
Kabir menatap lelaki didepannya. Bukan setelan jas mahal yang dia kenakan tetapi pakaian kasual tak bermerk.
"Jadi... Kau siapanya?"
Kabir ingin tahu sekali, dia tahu bagaimana target Fio.
"Kekasihnya"
"Oh.... Dia kekasihmu, kenapa ingin dia mati?"
"Dia bodoh"
"Oke ... Lalu kenapa kamu meretas sistem ku kalau kau ingin dia mati?"
"Itu simple, aku sudah masuk kedalam selnya"
"Lalu?"
"Dia tiba tiba mengatakan kalau aku bodoh karena membiarkannya disekap"
"Kenapa tak kau bawa kabur?"
"Karena, saat kami keluar dia tak berterima kasih padaku tapi malah berfikir untuk merebutmu seutuhnya"
"Alexander Nard.... Kau kesini dengan tujuan apa?"
"Melenyapkan Fio"
"Kau tahu apa yang kau perbuat itu mungkin hanya emosi semata"
"Membiarkannya hidup itu sama sekali tak menguntungkan"
Kabir menatap lelaki didepannya, dia seorang ahli IT hebat, tapi bukan dari keluarga kaya.
"Kau kenapa begitu mengikuti Fio selama ini?"
"Karena kami berpacaran dulu, menyewa apartemen kecil karena kami bukan dari keluarga kaya... tiba tiba dia pulang ke apartemen dengan banyak barang branded.. dan semenjak itu dia berubah... Tapi tetap mengikutinya"
Kabir diam sejenak, dia waspada. Tak mungkin lelaki didepannya ini begitu dermawan bukan ....
"Sebenarnya kamu mau apa?"
Dan benar, Alexander Nard ini tersenyum remeh.
"Rupanya kamu tahu maksud tujuanku..."
"Hmm.."
"Berikan aku sebuah kedudukan...."
"Apa keuntunganku memberimu kedudukan?"
"Kamu bisa memiliki Fio..."
"Fio? Kamu sepertinya salah... Fio sebentar lagi akan mati... Dan memiliki Fio adalah sebuah kesialan"
"Dia hamil anakmu, bukan?"
"Tidak.... Bukankah kamu dulu juga terjebak trik Fio yang remeh ini"
"Hmmm...."
"Tuan Alexander, kau seharusnya tahu kalau Fio itu tahanan matiku, jadi membuat kesepakatan atas nama Fio sangat tak bermanfaat"
"Baiklah, Fio tak bisa... Tapi apa kamu memiliki peretas handal sepertiku"
Kabir terdiam, dan Max membisiki Kabir dengan pelan.
"Lihat ponselmu..."
Lelaki bernama Nard itu masih tersenyum remeh dan seketika dia merubah ekspresinya.
Data data diponselnya telah hilang semua.
"Kami telah memindah seluruh data di ponsel dan komputer anda, tuan Nard..."
Max berbicara dengan ekspresi datar, dan Kabir tersenyum.
"Ehm.... Aku memiliki peretas handal sendiri, dan aku sendiri juga pembuat sistem yang kau bobol"
"Sial!"
Ya, Nard tak menyangka kalau Kabir memiliki kemampuan itu, selama ini hanya ada rumor tentang Kabir sang pewaris kerajaan Dominic.
"Kau kaget?? Aku tahu kau hanya menggertak ku dengan mengacak sistemku saja... Kau lupa kalau perusahaanku tak mungkin berjaya dengan otak dungu"
"Kau!!! Tapi kau juga lupa kalau musuhmu masih mencoba untuk membawa kabur Fio...."
"Maksudmu assasin tadi... Kau tak tahu kalau mereka sudah aku lumpuhkan.... Jangan mencoba mengancam kalau tak ingin bermalam dengan Fio...."
__ADS_1
"****!!!"
Nard pergi begitu saja dan meninggalkan Kabir dengan segala kekesalannya.
"Bagaimana keadaan sekarang??"
"Sejauh ini masih dapat ditangani.... Untuk masalah Fio... Dia mencoba bunuh diri dengan memecahkan gelasnya..."
"Hmm.... Kurung dia dikamar 10"
"Tapi, itu...."
"Dia sudah cukup depresi"
"Baik!"
Ya... Sebelumnya Fio memang ditempatnya di kamar 01, dan dia dipindahkan di kamar 10. Itu artinya dia akan semakin putus asa.
Kamar nomor 10 merupakan kamar mewah, dengan segala fasilitasnya. Tapi, dikamar itu dia akan semakin tersiksa dengan musik pelan secara terus-menerus.
Kabir benar-benar tak akan memberi ampun pada siapapun yang mengusik keluarganya.
"Kabir... Apa ini tak katerlaluan... Orang orang yang mencoba menyelamatkan Fio semuanya kamu babat habis"
"Aku dari dulu tak pernah mentolerir siapapun yang mengusik keluargaku, termasuk mereka yang mencoba membantu"
Max dan Rio hanya menghela nafas, dia sangat tahu sifat Kabir yang cukup keras ini. Sedangkan sekertarisnya sudah pergi untuk menyusun jadwal Kabir.
Tiba tiba ponsel Rio berdering.
Rio mengangkat panggilan itu hanya diam. Dan kedua sahabatnya melihat Rio dengan tatapan penasaran.
"Ada apa?"
"Apa kalian mau membantuku?"
"Apa?"
Rio nampak serius, dan duduk didepan Kabir serta Max.
"Bagaimana kalau kalian membantuku untuk mengurus pernikahan"
"Bukankah kamu cuti menikah tahun depan?"
"Ya, seharusnya begitu.... Tapi ...."
Rio nampak ragu ragu untuk berbicara. Sedangkan Kabir nampak penadan dengan rencana Rio yang mempercepat pernikahannya.
"Pacarnya hamil"
Max dengan enteng mengatakan itu tanpa rasa berdosa. Kabir yang merespon dengan alis yang sedikit terangkat sedangkan Rio sudah mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana kau tahu?"
"Hanya satu kemungkinan kalian cepat menikah, apalagi gadis itu memiliki reputasi yang baik di rumah sakit"
"Siapa kakasihmu?"
"Rapunzel..."
"Sebentar... Rapunzel itu bukankah tokoh kartun?"
"Dia perawat yang merawat Shofia saat tertembak di Turki..."
Kabir tersedak dengan minuman yang dia minum.
"Gadis berkaca mata dan berkucir dua itu .. bukankah dia di Turki?"
"Tidak.... Dia dengan sukarela pindah ke Brooklyn demi lelaki playboy ini"
Max terus saja menjawab tanpa diperintah, Rio benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa memiliki sahabat seperti mereka.
"Oke... Kalau begitu kapan rencananya?"
"Minggu depan"
Dan..... Max serta Kabir menyemburkan minumannya kembali.
"KAU GILA!!!!"
Bukan tak mungkin menyiapkan pernikahan dalam satu Minggu, tapi ini mungkin terlalu mendadak.
Max dan Kabir hanya menggeleng. Bagaimana mungkin lelaki yang terkenal sangat patuh ini menjadi liar.
"Akan aku hubungi pihak hotel agar menyiapkan pernikahanmu .. dan kau cepat beritahu orang tuamu!!"
"Baik baik..."
"Dan Max, kalau kelak kamu akan menikah jangan terlalu mendadak..."
__ADS_1
"Hmm...."
"Kwmbalilah bekerja .... "
"Oke..."
Kedua lelaki dewasa itu keluar, dan tersisa Kabir yang masih duduk.
Dia merogoh ponselnya dan menghubungi pihak hotel.
"Hallo tuan Dominic...."
"Hmmm siapkan pesta pernikahan mewah untuk Minggu depan..."
"Baik tuan... Atas nama Pernikahan siapa?"
" Pernikahan atas nama Rio dan Rapunzel"
"Baik.... Ada lagi?"
"Berikan pelayanan terbaik ... Jangan ada kecacatan"
"Baik... Saya mengeti tuan"
Kabir menutup panggilannya, dan segera membuat panggilan lagi.
Dan ini untuk sang istri yang ada dirumah.
"Hallo...."
"Darl.. kau sedang apa??"
"Hanya duduk, melihat Rafael yang sedang bermain..."
"Mau pergi berlibur?"
"Kemana?"
"Manchester, mungkin?"
"Rumah mommy dan Daddy? Kenapa kesana?"
"Ya... Hanya berkunjung... Rafael kita ajak"
"Baiklah...."
"Bersiaplah.... Aku akan menjemputmu"
"Oke...."
Panggilan itu tertutup, dan Kabir bersiap untuk pergi menjemput Shofia.
Dan...
Brraakkk....
Max dan Rio menerobos masuk begitu saja.
Kabir lumayan kaget dengan tingkah kedua sahabatnya itu, karena tak pernah mereka tergesa gesa seperti ini.
"Kenapa kalian?"
"Gawat...."
"Kenapa?"
"Fio .. dia berhasil bunuh diri?"
"Bagaimana bisa?? Apa tak diawasi?"
"Setelah diberi makan siang, pengawal kita berencana untuk mengambilnya, tapi yang dia temukan sayatan sayatan ditubuh Fio dan wanita itu telah mati"
"Apa ada indikasi lain?"
"Ya .. saat kejadian itu tak terekam kamera cctv... Dan kemungkinan dia dibunuh"
"Alexander Nard"
"Sepertinya bagitu.... Dia berhasil membuat tipuan"
"Baiklah.... Selama Nard tak membuat ulah, jangan berbuat apapun... Tapi kalau dia mengusik kita, lenyap kan"
"Oke...."
"Aku akan pergi ke Manchester untuk beberapa hari, kalian handle semuanya.... Dan Rio... pernikahanmu sudah disiapkan oleh pihak hotel.."
"Terima kasih... Kabir..."
"Sekarang pikirkanlah bagaimana kamu membuat orang tua Rapunzel setuju..."
__ADS_1
"Baik baik...."
*******