
Sudah dua hari Shofia sadar, dan menjalankan aktivitas didalam kamar inapnya.
Dan hari ini, Kabir menemaninya jalan jalan mengelilingi taman rumah sakit. Kabir terus tersenyum sambil mendorong kursi roda Shofia.
Sedangkan Shofia terus saja menyapa setiap orang yang dia temui.
"Darl..."
"Ya Kabir... ada apa?"
"Gaunmu sudah dirumah"
"Memang kapan kita akan menikah?"
"Terserahmu, kapanpun kamu siap.. mommy dan kak Luna sudah mengurus semua"
"Kalau begitu, tentukan saja Kabir..."
"Apa kamu sudah siap?"
"Sudah... bukankah kita merencanakannya sudah sejak lama?"
"Biarkan kamu benar benar sehat dulu dan dapat beraktifitas"
"Menunggu aku bisa berjalan?"
"Tidak, itu lama... Rio berkata kalaupun kamu sudah siap pengobatan selanjutnya tapi juga membutuhkan waktu"
"Lalu?"
"Kalau memang sudah siap menikah, aku harap bisa minggu ini"
"Kabir..."
"Ya?"
"Lalu, bagaimana dengan Celline?"
"Celline? Dia sudah tiada"
"Maksutmu?"
"Penembakan waktu itu memang direncankan oleh keluarga Zhia, mantan istri Sean dan Celline juga ikut andil penyediaan senjata.. tujuannya adalah kamu dan Zahra, karena menurutnya kamulah yang membuatku berpaling darinya"
"Dia cinta mati denganmu"
"Bukan denganku, tapi dengan uangku... saat penangkapan kemarin, Max memergokinya sedang diatas ranjang dengan lelaki lain"
"Kamu tak sakit hati?"
"Tidak, sebenarnya saat aku sadar dari kecelakaan saat itu, aku mengingat tawamu tapi malah aku salah artikan kalau itu tawa Celline ..."
"Hmm?"
"Walaupun aku kembali ke Paris dan memulai kembali dengan Celline tapi tetap saja kosong dihati ini tetap kurang... sedangkan saat kamu memelukku di hotel, ada perasan nyaman tapi tak tahu harus bagaimana"
"Jadi?"
"Jadi, walaupun aku hilang ingatan, kamu tetap yang aku cintai"
"Perayu!"
Kabir dan Shofia tertawa bersama. Mereka mengobrol dengan santai. Mereka membicarakan waktu yang terlewat tanpa bersama.
"Apa aku mengganggu?"
Kabir dan Shofia menoleh, dan rupanya Rio sedang berdiri dibelakang mereka.
"Tidak, ada apa?"
Shofia sempat mengerutkan keningnya. Kemarin saat Rio menyatakkan perasaannya pada Shofia, Kabir seperti kesetanan dan sekarang biasa saja.
"Aku hanya melihat kondisi Shofia..."
"Kalian baik baik saja?"
__ADS_1
Shofia dengan pelan berkata seperti itu. Merasa heran.
"Kami baik baik saja... Kabir dan aku sering bertengkar dan setelahnya kami berdiskusi dan saling memaafkan..."
"Oh.."
"Shofia.. tenang saja, kami tak akan merebut apa yang seharusnya tak direbut"
"Hmm.."
"Kemarikan tanganmu!"
Rio duduk didepan Shofia dan mengecek nadi Shofia.
"Kondisimu membaik dengan cepat... kamu bisa mempersiapkan terapimu"
"Terima kasih... apa kamu mendalami ilmu kedokteran Cina?"
"Kenapa?"
"Kamu memeriksa hanya dengan merasakan denyut nadi"
"Hahaha... Shofia, kamu tak perlu tahu... oh iya, Kabir... Max sudah kembali ke New York.."
"Aku tahu... setelah urusan ini selesai aku akan kembali kesana"
"Baiklah... karena urusanku dirumah sakit ini selesai, aku akan kembali ke New York hari ini... Nikmati waktu kalian"
"Kami akan menikah, kenapa tak menunggu?"
"Aku akan kemari lagi saat kalian menikah..."
"Baiklah.. terima kasih sudah merawat Shofia dengan baik"
"Kabir! Kau ini seperti dengan siapa saja! Tenang saja"
"Iya.."
"Rio... terima kasih sudah merawatku..."
"Hmm?"
"Aku hanya mengungkapkannya, jangan menjadi bebanmu"
"Iya, aku mengerti"
Rio menepuk bahu Kabir dan berlalu pergi.
Shofia melihat bagaimana kentalnya persahabatan mereka, mereka seperti saudara.
"Kenapa memandanginya seperti itu?"
"Aku hanya kagum dengan kalian, persahabatan kalian seperti saudara"
"Aku, Rio, dan Max tumbuh bersama... mengalami setiap musibah dan kesedihan bersama"
"Emm.. aku boleh bertanya?"
"Apa? Tanyalah"
"Emmm.. kalian tumbuh bersama.. jadi kenangan masa kecil yang kamu sangat ingat apa?"
"Kenangan?? Banyak yang aku ingat, bahkan saat aku didiculik oleh musuh daddy, mereka yang pertama menemukanku"
"Bagaimana bisa kamu diculik?"
"Ya, dulu daddy masih aktif dengan persaingan bisnisnya, belum sestabil ini masih banyak musuh yang mengancam keluarga..."
"Lalu?"
"Kebetulan aku dulu masih sekolah, aku masih suka bermain dengan Rio, dia meneliti obatan yang sudah diteliti dan diedarkan di Apotek dulu, hanya ingin mengingat zat zatnya..."
"Dan kamu?"
"Bermain komputer, menciptakan alat alat baru dan dihari penculikan itu aku baru saja memperagakan GPS yang bisa mencari orang hanya dengan mengenali struktur wajahnya.. dan untung Rio merupakan pendengar yang baik jadi dia mengingat dengan jelas detail alatku jadi aku cepat ditemukan"
__ADS_1
"Apa kamu disiksa?"
"Kamu ingin tahu?"
Shofia mengangguk dan menatap Kabir yang ada didepannya.
"Apa kamu ingat luka yang ada dipunggungku?"
Shofia terlihat berfikir dan dia teringat dengan luka itu.
Bukan luka pisau atau apa tapi seperti jahitan. Jahita dibeberapa tempat.
"Aku ingat"
"Itu ulah mereka, ada ditusuk dibeberapa bagian... kalau Rio tak menemukanku dengan cepat dan membawa pasukan dari ayahnya"
"Apa kamu menderita?"
"Menderita? Ya... aku saat itu hanya anak belasan tahun yang hanya tahu bermain, dan setelah itu aku menjadi seperti ini"
"Apa sifat dingin dan tak berperasaanmu, dari setiap luka itu?"
"Mungkin... aku hampir putus asa, aku menyerah untuk mencari cahaya.."
"Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Orang tuaku? Mommy dia jatuh sakit dan daddy hampir bangkrut karena dia terpuruk karena kepergianku... "
"Pasti menyakitkan"
"Ya... karena itu juga, Zahra harus pindah ke Turki, dia sangat sedih saat itu"
"Kasihan Zahra, dia masih kecil dan harusĀ berpisah dengan kami"
"Lalu setelah itu?"
"Setelah itu? Setelah aksi penyelamatan itu, aku hanya tahu tentang belajar dan mengamati daddy... karena dengan itu, aku bisa membuat kerajaan bisnis daddy stabil seperti saat ini"
"Apa kamu marah dengan itu smua?"
"Ada dendam, tapi dulu tapi saat aku mengenal cinta, bagaimana lebih baik memaafkan, aku menjadi lebih baik"
"Lalu Celline?"
"Celline? Dia teman kuliahku dulu, aku bertemu dengan dia saat kamu sedang dicafe, dia seorang pelayan"
"Tapi, aku melihatnya seperti orang kaya?"
"Ya, setelah berpacaran denganku, dia mendapat semua fasilitas, dan itu membuatnya merasa kurang... jalan pintasnya adalah mencari sugar daddy"
"Pasti kehidupannya yang dulu membuatnya seperti itu"
"Bukan... dia sebenarnya hidup dengan sederhana tapi saat bersamaku, pergaulannya juga berubah.. itu yang membuatnya mati matian ingin terlihat glamour"
"Jadi kamu juga ikut andil merusak Celline"
"Bisa iya, juga bisa tidak.. aku menfasilitasi dia karena dia pacarku dan tak mungkin membiarkannya susah"
"Aku tak kamu fasilitasi!!"
"Bukan tidak mau, tapi apa adik dari Morgan Lee kekurangan fasilitas.."
"Tapi aku juga mau dimanja! Dan aku masih bekerja!!"
"Kurang apa aku memanjakanmu, bahkan kalau kamu mau keliling dunia, pasti aku kabulkan.. dan... bukannya menjadi desainer adalah cita citamu, apa kamu terpaksa dengan semua itu?"
"Kalau begitu aku mau berkeliling dunia!"
"Baiklah... kita menikah, dan berkeliling dunia bersama..."
"Kamu janji?"
"Aku janji"
*********
__ADS_1