Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Kamar Hangat


__ADS_3

Sinar matahari mulai memasuki celah celah gorden, dan kedua mata dengan bulu mata lentik yang tengah terpejam itu juga mulai terusik.


Dengan kekuatan yang ada, dia mulai membuka matanya dan menyesuaikan diri dengan sinar matahari itu.


Cukup hangat tapi menyilaukan.


Berusaha menggeliat dengan perlahan untuk merilekskan punggungnya, tapi usaha itu sia-sia. Karena ada tangan besar yang melingkar diperutnya.


"Pagi darl..."


Suara bariton itu membuatnya sedikit tersadar dari bangun pagi yang masih setengah tidur.


Itu suara suaminya, dan suaranya sangat seksi saat bangun tidur.


"Kabir...'


"Yes darl... mau sarapan apa?"


"Apa saja "


"Darl..."


"Ya?"


Shofia masih memunggungi Kabir karena tangan Kabir masih diperutnya. Sedikit risau dengan panggil Kabir padanya.


"Kita nanti pulang ke Paris..."


"Kenapa buru buru..."


"Ada proyek yang harus aku tangani "


"Tapikan..."


"Lain waktu kita kesini lagi"


"Baiklah..."


"Satu ronde lagi?"


"Kabir! Kita baru selesai subuh tadi...."


"Baiklah... kamu disini dulu, aku akan mandi"


"Iya..."


"Tidur lah lagi saja"


"Sangat silau"


Kabir tersenyum. Kabir segera mengambil remote kecil dari atas nakas dan ditekan salah satu tombol.


Setelah jendela itu tertutup, Shofia segera memposisikan diri untuk tidur kembali.


Sedangkan Kabir memilih untuk mandi dan bersiap.


Kabir tak butuh waktu yang lama untuk mandi dan bersiap. Dia segera keluar untuk mengambil sarapannya dengan Shofia.


"Pagi, kek, mommy, Daddy "


"Pagi son..."


"Pagi Kabir, mana Shofia?"


"Dia masih tidur..."


"Oh, aku tahu itu.... ah ya.. kapan kembali ke New York"


"Besok kek..."


"Hah... apa benar aku akan sendiri disini?"


"Kakek, ikut kami ke New York saja!?"


"Tidak bisa.... rumahku disini, banyak hal yang harus kutangani"


Arsyid menghembuskan nafas kasar, dia sangat ingin ikut anak dan cucunya tapi urusannya juga sangat penting disini.


Seakan pergi sejengkal saja dari mansionnya, Turki akan runtuh. Ya, mau bagaimana lagi, dia tak akan meninggalkan 'rumah'.


"Papa.... aku dan Leo akan sering berkunjung"


"Ya, aku tunggu kunjungan itu..."


"Kami akan tinggal lebih lama"


Leo mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum. Dan perkataan itu disambut senyuman dan kelegaan dimata Arsyid dan Ellena.


"Aku akan sarapan diatas saja, kalian pelan pelan saja"


"Ya... layani istrimu dengan baik"


"Iya kek...."


Kabir segera naik kelantai atas lagi, dan melihat Shofia yang sudah mengenakan kimono tidurnya. Shofia terduduk disisi ranjang.


"Kenapa disitu, darl?"

__ADS_1


"Tak apa, hanya duduk"


Shofia tersenyum. Tapi Kabir segera menghampiri Shofia, karena melihat luka lebam di kening sebelah kirinya.


"Darl... ada apa ini? Keningmu lebam"


"Benarkah?"


"Iya, katakkan kenapa ini?"


Shofia terdiam. Saat akan mengucapkan sesuatu, Kabir sudah menyelanya.


"Jangan katakkan kalau kamu ingin kekamar mandi sendiri"


"Hmm"


"Shofia, kenapa tak menungguku?"


"Aku selalu merepotkanmu. ..."


"Sama sekali tidak, Shofia... kamu harus mengandalkanku. .."


"Iya aku tahu..."


"Sekarang sarapan dulu ya... setelah itu, kamu mandi..."


"Iya, Kabir..."


Shofia lalu memakan sarapannya, meminum susunya juga.


"Ayo, mandi"


"Bolehkah dipapah saja? Aku ingin belajar berjalan"


"Tidak! Belajar berjalan harus dengan pengawasan dokter"


"Kabir..."


"Sayang, tolong dengarkan aku... kamu harus bersabar..."


"Iya aku tahu, ,,,"


"Bagus... hari ini, ikut mommy melihat galerynya ya..."


"Loh.. kamu bilang, kalau hari ini kita pulang ke Paris "


"Seharusnya, tapi ini hari jumat"


"Hmm?"


"Aku ingin sholat di Hagia sophia"


"Apa kamu tak tahu, sholat jumat termegah dilaksanakan di sini saat perebutan Konstantinopel"


"Aku tahu itu... tapi apa hubungannya dengan kamu?"


"Aku ingin merasakan kemegahan itu, walau hanya dengan sholat ditempat ini saja"


"Oh baiklah..."


"Sekarang, ayo mandi"


"Ya..."


Kabir segera menggendong Shofia menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat beserta alat mandi Shofia. 


Setelah dirasa sudah siap semua, Kabir segera mengangkat kembali Shofia dan memasukkan Shofia kedalam bathtube.


"Aku tunggu didepan"


"Iya...."


Kabir lalu keluar dari kamar mandi dan menunggu Shofia didepan kamar mandi seperti semalam.


Setelah tigapuluh menit, Shofia memanggilnya lagi.


Tapi sepersekian detik dia masuk, Kabir menegang.


Sial. Dia sudah berkali-kali tidur dengan Shofia, tapi wanita ini semakin menggoda saja.


"Sudah selesai?"


"Ya, kamu meletakkan kimononya terlalu jauh"


"Aku ambilkan"


Kabir segera mengambil kimono Shofia, memakaikannya pada Shofia dan segera menggendong Shofia kembali ke kamar.


"Darl.. pakai baju yang mana?"


"Dress saja, agar kamu tak susah memakaikannya "


"Baiklah...."


Kabir memilihkan dress rumahan untuk Shofia dan segera Kabir segera membantu Shofia memakai baju.


"Darl..."

__ADS_1


"Iya...."


"Aku sebentar lagi akan pergi keluar, kamu disini saja dengan mommy, ya?"


"Iya... kamu sibuk saja dulu"


"Hmmm.. oh iya, kamu tak ingin pergi berbelanja dengan mommy, tak jauh dari sini ada pasar sutra dan juga pernak pernik perempuan"


"Tidak... aku akan kesusahan disana"


"Kenapa? "


"Kabir kamu tahu bukan? Aku tak bisa berjalan,  dan dipasarkan itu pasti ramai orang"


Kabir mendengarkan penjelasan Shofia sambil menggendongnya untuk duduk di ranjang.


Setelah mendudukkan Shofia diranjang, Kabir segera tidur dipanggang Shofia.


Melihat wajah istrinya yang cantik.


Shofia yang mendapati suaminya yang bermanja dipangkuanny aku hanya tersenyum.


"Hmmm"


"Aku tak mau merepotkan,  apalagi mommy suka sekali kemanapun tak membawa pengawal,  mungkin kalau bisa berjalan, aku bisa ikut kesana "


"Sayang... kamu selalu begitu.... jangan merendah terus menerus... kamu sempurna, okay?"


"Ya... terima kasih, Kabir... kamu selalu ada untukku "


"Anytime for you, darl. ...."


"Kabir"


"Ya..."


"Bisakah kamu belikan aku alat gambar"


"Untuk apa?"


"Pekerjaanku banyak sekali, dan menumpuk"


"Kamu bisa berhenti bekerja sayang, dan dirumah saja mengurusiku"


"Kabir...."


"Iya iya aku tahu.... nanti akan kukirim alat tulis untukmu"


"Bagus... kamu memang yang terbaik sayang"


"Tapi Shofia. .."


"Apa?"


"Kalau nanti kamu hamil, apa kamu harus tetap bekerja?"


"Ya, tentu"


"Tapi, itu sangat berbahaya untuk kesehatanmu dan juga janin kita"


"Sayang.... kamu sebenarnya melarangmu bekerja, bukan?"


"Sebenarnya iya, tapi aku melihat bagaimana perjuanganmu untuk mencapai titik ini... aku tak bisa menolak semua keinginanmu tentang desainmu itu"


"Terima kasih, Kabir"


"Iya, tapi kalau sampai desain desainmu itu membuatmu melupakanku atau sampai berbahaya untukmu, aku tak segan segan mengurungkan dirumah tanpa alat gambarmu!"


"Aku tahu..."


"Apa lagi kalau kamu sedang hamil, aku tak mau pekerjaanmu itu membuat anak kita terlantar"


"Iya iya, kamu cerewet "


"Shofia, aku tak cerewet, tapi dulu kamu memang begitu, dulu kamu jarang makan, kamu akan lembur bahkan tak tidur hanya karena desainmu itu... jujur aku sangat marah dengan pola hidupmu yang mengutamakan pekerjaanmu "


"Tapi, sekarang tidak, kan?"


"Oke oke... tapi sampai itu terjadi, akan ada konsekuensinya"


"Iya suamiku...."


Akhirnya keduanya terdiam. Shofia sibuk mengelus rambut Kabir, sedangkan Kabir membenamkan wajahnya diperutnya Shofia.


"Sayang..."


"Emmm... ada apa?"


"Kamu tak ingin olahraga ranjang?"


"Ini masih siang"


"Ayolah..."


"Kabir..."


"Baby boy or baby girl! ?"

__ADS_1


*********


__ADS_2