
Entah berapa jam mereka tidur. Dan saat ini Shofia dengan santainya terbangun dan menonton film.
Sedangkan Kabir masih nyenyak tertidur, sebelum suara Shofia tertawa membangunkannya.
"Ini jam berapa? "
Terdengar suara serak khas orang bangun tidur dari sampingnya. Kabir terbangun.
"Masih pukul 12 malam... tidurlah lagi"
"Kenapa bangun?"
"Entah, mungkin terlalu lama tidur..."
"Oh... aku akan tidur lagi"
Kabir memeluk pinggang Shofia dan wajahnya dia tenggelamkan ke perut Shofia.
Ya, posisi Shofia duduk bersandar di kepala ranjang.
Shofia tersenyum dengan ulah suaminya.
"Kamu manja ya..."
Shofia mengelus rambut Kabir dan mengusap pelan punggung Kabir. Memberikan kenyamanan untuk Kabir.
"Nyaman... seperti mommy..."
"Benarkah?"
"Iya... ayo tidur"
"Iya...."
Akhirnya Shofia ikut berbaring lagi dan tidur. Sedangkan Kabir tetap memeluknya.
**
Dan hari hari selanjutnya mereka terus saja berjalan jalan. Dari berfoto di Colosseum, menghabiskan seharian penuh di Colosseum.
"Baiklah... bangunan ini dibangun di abad apa?"
"Colosseum ini Dibangun sekitar tahun 72 sampai 80 Masehi oleh Kaisar Vespasian, pendiri Dinasti Flavianus"
"Oh.... lalu luasnya?"
"ketinggian mencapai 48 meter dengan ukuran 188 meter x 156 meter"
"Wow. ... pasti banyak orang yang tertampung disini"
"Bisa menampung penonton 55.000 orang"
"Kamu baca dimana?"
"Buku sejarah...."
"Seperti itu...."
"Iya... kakek Dominic mengoleksi banyak buku sejarah"
"Dan kamu hafal semua buku sejarah itu?"
"Tidak... hanya ingat saja"
"Oh..."
"Ini sudah sore, ayo kembali ke hotel "
"Iya... aku juga lelah... ingin tidur"
"Baiklah. Ayo pulang.. princess "
Kabir mencium kening Shofia dan kembali ke hotel.
Dan keesokan harinya, setelah semalaman mereka bergulat panas diranjang dan berakhir tidur sampai siang.
Hampir sore, Shofia dan Kabir baru berangkat ke pantheon.
"Emmm bangunan ini seperti bangunan romawi lain..."
Ya, menurut Shofia begitu. Apa yang istimewa?
"Pantheon ini ada pelopor bangunan lain..."
"Maksutmu?"
"Bangunan ini dirancang pada abad 27 M, dan selesai pada tahun 126 M"
"1 abad lamanya "
"Ya karena pada tahun 80 Masehi terjadi kebakaran "
"Lalu?"
"Kaisar Hadrianus memperbaikinya dan menambahkan bagian Rotunda, bangunan berbentuk lingkaran, pada bagian dalam Pantheon"
"Oh.. lalu apa masih menjadi kuil untuk menyembah para dewa romawi?"
"Tidak...sejak tahun 609 M, Pantheon beralih fungsi menjadi gereja sampai sekitar tahun 1885 M dan, Pantheon juga dijadikan sebagai tempat untuk memakamkan pahlawan nasional Italia seperti Raja Emmanuel I dan Raphael, pelukis Renaissance"
"Wah... suamiku memang hebat..."
"Emm... ya, lebih hebat lagi dengan bantuan internet "
Kabir mengayunkan ponselnya didepan Shofia dan itu membuat Shofia mendelik sebal.
Ekspektasi nya tentang suami cerdas tanpa batas, kandas begitu saja...
__ADS_1
"Mau berfoto?"
"Ayo... tapi disebelah mana?"
"Disini saja. .. aku akan meminta tolong orang.."
"Oke"
Akhirnya mereka berfoto foto saja disana, dan mengelilingi gedung. Mereka berdua tak masuk kedalam karena Shofia tak mau.
"Masuk kedalam?"
"Tidak..."
"Kenapa?"
"Didalam sana adalah gereja tempat orang beribadah, kita tak bisa mengganggu mereka dengan acara wisata kita"
"Tapi banyak bukan wisatawan yang masuk tanpa peduli itu"
"Iya, aku tahu.... tapi aku tak mau disamakan dengan itu"
"Baiklah .. ayo kita pergi saja mencari makan..."
"Oke..."
"Oh iya, kapan kita ketempat Alan lagi?"
"Besok pagi"
"Emmm...."
"Sekalian kita cek out hotel"
"Kita akan pulang ke Amerika?"
"Tidak... kita akan mengunjungi daerah lain"
"Apa jauh?"
"Entah..."
"Kita akan kemana??"
"Positano"
"Itu apa?"
"Besok juga tahu...."
Akhirnya Shofia hanya mengangguk. Dia tak mengerti itu dimana dan apa.
Mereka mencari makan malam disekitar hotel, hanya makanan kedai biasa.
Setelah makan mereka beristirahat dihotel. Ya, bagi Shofia besok adalah hari beratnya.
"Kenapa banyak diam?"
"Tak apa..."
"Memikirkan besok?"
"Ya... aku tak dapat memungkiri itu...."
"Kamu harus percaya kalau kamu bisa sayang"
"Terima kasih. ..."
"Sama-sama sayang. .... sekarang mandilah, dan istirahat ya...."
"Iya.... apa kamu akan melembur pekerjaanmu lagi?"
"Tidak... hanya mengecek laporan..."
"Oh...."
Seperti biasa, Kabir menyiapkan semua keperluan mandi Shofia, dan membiarkan wanita itu berendam, merilekskan pikirannya.
Kabir tahu bagaimana perasaan Shofia, pasti ada rasa takut dan beban yang dia tanggung.
Ya, tapi saat melihat orang lain menjelek jelekan Shofia, dia juga kasihan. Kabir tak kan selamanya ada untuk Shofia.
Kabir takut, saat dia tak ada Shofia menjadi terpuruk. Dia takut.
Malam panjang dengan dengkuran halus Shofia dan Kabir tergantikan dengan matahari yang menyingsing.
Berkali kali Shofia menghembuskan nafas panjang, dan juga melatih kakinya diatas kursi roda.
Hanya menggerakkan sendi sendi jemarinya dan Pergelangan kakinya.
Tidak sakit tapi sedikit kaku.
Shofia sudah bersiap dari tadi, memakai dress pendek dengan warna pastel.
Sedangkan Kabir sekarang memilih memakai kemeja putih serta celana bahan. Semi formal, kembali ke style dulu.
"Sudah siap?"
"Sudah..."
"Sebentar. .."
Kabir berjalan cepat kearah tas Shofia yang berisi make up dan mengambil penjepit warna putih.
Menyugar rambut depan Shofia dan menjepitnya kebelakang.
"Cantik..."
__ADS_1
"Terima kasih. ..."
"Hmmm...Ayo berangkat"
"Iya...."
Kabir segera mendorong kursi roda Shofia menuju mobil yang dia pinjam dari Alan.
Tak perlu lama, mereka berdua sudah berada diruangan milik Alan. Menunggu lelaki itu yang memiliki satu tamu.
Kabir tak henti henti memegang tangan Shofia dan menciuminya.
"Kalian sudah lama?'
Alan keluar dari ruangan dan diikuti oleh seorang wanita seksi.
"Alan... kalau kamu masih saja seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku pergi"
Alan hanya menghembuskan nafas kasar, sedangkan Shofia dan Kabir hanya melihat dengan tatapan bodoh.
"Jangan melihatku seperti itu, ayo masuk!"
"Dia kekasihmu?"
Kabir bertanya pada Alan sambil mendorong kursi roda Shofia, sedangkan Shofia hanya menyimak kedua lelaki itu.
"Iya..."
"Memintaku untuk menikahinya? "
"Begitulah, lebih dari itu.... dia membuat berita yang tidak tidak"
"Maksutmu? "
"Ya, aku masih belum ingin menikah tapi dia mengatakan pada mama kalau dia hamil"
"Hahahaha. .... dia licik!"
"Jangan tertawa! Baringkan saja istrimu disana, dan akan segera kita mulai"
"Iya iya..."
"Mungkin hari ini terapinya sedikit lebih lama dan sakit"
"Iya..."
Pemeriksaan dari Alan masih seperti dua hari yang lalu, memeriksa denyut nadi dan diteruskan pengobatan akupuntur selama 45 menit dan setelahnya mencoba berjalan.
"Kabir... antar istrimu ke halaman belakang"
"Iya..."
Kabir dengan sigap mengangkat tubuh Shofia dan mendudukkan nya dikursi roda.
Mendorongnya kearah belakang klinik.
"Duduk kan disana... jangan pakai alas kaki'
"Ini bebatuan semua"
"Iya... ini terapinya "
"Oh..."
Kabir membantu Shofia untuk duduk dibangku kayu.
"Belajarlah berdiri... biar dibantu kabir"
"Iya..."
Shofia menghembuskan nafas pelan.
Memegang tangan Kabir dengan erat, Shofia mencoba berdiri.
Pertama kali mencoba. Ada perasaan nyeri dan tak nyaman dengan bebatuan dibawahnya.
"Tahanlah... itu yang akan membantu sarafmu kembali normal"
"Ini sakit..."
"Cobalah melangkah, jangan duduk!"
Shofia memejamkan mata lagi, dan mencoba melangkah. Sedikit berat, tapi bisa walau sedikit sakit.
"Melangkah lagi..."
"Iya..."
Shofia terus saja melangkah pelan, dan diiringi senyum dari kedua lelaki itu.
"Coba lepaskan tangan Kabir. .. dan belajarlah sendiri"
"Aku takut..."
"Apa kamu tak percaya Kabir akan menangkapmu kalau kamu jatuh?"
"Percaya..."
"Cobalah. ..."
Shofia benar-benar melepaskan tangan Kabir dan mencoba berjalan pelan tapi sayang, Shofia malah hilang keseimbangan dan terjatuh.
Dan benar saja, Kabir benar-benar menangkapnya dan tersenyum.
"Sakit?"
Shofia menggeleng, dan berdiri lagi. Dia harus berusaha keras untuk bisa berjalan dan tak membuat malu Kabir lagi.
__ADS_1
********