
Acara telah usai, kebun belakang juga mulai dibersihkan walau hari sudah malam.
Kabir dan Shofia sudah sampai dikamar mereka.
Mereka sedikit terkejut, karena kamar mereka berubah total. Memang tadi pagi setelah bangun, mereka tak masuk kamar ini lagi.
Sprai menjadi putih bersih dan kain kain sutra juga sudah terpasang disetiap sudut ranjang. Kelopak mawar merah dan mawar putih menjadi satu bertaburan diatas ranjang dan dilantai.
Kabir dan Shofia sedikit ternganga. Mereka benar-benar terkejut.
Lilin lilin aromaterapi menghiasi penuh dikamar. Bahkan ada Wine di nakas samping tempat tidur.
Tiba-tiba pipi Shofia memerah, memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi.
Setelah memasuki kamar. Kabir segera melepas tuxedonya, tanpa memperdulikan Shofia yang semakin memerah di pipinya.
"Kabir..."
"Iya sayang... ada apa?"
Kabir berjalan mendekati Shofia sambil menggulung lengan kemejanya.
"Tak jadi..."
Shofia segera menggerakkan kursi rodanya menjauhi Kabir.
Kabir mengernyitkan dahi dengan sikap Shofia.
Ada apa?
Shofia segera mendorong kursi rodanya kedepan cermin meja rias.
Pipinya masih memerah.
Shofia mengenyahkan segala pikirannya dan lekas melepas segala aksesoris yang menempel dirambutnya.
Menghapus make up dan segera pergi kekamar mandi.
"Kamu kenapa, sayang? Malu?"
"Tidak, aku hanya ingin mandi"
"Mau aku bantu?"
"Tak usah..."
"Sayang, kamu kenapa? Akan aku bantu ya, pasti susah melepas gaunnya"
"Kabir, aku tahu kalau aku ca-"
"Sstttt... sayang, bukan seperti itu... aku suamimu sekarang. .. kita saling melengkapi"
"Tapi aku ingin mandiri"
"Hei... tak ada gunanya mandiri sayang... ada aku, tempat kamu bergantung "
"Kabir..."
"Sayang... aku bantu mandi"
"Iya..."
Kabir segera menggendong Shofia menuju kamar mandi. Mendudukkan Shofia diatas kloset, dan lekas mengisi bathtube dengan air hangat, dan menyiapkan peralatan mandi disamping bathtube.
Kabir tersenyum kearah Shofia.
"Sudah siap, mandilah... kubukakan dulu gaunmu"
Kabir lalu membuka gaun Shofia dan strepless yang dipakai Shofia.
"Kelak jangan memakai strepless lagi, ini membuatmu sesak dan ada garis garis merah dilipatannya"
"Iya aku tahu, keluarlah... aku bisa sendiri"
"Baiklah, aku akan menunggu didepan ya.. kalau terjadi apapun cepat panggil aku"
"Iya..."
Kabir meletakkan Shofia didalam bathtube dan meninggalkan wanita itu sendiri.
Kabir tahu, Shofia butuh waktu untuk ini semua. Membiarkan Shofia sendiri saat mandi mungkin sangat beresiko tapi dia membutuhkan ruang sendiri.
Kabir bersandar didepan kamar mandi, menunggu Shofia.
Drrttt...drrttt....
Kabir merogoh kantungnya, ada panggilan masuk sepertinya.
Ar calling. ....
Kabir mengernyitkan dahinya. Kenapa asistennya menelpon malam malam.
"Hallo, ada apa?"
"Boss, proyek di Paris siap ditinjau lebih lannjut"
__ADS_1
"Lalu?"
"Pihak yang disana menunggu anda untuk mendiskusikan proyek lain lebih lanjut"
"Kenapa harus menelponku?"
"Pihak dari Paris yang menginginkannya, kami tak dapat menolak sebelum memberitahukan pada anda"
"Oh... minggu depan aku akan kesana"
"Baik, saya akan mengabari mereka"
"Hmm... ada lagi?"
"Pembangunan rumah anda sudah selesai boss"
"Sama dengan sketsanya, bukan? "
"Iya boss...."
"Baiklah...suruh Sarah beli perabotannya juga dan tolong katakkan pada mr. Kim kalau desainnya adalah industrial modern"
"Baik boss... ada lagi?"
"Siapkan penerbangan ku lusa"
"Baik"
Kabir menutup panggilannya, dan melihat kearah pintu kamar mandi.
Mendekati pintu, dan memanggil Shofia.
"Sayang, apa sudah selesai?"
"Sebentar... apa bisa kamu ambilkan aku kursi roda"
"Untuk apa?"
"Keluar dari sini"
"Ada aku, kamu sudah selesai?"
"Iya, tapi aku tak bisa keluar dari bathtube"
Kabir tersenyum, dan membuka pintu kamar mandi.
"Kenapa masuk?"
"Sayang, bagaimana bisa kamu keluar kalau tak aku bantu, hmmm? "
"Sayang, aku suamimu, jadi jangan malu, oke?"
"Ya sudah... tapi ambilkan aku kimono dulu"
"Iya iya"
Kabir segera mengambil kimono dan handuk untuk Shofia.
Memakaikan handuk dipundak Shofia dan segera mengangkatnya agar keluar dari bathtube.
Mendudukkan Shofia diatas kloset dan memakaikan Shofia kimono mandi.
"Kabir!!!"
"Ada apa?"
"Aku hanya tak bisa berjalan. ... bukan lumpuh seluruh tubuh!!"
"Sayang, walaupun kamu sehat, kamu harus tetap mengandalkan ku!!"
"Kabir..."
"Ayo keluar...kamu akan kedinginan jika seperti ini terus menerus "
Kabir segera mengangkat Shofia dan menuju kekamar.
Mendudukkan Shofia didepan meja rias dan segera mengambil hairdryer.
"Untuk apa?"
"Untuk mengeringkan rambutmu... jangan katakkan kalau selama ini kamu tak pernah mengeringkan rambut dan membiarkannya basah!?"
"Emm.."
"Sayang... itu akan membuatmu pusing dan bisa flu... mana vitamin rambutmu?"
Shofia yang sempat terpana dengan Kabir yang sedang serius dengan rambutnya sambil mengomel, terperanjat dan segera mengambil vitamin rambut yang biasa dia pakai.
Kabir segera mengoleskan vitamin itu kerambut Shofia dan sedikit memijatnya.
"Kamu pandai melakukannya, apa dengan kekasihmu dulu?"
"Tidak, aku dulu biasa mengeringkan rambut Zahra, kalau wanita lain sepertinya hanya kamu"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya..."
Menyalakan hairdryer dan lekas mengeringkan rambutnya lagi.
"Sudah kering... sekarang apa lagi?"
"Baju tidur dan pakaian dalam"
Kabir menaikkan sebelah alisnya, memastikan kalau Shofia benar benar dengan santai mengucapkan tentang pakaian dalam.
"Baiklah. .... tunggu disini"
Kabir segera beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju almari.
Kabir hampir tersedak air liurnya saat membuka almari tempat Shofia menaruh baju.
Wajahnya memerah.
Sial.
Shofia sedikit penasaran dengan sikap Kabir. Lelaki itu hanya memandang jejeran pakaian itu, dan menatap kearah sana dengan tatapan yang aneh.
"Ada apa? "
"Kamu membeli semua ini?"
"Iya, bukannya dulu kamu sudah tahu semua pakaian tidurku"
"Hah?"
Kabir lekas berfikir, kalau Shofia mengatakan hal itu, jadi pakaian didalam almari ini bukan hasil berbelanja Shofia.
Pasti ini pekerjaan mommy nya, ataupun kak Luna.
Kabir lalu segera mengambil satu set lingerie yang lumayan tertutup, walaupun secara harfiah tak ada lingerie yang tertutup dengan sempurna.
"Hah? Ini? Dari Mana? "
Kabir tersenyum, wanitanya benar benar memerah hanya dengan melihat lingerie itu.
"Sayang. .. ini di almarimu, ini pasti punyamu..."
"Tapi aku tak membawa lingerie kemari"
"Ini baru, pakailah... dan aku menunggumu diranjang"
"Kabir.."
"Ya?"
"Lalu aku kesana harus merangkak?"
Kabir tersenyum konyol, dia hampir lupa kalau istrinya tak bisa berjalan.
"Baiklah.. mau aku pakaikan juga"
"Tak usah!"
Kabir lalu duduk ditepi ranjang melihat istrinya dengan perlahan memakai lingerie nya.
Dan hal itu membuat sisi liar Kabir memberontak ingin keluar.
Sial. Shofia memang menghabiskan kesabarannya.
Sedangkan Shofia sedang menalikan tali spageti ditengkuknya.
Segala sikap Shofia dimata Kabir begitu menggoda dan tanpa intrupsi, Kabir segera mengangkat Shofia dan membanting nya diatas ranjang.
"Kabbiirr! ! Are u crazy? Aku hampir jatuh"
"Kamu begitu seksi..."
"Kabir..."
"Kenapa?"
"Jangan sekarang"
"Kenapa?"
"Aku akan seperti paus mati, tak dapat mengimbangimu "
"Paus mati?"
"Ya"
"Shofia, kamu hanya duduk saja sudah membuatku hampir lepas kendali, kamu hanya perlu diam dan menikmatinya "
"Tapi, Kabir.. kamu akan kecewa"
"Aku akan lebih kecewa kalau kamu tak menurut pada suami"
"Hah... tapi, baiklah "
**********
__ADS_1