Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Perangkap


__ADS_3

Saat Shofia berusia 10 tahun, gadis kecil itu begitu bahagia, karena pamannya akan menjemputnya untuk menengok sang kakek yang berada di Indonesia.


Shofia bahkan bersiap saat pagi pagi buta.


Dan seperti yang dijanjikan, Shofia dijemput pukul 8 pagi.


Morgan dan Luna menyambut baik kehadiran sang adik lelaki dari Margaretha.


Mungkin dengan hadirnya sang paman, tak membuat gadis kecil itu sedih lagi.


Dengan menyeret koper kecil, Shofia melangkah keluar rumah setelah berpamitan dengan Morgan dan Luna


Nama paman itu adalah Adam.


Adam penceritakan banyak hal tentang ibu Shofia ataupun keluarganya di Indonesia.


Shofia nampak begitu senang.


Tapi setelah sampai bandara, Adam menerima panggilan dan Menyuruh Shofia untuk menunggunya dikursi tunggu.


Setelah hampir satu jam menunggu, Adam tak kunjung datang.


Shofia juga mencari cari Adam tetapi lelaki itu tak ada.


Shofia kecil yang tak tahu arah, terduduk dan menangis. Dia bingung dan semakin histeris.


Shofia tak mau menjawab siapapun yang menanyainya dan dia tak mau diajak siapapun.


"SHOFIA!!!"


Shofia mendongak dan melihat Luna dengan tergesa menghampirinya serta memeluknya.


"Kak Luna......"


Shofia masih saja menangis. Dan semakin histeris saat dipeluk oleh Luna.


"Ada apa? Kenapa nangis disini?  Dimana paman Adam?"


Shofia tetap tak menjawab dan Luna tahu jawabannya. Ada hal yang tak memuaskan hati Adam, dan tega meninggalkan Shofia sendiri dibandara.


"Ayo pulang.... Kak Mario dan kak Eliz ada dirumah"


Shofia menggeleng dan menatap Luna.


"Gak mau, nanti paman mencariku.. aku disuruh menunggu disini"


"Benarkah???"


Luna akhirnya menatap sekeliling, dan tak melihat keberadaan si paman.


Dan ada seorang ibu yang mengatakan kalau Shofia sendirian dari satu jam lebih yang lalu.


Luna menghela nafas. Dia sudah tahu akan jadi seperti ini, setelah tahu kalau warisan yang ditinggalkan oleh papa mertuanya semua masih dipegang oleh Morgan, ini pasti terjadi.


"Kita pulang dulu yuk.... Nanti kakak hubungi paman kalau kamu ikut kakak"


"Iya...."


Luna segera menggendong Shofia untuk pulang, perjalanannya ke Inggris juga dia tunda dahulu.


"Hubungi keluarga Dominic, ada sedikit masalah... Kita undur dulu kesana"


"Baik nyonya...."


Luna segera masuk mobil dan menghubungi Morgan. Morgan terlihat marah dan memutus semua komunikasi dengan sang paman.


°


Ingatan itu masih dia ingat dengan jelas. Bahkan untuk pertama kalinya Morgan marah besar dan memutus semua komunikas dengan pamannya.


Shofia cukup sedih, dan dari ingatan itu membuat Shofia tak mau lagi tertipu oleh pamannya.


"Kenapa melamun??"


"Aku ingat dulu bagaimana paman membohongiku dan aku hampir hilang di bandara"


"Aku tahu.... Sayang .. maaf kalau aku lancang, tapi aku merasa paman dan anaknya akan membuat masalah pada keluarga kita..."


"Ya aku juga merasa paman belum berubah ...."


"Bagaimana kalau kita ladeni dia dan mengujinya.... Aku rasa dia akan memasuki keluarga kita untuk harta"


"Ya.... Aku hanya berharap kita tak akan goyah..."

__ADS_1


"Tentu.... Kalau anak dari pamanmu lebih cantik, maka kau akan tetap juara dihatiku, sayang"


"Dia pasti cantik, aku..."


"Hei.. apa aku menikahimu karena cantik? Tidak, kau memiliki kecantikan hati yang melebihi wanita wanita yang aku temui"


"Hmm... Rafael..."


"Anak itu baru saja tidur... Besok kita akan pulang ... Rafael harus mendapat perawatan yang maksimal, agar dapat pulang bersama kita tanpa kendala apapun"


"Dia pasti tampan..."


"Ya... Dia memiliki mata abu abu, dengan kulit pucat .. rambut berwarna coklat tua..."


"Aku tak sabar untuk menemuinya"


"Sabar ya...."


Ya, Shofia memang belum bertemu dengan sang anak, dia hanya memberinya dengan ASI hasil pompaan.


Tak berapa lama, dokter dan para perawat datang untuk mengecek keadaan Shofia serta mengganti perban jahitannya.


"Bagaimana keadaanya?"


"Semua Baik, besok bisa keluar"


"Terima kasih"


Shofia tersenyum, setidaknya dia akan terbebas dari bau obat obatan ini.


Setelah dokter dan perawat itu pergi, Kabir mendekat dan mengusap rambut Shofia.


"Kamu mau memakan sesuatu?"


"Hmm... Tak ada, aku sudah makan bubur kan?"


"Baiklah.... Aku akan menncarikan buah untukmu"


"Cepat kembali"


"Iya.. iya..."


Kabir mengecup kening Shofia, dan segera keluar.


Sebenarnya, dia menyuruh Rio untuk membelikannya.


"Lama manunggu?"


"Tidak... Mana?"


"Hmmm ..."


Rio memberikan sebuah keranjang buah yang sudah dibungkus.


"Ada informasi?"


"Tentu... Lelaki tua itu sudah menjalankan rencananya, banyak mata mata dan juga wanita bernama Fio, juga ikut andil.. dia bertugas untuk menggodamu"


"Bagus.... Kita akan pura pura tak tahu, dan masuk kedalam perangkap itu padahal mereka yang salah menangkap ikan"


"Berhati hatilah"


"Hmmm...."


Kabir segera berbalik dan benar, tak jauh dari Rio dan Kabir berbicara. Seorang gadis dengan rok panjang menabraknya.


"Kau tak apa?"


"Maaf, saya tak sengaja"


"Ya...."


"Aku akan meneraktir anda minum kopi, Tuan..."


"Tak usah ..."


"Saya Fio, Nama anda siapa?"


"Kabir...."


Kabir segera berjalan, dan tak menghiraukan gadis itu. Dia sudah tahu kalau gadis yang menabraknya adalah Fio, anak dari Adam.


Setelah sampai didalam kamar. Shofia tersenyum, sedangkan Kabir menghela nafas.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Anak paman Adam sudah bergerak, dia sengaja menabrakku di lobi"


"Secepat ini....."


"Ya ....  Aku mau kita masuk diperangkapnya, dan dia akan sadar kalau mereka salah menangkap ikan"


"Apa ini berhasil?"


"Aku yakin itu"


"Baiklah...."


"Mau memakan buah?


"Jeruk"


"Akan aku kupaskan"


"Hm..."


Dia tersenyum, tapi didalam pikirannya begitu kacau.


Pamannya tak berubah, bahkan dia ingin menguasai kekayaan Kabir juga.


Ya, dengan teknik menggoda, membuat Kabir dan Shofia berpisah. Lalu berusaha membuat Kabir menikahi Fio, dan disisi Shofia selaku wanita yang tersakiti, Adam akan menolongnya.


Taktik ini sudah bisa ditebak.


Shofia begitu bahagia, membuka mulutnya saat Kabir dengan senang hati menyuapinya.


"Manis?"


"Manis, aku suka"


"Habiskan ya...."


"Iya...."


Shofia terus saja tersenyum. 9 bulan, ya 9 bulan dia tak bertemu lelaki ini.


Dia terlihat sedikit berantakan dari pada sebelumnya. Sedikit lebih kurus, serta berjambang.


"Setelah pulang nanti, bercukurlah"


"Iya... Apa aku tak tampan dengan gaya seperti ini?"


"Terlihat seperti Tuna wisma"


"Tapi tetap tampan bukan"


"Mmmmm....."


"Aku sudah menyuruh Rio untuk membuatkan kamar Rafael, dan juga seorang pengasuh"


"Aku bisa mengasuhnya"


"Kamu pasti akan kelelahan...."


"Tidak akan.."


"Sayang... Ibunya tetap kamu, Kamu yang akan mendidik dia...... Dan pengasuh itu penting untuk membantumu"


"Tapi kan...."


"Tidak ada penolakan.. kamu membutuhkan pengasuh"


"Dia akan manja kalau ada pengasuh"


"Tidak akan.... Itu tergantung cara mendidikmu kan? Aku hanya tak mau kamu kelelahan dan sakit"


"Hah... Baiklah, tapi pembantu itu hanya membantuku, bukan mengasuh secara penuh"


"Iya, aku tahu sayang...."


"Sekarang, istirahatlah... Aku akan melihat Rafael..."


"Apa tak bisa dibawa kesini?"


"Dia masih menggunakan alat medis...."


"Tapi tak apa apa, kan?"

__ADS_1


"Tak apa.... Alatnya akan dilepas nanti sore"


*******


__ADS_2