Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Shofia Sakit


__ADS_3

Setelah malam itu, Shofia dan Kabir sering bersama. Ya, entah Shofia yang datang ke mansion milik Kabir ataupun Kabir yang datang ke Apartment Shofia.


Seperti malam ini, mereka sedang di kolam renang milik Kabir.


Ya, Kabir menjemput Shofia saat pulang kerja. Dan segera pulang ke mansion.


Shofia hanya melihat Kabir berenang saat malam tiba.


"Tak ingin berenang?"


"No! Aku tak suka berenang..."


"Tapi berenang bersamaku sangat mrnyenangkan"


"Sama saja"


"Bagaimana kau tahu, kalau tak mencoba.. em?"


"Akkhhh..."


Kabir menarik kaki Shofia yang tergelantung dikolam begitu saja. Dan alhasil baju kantor milik Shofia basah kuyub.


"Kabir Dominic!! Kamu sebegitu ingin aku basah, hah!!"


"Im sorry, aku hanya tak tahan melihat paha mulusmu itu bergelantung di air"


Kabir memepet Shofia ketepi. Membuka kancing kemeja Shofia dengan perlahan.


"Kabir! Kamu mau apa?"


"Berenang tak mungkin memakai pakaian kantor, bukan?"


"Tapi juga tak mungkin kalau memakai baju dalam saja, kan?"


"Tak apa, aku malah senang"


Akhirnya Shofia pasrah saat Kabir melepas pakaian kantor Shofia.


Tapi keputusan Kabir untuk menggoda Shofia sangat salah, karena Shofia hanya memakai pakaian dalam satu tali saja.


"Sial!"


"Kenapa mengumpat, hemmm?"


"Kamu bertanya, aku hanya ingin cepat cepat menikahimu!"


"Jangan mengatakkan pernikahan lagi"


"Kenapa?"


"Kamu belum serius padaku"


"Belum serius dari mana? Aku serius bahkan berani menidurimu"


Mendengar perkataan dari Kabir itu spontan Shofia menepuk jidatnya. Lelaki ini benar benar.


"Kamu mesum!"


Shofia segera melepas pelukan Kabir dan segera berenang menjauhi Kabir.


Kabir hanya tersenyum menanggapi tingkah Shofia.


Ya, sebenarnya Kabir tahu maksut Shofia. Dia meminta keseriusan dalam artian sebenarnya.


Ya, melamarnya dan bertemu orang tuanya adalah poin utama.


Kabir akhirnya memilih naik dan duduk ditepi kolam. Melihat Shofia berenang memutari kolam.


Wanita ini masih merajuk mungkin.


"Ello...."


Kabir terkaget saat mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengarannya.


Kabir segera menoleh kebelakang, dan dibelakangnya berdiri wanita seksi dengan aksen Inggris yang sangat kental.


"Liza?"

__ADS_1


Ya, wanita itu Liza. Kekasih semasa dia di Inggris.


Kabir segera berdiri dan menghampiri wanita itu, memeluknya sesegera mungkin.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti Shofia tahu kalau kedua manusia itu sangat mengenal dekat.


Dan kedekatan mereka membuat hati Shofia sakit. Ya, hanya wanita bodoh yang mengatakkan kalau tak akan jatuh cinta dengan segala sikap Kabir.


Shofia segera mendekat, setidaknya dia tak mau dilupakan begitu saja.


"Ehm... ada tamu?"


"Eh.. Shofia kenalkan ini Liza"


"Hallo, aku Liza teman nakalnya Kabir"


'"Hallo, aku Shofia..."


"Emm ayo masuk, Shofia bergantilah baju, aku sudah menyiapkan baju dilemariku"


"Iya..."


Kabir segera masuk sambil merangkul Liza, sedangkan Shofia masih berdiri ditempat.


Tapi Shofia segera mengenyahkan pikirannya. Setidaknya untuk saat ini.


Dia segera naik kekamar utama dan mandi. Ya, ini lebih baik.


Saat Shofia akan turun kebawah dia mendengar percakapan yang sangat menghantam Shofia.


"Kamu brengsek!"


"Hei, aku kenapa?"


"Iya, setelah malam perpisahan itu kamu cek out lebih dulu dari hotel, kan?"


"Iya, aku ada penerbangan pagi saat itu"


"Kalau sampai aku hamil saat itu, aku pasti akan membunuhmu, hahahaa"


"Hei.. kalau kamu membunuhku, pasti kamu tak ada yang bertanggu jawab! Hahaha"


"Apa mau coba?"


"Apa?"


"Tuntutanmu, hahahaha"


Shofia terhantam. Kabir menganggap sebuah pernikahan seperti itu. Hanya penghasil keturunan?


Seharusnya Shofia tahu dengan itu, dengan kehidupan gelap Kabir.


Seharusnya Shofia sadar tak akan bisa memasuki sisi gelap Kabir.


Shofia segera naik keatas lagi mengambil tasnya. Dia seharusnya pergi, bukan?


"Kabir.. aku akan pulang"


"Pulang? Ini sudah malam, menginap saja!"


"Tak usah, Yohan ada di apartment..."


"Kamu tak bohong, kan?"


"Tidak"


"Kalau begitu aku antar, ya?"


"Tak usah, kamu ada tamu-"


"Tenang saja Shofia, rumah ini seperti rumahku"


"Iya... kalau begitu aku pamit"


"Shofia..."


"Emmm?"

__ADS_1


"Bawa mobilku saja kalau begitu"


"Tak usah..."


Shofia segera keluar dari mansion dan berjalan menyusuri jalan raya.


Malam ini sedikit gerimis, cuaca Manhattam yang lembab sangat dingin dengan tambahan gerimis.


Shofia terus berjalan tanpa ingin menyetop taksi.


Entah kenapa hatinya sakit, ada perasaan putus asa didalam dirinya.


Bodoh, kalau menganggap Kabir akan serius dengannya. Bahkan Kabir menidurinya sebelum dia berkenalan.


Uap uap panas dari dalam mulutnya mengepul karena cuaca yang dingin disini.


Shofia lumayan kedinginan.


Sampai dia terduduk di halte meredakan sesak didadanya. Dia lupa kalau dia tak bisa terlalu lama kedinginan.


Dia memejamkan matanya. Sampai sebuah mobil van berhenti didepannya.


"Aunty?"


"Yohan, kenapa disini?"


"Akan kepesta ulang tahun... tapi kenapa Aunty disini?"


"Tak apa? Hanya menunggu bis"


"Jam 11 malam? Kamu bercanda.. oh no! Sesakmu kambuh!"


Yohan segera mengangkat tubuh Shofia yang mengigil serta sedikit sesak didadanya.


Yohan sangat tahu bagaimana sang bibi, ya dia dan Shofia hanya terpaut 5 tahun jadi dia bisa mengerti Shofia.


"Kabir..."


"Akh.. lelaki itu lagi, kan? Kenapa sih Aunty harus berurusan dengan lelaki seperti itu? Apa tak ada lelaki lain yang mendekatimu?"


Shofia diam saja, sedangkan Yohan mengeratkan pegangannya pada setir.


Dia tak suka ada yang menyakiti keluarganya.


Yohan menancap gas untuk segera pergi kerumah sakit, Shofia harus mendapat penanganan.


Setelah beberapa saat Yohan menepikan mobilnya dirumah sakit, Shofia segera mendapat perawatan.


Bahkan selang infus serta alat bantu pernapasan sudah terpasang saat Yohan menengoknya tadi.


"Bagaimana keadaan Aunty?"


"Dia tadi sepertinya menangis, mungkin dengan cuaca yang seperti ini dan menangis mempengaruhi pernapasannya serta keadaan mentalnya sedang goyah lagi"


"Apa penyakit mimpi buruknya kemarin masih belum sembuh"


"Saya belum tahu secara pasti, tapi seharusnya dia membeli obat dalam minggu ini tapi dia tak membelinya... entah karena mimpi buruknya sembuh atau dia mencoba untuk berhenti konsumsi obatnya"


"Terima kasih dokter, saya akan memanggil anda kalau ada apa apa"


"Iya, jaga dia karena auntymu itu sudah menderita dari kecil"


"Iya aku tahu..."


Yohan masuk kedalam kamar inap milik Shofia. Menatap wanita itu dengan seksama, ya memang dia lebih segar akhir akhir ini tapi kalau kebahagiaannya hanya untuk disakiti oleh lelaki seperti Kabir apa setimpal.


"Kamu bodoh! Kita tumbuh besar bersama tapi kamu begitu bodoh sekarang... kemana otak cemerlangmu itu"


"Aunty, ayo bangun! Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri kalau menangisi lelaki itu!"


"Shofia Nayanika!! Kamu bodoh!!"


Yohan sedikit sedih saat Shofia memilih untuk tak bangun. Bagaimana pun Shofia bagian keluarganya, tumbuh bersama dan Shofia yang melindunginya dari kecil.


Dan sekarang dia akan ganti melindungi Shofia. Itu tekad Yohan.


Setidaknya dia ingin melihat Shofia baik baik saja.

__ADS_1


*********


@alister_weis follow ya ig baru aku....


__ADS_2