Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Yang Berlalu


__ADS_3

Ar benar-benar menemukan ketiga orang itu. Menyekapnya didalam gudang dan membiarkan mereka berteriak tak jelas.


Malam itu juga Kabir melihat mereka. Karena hari sudah hampir tengah malam, Kabir dengan pelan turun dari ranjang agar tak membangunkan Shofia. Tapi sepertinya percuma saja.


"Mau kemana?"


Shofia menggeliat  saat dirasa ranjang disisinya bergerak.


"Aku ada pekerjaan sedikit"


Shofia terduduk begitu saja dan melihat ponselnya. Jam 12 malam.


"Tengah malam?"


"Iya... apa kamu mengkhawatirkan-ku?"


"Tapi-"


"Sayang.. kembalilah tidur, kau harus bangun pagi untuk pernikahan kita"


"Kami ingat itu, lalu kenapa malah pergi keluar? "


"Ini mendesak... aku tak akan tenang kalau tak pergi"


"Aku ikut"


"Tidur..."


"Aku ikut!!!"


Shofia membuka selimutnya dan akan mencoba berdiri.


"Kamu mau apa!!?"


Seketika Kabir panik dan segera memeluk Shofia.


"Kamu tak mau mengajakku, jadi pergi sendiri saja"


"Baiklah, kamu ikut, tapi aku mohon jangan lakukan hal bodoh itu lagi"


"Baiklah..."


"Tunggu disini... aku akan mengambilkan bajumu"


"Ini saja..."


"Kamu mau ikut dengan pakaian ini?"


Shofia melihat pakaiannya, dan seketika tersenyum bodoh.


Ya, bagaimana Kabir tak marah kalau Shofia sekarang hanya memakai pakaian tidur tipis semi transparan.


Kabir berbalik begitu saja dan mencari baju panjang untuk Shofia.


Lalu dengan telaten memakaikannya untuk Shofia.


Sebenarnya dia lumayan malu tapi untuk celana atau rok, cukup sulit karena tak bisa berdiri.


Memakai rok panjang dan baju tebal serta mantel.


"Cuaca disini cukup berangin.. jadi kau harus tetap hangat"


"Iya..."


Setelah selesai, Kabir mendorong kursi roda Shofia menuju lift. Memang rumah ini memiliki lift, karena menurut kakek Arsyid, dia sudah cukup tua untuk menaiki tangga sampai lantai tiga.


"Apa rumah kita kelak akan ada lift-nya"


"Tidak"


"Hanya berlantai dua?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Berlantai satu dan sederhana,"


"Kenapa?"


"Kamu tak suka?"


"Aku tanya, kenapa memilih konsep itu?"


"Rumah bagiku adalah tempat istirahat dan merasakan kehangatan. .. entah seberapa besar rumah itu kalau tak menghangatkan, ya percuma... dan aku ingin rumah kita penuh dengan kehangatan jadi aku mau membuat yang home family"


"Seperti?"


"Rumah itu harus yang ramah anak, banyak spot bermain, spot bersama dan tempat tempat yang menciptakan sebuah keluarga yang hangat"


"Kalau begitu aku setuju..."

__ADS_1


"Bagus, aku akan segera membangunnya di Paris "


"Kenapa di Paris?"


"Karena kamu sangat menginginkan tinggal disana, memenuhi setiap cita citamu. ..."


"Tapi, jika aku sudah menikah pasti sudah sibuk mengurus keluarga dan melupakan cita-citaku"


"Tak akan.. kamu hanya perlu membahagiakan dan membanggakan aku serta anak anak kelak"


Pipi Shofia merona, saat Kabir menyinggung tentang anak-anak.


Apa dia siap. Shofia terdiam.


Shofia tetap terdiam, walau Kabir mengangkatnya untuk masuk kedalam mobil.


"Kenapa diam?"


"Aku hanya berfikir apa aku bisa mengandung lagi?"


"Kenapa tak bisa?"


"Kau tahu musibah itu bukan? "


"Aku tahu, tapi kau sehat, okay?"


"Aku harap juga begitu..."


"Bagus... ayo kita jalan"


Mereka membelah jalanan malam Istanbul, entah akan kemana Shofia tak tahu.


30 menit diperjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah gedung tua. Banyak anak buah Kabir yang berjaga.


"Darl.. tunggu disini saja, kunci pintunya dan selalu aktifkan ponselmu"


"Apa berbahaya?"


"Menurutku tidak, tapi kita harus berjaga-jaga"


"Baiklah..."


Setelah Kabir keluar, Shofia segera mengunci mobil yang dia tumpangi. Dan menyandarkan tubuhnya dikursi.


Mengutak ngatik ponselnya dan  bermain  games.


Tapi tak disangka kalau firasat Kabir benar adanya. Karena tiba tiba ada segerombol orang mendatangi mobil Kabir.


Kaget. Shofia sedikit ketakutan. Dia segera menghubungi Kabir.


"Kabir!!!"


"Ada apa?"


"Ada orang diluar dan mencoba untuk membuka pintu!!!"


"Tenang saja... mereka tak akan bisa.... tekan tombol merah didepan dan mobil itu akan memberi signal untuk anak buahku"


"Baiklah..."


Tanpa memutus sambungan telponnya, Shofia menekan tombol itu dan seketika ada bunyi alarm.


Shofia terus saja berdoa. Sebenarnya dia tahu kalau mobil ini memiliki modifikasi yang sangat canggih.


Dengan teknologi terbaru, mobil ini tanpa kuncinya dapat dijalankan dengan standar retina mata.


Body dan kacanya pun terbuat dari bahan terbaik tak bisa ditembus dengan peluru pistol. Malah kaca filmnya dapat memantulkan pelurunya kembali


Dengan kecepatan diatas rata rata mobil dengan merk dasar BMW menjadi hal yang menakjubkan bagi Shofia.


Siapa sangka mobil sekeren ini memiliki bentuk seperti BMW biasa.


Memikirkan itu, Shofia sedikit tenang. Shofia melihat semua kejadian diluar sana.


Saling tembak bahkan menebas dengan pedang. Darah dimana mana.


Sampai dikejauhan, terlihat Kabir dengan setelan kasusnya serta mantel yang tersampir dipundaknya tampak gagah melewati setiap mayat yang ada.


Mayat para penyerang.


Dengan mudah Kabir membuka pintu mobil dan tersenyum pada Shofia.


"Kamu lama sekali!!'


"Sudah rindu? "


"Aku ketakutan! ! Mau laripun juga tak bisa!!"


"Siapa yang menyuruhmu berlari??"


"Kabir!!!"

__ADS_1


"Baiklah Baiklah... aku minta maaf... tak akan ada lagi kejadian ini. ..'


"Janji?"


"Janji!!"


"Ayo pulang "


"Ayo... sudah tengah malam... aku tak ingin pengantinku memiliki kantung mata besok"


"Kamu tahu itu!?"


Kabir menjalankan mobilnya dengan santai membelah jalanan Istanbul yang lumayan ramai walau tengah malam.


"Kabir..."


"Iya..."


"Apa yang kamu kerjakan didalam gudang tadi?"


"Sebuah pekerjaan "


"Apa? Kamu tak melakukan transaksi haram kan?"


"Ya tidaklah... perusahaanku masih berjaya untuk apa melakukan hal seperti itu! "


"Aku hanya menebak "


"Shofia aku tak pernah melakukan itu"


"Lalu tadi?"


"Tadi hanya memberi pelajaran untuk orang orang yang membuat wanitaku bersedih"


"Maksutmu apa?"


"Kamu ingat dengan orang-orang di jembatan,  yang didalam mobil ??"


"Ingat"


"Mereka yang aku beri pelajaran "


"Kamu bunuh?"


"Tidak, hanya membuat mereka cacat sementara "


"Itu kejam Kabir "


"Tidak... mereka harus merasakan rasanya dihina dan dipandang sebelah mata, Shofia! "


'Tapi..."


'Seberapapun kamu membela mereka percuma, mereka sudah ada dirumah sakit sekarang! "


"Kamu akan terkena masalah! "


"Tidak... aku sudah mempertimbangkan semuanya"


"Hah... Kabir kelak jangan lakukan hal ini lagi ya"


"Kenapa? Mereka membuat wanitaku bersedih, bahkan hampir membuatmu membatalkan pernikahan "


"Iya aku tahu tapi ada Tuhan, bukan? Tuhan akan menghukum mereka"


"Aku tahu. .. tapi aku tak rela mereka dengan mudah menghinamu"


"Iya iya..."


"Shofia..."


'Iya..."


"Terima kasih untuk beberapa waktu ini"


"Pasti tak mudah bagimu menjalani semua hal ini... maafkan aku"


"Aku tak mengerti maksudmu"


"Hah... semua hal yang terjadi.. penculikan itu yang membuat kita kehilangan anak kita, kecelakaan yang membuatku melupakanmu bahkan semua perilakuku saat bersama Celline.. Sampai kejadian kelumpuhanmu yang membuatmu dicaci maki... aku benar benar-"


"Kabir... ini jalanku jadi jangan berkata seperti itu.."


"Tapi itu benar benar membuatku merasa kalau kamu benar benar berhati besar"


"Kabir sudahlah. . Jangan seperti itu"


"Berjanjilah Shofia, kalau kau tak akan pernah meninggalkan aku, apapun alasannya"


"Aku berjanji..."


"Terima kasih"

__ADS_1


*******


__ADS_2