
Hari menjelang malam, Shofia hanya terduduk disofa.baru saja menyelesaikan acara makan malamnya.
Ya, dia memasak mie instan dengan daging.
Perut buncitnya masih merasakan lapar, dan dia berdiri lagi untuk menuju lemari pendingin.
Meengambil apel dan jeruk. Membawanya keatas ranjang. Memakan buah itu sambil berbaring.
Sampai akhirnya, dia tertidur dengan piring berisi buah disampingnya.
Ya, Shofia sekarang memiliki hobi tidur dan makan setiap saat. Dimana pun tempat.
Pernah sekali saat Shofia mengadakan rapat, dia malah tertidur dikursinya. Tapi untungnya, para petinggi tahu kondisi Shofia, jadi mereka tak mempermasalahkannya.
Dan malam ini entah mengapa dia tidur dengan nyenyak tanpa drama menangis.
Sampai saat hampir subuh, seseorang datang. Duduk disamping wanita hamil itu.
Membelai wajah sayu Shofia lalu turun kebawah, mengelus perut buncitnya.
"Bagaimana keadaan kalian, maafkan aku tak bisa bersama kalian selama ini"
Ya, lelaki itu adalah Kabir. Dia telah kembali dengan selamat.
Kabir lantas, berbaring disamping Shofia.
Memeluk tubuh yang semakin gemuk itu dengan erat.
Mencium keningnya sekilas.
Dan jatuh tertidur.
Kejadian itu terlihat dari atas tangga. Ya, Rio, Max, dan Veer ada disana.
Tersenyum. Dan kembali naik keatas serta menutup pintu.
"Jadi, tugas ini tuntas bukan?"
"Iya... Kau juga lama tak pulang, istrimu pasti merindukanmu"
"Ya, mungkin ... Aku pergi'
"Kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan, Veer"
"aku memiliki apa yang tak kalian miliki, jadi untuk apa meminta bantuan"
Rio dan Max menghela kasar akibat jawaban dari Veer.
Memang pantas Kabir memiliki adik ipar seperti Veer. Sama sama mengagungkan diri sendiri.
Setelah Veer pergi, Rio dan Max memasuki kamar mereka masing-masing dan lantas tertidur.
Rasa lelahnya harus dibayar dengan setimpal.
°°°°°
Pagi hari sudah menyeruak, alarm milik Shofia juga berbunyi pelan.
Shofia akan menggeliat terkaget dengan tangan besar dan berotot memeluknya erat.
Dia takut kalau saja pria jahat datang.
Sampai dia memberanikan diri untuk membuka mata.
Dan...
Shofia memebekap mulutnya untuk tak berteriak.
Didepannya, tidur dengan pulas seorang lelaki yang dirindukannya selama ini.
Dengan kemeja yang lusuh, dia bisa tidur dengan nyenyak.
Shofia memberanikan diri untuk menyentuh pipi Kabir.
Pipi lelaki ini semakin tirus bahkan otot-otot nya juga mengecil, dia telihat tak baik baik saja selama ini.
"Kau merindukanku..."
Mata tajam itu terbuka dan menampakkan senyum tipis.
"Sangat... Aku bahkan hampir gila karena merindukanmu"
"Aku juga .... Bagaimana kabarmu dan anak kita?"
__ADS_1
"Aku seperti yang kamu lihat, bahkan anak kita juga sangat pengertian"
"Syukurlah...."
"Kabir... Jangan pergi pergi lagi...."
"Tak akan ... Aku akan selalu bersamamu"
Shofia tersenyum,senyum yang sudah lama tak terbit dari wajah cantiknya.
Kabir mengecup puncak kepala Shofia, dan turun kebibir cantik Shofia.
Menciumnya serta menyesapnya.
"Sayang .... Bolehkah aku..??"
"Boleh...."
Menatap istri cantiknya, Kabir tersenyum dan menunduk untuk melepas dress tidur Shofia.
Dengan keadaan hamil besarnya, Shofia nampak semakin cantik dan seksi.
"Apa kamu tak lelah?"
"Lelah? Tadi ya, tapi saat sudah melihatmu tidur dengan damai, lelah itu hilang... Hanya kegembiraan yang ada..."
"Apa kamu tersiksa disana?"
"Tidak, aku hanya dilayani didalam kamar"
Kabir menjawab setiap pertanyaan Shofia dengan cepat, dan ya dia juga melakukan stimulasi pada bagaian bagian sensitif Shofia.
"Ehmmm... Ahhhh.... Apa disana juga ada seorang wanita?"
"Ya, dia pelayan yang mengantarkan makanan"
"Apa dia menggoda ahhhhhh mu?."
"Ya.... tapi entah mengapa aku hanya tertarik denganmu sayang"
"Aku sudah tak cantik dan semakin gemuk"
Tiba tiba mood Shofia hilang, dan akan menangis.
"Hey.... Kenapa menangis??? Apa ada yang sakit?"
"Aku sudah tak cantik, dan juga gendut, bagaimana bisa menyenangkanmu? Aku pasti tak secantik wanita itu"
Tangis Shofia pecah dan membuat Kabir bingung.
Shofia menangis sampai sesunggukan. Dan itu membuat perut Shofia sakit.
"Akkhh.... Perutku sakit"
"Kamu terlalu banyak menangis, sayang...."
Kabir segera memakai kemejanya dan juga memakaikan baju untuk Shofia.
Dengan bergegas, Kabir mengangkat tubuh Shofia untuk naik keatas.
Shofia terus saja merintih, dia terlihat kesakitan.
Sampai dilantai dasar, Kabir segera membawa Shofia kerumah sakit.
Menyetir mobil sendiri serta melihat Shofia kesakitan membuat konsentrasinya terpecah.
Tapi untung jarak rumah sakit dengan rumahnya tak terlalu jauh.
Sampai dirumah sakit, Shofia segera ditangani oleh para medis.
Kabir terus saja berdoa diluar ruangan, sampai seorang dokter datang.
"Suami dari nyonya Shofia"
"Saya... Bagaimana keadaan istri saya?"
"Mungkin ini sedikit buruk tuan...."
"Apa?"
"Kemungkinan selama kehamilannya, nyonya Shofia mengalami stress yang berlebih.... Dan harus segera dilakukan operasi Caesar"
"Apa itu yang terbaik???"
__ADS_1
"Ya tuan, karena nyonya mengalami kontraksi berlebih, itu bahaya untuk ibu dan terutama janinnya"
"Baiklah.... Lakukan yang terbaik"
"Baik..."
Ya, dengan berat hati Kabir mengiyakan perkataan dokter. Dia tak bisa melihat Shofia kesakitan disana apalagi sampai terjadi sesuatu pada mereka.
Tak berapa lama, para dokter dan perawat keluar dari ruang pemeriksaan darurat.
Mendorong brankar yang Shofia tiduri. Terlihat Shofia tak sadarkan diri dan beberapa alat medis terpasang.
Kabir mengikuti para dokter itu dan terus berdoa. Ya, dia tak bisa melihat Shofia tak berdaya.
Kabir menunggu didepan ruang operasi dengan tegang.
Menanti sebuah kabar yang membuat hatinya lega.
Tapi setelah satu jam tak ada kabar apapun.
Sampai.....
"Keluarga pasien bernama Shofia Nayanika"
"Saya suaminya ..."
"Tolong, cari pendonor darah dengan golongan darah AB resus positif"
"AB? Baik!"
Kabir dengan sigap menelpon max dan Rio untuk mencarikan pendonor darah.
Kabir panik. Dia berdoa semoga dapat menolong sang isteri.
Sampai 30 menit kemudian, Max dan Rio membawa brangkas penyimpanan darah.
"Kami hanya menemukan 4 kantong"
Kabir segera mengabari dokter dan segera memberikan darah itu untuk transfusi Shofia.
"Bagaimana bisa dia kekurangan darah??"
"Entah, dia mengalami kontraksi dan harus operasi Caesar..."
"Jangan terlihat sedih, mereka akan sehat...."
"Ya... Aku yakin kalau mereka akan selamat"
Max dan Rio tersenyum, ya walaupun mereka juga sedih. Shofia sudah seperti saudara mereka sendiri.
Tak berapa lama, para suster berlari keluar ruangan membawa bayi laki laki yang terlihat rapuh serta terpasang beberapa alat medis.
Kabir tahu kalau itu bayinya tapi dia diam saja. Otaknya seakan buntu dan tak dapat berfikir apapun.
"Tuan Kabir..."
Kabir tak menyahut. Dan akhirnya Rio yang menyahut panggilan dokter.
"Saya kakaknya, bagaimana keadaan ibu dan bayinya?"
"Ibunya masih harus dicarikan pendonor lagi, dan bayinya, selamat dia lahir dengan jenis kelamin laki-laki.. tapi lahir dengan prematur jadi sedikit kekurangan berat badan, dan juga kelainan pernapasan"
"Hah... Lalu?"
"Ya, untuk bayi sekarang dibawa keruang NICU untuk memantau pertumbuhannya serta mendapat perawatan intensif.... Jadi mohon doanya, kami akan melakukan yang terbaik"
"Terima kasih..."
"Dan tolong secepatnya mendapatkan donor darah lagi ..."
"Baik.. akan kami usahakan semampu saya...."
"Saya yang akan mendonorkan darah saya untuk Mariska...."
*********
Ada yang ingat nama Mariska???
Jangan lupa follow akun ******* aku ya yang @NayanikaSenja
Dan juga Ig aku @alister_weis
Tetap jaga kesehatan kawan
__ADS_1