
Pagi hari menjelang, Shofia sudah terbangun lebih dahulu. Sedangkan Kabir masih tertidur pulas.
Ya, semalam Mereka berdua hanya duduk di balkon. Memandangi bintang di langit. Bercerita masa kecil dan hal hal yang menarik lainnya.
Kabir tak menceritakan apapun yang terjadi padanya dan Alan malam ini.
Shofia segera mandi, memakai dress soft pink serta menggerai rambutnya.
Shofia menelepon layanan kamar untuk memesan menu sarapan pagi ini, serta tambahan jus apel untuknya.
Sambil menunggu pesanannya, Shofia memilih menata semua perlengkapannya dengan Kabir untuk dimasukkan ke dalam koper.
Saat pesanannya datang, saat itu juga acara membereskan perlengkapannya selesai.
"Sayang... Bangun..."
"Umbb..."
"Ayo sarapan... Sebentar lagi kita cek out"
"Iya...."
Kabir mengusap matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
Menyenderkan punggungnya, Kabir melihat sarapan yang sudah tertata rapi diatas meja.
"Kamu sudah memesan makanan?"
"Iya... Ayo sarapan..."
"Emb... Aku mandi dulu ya..."
"Iya...."
Kabir mengecup kening Shofia dan berjalan kearah kamar mandi.
Shofia telah menyiapkan pakaian kabir. Celana bahan serta kemeja putih.
Selesai mandi, Kabir segera mengikuti Shofia duduk dan memakan sarapannya.
"Sayang..."
"Iya... Ada apa?"
"Aku berdebar...."
Kabir mengatakan itu. Sontak Shofia meletakkan garpu dan pisaunya. Memejamkan matanya sebentar, dan tersenyum.
"Kenapa?"
"Entah, sedari mandi tadi aku merasa tak nyaman"
"Mungkin hanya perasaan mu saja"
Shofia mengusap pundak Kabir sebentar dan mengecup pipinya.
Ya, sebenarnya Shofia merasakan hal yang sama. Dia merasa ketakutan dan ingin terus bersama Kabir.
Setelah sarapan, mereka tak langsung cek out. Mereka memilih bersantai diatas tempat tidur, berpelukan dan menonton film.
Lebih tepatnya mereka merasakan kehangatan lagi.
Dan tepat pukul 12 siang, mereka berdua melakukan cek out dan pergi ke bandara menggunakan taksi.
Sampai di bandara Leonardo davinci, mereka segera ke boarding pass.
"Emb sayang... Kamu masuklah lebih dahulu... Aku akan ketoilet"
"Tapi kita sudah hampir terlambat sayang"
"Tak akan... Tenang saja..."
"Baiklah..."
Kabir segera berlari menuju toilet, sedangkan Shofia tetap menuju pesawat.
Dia berfikir untuk menunggu suaminya didalam saja.
Sampai didalam pesawat, Alan sudah duduk ditempatnya.
"Alan.. kau jadi pulang?"
"Ya .. mana Kabir?"
"Dia masih diluar,ditoilet katanya"
"Oh... Aku akan menyusul nya sebentar"
__ADS_1
"Tak usah, tunggu saja disini"
"Tenang saja.... "
"Baik"
Entah kenapa Shofia merasa tak rela Alan menyusul Kabir. Tapi biarkanlah.
Sampai 45 menit, Shofia menunggu dua lelaki itu, dan tak ada satupun dari mereka yang datang.
Sampai suara pramugari mengintruksi akan segera terbang.
Shofia segera kearah informasi, dan mengatakan pada pramugari yang bertugas kalau suaminya belum kembali.
"Permisi, apa bisa penerbangannya ditunda 15 menit, karena suami saya belum naik"
"Maaf nyonya,kami tak bisa... Kami sudah menundanya 15 menit sebelum penerbangan seharusnya"
"Tapi, suami saya..."
"Maaf nyonya.... Silahkan kembali ke tempat duduk anda... Karena pesawat akan lepas landas... Suami anda bisa menaiki pesawat lain nanti"
Shofia menghela nafas panjang dan kembali duduk. Dia juga tak mungkin bisa keluar dari sini.
Pesawat lepas landas tanpa menunggu Kabir ataupun Alan. Ya ampun, kemana para lelaki itu!?
John F. Kennedy international airport-New York- USA
Setelah turun dan pengecekan barang, Shofia dengan cepat segera menelepon Kabir ataupun Alan.
Tapi sayangnya, kedua handphone itu tak ada yang yang menjawab.
Kemana mereka?
"Shofia ...."
Shofia segera berbalik dan disana sudah ada Rio dan Max yang menyambut.
"Rio... max..."
"Hemm... Kabir menyuruh kami untuk menjemput, mana Kabir?"
"Dia tak ada.. dia tertinggalnya bersama Alan"
"Alan??? Seorang dokter?"
"Sial!!! Max.. kerahkan seluruh anggota untuk mencari Kabir"
"Oke...."
"Ada apa ini?? Kalian kenapa begitu panik?"
Shofia terlihat bingung dan frustasi, dia tak tahu apapun.
"Baiklah.... Aku akan cerita setelah kamu sampai di rumah.... Biarkan Max mengerjakan tugasnya...."
"Alan bukan orang yang baik?"
"Nanti akan aku beri tahu .."
Rio segera menuntun Shofia dan menggiringnya kearah mobil BMW X5 miliknya.
Melaju dengan cepat agar cepat sampai rumah.
Shofia begitu gugup, dia menyiapkan mentalnya untuk berbagai kemungkinan yang ada.
Sesampainya disebuah rumah bergaya modern minimalis, Shofia nampak semakin bingung.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah kalian, Kabir bangun ini untuk mewujudkan impiannya tentang keluarga yang hangat"
"Ini indah..."
Shofia lesu begitu saja saat mengetahui bahwa ini adalah rumah yang dibangun Kabir untuk keluarga kecilnya.
"Ayo masuk ..."
Shofia mengikuti arah jalan Rio, dan sampai didalam rumah Shofia terasa tercekat. Bukan karena gaya dari rumah ini tapi foto foto terpasang di dinding.
Moments kebersamaannya dengan Kabir.
"Duduklah dahulu... Aku akan segera bercerita"
"Iya...."
Shofia lantas duduk dan kembali melihat sekeliling. Ini memang nyaman.
__ADS_1
"Jadi, apa yang kamu ceritakan?"
"Sebelum pulang, apa kalian ada kemana begitu?"
"Aku tak kemanapun, tapi sebelum pulang kemari... Kabir sempat pergi ke bar bersama Alan"
"Setelahnya?"
"Tak ada.... Tapi dia seakan tertekan dan sangat frustasi"
"Shofia jangan terkejut"
"Apa?"
"Alan menyukai Kabir"
"Maksudmu apa?"
"Dia gay, Shofia..."
"Lalu, apa hubungannya dengan Kabir?"
"Shofia .... Dia menyukai lelaki, dan salah satunya adalah Kabir .. dia menyukai Kabir dari kuliah dulu"
"Maksudmu adalah kemungkinan besar Kabir diculik Alan?"
"Ya .... Dan parahnya, dia memiliki akses diberbagai bagian di Italia... Akan sulit mungkin untuk menemukannya"
Shofia terdiam. Ini seperti mimpi buruk.
Kepalanya pening. Bahkan sekitarnya berputar.
Ya, secara harfiah dia shock dengan keadaan ini. Ingin tak percaya dan menganggap Kabir hanya tertinggal pesawat tapi yang bercerita adalah kawan baik Kabir sedari kecil.
"Apa tak ada jalan untuk menemukan Kabir kalau memang benar Kabir diculik oleh Alan?"
"Ada, pasti ada...Max sedang menghubungi keluarga Dominic serta keluarga Veer"
"Veer?"
"Sean Jordan....suami Zahra"
Tak menjawab perkataan Rio, dia hanya menunduk lesu. Dia benar-benar tak bisa berfikir lagi.
Kepalanya semakin pening. Benar-benar pening.
"Shofia, are u okay?"
"Kepalaku pening"
"Bersandarlah..."
Rio segera mengambilkan bantal untuk Shofia.
Kepala Shofia pening. Berputar dan sedikit berbayang.
Ini membuatnya mual. Seperti naik roller coaster.
"Bisa ambilkan aku minum"
"Baiklah... Tunggu disini"
Rio segera berlari kearah dapur dan menuangkan air putih dingin untuk Shofia.
Segera diberikan kepada Shofia. Wanita ini tak baik baik saja.
"Masih pening?"
"Ya ... Aku tak menyangka ha seperti ini menimpaku dan Kabir ...."
"Shofia jangan berfikir berlebihan, berdoalah agar Kabir segera ditemukan..."
"Ya..."
Shofia mencoba berdiri dan melangkah kekamar. Tapi sebelum langkah itu tercapai, kepalanya seperti berputar. Pandangannya berbayang.
Tiba tiba pandangannya menggelap. Shofia pingsan.
"Shofia!! Hei...."
Rio segera menangkap Shofia dan mengangkatnya menuju kamar utama.
Setelah membenarkan posisi tidur Shofia, Rio segera memanggil dokter perempuan untuk memeriksa.
"Kau harus kuat, Shofia...."
********
__ADS_1