
Rio terus saja mondar-mandir menunggu dokter itu.
"Aku datang, siapa yang sakit?"
"Issabel.... Tolong Shofia..."
"Dia pingsan ..."
"Iya..."
Dokter bernama Issabel itu segera mengecek Shofia. Memeriksa segala kemungkinan yang ada.
"Kemana Kabir?"
"Dia sedang diluar negeri"
"Bagaimana lelaki itu.... Istrinya hamil malah sesuka hati pergi ..."
"Maksudmu Shofia hamil?"
"Ya .. kemungkinan besar dia hamil... Tapi lebih baik periksakan saja ke rumah sakit"
"Berapa usia kandungannya?"
"Sekitar 2 sampai 3 Minggu... Aku tak bisa memastikan..."
"Baiklah..."
"Aku akan meresepkan penguat janin... Sepertinya dia mengkonsumsi obat obatan atau makanan penghancur protein"
"Maksudmu?"
"Nadi Shofia lemah.. sepertinya dia selesai menjalani pengobatan tradisional dan sengaja obat obatan itu diberi penghancur protein"
"Apa berbahaya?"
"Untuk sekarang lebih baik banyak istirahat .. kalau sampai 1 sampai 4 Minggu kedepan ada nyeri diperut atau pendarahan .. segera bawa kerumah sakit"
"Aku tahu ...."
"Dan jangan boleh dia terlalu stress.... Itu memicu kontraksi pada perutnya"
"Ada lagi???"
"Dia butuh teman untuk mengobrol .... Jangan biarkan dia sendiri"
"Iya...."
"Aku pergi dulu"
"Akan aku transfer tadi"
"Oke...."
Rio kembali duduk disamping Shofia.
Ini hari bahagia Shofia dan Kabir, tapi malah seperti ini.
Tak berapa lama ganti Max yang datang.
"Kenapa kamu dikamar ini?"
"Shofia pingsan"
"Bagaimana bisa?"
"Aku menceritakan semuanya"
"Sudah memanggil dokter?"
"Sudah ... Dan kamu tahu... Shofia mengandung... Seharusnya ini kabar gembira untuk mereka berdua tapi malah seperti ini"
"Aku sudah mencari di bandara ataupun tempat tempat Alan tapi tak ada jejak"
"Alan memiliki koneksi besar di Italia... Wajar kita kesulitan .. Veer ada kabar?"
"Pertanyaan bagus ... Kabir beruntung memiliki Veer dan keluarganya.... Dia mendapat informasi dengan cepat, dan sebagian besar anak buahnya sudah diletakkan diberbagai wilayah yang strategis"
Rio menghela nafas.
"Issabel berkata kalau Shofia harus selalu ditemani, dan jangan ditinggalkan sendiri"
"Lalu?"
"Kemungkinan Shofia tak akan mau pergi dari sini.... "
"Kita akan tinggal disini .. masalah terselesaikan"
"Lalu pekerjaan kita? Penyelidikan kita?"
__ADS_1
"Itu gampang... Rumah ini memiliki kamar kamar kosong...."
"Oke"
Max dan Rio akhirnya diam. Dan duduk di sofa dekat jendela. Mengambil laptop. Dan bekerja kembali.
Rio menyelesaikan deadline klien dan menghandle semua kegiatan Kabir yang seharusnya besok harus diatasi.
Sedangkan Max mencari informasi apapun tentang Kabir.
"Biasanya yang hebat seperti ini adalah Kabir .. aku bodoh dalam melacak"
"Jangan menggerutu!"
Merek kembali diam. Hanya suara ketukan di laptop yang ada.
"Akh...."
Sampai suara serak seseorang terdengar. Seketika dua lelaki itu menghentikan aktivitasnya dan berdiri disampingUuuu dan tuan rumah ini ranjang. Menunggu Shofia bangun.
"Kamu sadar?"
Shofia segera duduk, kepalanya masih pusing. Tapi dia tetap duduk.
Rio segera membantu Shofia duduk. Dan kembali berdiri disampingnya.
Ada Max dan Rio disampingnya.
"Aku tadi pingsan"
"Iya... Jangan membuat kami takut lagi..."
"Apa ada kabar tentang Kabir ataupun Alan?"
"Kami masih mencari, Veer dan yang lainnya juga masih mencari"
"Tolong.. temukan Kabir kembali"
"Kami janji, Shofia... Tapi kamu juga harus berjanji untuk menjaga kesehatanmu dan juga anakmu..."
"Anakku?? Maksudmu apa?"
"Kamu hamil... Kandunganmu sangat rentan... Untung obat obatan yang diberikan Alan tak berdampak buruk bagi janinmu"
"Apa obat obatan itu berbahaya?"
"Secara teknis tidak tapi dalam jangka lama, obat obatan itu mengandung penghancur protein"
"Lalu langkah kita apa?"
"Keluarga Dominic sudah tahu ... Veer dan Zahra juga sudah tahu.... Yang kita lakukan menunggu"
"Apa aku bisa?"
"Pasti bisa .... Kamu harus bangkit... Demi anak ini, demi Kabir, dan demi kami semua yang menyayangimu"
"Terima kasih"
"Dan kami memutuskan untuk menemanimu disini"
"Maksud kalian?"
"Kami akan tinggal disini... Menjagamu dan menjadi temanmu...."
"Kabir beruntung memiliki teman seperti kalian"
"Ya... Karena Kabir juga harus sengsara saat kita sengsara"
Shofia tersenyum dan teringat dengan sesuatu.
"Aku ada pekerjaan"
"Pekerjaan apa?"
"Desainku"
Rio dan Max tersenyum. Akhirnya dia tahu Apa yang menjadi mood booster Shofia.
Ya, selain tentang Kabir, dia akan bersemangat dengan desain.
"Apa yang kurang dari desainku?"
"Emmm...tak ada... Tinggal mengirim kekantor dan mencari model pemeraganya"
"Baiklah.... Pulihkan badanmu dan kejar impianmu itu ..."
"Iya... Terima kasih...."
"Istirahatlah... Kami akan keluar dahulu"
__ADS_1
"Iya ..."
Max dan Rio segera mengambil tas serta laptopnya, dan segera keluar. Memberikan ruang sendiri pada Kabir.
Shofia menghela nafas. Kabir pasti juga sedang berjuang. Jadi bagaimanapun dia juga harus berjuang.
Dia harus bangkit. Alan akan semakin senang saat Zahra juga terpuruk.
Dia akan membuktikan bahwa tanpa Kabir dia juga masih hidup. Bukan pertama kali dia ditinggal oleh Kabir.
"Alan... Kamu membuat kami berpisah.... Dan kamu juga akan tahu bagaimana hebatnya kami"
Sedangkan diluar sana, Rio dan Max sedang duduk didapur.
Rio menyiapkan makan malam sedangkan Max memilih membuka kembali laptopnya.
"Rio...."
"Apa?"
"Veer hebat... Dia biaa melumpuhkan semua akses Alan"
"Jadi Kabir bisa cepat ditemukan!?"
"Belum tentu... Kalau Alan tak ada pergerakan juga akan sulit, tapi kalau dia keluar sejengkal saja... Mungkin sniper sniper yang disebar Veer langsung menembaknya..."
"Jadi masih lama?"
"Belum tahu .... Semoga tak sampai bertahun-tahun"
"Hah ...."
"Cerdiknya, Alan tak memakai alat komunikasi... Jadi Veer kesulitan disitu"
"Lalu bagaimana dia bisa berkomunikasi???"
"Dengan bantuan surat...."
"Maksudmu?"
"Jaringan gelap memakai sistem ini agar sulit disadap.... Dan sangat random orang orang pelantara surat itu"
"Jadi maksudmu... Secara acak orang orang pelatarannya?"
"Iya ... Dan tak terduga siapapun itu"
"Veer tak mengetahuinya?"
"Dia tahu.... Tapi sulit mencarinya, karena bukan jaringan milik Alan saja yang melakukan itu tapi jaringan lain juga...."
"Dan didalam surat itu juga sulit dibaca... Memerlukan ketelitian..."
"Hah.... Aku sama sekali tak mengkhawatirkan Kabir, karena lelaki itu memiliki seribu cara untuk bertahan... Tapi ini masalah ibu hamil... Aku sedari tadi memikirkan Shofia..."
"Kamu masih menyukainya?"
"Tidak.. kamu tahu, aku ini dokter... Dan aku tahu seberapa rentannya dia kalau sampai stress terlepas dari semua rengekan itu"
"Apa serapuh itu???"
"Aku tak tahu .. tapi aku harap dia kuat"
"Apa kalian meragukan ku??"
Max dan Rio menoleh ke asal suara. Shofia sudah berdiri didepan dapur dengan dress yang sudah berganti serta wajah lebih fress.
"Mana mungkin kami meragukanmu..."
"Hmmm..."
"Sedang memasak apa?"
"Pasta ... Kamu mau yang lain?"
"Tidak ... Tambahkan daging cincang"
"Oke ...."
"Max... Bisa antar aku ke minimarket? Aku ingin membeli camilan"
"Berikan aku daftarnya saja... Akan aku belikan..."
"Tak usah.... Antarkan saja...."
"Oke.... Pakailah jaket... Udara mulai berangin...."
"Oke..."
"Selesaikan pastamu.... Jadilah bapak rumah tangga yang baik"
__ADS_1
"Iya... Sial*n"
*****