
Mata Shofia terbuka setelah mendengar keributan disekitarnya.
Sebenarnya sangat berat untuk terbuka serta pusing dikepalanya begitu menyakitkan tapi dia tetap membuka mata karena bau obat obatan sangat menyengat hidungnya.
Shofia lumayan terkejut saat melihat sekitar, dia dirumah sakit? Warna putih rumah sakit yang begitu membosankan.
Selang infus serta selang pernapasan terpasang dibadannya. Apa semalam sesaknya kambuh?
Tapi mengingat semalam dia menangis serta cuaca yang sangat dingin, kemungkinan memang sesaknya kambuh.
Dia sudah menduga kalau akan berakhir seperti ini. Dia tahu tubuhnya begitu lemah dari lahir tapi tak menduga dia sakit karena Kabir.
Kabir? Lelaki itu memiliki kehidupan yang tak bisa dia terima..
Apa akan rela begitu saja?
Entahlah, tapi yang pasti dia harus mencoba pergi dari perasaan yang menyakitkan ini.
Saat jatuh cinta dengan Kabir, dia melupakan fakta kalau Kabir memang pangeran yang diidam idamkan seluruh wanita.
Lamunan Shofia berterbangan kemana mana, namun semua lenyap saat suster memeriksanya dan menanyainya.
"Nona Shofia, anda sudah sadar?"
"Emmmb..."
"Ada yang sakit?"
"Tidak, kenapa diluar begitu ribut?"
"Oh, tuan Yohan menahan tuan Kabir, nona"
"Hmmm... biarkan saja Kabir masuk, suster... katakkan pada Yohan"
"Baik nona"
Shofia tahu, Yohan sangat tak suka dengan Kabir yang notabennya adalah lelaki berbahaya.
Tak berapa lama, Shofia melihat Kabir masuk sendiri tanpa Yohan. Yohan sangat tahu tempat.
"Shofia... kamu sadar?"
"Emmb..."
"Kenapa tak bilang kalau kamu sakit semalam? Aku bisa mengantarkanmu"
"Ada Liza disana tak mungkin aku mengganggu reuni kalian"
"Ya ampun, jangan katakkan kalau kepergianmu semalam karena Liza..."
"..."
"Liza hanya sebatas teman, Shofia"
"Teman seranjang? Kabir, aku tahu dari awal memang dunia kita berbeda, tapi aku saja yang memaksa masuk padahal tahu resiko ini"
"Shofia..."
"Aku seharusnya tahu itu, kamu bahkan bisa meniduriku walaupun belum mengenalku, lalu Liza adalah teman seranjangmu dan aku sadar bahwa hatiku tak menerima kenyataan itu"
"Shofia, ini tak seperti yang kau pikirkan, Liza dan Aku ha-"
"Kabir... keluarlah.. aku ingin sendiri..."
"Aku melamarmu"
__ADS_1
"Ini bukan lelucon, Kabir... aku tahu kalau dihidupmu tak ada lelucon seperti ini"
"Aku serius, aku berencana melamarmu pagi ini saat kamu bangun tidur.. bahkan aku sudah mengundang pihak dekorasi untuk mendekorasi halaman belakang.. Shofia aku benar benar jatuh cinta padamu"
"Kab-"
Perkataan Shofia terputus saat Dokter masuk membawa berkas yang sepertinya sangat penting.
"Permisi, maaf menganggu.. adakah pihak keluarga?"
"Saya, saya calon suaminya.. ada apa?"
"Tak ada apa apa, saya hanya mengucapkan selamat.. karena tuan dan nyonya akan segera memiliki bayi"
"Bayi?"
"Ya, kami belum memastikan berapa minggu tapi yang pasti ada hormon hCG pada darah nyonya Ellena...."
Kabir tetap diam, bukannya tak suka tapi teringat pesan Rio saat malam dia bertemu dengan Shofia yang terkena racun Hexa.
Ya, pil kontrasepsi tak akan bisa menahan racun itu dan tak ada fungsinya meminum pil kontrasepsi dan yang paling aman memakai pengaman.
Tapi menjadi kendala, malam itu Kabir tak memakai pengaman karena memang sudah ada pil kontrasepsi saat itu.
Seharusnya dia memperhatikan perkataan orang lain kali.
Kabir melihat wajah Shofia yang terdiam sambil mengelus perut ratanya, disana bayinya sedang berjuang untuk tumbuh.
Kabir spontan memeluk Shofia, menyalurkan kekuatan untuk wanita rapuh ini.
"Shofia Nayanika, kamu harus menikah denganku!"
Senyum Kabir tak terbendung bahkan dia sedikit terharu saat Shofia juga lekas menangis entah senang atau sedih.
Sampai Kabir terdiam karena mengingat kebrengsekannya saat itu. Seandainya dia tak mengejar Shofia, bagaimana nasib anaknya.
"Aku akan mempersiapkan pernikahan kita"
"Kabir..."
"Kamu hanya cukup istirahat, serahkan semua idemu padaku... kau hanya perlu menjaga bayi kita..."
"Terima kasih, Kabir"
"Shofia, jangan berterima kasih... kelak aku yang akan menjadi pelindungmu... aku akan selalu melangkah bersamamu..."
"Ya, Kabir..."
"Aku akan segera mengurus segala pernikahan kita, jadi aku akan pulang kesini sedikit sore"
"Kabir.. tapi Liza?"
"Liza? Dia sudah menikah dan memiliki anak, Shofia.. dia datang untuk memberikan barang yang aku pesan"
"Barang?"
"Ya, sebenarnya itu kejutan tapi sangat tak asyik.. kamu malah salah paham dan membuatku frustasi karena Yohan memarahiku dan mengatakkan kalau kamu sakit..."
"Emm"
"Cincin pernikahan... aku tak mau mengambil desain milik Ella ataupun milik mommy.. aku mendesain sendiri dan agar kedua wanita itu tak heboh jadi aku meminta tolong Liza membuatkannya"
"Perkataan Liza"
"Sebenarnya malam itu bukan aku yang meniduri Liza, tapi temanku... dia salah paham karena aku pergi paling pagi... sampai beberapa minggu kemudian temanku melamar Liza dan menceritakan semuanya"
__ADS_1
"Jadi?"
"Kamu wanita pertamaku"
"Kamu pembohong! Lalu siapa yang setiap malam datang ke club atau hotel? Siapa yang suka memiliki berita viral dengan para artis?"
"Itu hanya hobi minum dengan Rio dan Max... dan para artis itu hanya menumpang tenar... kamu yang membuatku luluh"
"Tak bisa dipercaya"
"Kamu harus percaya... aku pergi dulu.. lihat beberapa saat lagi pasti ada berita tentang pernikahan kita"
"Aku tak suka keramaian"
"Aku tahu! Tenang saja"
"Kapan kita menikah?"
"Satu sampai dua minggu lagi, menunggu kesehatanmu pulih"
Kabir segera mencium kening Shofia, dan pergi dari kamar itu.
Saat Kabir keluar, disana sudah ada Yohan yang pasti, serta Luna dan Morga.
"Kabir... kamu-"
"Ya, aku menghamili Shofia, tuan Morgan!"
"Apa kamu gila? Shofia menga-"
"Aku tahu, tapi aku harus berterima kasih dengan Nyonya Anita yang telah memberikan racun Hexa... karena berkat racun itu, Shofia sudah meminum banyak pil kontrasepsi tetap bisa hamil"
"Kabir... jaga adikku"
"Tentu nyonya... aku akan menyiapkan pesta pernikahanku dengan Shofia"
"Kamu tak meminta pendapat dari aunty"
"Biarkan Shofia beristirahat.... dia membutuhkan banyak istirahat"
"Kamu harus meminta restu dari mama Anita"
"Meminta restu dari mama Anita? Apa harus? Tuan tahu, bahkan saat Shofia akan diperkosa dia sangat santai, saat Shofia akan mati karena orang suruhan Anita, dia kemana? Aku permisi!"
Kabir pergi begitu saja, ya dia muak saat mendengar tentang Anita. Bagaimana mungkin tuan Morgan dan tuan Rio memiliki ibu seperti psikopat itu.
Disisi lain, ada orang yang mendengar seluruh percakapan Kabir dengan Keluarga Shofia.
Dia begitu kesal sampai kuku kuku jarinya memutih akibat kepalannya.
Dia terbakar cemburu saat mendengar Kabir mengatakkan kalau Kabir telah menghamili Shofia bahkan akan menikah sebentar lagi.
"Aku yang ada untukmu setiap waktu tak pernah kau pandang! Tapi kenapa? Kenapa dia yang baru dihidupmu bisa menguasaimu bahkan menyentuhmu dengan leluasa?"
"Kamu hanya milikku!"
"Kalau aku saja tak bisa memilikimu, jangan harap dia dapat memilikimu!"
"Aku akan memisahkan kalian!"
"Oh, salah... Bukan aku yang akan memisahkan tapi Maut yang akan memisakan kalian!"
"Hahahaha... Shofia hanya milikku!!"
******
__ADS_1
@**alister_weis
harus follow ig nya ya... gak beli followers jadi pengikutnya sedikit pakai sekali**....