
Hari hari berikutnya, Kabir terus saja menemui Shofia untuk membahas gaun.
Kabir terkesan lebih penasaran sekarang. Ya, itu karena Shofia memilih acuh dan tak terlalu menanggapi kehadiran Kabir.
Walaupun Shofia terkesan acuh tapi dihatinya menahan sebuah rasa rindu yang menyakitkan.
Ingin rasanya dipeluk lelaki itu tapi apa daya, Kabir belum mengingatnya.
Dan hari ini, kunjungan terakhir Kabir untuk membahas gaun pengantin. Ya, minggu depan Zahra sudah menikah.
Bahkan gaun beserta baju keluarga sudah siap diambil oleh Sean, calon suami Zahra.
"Shofia..."
"Ya..."
"Tuan Kabir datang lagi"
"Suruh saja masuk"
"Sebenarnya ada apa dengan kalian? Tuan Kabir selalu kemari dengan alasan gaun pengantin? Tak masuk akal"
"Kenapa sangat ingin tahu? Setelah hari ini, aku jamin dia tak akan kemari lagi"
"Ya, sebenarnya dia salah satu pelanggan yang sangat menggoda"
"Hmm.. suruh dia masuk saja..."
"Baiklah"
Mila, asistennya lalu pergi memanggil Kabir. Ya, Mila lebih tua daripada Shofia, dan mereka tak pernah memakai kalimat formal untuk berbincang.
Tak berapa lama, Kabir sudah berada diruangannya bersama Celline tentunya.
"Shofia.."
"Oh, pagi Kabir dan Celline... duduklah"
Pasangan itu terus saja bergandengan tangan, seakan akan mereka tak terpisahkan.
Gerak gerik kedua orang itu tak luput dari pengawasan Shofia, bahkan Kabir dengan suka rela menyiapkan tempat duduk untuk Celline.
Cih,
Shofia berupaya untuk sesantai mungkin walau hatinya sakit. Dia mencoba tak menangis saat itu juga.
"Bagaimana gaunnya?"
"Sudah jadi... sebentar"
Shofia segera berdiri dari duduknya dan membuka tirai hitam disisi kanannya.
"Bagaimana?"
"Cantik..."
Ya, Kabir tak melihat pada gaunnya. Tapi malah melihat ke arah Shofia yang memakai rok pendek ketat serta kaos yang sangat menonjolkan area tertentunya.
Apalagi ditunjang dengan high heel serta rambut panjangnya.
"Kabir!!"
"Hmm.. aku benar, bukan? Gaunnya cantik, Celline"
"Seperti itu? Apa selera kalian sebegitu kuno?"
"Maksutmu apa?"
__ADS_1
"Kedua gaun itu sangat tertutup! Itu kuno!"
Celline menunjuk nunjuk kedua gaun yang sudah dibuat Shofia. Ya, yang pertama gaun yang dirancang oleh Kabir untuk dirinya dulu.
Serta yang kedua adalah rencangannya untuk adik Kabir.
"Kuno? Nona Celline, anda sangat terbuka... tujuan dari gaun ini tertutup agar aset si pengantin tak dilihat oleh lelaki lain selain suaminya!"
"Hahaha... kamu dari mana? Bahkan banyak orang memakai bikini di pantai, para suaminya tak keberatan!"
"Tapi sayangnya, kedua suami mereka bukan lelaki yang dipantai itu!"
"Siapa lelaki itu, hah?"
"Yang pertama, calon suami dari Zahra Dominic, yaitu Sean Jordan... serta yang kedua, adalah calon suamiku!"
"Oh, jadi sudah akan menikah? Dengan siapa?"
"Ya... lebih mulia, bukan? Kenapa sangat ingin tahu?"
Shofia kembali duduk, dan saat membalas perkataan Celline, Shofia malah menatap Kabir yang diam menyimak percakapannya.
"Maksutmu apa?"
"Ya, aku akan memiliki lelakiku seutuhnya, sedangkan kamu? Cih..."
"Kamu!!"
"Celline, sudahlah jangan bersikeras seperti itu!"
"Kabir benar, nona... seberapa keras kamu mengelak, kamu tak akan sebanding... oh iya, apa ada yang kurang, Kabir?"
"Tak ada..."
"Baiklah... akan kukirim besok beserta baju untuk keluarga"
"Emm... biayanya?"
"Baiklah, aku pergi"
Shofia hanya mengangguk dan mereka akhirnya pergi tanpa salam dari Celline.
Setelah mereka pergi, Shofia luruh begitu saja. Memeluk gaun pengantinnya, Shofia menangis sesunggukan.
"Ya ampun, kamu kenapa?"
"Hiks.. hiks.. hiks..."
"Setelah gaun ini selesai dikerjakan, kamu selalu menangis saat Kabir pulang.. kamu kenapa?"
"Hiks... aku tak bisa bertahan lagi, Mila.. hiks..."
"Ada apa?"
"Kamu tahu, Kabirlah yang merancang gaun ini untuk acara pernikahan kita"
"Oh God! Lalu kenapa dia bersama Celline?"
"Dia amnesia... "
"Lalu? Kenapa kamu tak mencoba mengembalikan ingatannya? Apa kamu ingin mereka terus bersama dan kamu terus tersakiti?"
"Aku benar benar tak tahu harus bagaimana, aku mencoba melakukan kebiasaan kebiasaan yang dulu pernah kami lakukan.. memakai pakaian pemberiannya, bahkan sengaja menjadikan gaun pengantin ini secara nyata.. tapi apa? Dia tak mengingat sama sekali"
"Shofia.. bersabarlah, nanti akan tiba saatnya kamu bahagia dengan rencana Tuhan"
"Aku harap begitu"
__ADS_1
Shofia mengusap air matanya, sebenarnya bohong bila dia sudah tak peduli dengan hatinya.
Nyatanya, Kabir tetap bisa membuatnya menangis.
***
Hari harinya terlewati begitu saja tanpa ada Kabir lagi. Ya, setelah pengiriman gaun serta baju keluarga, Kabir tak pernah datang lagi.
Mungkin Shofia terlihat tenang tak mempermasalahkan apapun. Tapi, dalam hatinya ada perasaan rindu yang menyesakkan.
Shofia menahan keingintahuannya tentang Kabir, dia mencoba tak menghubungi keluarga Dominic.
Ya, acara pernikahan Zahra kurang dua hari lagi, mungkin lelaki itu sudah disana.
Begitupun dengan Shofia, dia sudah menarik kopernya untuk dibawa ke bandara.
Dia ada penerbangan hari ini ke Turki, tentu untuk merayakan pernikahan Zahra.
Menyeret kopernya dengan sedikit melamun, entah apa yang dilamunkan. Kosong.
Saat angan angannya berkelana kemana mana, suara gaduh diseberang sana menyadarkannya.
Kabir dan Celline sedang bertengkar. Ya, di lobi apartment mereka beradu argument.
Lebih tepatnya Celline sangat ingin ikut Kabir ke Turki tapi Kabir bersikeras tak mengajaknya.
"Lalu, siapa yang akan mengingatkanmu minum obat?"
"Disana ada mom... sudahlah, kamu disini saja, kamu tahukan mommy tak menyukaimu, Celline"
"Kalau wanita itu tak menyukaiku, kamu membiarkannya saja, apa kamu tak mau kita bersama"
"Aku mau, tapi ini butuh proses..."
"Baiklah... aku mengalah tapi ingat, kamu harus minum obat ini secara rutin... jangan sampai terlewat"
"Iya iya... tenang saja, nah aku beri kamu kartu kredit, belanjakan sesukamu"
"Terima kasih... sayang kamu, Kabir"
"Aku juga"
Shofia mendengar semua percakapan itu, termasuk Celline memberikan Kabir sebuah botol obat serta Kabir ganti memberikan sebuah kartu kredit pada Celline.
Bahkan Celline mencium pipi Kabir saat keduanya akan berpisah.
Rupanya wanita itu tak bis jauh dari kartu kredit. Sangat maniak uang.
Tapi yang membuat Shofia heran adalah botol obat milik Kabir. Obat apa?
"Kabir masih meminum obat?"
"Bukankah, Daddy bilang kalau Kabir sudah melepas semua perawatan medis jadi untuk apa obat itu?"
Sepertinya, Shofia harus memberitahu Leo tentang obat ini.
Kenapa juga Celline sangat mengawasi pemberian obat itu?
Jangan jangan narkoba? Atau obat berbahaya lainnya?
Ya ampun, dia tak bisa berfikir jernih.
Tetapi saat Shofia akan mengambil ponselnya, taksi yang dia pesan sudah sampai, jadi dia urunkan untuk menghubungi Leo ataupun Ellena.
"Mungkin aku harus berbicara langsung..."
Shofia melihat kearah Kabir yang juga sudah menaiki taksi lain, Kabir juga ada penerbangan untuk hari ini.
__ADS_1
"Aku harap, kamu bisa mengingat kembali, Kabir... entah akan bersama atau tidak aku selalu mendoakan kamu... mungkin, ya mungkin kita bisa bersama walaupun kemungkinannya sangat kecil"
******