
Sudah satu minggu semenjak kejadian itu, dan Kabir hilang tanpa jejak.
Shofia pikir memang para lelaki buaya seperti itu.
Tiba tiba senyum Shofia mengembang saat sebuah notifikasi ponselnya berbunyi, ada pesan.
From : Kabir Dominic
Nanti aku jemput, aku sudah pulang
dari Turki, ada oleh oleh untukmu..
Baru saja difikirkan, sudah akan muncul saja.
^^^To: Kabir Dominic^^^
^^^Tentu, aku tinggal menyelesaikan satu gaun lagi^^^
Ting*
From: Kabir Dominic
Baiklah, aku akan segera menjemputmu...
Shofia benar benar tersenyum dengan balasan sang pangeran New York ini.
Sangat sederhana tapi bisa membiusnya.
Shofia segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengirimnya ke pihak kepala team.
Setelah dirasa pekerjaannya selesai sekaligus membereskan biliknya selesai, Shofia segera ke toilet.
Ya, untuk apa lagi kalau tidak berdandan.
Shofia membubuhkan lipblam serta bedak, agar tak terlalu pucat. Serta menyemprotkan parfume yang beraroma manis dan juga segar.
Shofia menggelung rambutnya, dan mengusapkan sedikit bodymist pada lehernya.
Dia tak terlalu percaya diri saat bertemu orang kalau tak memakai wewangian.
Shofia segera turun dan menunggu Kabir dilobi kantor.
Semua orang yang melewatinya selalu menyapanya. Tak usah heran, Shofia sangat terkenal dikantor. Bukan hanya kecantikan tapi bakatnya juga.
Tak beberapa lama, dia merasa ada yang memanggil namanya.
"Shofia.."
"Hei, Tristan... sedang apa disini?"
"Tadi hanya lewat, dan teringat kalau kamu saatnya pulang kerja"
"Oh... ada apa?"
"Mau pulang bersama?"
"Tap-"
"Shofia..."
Shofia segera menoleh kearah belakang dan terlihat Kabir sedang menuju kearahnya.
"Kabir, kamu sudah datang?"
"Ayo, pulang"
"Shofia..."
Tristan mengintrupsi Shofia, dia merasa tak dianggap.
"Oh, ya Tristan.. kenalkan ini Kabir... Kabir ini Tristan, teman kuliahku dulu"
Kabir segera mengulurkan tangannya, dan dibalas oleh Tristan. Shofia tahu ada aura permusuhan diantara keduanya, dan aura itu mencengkam.
"Kabir Dominic"
"Alexander Tristan"
"Ada perlu apa tuan Tristan kemari, padahal beberapa saat yang lalu masih rapat bersama saya"
"Saya menjemput Shofia, tuan Kabir sendiri?"
"Tujuan kita sama"
"Shofia... tadi aku-"
"Tristan, maaf aku sudah berjanji akan pulang bersama Kabir"
"Tapi aku lebih dulu datang..."
"Tapi aku lebih dulu membuat janji, tuan Tristan"
"Maaf Tristan, kapan kapan aku akan pulang bersamamu"
"Baiklah, jaga dirimu"
"Tentu..."
Kabir segera mengajak Shofia naik kemobil sport-nya. Kabir tersenyum.
Shofia lebih memilihnya daripada lelaki itu.
__ADS_1
"Shofia..."
"Ya, ada apa?"
"Kita ke Brooklyn?"
"Kenapa kesana?"
"Kamu amnesia?"
"Hah?"
"Bukannya nanti malam kamu ada pesta ulang tahun Lee's group?"
Shofia menelan ludahnya. Ya, dia lupa dengan kenyataan itu.
"Kamu tahu?"
"Aku salah satu tamu VVIP"
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tak tahu? Dari dulu Lee's group dan L's corp. adalah rekan bisnis"
"Lalu?"
"Dan malam ini, ada pengumuman penting jadi semua kolega dari Lee's group diundang"
"Aku tak datang"
"Kamu harus datang! Kalau kamu tak mau datang karena ibumu, datanglah karena aku"
"Kenapa harus kamu?"
"Karena kamu harus jadi pasanganku"
"Apa tuan Dominic tak ada wanita lain?"
"Tak ada yang seistimewa kamu"
"Kamu terlalu memuji!"
"Hahahaha.... aku sudah siapkan gaun, nanti kamu tinggal berdandan, mau kesalon?"
"Tidak, aku akan berdandan sendiri"
"Baiklah, kita harus mampir ke penthouse-ku dulu"
"Untuk apa?"
"Apa kamu mau berdandan dan berganti baju dimobil?"
"Oh, baiklah"
Ya, hanya 30 menitan untuk sampai ke Brooklyn.
"Kenapa lewat FDR Dr and Nostrand evenue? Tak lewat I-278 W?"
"Lebih suka lewat sini? Pemandangannya lebih bagus, dan melewati sungai Hudson"
"Sebenarnya keduanya sama saja, tapi kamu saja yang mengada ngada"
"Tepat!"
"Kamu hanya memperlama perjalanan"
"Itu memang tujuanku"
Baiklah, Shofia menyerah.
Shofia memilih diam, melihat kearah luar.
Dia lelah. Bukan lelah perjalanan, tapi lelah pikiran dan hati.
Dia takut kejadian tahun tahun sebelumnya terjadi. Perasaan malu dan kecewa menjadi satu.
Shofia takut, hal hal yang tak dia inginkan terulang lagi.
"Ada aku..."
"Apa?"
"Segala yang kamu takutkan"
"Memang tahu apa yang aku takutkan?"
"Tahu... pasti tentang ibumukan?"
"Kabir... aku-"
"Aku tahu, kamu wanita yang baik, Tuhan pasti memberi jalan yang baik"
"Terima kasih"
"Shofia... ingat, ada aku yang selalu ada untukmu"
"Iya... aku tahu"
Kabir menggenggam tangan Shofia. Menyalurkan segala kenyamanan untuk wanita itu.
Sampai akhirnya, Kabir mendengar dengkuran halus dari Shofia. Pasti wanitanya sangat kelelahan.
__ADS_1
Sesampainya di Apartment, Kabir memilih menggendong Shofia untuk sampai di Penthousenya.
Tak tega membangunkan putri tidurnya.
Shofia segera ditidurkan dikamarnya, menyelimutinya lalu meninggalkan wanita itu.
Dia harus mandi.
"Ugh... dimana ini?"
Shofia terbangun, saat pintu kamar mandi tadi berbunyi.
Melihat sekeliling. Ini kamar lelaki dari warnanya. Serta parfume yang sangat dia kenal. Wangi musk sert sedikit aroma pinus yang segar. Ini milik Kabir.
Shofia segera bangkit dari tidurnya dan melihat kearah jendela besar.
"Sudah sampai Brooklyn"
Ya, dia hafal jalanan ini. Ini jalan utama untuk sampai di mansion Lee.
Tapi acara melihat pemandangan itu terputus saat perutnya berbunyi. Perut kecilnya minta diisi.
Keluar dari kamar, Shofia segera menuju mini pantry.
Membuka kulkas. Dan, tak sesuai ekspetasinya. Hanya ada telur, selai maple serta keju. Membuka kabinet kabinet lain. Dan hanya menempukan tepung serta garam. Tentu ada gula dan kopi, Kabir suka kopi hitam.
Shofia akhirnya membuat pancake dengan saus maple. Perutnya tak bisa menerima toleransi apapun.
Saat ditengah tengah dia memasak, sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Sedang apa?"
"Membuat pancake... cobalah"
Shofia menyuapi Kabir, dan Kabir segera melahapnya.
"Masakanmu selalu enak"
"Emm.. aku tadi lapar, jadi membuat ini"
"Kenapa tadi tak bilang, kita bisa makan diluar atau membeli bahan di supermarket"
"Aku lupa"
"Shofia..."
"Ahh..."
Ya, dengan sengaja Kabir mencium leher Shofia dan sedikit menyesapnya.
"Kabir.. jangan..."
"Aku tahu, tapi aku sangat ingin menerkammu.. suasana ini seperti pengantin baru..."
"Benarkah?"
"Ya, Shofia maukah kamu menikah denganku?"
"Kita kenal belum ada satu bulan"
"Sudah, sudah bertahun tahun malah"
"Apa itu termasuk berkenalanan?"
"Ya, aku menyukaimu dari kita bertemu saat kita masih kecil.. menyukai gadis kecil yang pendiam, dan murung... bahkan Zahra menjailimu, kamu tak membalas... aku suka"
"Kabir..."
"Aku tak butuh jawaban sekarang, tapi aku akan memperjuangkanmu, benar benar memperjuangkanmu"
"Ya, berjuanglah"
"Suapi lagi"
Shofia segera didudukan dimeja pantry. Dan Kabir memilih berdiri didepan Shofia.
Shofia meneguk salivanya
Kabir hanya memakai handuk saja.
Bagaimana bisa lelaki ini begitu sexy dengan otot perut yang terbentuk dengan baik.
"Kenapa tak memakai baju dulu?"
"Aku panik, saat melihatmu tak ada dikamar"
"Tapi aku baik baik saja bukan?"
"Emm.. Shofia..."
"Ya, ada apa?"
"Aku ingin meminta maaf"
"Untuk apa?"
"Setelah pesta aku akan menceritakan sesuatu padamu"
"Kamu membuatku penasaran"
"Emmm... penasaranlah... sekarang ayo bersiap"
__ADS_1
"Iya"
*******