
Kehamilan Shofia semakin membesar dan segera melahirkan.
Ya, 8 bulan sudah hampir 9 bulan dia mengandung.
Mengurus butik, perusahaan dan juga berbagai pertemuan pertemuan yang melelahkan.
Tak ada yang tahu dimana Kabir. Dan Shofia memilih merahasiakan ini serta membuat kebohongan.
Ya, Shofia mengatakan pada semua orang kalau Kabir sedang diwilayah Asia sedang ada progres yang tak dapat ditinggal.
Dan mulai hari ini, memang dia sudah istirahat dirumah.
Kandungannya yang lumayan besar membuatnya susah berjalan.
Dan hari ini, hanya memakai dress rumahan dan rambut digerai dia duduk di teras rumah.
Santai setelah berbulan-bulan berkutat dengan berkas berkas yang membingungkan.
Tiba tiba waktu santainya terganggu dengan Rio yang berlari kencang kearahnya.
"Ada apa?"
"Ayo kedalam dulu...."
Shofia dengan pelan lekas berdiri, dibantu Rio lantas berjalan kedalam rumah.
Setelah masuk banyak sekali pengawal yang berjaga..
"Banyak sekali pengawalnya"
Rio masih saja diam dan membawanya kekamar bawah tanah.
"Kenapa kemari?"
"Shofia .. berjanjilah... Apapun yang terjadi diatas jangan keluar dan tetap disini"
"Ada apa?"
"Mungkin sebentar lagi Kabir akan ditemukan, dan kemungkinan juga Alan akan bertindak...."
"Lalu?"
"Aku akan pergi, tetap disini... Jangan biarkan ponselmu mati,okey... Ada masalah segera hubungi aku... Dan semua keperluanmu disini... Jangan sampai kamu bosan"
"Iya .. tapi kalian akan pulang dengan selamat, kan?"
"Tentu.... Keluarga Dominic dan Lee juga sudah memiliki keamanan yang ketat, jadi jangan mengkhawatirkan apapun"
"Rio... Jaga dirimu .. pasti kan kalian semua selamat"
"Tentu.... Sebisa mungkin aku akan meminimalisir peperangan"
"Ya...."
Setelah Rio pergi, Shofia terduduk memikirkan segala sesuatu. Dan menghela nafas berat.
Shofia menatap sekeliling, dia baru menyadari kalau ruangan ini seperti rumah.
Sebuah ranjang tidur berukuran king size, satu set sofa beserta televisi. Disampingnya seperti nya wall in closet beserta kamar mandi.
Dapur dengan set minibarnya. Dan disana juga berjejer minuman beralkohol yang terkenal.
Ada kulkas dan mikrowive juga.
Ruangan ini lumayan lengkap.
"Kenapa Kabir membangun tempat seperti ini dibawah rumah?"
Dengan perut buncitnya, Shofia segera berjalan kearah lemari es dan mengambil susu kotak serta camilan.
Ya, semenjak kandungannya membesar dia selalu merasa kelaparan setiap saat.
Sampai Max dan Rio menaruh kulkas kecil dikamarnya agar tak terlalu jauh mengambil didapur.
Jantungnya berdegup, entah kenapa ada perasaan gugup saat ini.
"Semoga semuanya baik-baik saja"
°°
Disisi belahan dunia lain, rumah besar Alan sudah dipantau oleh para mercenaries serta sniper handal milik Veer ataupun milik Max.
Ya, semenjak alat milik Kabir mendapat signal keluar semua pasukan yang sudah berjaga di Italia segera bergerak.
__ADS_1
Veer juga bergerak cepat.
Melalui ear-piece Veer memberi arahan untuk para bawahannya.
"Chioggia, Veneto.... Berkumpul disana"
Terdengar suara serempak dari seberang sana.
Mereka mengisi amunisi senjata, menyiapkan persenjataan dan segera pergi ke titik kumpul.
Veer dengan beberapa orang bawahannya yang memakai pakaian biasa dengan jaket kulit mencari titik dimana alat penyadap itu terdeteksi.
Ting....
Ear-piece milik Veer berbunyi.
"Pasar ikan tradisional, apotek"
Veer segera bergerak kearah pasar ikan dan mencari apotek tempat alat itu terdeteksi.
Mencarinya dan terus saja mencari.
"50 meter ke barat"
Veer menoleh kearah barat dan hanya beberapa pejalan kaki serta seorang wanita pelayan yang sedang tersenyum senyum.
Veer terus mendekat. Dan sampai melewati wanita itu.
"Tepat disamping anda"
Gocha.... Kabir memiliki kepintaran yang mumpuni rupanya.
Pasukan Max juga memiliki andil dalam pencarian ini.
"Alan bergerak...."
••••••
Kabir terus menerus was was. Ya, dia benar-benar pusing. Apa mereka menemukan alat itu.
Itu jalan satu satunya yang bisa dia tempuh.
"Tuan...."
"Ada apa??"
"Saya sudah membeli apa yang anda suruh"
"Simpan saja dulu, apa kamu memakai pakaian ini untuk keluar?"
"Iya tuan, saya ke pasar untuk mengelabui para penjaga"
"Bagus... Tunggu sampai mereka lengah agar kita bisa lama"
"Baik tuan"
Kabir tersenyum remeh.
Semoga mereka memantau.
Kabir segera memakai kemeja putih beserta celana bahannya.
"Mari kita bersiap!!"
°°°
Alan terlihat begitu cemas. Bagaimana tidak, kakaknya yang menjadi backup-nya tiba tiba menghilang.
Dan tempatnya sekarang bisa terlihat dari radar.
"Sial!!"
Saat menghubungi pengawalnya tadi pagi, rumah tempat Alan menyekap Kabir baik baik saja.
Alan belum sampai menikmati tubuh berotot Kabir serta hal hal menarik diranjang.
Tapi masalah baru mulai muncul.
"Boss!!! Urgent boss!!!!!"
"Ada apa?"
"Tepat 15 menit yang lalu, kediaman yang ada di Chioggia Dimata matai dan ada banyak sniper"
__ADS_1
"Sniper?"
"Ya tuan, menurut bawahan kakak anda itu dari keluarga Khan, India"
"Khan? Apa yang mereka lakukan disana?"
"Kamu juga tak tahu tuan... Tapi dari data, mercenaries milik Max sedang menyelidiki tempat ini"
"Sial!!! Ayo pergi!!!"
"Tapi ini Berbahaya boss!!"
"Sanderaku lebih penting!!!"
Alan dengan cepat menaiki Porche miliknya untuk menuju huniannya yang beradab di Chioggia"
Tapi naas, sebelum sampai dipenyeberangan, Alan sudah dihadang oleh beberapa mobil.
Mobil mobil BMW hitam itu jelas menghadangnya.
Dan diseberang Alan, nampak Max yang sedang menyesap rokoknya.
Menatap mobil Alan dengan senyum remeh.
Mau tak mau, Alan harus turun dan menyingkirkan mereka semua.
Kabir tak boleh kabur.
"Kau minggir!!"
Max hanya menatap Alan, dan tersenyum.
Alan adalah sahabatnya dulu, mereka selalu kemanapun bersama.
Dan persahabatan itu menjadi renggang karena Alan menyukai sesama jenis.
Mungkin masalah itu dapat diterima oleh Max, Rio ataupun Kabir. Tapi yang menjadi masalah adalah Alan menyukai Kabir.
"Tak ingin bereuni dulu?"
"Aku tak ada waktu!"
"Kabir sudah berangkat ke New York sekarang...."
"Sial!!!"
"Alan, hentikan obsesimu itu dan berjalan lah menjadi yang lebih baik"
"Aku mencintai Kabir, kamu tak berhak melarang ku"
"Alan....banyak wanita cantik, jangan menjerumuskan dirimu di lingkaran seperti ini"
"Bukan urusanmu!!! Kamu tak tahu bagaimana sakitnya menjadi aku!!"
Alan terduduk, entah kenapa saat menatap wajah Max yang garang membuatnya mengingat setiap hal yang mereka lalui.
Kenangan-kenangan yang manis rusak begitu saja saat Alan dengan tega merusak setiap moment itu.
"Apa kamu tak lelah??"
Max berjalan menuju Alan yang terlihat putus asa.
Max tahu bagaimana obsesi Alan pada Kabir.
Ya, itu semua karena Kabir yang selalu ada saat Alan sakit hati karena wanita. Dan itu menumbuhkan rasa tak wajar pada diri Alan.
"Ayo berdiri! Kita minum lagi"
"Kenapa kamu tak menghajar ku, bunuh saja aku!"
"Lelaki tak bertenaga sepertimu bagaimana caranya aku menghajarmu..."
"Max!! Aku ini bodoh, menyia-nyiakan kalian"
"Ayo pulang, istirahat..."
Max segera menarik tangan Alan dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobilnya.
Kalau saja Kabir tak memerintahkannya untuk tidak menyakiti Alan, mungkin lelaki lebih tua 3 tahun darinya ini sudah dia hajar habis habisan.
Kalau tak karena obsesi anehnya, mungkin semua hal yang menimpa Kabir, Shofia, dan mereka tak akan terjadi.
***********
__ADS_1