yang mereka bayangkan. Shofia sangat lemah saat menyangkut orang orang tersayangnya.


"Kabir... Cepatlah pulang ...."


Shofia menangis lagi, merasa sakit lagi bahkan dia akan menyumpahi Alan untuk semua yang dia lakukan padanya dan Kabir.


Sampai akhirnya, Shofia tertidur akibat kelelahan menangis.


Dan dia akan mengutuk perbuatannya saat pagi harinya karena wajahnya bengkak akibat menangis terlalu lama.


Pagi hari tiba, Shofia telah siap dengan setelan kerjanya dan mengurai rambut sebahunya.


Memakai make-up sedikit tebal untuk menutupi mata bengkaknya, Shofia telah siap untuk berangkat ke L's corp.


Sampai diarea dapur, Shofia mencium bau masakan yang sangat lezat dan menghampiri kedua lelaki yang sibuk memasak dan menuangkan susu pada gelas.

__ADS_1


"Selamat pagi para lelaki dapur ...."


"Pagi.."


Max hanya membalasnya sekilas dan kembali menuang susu pada gelas.


Sedangkan Rio nampak kesal.


"Seharusnya wanita yang menyiapkan ini semua, bukan kami!"


"Hanya sesekali saja... Tenang saja, aku akan memasakkan kalian nanti"


"Begitu baru benar ...."


Rio melangkah kearah tempat makan dan memberikan English breakfast pada Shofia dan Max.


"Setelah ini kita akan segera ke kantor untuk rapat, kamu siap?"


"Iya aku siap"


Shofia sangat antusias dengan sarapannya. Ya, bagaimanapun sosis, telur dan bacon adalah makanan kesukaannya.


"Lalu apa yang kita bahas nanti?"


"Ya mungkin tentang saham yang anjlok dan juga pembangunan-pembangunan yang sempat berhenti"


"Oh... Apa ada orang yang harus diwaspadai?"


"Hampir semua.... Sejujurnya kami tak bisa menangani para pemegang saham ini... Aku takjub dengan Kabir yang bisa menaklukkan mereka"


"Kalau begitu kalian juga harus melihat kemampuanku...."


Shofia meminum susunya dan merapikan alat bekas makannya dan mencucinya.


Ya, sebelum Shofia sampai di tempat mencuci piring, Shofia memanggil Max.


"Ada apa?"


"Apa ada kabar dari Veer?"


"Belum ..."


"Beritahu aku apapun perkembangannya ya?"


"Itu pasti ... Tapi sepertinya Alan tak semudah yang kita bayangkan ..."


"Maksudmu?"


"Veer yang biasa menangani hal seperti ini saja bisa pusing, kemungkinan memang tak semudah ini... Dan Semau akses Alan juga lenyap...."


"Apa mereka kabur kenegara lain?"


"Entahlah... Kami masih mengupayakan apapun kemungkinannya"


"Terima kasih"


"Jangan berterima kasih Shofia, Kabir saudara kami.... Semampu kami akan kami cari dan temukan"


Shofia tersenyum. Dan bersyukur masih memiliki mereka yang begitu peduli.


"Ayo berangkat.."


Max mengintrupsi pada kedua manusia yang masih sibuk dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Max dan Rio duduk didepan, Max yang menyetir sedangkan Shofia dibelakang meembaca berkas yang diberikan oleh Rio.


Memahami setiap kalimat dan mencoba mengingatnya.


"Jangan terlalu serius, kami akan membantumu!"


"Iya... Terima kasih...."


Perjalanan 30 menit dipakai dengan baik oleh Shofia. Mereka bertiga berjalan dengan angkuh tapi berwibawa dilobi perusahaan Megah ini.


Semua karyawan menunduk hormat dan memuji para petinggi ini.


Tanpa istirahat atau menengok ruang kerja Kabir, Shofia bergegas memasuki ruang rapat.


Kabir adalah orang yang tepat waktu, dan para pemegang saham itu pasti akan mencemoohnya karena teelambat.


Pintu ruang rapat terbuka, memperlihatkan Shofia yang dikawal oleh Max dan Rio.


Cukup terpana oleh karisma Shofia yang begitu anggun, semua segera tersadar saat Shofia menyapa mereka dan duduk di kursi CEO, tempat Kabir biasa duduk.


"Selamat pagi semua,.... Maaf menunggu lama"


Semua orang masih terheran heran. Siapa wanita ini?


"Perkenalkan nama saya Shofia Nayanika, saya istri dari Kabir Dominic.. suami saya tak dapat hadir hari ini karena suatu alasan, jadi saya yang menggantikannya"


"Maaf lancang, rapat ini rapat penting bagaimana mungkin anda mewakili tuan Kabir"


"Tuan.. jangan memandang saya seorang wanita, tapi lihat dari performa saya menangani masalah ini"


Semua orang berbisik-bisik dan sedikit menyayangkan sikap Shofia yang menurut mereka sombong.


"Baiklah, cukup menggunjing saya... Mari selesaikan rapat ini dengan cepat..."


Rio segera menghidupkan layar proyektor, dan segera dimulai  rapat itu.


Shofia cukup tenang. Dan menanggapi semua hal yang menyinggung dengan lugas. Sedikit mirip Kabir memang.


"Baiklah.... Masalah sudah ada solusinya, kita sudahi rapat hari ini... Terima kasih atas kontribusinya"


Shofia sedikit membungkuk, dan segera keluar dari ruangan yang diikuti oleh Max dan Rio.


"Jadi bagaimana performaku?"


"Ya, kau patut mengakusisi perusahaan ini...."


"Sayangnya aku masih sayang dengan mesin jahit ku...."


"Hmmmm... Jadi ayo makan siang... Aku kelaparan gara gara para orang tua itu terus membangkang"


"Bukankah memang sudah sifat mereka para penguasa uang bersikap serakah?"


"Ya .... Hampir semuanya seperti itu... Bahkan Kabir juga bersifat seperti itu, yang membedanya dia ingin terus menerus menghasilkan uang jadi sebisa mungkin dia menyempurnakan setiap proyeknya dan akan terus ada investor yang tertarik"


"Dan itu membuat kalian nyaman bukan??? Aku tak percaya kalau kalian tak nyaman, kalian akan memilih dunia kalian sendiri sendiri... Rio menjadi dokter hebat dan Max mengurus pub dan clubnya yang terus saja menghasilkan jutaan dollar, hmmmm"


"Kau benar... Memiliki partner seperti Kabir yang terus menganggap kami saudara tanpa memandang rendah kami adalah salah satu alasan kami bersamanya..."


"Ya.... Entah mengapa ikatan persaudaraan kalian sangat bagus.... Mungkin itu akan terjadi dengan anak anak kalian nanti"


"Hmmm... Mungkin ikatan persaudaraan ini juga terjalin dari para orang tua kami dan kami berharap akan terus berlanjut..."


"Semoga...."

__ADS_1


**********


__ADS_2