Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Ayo Berperang. ...


__ADS_3

Sudah satu minggu mereka menjalani drama itu. Dan satu minggu pula Fio merasa sukses melakukan itu.


"Kak Kabir. ..."


"Ya ada apa?"


"Malam itu...."


Ya, Fio memang sengaja mencari Kabir untuk menanyakan malam itu. Malam dimana Kabir meminum obat halusinasi.


"Oh. ... tenang saja, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab..."


"Tapi kak... bagaimana dengan kak Shofia. ..."


"Kamu cantik,  kenapa tidak..?"


Kabir berbalik dan pergi. Ada senyum licik diraut serius Kabir.


Dan seketika telinga Kabir berdengung.


"Oh... cantik ya... lihat saja!!"


Diseberang sana, Shofia marah marah. Ya, lewat ear-piece mereka berkomunikasi.


Kabir tersenyum dan segera masuk keruang kerjanya. Mengunci pintu dan segera naik kelantai atas.


Dan taaarrraaa.....


Shofia dengan berani memakai lingerie hitam.


"Sayang..."


"Lebih cantik siapa? ?"


Kabir tersenyum dan mendekap Shofia.


"Kalau aku bilang kamu lebih cantik, kamu beri imbalan apa?"


"Imbalan???"


"Tentu... ini masih siang dan kamu sudah memakai lingerie bodoh ini..."


Ingin sekali Kabir menerjang istrinya kalau saja dia tak selesai melahirkan.


"Rafael disini?"


Kabir melirik dibox bayi, bayi mungil nya sedang tertidur.


"Ya.... pengasuhnya sakit jadi aku cutikan "


"Oh.... apa kamu perlu bantuan?"


"Tidak.... Max sudah memindahkan peralatan Rafael kesini"


"Kenapa tak meminta bantuan? "


"Kamu tadi gak ada... Max bilang kalau kamu keluar dengan kak Morgan. ..."


"Hmmm. ..."


"Apa yang kalian bicarakan??"


"Adam.... lelaki itu tak di Indonesia tapi sedang ada di Macau"


"Kenapa disana?"


"Perjudian"


"Harus kesana?? Las vegas juga ada"


"Karena menurutnya akan sulit dilacak, kalau dia pergi ke Las Vegas strip akan sangat mudah kak Morgan dan aku lacak"


"Lalu bagaimana kamu bisa melacaknya?"


"Bodohnya dia.... Max memiliki jaringan kasino dan bar dimana mana"


"Lalu rencana selanjutnya?"


"Menunggu ikan ikan itu memakan umpan"


"Hmmm...."


"Kamu tahu, tinggal menunggu waktu untuk Fio mengadu domba kita"


"Apa wanita ular itu tak bisa disingkirkan lebih cepat?"


"Bisa.... kalau dia tak sabaran.... hmmm. ... apa istriku ini begitu cemburu??"


"Bagaimana tidak, dia terus saja ingin menempel padamu"


"Kalau begitu, kamu menempellah padaku.."


"Tapi rencana kita..."


"Agar kita cepat menyingkirkan mereka..."


"Hmmm. .. baiklah...."



Hari hari mereka lewati, dan sudah berjalan satu bulan.


Shofia terlihat begitu mencari perhatian pada Kabir,  sedangkan Fio banyak diam saat bersama mereka.

__ADS_1


Mungkin wanita itu bingung mau berbuat apa?


"Sayang...."


"Yes darl.... ada apa??"


"Mau roti isi buatanmu"


"Hmmm. . Manjanya istriku. ..."


Ya, mereka sedang sarapan. Fio melihat itu begitu geram, semakin hari mereka semakin dekat. Dan Fio tak suka itu.


"Mau selai apa?"


"Coklat"


"Baiklah...."


Saat Shofia sibuk memperhatikan suaminya mengoleskan selai pada roti, Fio tiba tiba berlari kearah toilet dapur dan terdengar seperti muntah.


"Dia memainkan drama lagi"


Rio mengatakkan itu dengan enteng. Dia sudah lelah bersikap sangat perhatian pada Shofia,  dia sudah ingin bertemu dengan kekasihnya.


"Ya.... coba lihat apa yang dia lakukan...."


Max juga menyahut. Mereka memang sarapan bersama hari ini.


"Bukan sekarang, tapi nanti.. dia tak akan gegabah mengatakkan apapun didepan kita semua"


"Kamu benar..."


"Apa dia coba coba menyaingi aku...??"


Ketiga pria itu merasa heran, ada apa dengan mood Shofia hari ini.


"Kamu kenapa? "


"Hmmm...."


Max dan Rio tersenyum, Shofia dalam mood yang tak baik.


Tak berapa lama, Fio kembali dengan keadaan diam saja.


"Kamu kenapa, Fio?"


"Sepertinya kemarin telat makan, kak..."


"Oh... segera periksalah..."


"Iya kak..."


Max dan Rio segera berdiri.


"Oh baiklah...."


Rio segera menyusul Max pergi, Kabir juga segera berdiri dan Fio juga berdiri.


"Kak.. apa aku boleh menumpang sampai rumah sakit"


"Emm..."


Belum sampai Kabir berkata lain, Shofia berdiri.


"Sayang, hari ini tak usah kekantor ya?"


"Kenapa?? Ada sebuah rapat"


"Sudah satu bulan loh, dan hari ini aku selesai"


Kabir tersenyum dan mengangguk.


"Fio... suruh Max atau Rio saja yang antar, aku masih ada urusan dengan istriku"


"Tap~"


Kabir segera pergi dengan Shofia,  dan meninggalkan Fio sendiri.


Diujung tangga, Kabir dengan enteng mengangkat tubuh Shofia dan menciumnya.


"Jangan ada yang mengganggu!!!"


Kabir berteriak dari atas, dan menggema diseluruh ruangan.


Para pembantu berbisik, dan tersenyum.


"Memang dari dulu tuan dan nyonya selalu seperti itu, menggebu"


"Iya... sedari pacaran mereka selalu romantis"


"Bahkan setelah sekian lama tak bertemu, mereka masih saja tak ada masalah"


"Iya. .. seperti tak ada badai yang menghalangi mereka"


"Mereka sudah terlalu kebal dengan berbagai badai"


Ya, Fio mendengar celoteh para pembantu yang bekerja.


"Kebal dengan berbagai badai, coba lihat apa yang terjadi sebentar lagi...."


Dengan percaya diri Fio tersenyum licik dan pergi dari sana.


"Kita lihat besok...."

__ADS_1


Sedangkan dikamar, Kabir dengan senang hati membaringkan Shofia.


"Benar sudah selesai? "


"Iya..."


"Kamu penggoda ya..."


"Yang aku goda kan suamiku...."


"Kamu benar. ... jadi seharusnya kamu bertanggung jawab...."


"Akkhhh! !"


♡♡♡♡


Entah jam berapa mereka keluar, Kabir tak jadi kekantor dan Shofia tertidur hingga menjelang malam.


Dan akibat perbuatannya itu, Kabir harus mengurung diri di ruang kerja.


Dan dia sekarang sedang melakukan panggilan video dengan Max dan Rio.


Mereka nampak serius dengan topik pembicaraan tender bernilai ratusan juta itu.


"Oke.... rencananya seperti itu, lusa rencana selanjutnya harus presentasi sekalian perencanaan biaya"


"Oke...."


Ketiga pria itu nampak sedang menulis dan berkonsentrasi,  sampai suara ketukan pintu terdengar.


"Matikan mikrofon kalian..."


Dengan menurut, Rio dan Max mematikan Mikrofon mereka dan menguning siapa yang datang.


"Masuk!!!"


Dari balik pintu nampak Fio yang mengenakan celana pendek dengan kemeja oversize.


"Ada apa, Fio?"


"Kak ..... aku hamil. ..."


"Lalu?"


"Aku harus bagaimana?"


"Maumu apa?"


"Aku tak ingin bayi ini lahir tanpa ayah...."


"Hmmm?"


"Tapi, aku akan menyakiti hati kak Shofia? "


"Maumu apa?"


"Aku....."


"Buktikan kalau kamu hamil?"


"Ini...."


Fio menunjukkan hasil tes kehamilannya.


"Kamu belum periksa? "


"Aku takut"


"Aku akan bertanggung jawab tapi nyonya dirumah ini hanya ada Shofia, selama dia tak bercerai denganku"


"Tak apa kak... aku akan mengalah, bagaimanapun kak Shofia adalah istri kakak..."


"Hmmm...."


"Kak, aku tahu kalau kakak menyukaiku. ..."


"Keluarlah. ... minta kepala pelayan memenuhi kebutuhanmu"


"Baik kak...."


Fio keluar dengan gembira, dan dibalik lemari buku Shofia mendengar semua.


"Apa kamu dulu ikut kelas drama?"


"Hmmm. .. sudah bangun?"


"Iya... tiba tiba ada seorang lalat ingin menjilat kueku yang manis"


"Lalu, kenapa kuemu ini tak kamu habiskan agar tak dijilat lalat?"


"Terlalu sayang sampai tak tega untuk menghabiskannya "


"Kenapa kamu jadi semakin menjadi penggoda, Hm? "


"Ya mau bagaimana lagi, takut jurus si lalat lebih banyak... selain mengikat kue bersama terus..."


"Ikat aku kalau begitu...."


Shofia tersenyum didekapan Kabir.


"Darl... bersiaplah, kau akan berperang dengan lalat"


"Aku sudah siap..."

__ADS_1


*********


__ADS_2