
Mr. Arsyid mansion- Istambul- Turkey
"Ugh..."
Shofia menggeliat, dia dikamar yang mewah. Lebih seperti kamar bangsawan kuno.
Shofia terdiam apa yang terjadi, dia mencoba mengingat.
Flashback
Bandar Udara Internasional Sabiha Gökçen
- Istambul- Turkey
Pesawat yang ditumpangi Shofia dan Kabir sudah mendarat.
Sebenarnya, Kabir sudah tahu kalau Shofia akan datang diacara pernikahan sang adik tapi tak menyangka saja dia akan satu penerbangan dengan Shofia.
Kabir mencoba menghampiri Shofia saat wanita itu duduk dibangku penumpang, seperti menahan sesuatu, wajahnya pucat.
"Shofia..."
"Kabir, kamu?"
"Kita ada disatu penerbangan"
"Oh..."
"Kamu kenapa?"
"Tak apa, hanya jet-lag..."
"Baiklah... sekarang kamu akan kemana?"
"Mansion milik kakek Arsyid..."
"Kesana? Lebih baik kita kesana bersama, aku juga akan kesana"
"Baiklah.. terima kasih"
"Ehemmm.."
Kabir segera mengambil alih koper milik Shofia, membiarkan wanita itu tak membawa koper sendiri toh Kabir juga hanya membawa ransel saja.
Kabir segera menaiki Taksi yang berada di luar lobi, dan segera memberitahu alamat yang akan dituju.
Shofia masih saja diam, tak ada niatan untuk berbicara apapun.
Sedangkan Kabir, banyak sekali yang akan dia tanyakan tapi itu hanya dia fikirkan begitu saja, tak berani bertanya.
"Shofia.."
"Ya.."
"Kamu sakit?"
"Tidak, hanya lelah"
"Tidurlah... nanti akan aku bangunkan"
"Tapi.."
"Tak apa.."
Shofia akhirnya terdiam lagi, dan segera memejamkan mata. Dia memang lelah dan merasa pusing.
Entah berapa lama dia tertidur, tapi yang pasti sekarang dia merasa diguncang.
"Ugh..."
"Kita sudah sampai..."
"Oh.. ya.."
Shofia menyesuaikan penglihatannya, rupanya mansion milik kakek Arsyid begitu clasik tapi elegan.
Koper milik Shofia dan Kabir telah dibawa oleh maid yang menyambut mereka. Kedua keluarga besar Kabir seorang bangsawan.
Sampai didepan pintu, Shofia merasa pusing yang hebat menderanya. Tanpa sadar Shofia terduduk sambil memegangi kepalanya.
"Shofia, ada apa?"
__ADS_1
"Kepalaku sakit"
"Ayo segera masuk dan istirahat"
"Ya"
Shofia berusaha berdiri lagi, tapi baru beberapa langkah dia berjalan, dia kembali tumbang.
Semuanya gelap, dan dia tak mengingat apapun.
Flashback off
Shofia mengingat kejadian sebelum pingsan tapi kenapa dia dikamar mewah ini?
"Kamu sudah sadar?"
Shofia menoleh kearah pintu, Zahra sudah ada diambang pintu dengan membawa senampan makanan serta botol obat.
"Zahra... aku pingsan?"
"Kamu tak ingat?"
"Ya, aku ingat sebelum pingsan tapi kenapa aku ada disini?"
"Oh itu..."
Flashback on..
Semua orang panik, termasuk orang orang yang menyambur Kabir, karena Kabir menggendong Shofia yang tak sadarkan diri masuk kedalam rumah.
"Ini ada apa?"
"Mom, nanti saja tanyanya, panggilkan dokter"
"Baiklah,, baiklah"
Kabir spontan membawa Shofia kedalam kamarnya untuk berbaring.
Semua orang sedikit aneh dengan sikap Kabir yang sangat perhatian dengan Shofia, apa mungkin sudah sadar.
Setelah membaring Shofia, Kabir segera keluar, memberikan ruang yang cukup untuk Dokter memeriksa Shofia.
"Son, are u okay?"
"Tak apa.. hanya saja kamu begitu perhatian pada Shofia.."
"Entah kenapa aku begitu ingin dekat dengan Shofia, mom... dan seperti ada tali yang menautkan kami berdua"
"Cobalah tinggal sedikit lama dengan Shofia, mungkin kamu akan ingat sesuatu"
"Tapi, dad... Celline?"
"Darl.. kalau kamu memang tak ingin tinggal tak apa... tapi ingatanmu lebih penting, bukan?"
"Ya, aku tahu... aku akan tinggal lebih lama"
"Bagus..."
Tiba tiba kepala Kabir sakit, dan itu membuatnya tak nyaman.
Kabir segera mengeluarkan botol obatnya dari dalam tas, dan pergerakan Kabir tak luput dari pengawasan semua orang.
"Son, obat apa itu?"
"Ini, dari Celline.. katanya dapat meredakan gejala pusingku dan memulihkan ingatan dengan cepat"
Kabir mengambil dua butir obat dan siap akan meminumnya, sebelum Sean menghentikan pergerakannya.
"Tunggu sebentar"
"Ada apa?"
"Aku tahu tentang obat obatan, bisa aku lihat obat itu?"
"Tentu..."
Kabir segera memberikan botol obat itu beserta obat yang ada ditangannya pada Sean.
Sean mencium bau obat itu, dan sedikit berfikir.
"Didalam obat ini ada zat halusinogen, serta zat yang dapat menyebabkan kelumpuhan, aku lupa namanya... ini tak baik diminum"
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku bertahun tahun mempelajari tentang obat dan racun... yang memberikan kamu obat ini, ingin kamu tunduk padanya"
"Celline..."
Semua orang terdiam. Kabir sedikit berbungkuk, dia salah mempercayai orang.
"Max dan Rio akan datang kemari... kalian nikmati waktu persahabatan kalian... mengobrollah"
"Baiklah"
Kabir tersenyum pada semua orang. Dia memang butuh sahabat sahabatnya.
Sampai perhatiannya tertuju pada pintu yang terbuka.
Doktet telah selesai memeriksa Shofia.
"Bagaimana?"
Kakek Arsyid dengan suara lembut tapi beratnya mengintrupsi sang dokter keluarga.
"Tuan... kemungkinan nona muda sedang menghadapi masalah yang besar, mungkin tekanan mentalnya terlalu besar... dan beberapa hari ini dia tak makan dengan benar... jadi dia mengalami dehidrasi yang cukup parah beserta luka dirahimnya memang belum sembuh"
Semua orang terkejut dengan ucapan terakhir sang dokter. Bagaimana mungkin, wanita yang terlihat kuat itu menyimpan rasa sakit.
Kabir juga sedikit terkejut. Mengingat kembali, saat mereka berpapasan dikedai setiap pagi, Shofia memang jarang memakan sarapannya hanya meminum minuman yang dia pesan.
Tapi, rahimnya belum sembuh? Dia kenapa?
"Tuan, aku hanya takut.. rahimnya yang seperti sekarang ini tak dapat menerima kehamilan lagi"
"Maksutmu apa?"
"Tuan, bisa saja Nona muda hamil tapi kemungkinan janin lemah serta keguguran sangat besar, karena obat itu-"
"Baiklah, kamu boleh pergi... dan cari solusi untuk cucuku itu!"
"Baik tuan..."
Dokter beserta perawat itu segera pergi untuk mengobservasi keadaan Shofia dan menemukan jalan keluar.
Kabir tetap diam. Dibalik senyum yang Shofia tampilkan setiap hari, ada luka yang mendalam.
Dia tak bisa membayangkan betapa rapuh Shofia, sepertinya sekali dipegang akan pecah.
"Kabir... istirahatlah dikamar tamu.. kamarmu sedang dipakai Shofia, bukan?"
"Ya.. aku akan beristirahat..."
Flashback off...
"Jadi, kesehatanku tak ada perubahan sama sekali?"
"Kak... jangan bersedih... disini banyak dokter terbaik.."
"Tapi, memang aku sudah cacat!"
Shofia tak menangis, tapi dia lebih merasa pedih. Apa yang dapat dibanggakan dari dirinya sekarang?
Wanita yang sempurna?
Bahkan kalaupun Kabir mengingat kembali dirinya, Kabir tak akan mungkin mau menikahinya seperti dulu.
"Kak... jangan bersedih"
"Tolong... keluarlah.. aku ingin sendiri.."
"Tapi kak.. kakak harus makan"
"Aku ingin sendiri.."
"Baiklah... makananmu aku letakkan di nakas.. nanti makanlah"
Zahra meletakkan nampannya diatas nakas. Lalu dia pergi begitu saja dari kamar.
Sedangkan Shofia kembali melamun memikirkan nasibnya, dia tak pernah sesedih ini. Bahkan saat tahu Kabir tenggelam dulu, dia tak sesedih ini.
Tanpa Shofia sadari, dibalik pintu ada Kabir yang melihatnya.
Shofia menangis sendu, tak histeris tapi itu sudah bisa membuktikan kalau wanita itu sedang dikeadaan terpuruk yang paling dalam.
__ADS_1
Apa yang membuat wanita itu bisa mengalami kejadian ini, Kabir sangat ingin tahu.
*****