
Setelah menyantap Burger dengan porsi yang lumayan besar itu, Shofia dan Kabir segera pulang ke hotel tempat mereka menginap.
Mereka berdua segera membersihkan diri. Shofia setelah mandi memakai kemeja oversize dan hanya memakai ****** ***** saja sedangkan Kabir memakai celana chinos dengan kaos polos putihnya.
Mereka berdua sudah berbaring diatas tempat tidur dengan televisi menyala didepan mereka.
Shofia dengan manja menyender didada Kabir sedangkan Kabir nampak merangkul sang istri dan sedikit mengusap lengan Shofia.
"Apa Alan juga ikut penerbangan kita besok?"
"Iya, dia ingin berkunjung kesana... kenapa? Apa kamu keberatan? "
"Kalau aku bilang keberatan, apa akan kamu batalkan berangkat bersama?"
"Mungkin, kenapa kamu keberatan?"
"Entah, aku hanya tak nyaman saat bersamanya "
"Kenapa begitu?"
"Entah... aku tak tahu.. aku merasa dia begitu,, entahlah"
"Sayang... tak usah kamu pikirkan, anggap saja dia tak ada..."
"Baiklah...."
"Ini masih siang, mau kemana lagi?"
"Aku ingin jalan jalan tapi malas ganti baju"
Kabir menaikkan sebelah alisnya saat Shofia mengatakan itu.
"Kenapa? Kamu sudah rapi bukan?"
Ya, Kabir mengatakan begitu karena Shofia terlihat cantik mengenakan kemeja oversize merah mudanya, hanya tinggal merapikan rambutnya.
"Apa kamu rela aku memakai seperti ini?"
Shofia segera menyibak selimut yang menutupi pahanya. Dan terlihat paha mulus disana, tapi bukan itu.
Ya, Shofia hanya memakai ****** *****.
Dan Kabir tahu itu. Seketika Kabir memeluk Shofia dengan erat.
"Kenapa?"
"Aku menyayangimu, Shofia...."
"Kenapa tiba tiba begini?"
"Entah, tapi aku merasa bahagia dan sedih menjadi satu..."
Shofia tersenyum, dan membalas pelukan Kabir. Dia sangat beruntung memiliki lelaki ini.
"Aku juga menyayangimu"
Shofia mencium Kabir dan menyesapi setiap rasa yang ada.
Tapi saat dipertengahan acara bercumbu mereka, Kabir tiba-tiba meneteskan air mata.
"Kenapa sayang? "
"Aku tak tahu... aku begitu sedih, seakan akan kamu akan pergi"
"Hei... kenapa kamu begitu sensitif..."
Kabir memeluk Shofia begitu erat dan menyalurkan segala cintanya.
"Aku ingin cepat memiliki anak disini"
"Ayo..."
Kabir tersenyum dan melanjutkan keinginannya bercinta dengan sang istri.
++++
Setelah percintaan yang panas tadi, Kabir dan Shofia tertidur.
Mereka terbangun saat suara ketukan pintu terdengar.
Kabir segera bangun, memakai kimono mandi saja dan menyelimuti Shofia yang masih setengah sadar.
Siapa yang mengganggu waktu mereka?
Saat Kabir membuka pintu, Kabir cukup terkejut karena Alan ada didepan kamar mereka.
"Ada apa?"
"Mau ke Bar? Lama tak kesana"
__ADS_1
"Sebentar, aku akan berganti baju"
"Kalau begitu aku tunggu didalam bisa?"
"Tidak, kamu di lobi saja..."
"Kenapa?"
"Istriku masih belum memakai baju"
"Ya sudah"
Alan berbalik begitu saja dan pergi.
Sedangkan Kabir merasakan hal yang aneh dengan sahabatnya itu.
Tadi sangat antusias tapi sekarang terlihat kesal.
"Siapa yang kemari? "
"Alan"
"Kenapa kemari ?"
"Mengajakku ke bar.... mau ikut?"
"Tidak... aku ingin istirahat"
"Baiklah..."
"Jangan pulang terlalu malam"
"Iya sayang... kita akan ada ronde berikutnya"
"Apa kamu tak lelah?"
"Menjelajahimu tak akan ada lelahnya. ..."
"Berangkatlah, jangan menggodaku terus"
"Iya iya... aku mandi dahulu"
Shofia hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Kabir. Setelah lelakinya memasuki kamar mandi, Shofia tersenyum mengingat perkataan Kabir yang begitu menggodanya.
Sedangkan Kabir diselimuti perasaan tak nyaman. Apa benar yang dikatakan oleh Shofia?
Apa perasaan Shofia sama dengannya saat berdekatan dengan Alan?
Memakai kemeja putih yang digulung bagian lengannya serta celana sobek sobek panjang. Dia siap dengan rambut acak acakkan serta sepatu ketsnya.
Saat keluar Shofia sudah duduk diatas ranjang dengan kimono yang melekat ditubuhnya.
"Sayang....:"
"Hei.... Sudah siap?"
"Ya.... Apa kamu serius tak ingin ikut?"
"Serius sayang.... Aku lelah ingin istirahat"
"Baiklah, kalau butuh apapun segera hubungi aku"
"Pasti ...."
Kabir mencium kening Shofia dan mengecup sekilas pada bibirnya.
Acara bulan madunya tak ada yang romantis secara keseluruhan.
Setelah berpamitan Kabir segera keluar dan menemui Alan yang sudah menunggunya di Lobi hotel.
"Ayo berangkat.. mau kemana kita"
"Bar... Majuma bar and club'"
"Apa tak ada tempat lain???"
"Apa kau menjadi pejantan yang takut betina ?"
"Mungkin ya... Aku tak ingin melukai hati Shofia...."
"Baiklah .. aku tak akan membuatmu mabuk, hanya menemaniku bermain disana"
"Baiklah...."
Kabir dan Alan segera memasuki mobil Alan yang sudah terparkir rapi di parkiran.
Kabir tak banyak komentar. Hawa dimobil itu begitu tak mengenakkan. Dia merasa tak nyaman.
Setelah perjalanan yang lumayan singkat, dua lelaki itu sudah sampai di area bar yang dituju. Ramai orang disana .
__ADS_1
Banyak wanita-wanita yang menjajakan diri juga.
"Mau sewa satu?"
"Tidak terima kasih"
"Hanya menemani kita minum?"
"Aku tak usah"
"Baiklah... Ayo masuk"
Alan berjalan lebih dahulu, dan diikuti oleh Kabir dibelakangnya.
Sampai didalam bar, pemandangan lebih tak mengenakkan. Banyak pasangan bercumbu, orang orang mabuk benar-benar kacau, serta mereka para maniak berkeliaran.
Menurut Kabir, ini bar yang memiliki nilai yang paling jelek.
Sangat jauh dengan bar milik Max.
"Mau apa?"
"Martini"
"Baiklah"
Mereka berdua duduk didepan bar, melambaikan tangan ke arah bartender. Dan memesan minuman milik mereka.
"Jadi, kenapa kamu ingin pulang besok?"
"Ya, Shofia sudah sembuh dan pekerjaan kami menunggu"
"Kabir ... Apa tak bisa kamu menetap?"
"Maksudmu apa?"
"Ya... Aku ingin lebih lama bermain denganmu"
Kabir terdiam. Kenapa dengan perkataan Alan? Apa ada yang salah dengannya?
"Kamu bisa ke New York, Max dan Rio pasti senang kamu kesana"
"Max dan Rio? Mereka selalu memonopolmu... Bahkan sekarang ada Shofia yang selalu kamu perhatikan"
"Kamu seperti kekasih yang sedang dicampakkan Alan!"
"Aku menyukaimu"
Sedikit terkejut dengan perkataan Alan, Kabir diam. Kenapa lagi ini?
"Kamu terlalu melebih-lebihkan pertemanan ini, Alan!"
"Tidak melebih-lebihkan, tapi aku benar-benar mencintaimu, Kabir"
"Kamu lelaki! Aku juga lelaki!! Jangan bertindak seperti ini!!"
"Kenapa kalau seperti ini? Aku menyukaimu bertahun-tahun, tapi apa? Kamu tak menyadarinya, bahkan kamu bermain main dengan setiap wanita dan sekarang menikah dengan wanita!"
"Aku normal! Wajar bila aku bermain wanita bahkan menikahi wanita! Kau benar-benar tak normal, Alan!"
Kabir berdiri, dan pergi begitu saja. Dia tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Ingin rasanya dia menghajar habis Alan tapi mengingat pertemanan mereka Kabir tak tega.
Sial!!!
Kabir segera keluar dari bar dan menghentikan taksi yang ada disana.
Mengatakan tujuannya. Dan taksi itu pergi dari sana.
Dia tak peduli dengan Alan.
Karena Kabir tahu, kalau dia teruskan acuh dengan perilaku abnormal Alan. Alan bisa memiliki rasa cemburu dan itu tak baik untuk semua orang.
Setelah sampai di Lobi hotel, Kabir segera naik dan menemui Shofia.
Dan wajah kusut Kabir terganti dengan wajah cerahnya. Kabir melihat Shofia di balkon kamar.
Shofia mengenakkan kaos oversize serta hotpant saja.
Didepan Shofia, telah tandas semangkuk salad sayur kesukaannya.
"Sayang...."
Kabir memeluk leher Shofia, dan mengecupnya pelan.
"Cepat sekali pulangnya"
Kabir sedikit diam, tak mungkin kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya. Bisa jadi Shofia shock.
__ADS_1
"Kangen kamu ...."
*********