
Setelah 3 hari yang lalu, Shofia sadar. Hari ini Shofia keluar dari rumah sakit.
Dan saat ini, Shofia sudah berdiri ditepi sungai Hudson. Mengenang sang kekasih.
Dengan pengawalan yang ketat, Shofia membawa sebuket bunga. Dibelakangnya ada orang tua serta adik Kabir. Ya, Zahra Dominic ada disini.
"Kabir... aku harap kamu segera ditemukan.. aku merindukanmu"
Shofia bermonolog. Hatinya sakit. Pedih.
"Aku harap..."
Dress floral berwarna putih yang dikenakan oleh Shofia terhempas angin. Rambut panjangnya juga terbawa oleh angin.
Pemandangan didepannya sangat indah tapi baginya tak ada apa apa. Hanya tatapan pedih serta kerinduan.
Impiannya menikah dan hidup bahagia seakan telah kandas tanpa sisa.
Shofia berbalik begitu saja. Tak mampu melihat apapun lagi.
Tak ada tangis disana tapi begitu mencengkam serta sendu.
"Shofia..."
"Ayo pulang... hari sudah sore"
Ya, Shofia sudah dari tadi siang berdiri diam sambil mencengkeram buket bunganya.
Dan sekarang senja sudah menyapa. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu.
"Aku akan kembali ke apartmentku, mom..."
"Tak bisa... kamu tinggallah dulu di mansion"
"Tapi..."
"Shofia.. kamu tak bisa lari dari semua kenanganmu dengan Kabir... kami keluargamu..."
"Baiklah mom... terima kasih"
"Jangan begitu.. ayo pulang.."
Shofia segera masuk ke mobil bersama Zahra sedangkan orang tua Kabir berada di mobil yang berbeda.
"Kak Shofia..."
"Iya, ada apa?"
"Hmm... bulan depan aku akan menikah.."
Zahra mengatakkan kabar itu dengan wajah menunduk. Ada raut sedih disana.
Sedangkan Shofia yang melihat Zahra seperti itu, hanya tersenyum. Dan memegang tangan Zahra.
"Selamat ya..."
"Kak Shofia... Kak Ello begitu beruntung memilikimu"
"Benarkah?"
"Ehm... kak, kamu seoran designer?"
"Ya, ada apa?"
"Buatkan gaun pengantin untukku"
"Apakah di Turki tak ada designer?"
"Banyak.. tapi, aku begitu ingin kamu yang merancang baju pengantinku"
"Baiklah... kamu ingin baju seperti apa?"
"Apa kakak sudah tahu baju pengantinmu?"
"Sudah..."
"Aku ingin yang mirip seperti itu, tapi aku mau yang sedikit terbuka"
"Baiklah..."
"Kak.."
"Ada apa?"
"Kenapa kamu menyukai Kak Ello? Reputasi dia jelek di sini"
"Reputasinya jelek? Dengan predikat itu, apa masih kurang yang berani datang ke ranjangnya untuk memenuhi nafsunya"
"Tapi, kak Ello mana ada seperti itu"
"Aku tahu..."
Shofia menahan nafasnya. Dia teringat apa yang dia alami selama ini.
Kabir.
__ADS_1
Romantis.
Dominan.
Ranjang yang panas.
Pengertian.
Tapi mau bagaimana, ini sudah lewar berapa hari, tapi kenapa Kabir belum ditemukan.
"Kak..."
"Iya.."
"Nanti kakak datang yang dipernikahanku"
"Aku akan datang"
"Kak..."
"Hmmm?"
"Entah kenapa, aku begitu yakin kalau kak Ello masih hidup"
"Aku juga berharap begitu, aku harap dia bisa hidup dengan sehat dan nyaman"
"Kakak.. jangan terlalu sedih.."
"Iya... tolong, turunkan aku didepan"
"Kenapa?"
"Aku harus kekantor lebih dahulu, ada yang perlu aku urus"
"Tapi kak, kamu masih belum pulih"
"Hanya sebentar, tunggulah di mobil ya"
"Baiklah"
Setelah mobil yang Shofia tumpangi menepi, dia segera turun dan berlari masuk kedalam gedung.
Semua orang menunduk hormat, dan pemandangan itu juga terlihat dari mobil Zahra.
Shofia memang dihormati disana, karena Shofia merupakan designer muda yang sangat berpengaruh.
Saat sampai diruang divisi desain, Shofia segera disambut oleh teman temannya.
"Shofia..."
"Hallo... apa kabar?"
"Semuanya sudah berlalu.. tak perlu dibahas.."
"Baiklah.. oh iya, ada surat dilacimu"
"Terima kasih, Clara"
"Tak usah sungkan"
Shofia segera pergi ke kursinya dan mendudukkan tubuhnya.
Segera mengambil amplop putih didalam lacinya.
Ini dari perusahaannya sendiri.
Dan setelah membuka amplop itu, Shofia tersenyum tipis.
Tuhan memiliki rencana yang jelas.
Saat semua badai menerjang ada secercah cahaya yang membuatnya tersenyum.
"Perancis..."
Shofia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Zahra untuk meninggalkannya. Dia memiliki banyak urusan hari ini.
.
.
Dominic Mansion's- Manhattam, 6:45 pm
Setelah dirasa semua urusan selesai, akhirnya Shofia kembali ke mansion sang kekasih.
Shofia disambut para pelayan seperti tuan mereka. Ya, sebanarnya dia sangat risih tapi berusaha sebiasa dan seramah mungkin.
"Darl... kamu dari mana saja?"
Ellena berlari dari dalam dan segera menghampiri Shofia.
"Aku ada urusan dikantor, mom.."
"Jangan terlalu lelah..."
"Iya, aku tahu mom..."
__ADS_1
"Mom.. sangat khawatir bahkan daddy sudah akan menurunkan pengawalnya"
"Aku tak apa mom.. hanya ada urusan sedikit"
"Baiklah...mandilah dan kita makan malam bersama"
"Iya, kamarku?"
"Ya ampun.. Kabir menyiapkan begitu banyak baju untukmu dikamarnya... pakai saja kamar Kabir"
"Terima kasih mom..."
"Jangan sungkan"
Shofia segera masuk kekamar Kabir dan aroma mint yang musk menusuk hidungnya, sangat elegan seperti Kabir.
"Aku merindukanmu...."
Shofia menghela nafas. Baru beberapa hari yang lalu, dia dan Kabir bergelut didalam kamar ini.
Dan hari ini, dia sendiri.
Foto foto Kabir seperti model majalah terpampang, bahkan foto dirinya juga ada diatas nakas.
"Aku percaya kamu juga mencintaiku..."
Shofia segera berbalik dan lekas mandi. Dia tak akan bisa bangkit kalau terus menerus memikirkan kenangan kenangan indah bersama Kabir.
Shofia memilih berendam dengan aroma terapi mawar yang menenangkan. Pikirannya sangat buntu.
Sampai akhirnya dia membuka mata, dia harus bertindak. Dia tak bisa mengenang lelaki ini.
"Aku harap kamu dapat cepat ditemukan..."
Shofia beranjak dari lamunannya. Memakai dress simple dengan aksen floral serta menggerai rambutnya.
Shofia segera turun untuk makan malam. Ya, keluarga Dominic merupakan keluarga Inggris yang terpandang, acara makan malam sangat sakral.
"Shofia... ayo duduk disamping mom"
Shofia hanya tersenyum dan segera duduk disamping Ellena.
Shofia menatap sekeliling sekilas. Ada dad Leo, mom Ellena, Zahra serta lelaki tampan disamping Zahra.
"Shofia, kenalkan ini Sean, calon suami Zahra"
"Oh.. saya Shofia Nayanika.. salam kenal"
Shofia tersenyum simpul, tak ada semangat apapun.
"Hallo kak.. salam kenal.."
Shofia lantas mendongak lagi. Lelaki ini sangat menakutkan. Dari tatapannya serta setiap kata yang terucap ada aura mengintimidasi yang kuat.
"Iya"
Shofia memilih untuk tak menggubris dan segera memakan makan malamnya.
Setelah dirasa semua orang selesai dengan piring masing masing. Shofia menegakkan badannya.
"Dad.. mom.. aku ingin mengatakkan sesuatu"
"Apa darl? Kenapa serius sekali?"
"Aku akan mutasi kerja"
"Kekota mana?"
"Paris, Perancis"
"Kamu bercanda? Bagaimana dengan Kabir? Dengan kami?"
"Mom... aku tak mungkin terus berdiri disetiap bayangan Kabir"
"Sayang..."
"Dad.. aku akan selalu mengunjungi kalian"
"Kau harus sayang!"
Ellena memeluk Shofia erat. Ellena benar benar merasa kehilangan dengan keputusan Shofia.
Apalagi Ellena menganggap Shofia seperti anaknya sendiri.
"Mom.. jangan menangis.."
Shofia memegang kedua pipi Ellena dengan lembut, mengusap air mata Ellena dengan perlahan.
Zahra juga memeluk Shofia dengan erat.
"Katanya mau merancang gaun untukku"
"Itu pasti, dan aku akan hadir dipesta pernikahanmu"
"Kamu harus janji kak.. jangan seperti kak Kabir.."
__ADS_1
"Pasti"
*****