Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Agresif


__ADS_3

Hasil terapi hari ini lumayan memuaskan, karena Shofia dengan pelan sudah dapat berjalan sendiri walaupun terkadang keseimbangannya berkurang.


"Kamu sudah bisa memakai tongkat, tapi ingat jangan berjalan terlalu lama"


"Iya..."


"Obat sudah aku tulis, kamu hanya perlu setiap hari berlatih dan meminum obat secara konsis ...."


"Baiklah.."


"oh iya... kalian setelah ini mau kemana?"


"Positano"


"Wow. . Pemandangan disana cukup indah... "


"Iya aku tahu...."


"Oh... iya...lusa tak usah kemari, aku saja yang kesana"


"Baiklah.... kenapa kamu kesana dan meninggalakan klinik surammu....?


"Bosan... aku butuh merefresikan otakku..."


"Baiklah, kami pergi dulu kalau begitu "


"Oke... hati hati...."


"Ya. ..."


Kabir segera mendorong kursi roda Shofia. Ya, karena latihan  berjalan Shofia masih sangat minim jadi Kabir tak mau mengambil resiko apapun.


Ratunya harus nyaman.


"Positano...."


"Apa kamu punya tujuan lain?"


"Tidak... aku seperti tak asing dengan tempat itu "


"Benarkah? Kau pasti akan menyukainya..."


"Ya... pasti tempat yang indah"


"Tentu. ... tidurlah dahulu, aku tahu kamu pasti sudah kelelahan berlatih tadi'


"Iya.... aku akan beristirahat "


"Hmmm... ini selimut mu. .."


Shofia tersenyum,  Kabir mengambilkan kain tipis dari jok belakang. Ya, Kabir tahu kalau Shofia tak akan bisa tidur tanpa selimut walaupun udara panas menyengat


"Terima kasih kamu sudah mau perhatian"


"Everything for you, darl. ...."


"Hmmm. ..."


Shofia segera mencari posisi nyaman untuk dirinya tidur.


Mimpi mimpi random menyerangnya membawanya lebih terlelap lagi.


Sampai dirinya terbangun dengan suara ombak yang menarik kesadarannya.


"Sudah bangun?"


"Emmmb.... kita... OMG.. ini..."


"Ya.. kita sudah di kota Positano "


Shofia tersenyum senang. Disisi kanannya ada lautan luas dengan pemandangan yang indah, dan disisi lain ada bangunan bercat berbagai macam warna yang begitu menarik perhatian. Bangunan bangunan bata itu dicat berbagai warna.


"Kita akan menginap dimana?"


"Salah satu hotel disana"


Kabir menunjuk deretan rumah yang meninggi seperti bukit disana.


"Apa kita bisa melihat laut setiap harinya?"

__ADS_1


"Ya.. tentu... bahkan akan setiap saat menatapnya"


"Ini benar-benar menakjubkan, Kabir. ..."


"Ya... nikmati waktu bersama kita dan akan membuat kenangan yang indah..."


"Iya... terima kasih "


Kabir hanya tersenyum. Dan melanjutkan konsentrasi  menyetirnya. Jalanan tak terlalu menanjak, jadi Kabir menyetir dengan sedikit pelan. Pemandangan disini memang sangat indah.


Sampai Kabir berhenti didepan sebuah bangunan, dengan papan nama yang tertulis dengan bahasa Roma. Dan entah itu dibaca bagaimana, Shofia tak faham.


"Ini?"


"Ini tempat kita menginap selama disini...."


"Hmmm...."


"Ayo masuk, aku sudah reservasi untuk kamarnya... kita hanya mengambil kunci"


"Kamu mempersiapkan ini?"


"Ya.... ayo"


Kabar segera mendorong kursi roda Shofia, ya... Shofia memang masih mengenakan kursi roda untuk berjalan jauh.


Setelah mengambil kunci, Kabir segera mendorong kursi roda Shofia untuk kekamar.


Ya, penginapan ini tak memiliki akses lift tapi mereka memiliki tangga khusus penyandang disabilitas, serta pemakai kursi roda.


Shofia terus saja terkagum.  Bangunan ini begitu sederhana, tanpa kesan hotel mewah tapi ini sangat nyaman.


Sampai didalam kamar tak kalah kagum. Shofia terpana dengan kamar ini. Tungku perapian, TV, nakas, dan lemari yang begitu estetik.


Ranjang King size dengan bed cover berwarna pastel serta kain kain sutera yang terpasang dipojok ranjang.


"Sutera ini begitu lembut..."


"Kamu tahu kenapa ada kain Sutera disetiap pojok ranjang?"


"Ini sebagai hiasan bukan?"


"Itu benar, tapi dahulu berfungsi lain..."


"Ya, dibeberapa negara saat jaman dahulu, Sutera ini sebagai penutup saat sepasang suami istri melakukan hubungan seksual "


"Kenapa ditutup? Mereka tak dikamar?"


"Mereka dikamar, tapi para pelayan setia akan selalu bersama mereka... jadi mengantisipasi mereka melihat percintaan mereka, mereka menutup tirai"


"Tapi, percuma.... ini sangat transparant..."


"Nah, kalau itu aku tak tahu...."


"Kamu tahu hal ini dari mana?"


"Ya, ada beberapa cerita seperti itu... dan Alan menerapkannya"


"Kamu tahu?"


"Ya, aku tahu, karena dia bercerita.. dia berkata kalau dengan melakukan itu lebih eksotis dan menambah gairah"


"Hah? Dia....stop! Jangan diteruskan. .... aku lelah"


"Kenapa? Aku mengode kamu agar bersiap, memakai lingerie hitam dan menunggu diluar sana.. aku lebih suka"


"Kamu mengada!!! Ini bukan rumah atau apartemen yang bisa seperti itu... penginapan ini begitu padat penduduk! "


"Aku tahu. .... mandilah. . Hari juga mulai sore, aku akan memesan makanan"


"Oke..."


"Perlu bantuan?"


"Tidak, tapi kalau aku tak bisa... aku akan memanggilmu"


"Oke...."


Shofia akhirnya mendorong kursi rodanya sendiri, dan berhenti didepan kamar mandi. Untung kloset dengan shower menjadi satu.

__ADS_1


Shofia segera menanggalkan pakaiannya dan menyiram tubuhnya dengan air hangat. Mandi dengan pelan, karena merasa kakinya sudah tak apa dipakai berdiri lama.


Setelah mandi, Shofia segera keluar dengan berjalan pelan. Memakai bathdrobe Shofia keluar.


"Kabir belum kembali...."


Tiba tiba Shofia tersenyum, dan memiliki niatan jahil.


Setelah 20 menit, Shofia menunggu Kabir kembali dengan berpura-pura menyisir rambutnya. Lelaki itu kembali, membawa sekantong makanan.


"Mana makanannya? "


"Ini... makanan disini sudah beberapa hari kita rasakan, jadi aku membeli di kedai seberang jalan"


"Memang apa yang mereka jual?"


"Berbagai makanan, aku membeli sushi dan ramen. .."


"Wah pasti enak..."


"Emm.. kenapa tak ganti baju.."


"Sebentar.... aku mau makan dulu"


"Baiklah.... ayo makan"


"Ayo..."


Mereka berdua memakan makanan itu bersama, sesekali tertawa bersama.


"Baiklah sudah selesai, akan aku bereskan. .."


"Terima kasih..."


Kabir segera membereskan ranjang mereka, karena memang mereka memakan makanan itu diatas ranjang.


Setelah membersihkan itu, Kabir segera memasuki kamar mandi. Membersihkan diri.


Dan saat itu, Shofia menjalankan rencananya.


Berjalan pelan wanita itu menuju balkon. Dan dia tersenyum. Dia lupa kalau balkon ini adalah spot paling bagus. Pemandangan berbagai arah. Dan disini tak ada jendela yang menghadap kamarnya.  Seluruhnya menghadap laut.


"Sayang...."


"Aku disini..."


Shofia berteriak saat Kabir dengan lantang memanggilnya.


Dengan memakai celana pendek tanpa kaos, Kabir berjalan sambil mengusap usap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Sayang..."


Kabir begitu terkejut dengan pemandangan didepannya. Sinar senja menyinari istrinya, tapi lebih dari itu.


Kabir sesak nafas dengan penampilan Shofia.


Lingerie tipis berwarna hitam dan rambut tergerai, dengan kaki telanjang dia begitu seksi.


"Ada apa?"


Lamunan vulgarnya hilang begitu saja, saat wanita yang menyandang sebagai istrinya itu  mendekat.


"Kenapa memakai baju ini?"


"Bukankah, suamiku yang meminta. .."


"Ya ampun.. bagaimana kalau ada yang melihatmu!!!"


Kabir memakaikan Shofia handuknya untuk menutup tubuh setelah telanjangnya.


Kabir segera mengajaknya masuk dan menutup balkon.


"Kenapa duduk dibalkon? Bagaimana kalau kamu terluka atau mendapat perlakuan tak  menyenangkan?"


"Aku sudah merasakannya..."


"Jangan sepeti itu... "


Kabir menidurkan Shofia diatas ranjangnya. Menelusuri wajah dan dada wanita itu.

__ADS_1


"Istriku sudah menyiapkan ini semua, aku tak akan mengecewakanmu"


*****


__ADS_2