
Mama....
Mama....
Shofia membuka mata saat suara anak perempuan terdengar begitu sendu.
Shofia melihat sekeliling. Sebuah taman bunga.
Shofia terbangun dihamparan bunga mawar serta lily. Dimana ini?
Shofia terkejut saat tiba tiba anak perempuan itu memeluknya erat.
"Mama..."
"Kamu siapa?"
"Huhuhuhu... mama tak ingat aku..."
Shofia terdiam, tapi menilik dari rupa anak ini mirip sekali dengan Kabir.
"Anakku..."
"Mama... beri aku nama"
"Nama?"
"Iya..."
"Mama akan memberi nama... kamu gadis cantik dan lembut.. Daisy Dominic..."
"Dominic?"
"Papa bermarga Dominic sayang.."
"Mama... apa mama sayang pada Daisy?"
"Sangat sayang... sangat"
"Mama harus bahagia ya..."
"Tentu... ayo kita pulang"
"Mama pulang saja dulu... Daisy masih ingin menunggu papa"
"Kita akan melihat papa setelah pulang"
"Mama... kalau aku ikut mama pasti membuat mama menderita"
"Itu tak mungkin..."
"Biarkan aku disini ya ma"
"Sayang...."
Tiba tiba pandangannya mengabur, pelukan Daisy padanya juga merenggang.
Shofia ingin menarik tangan kecil Daisy tapi anak kecil itu malah melepaskannya dan ganti memegang tangan seorang lelaki menjauhinya.
"Dayyyysiiiiii..."
**
"Dayyyysiiiiii!!!!"
Shofia terengah, tangannya memegang dadanya kuat.
Tadi hanya mimpi.
Tapi kenapa bisa senyata itu dan dia sekarang dirumah sakit.
"Shofia..."
Shofia menoleh dan disana ada Morgan serta Luna. Mereka ada, bahkan Eliz dan Rio.
"Kak..."
"Sayang... syukurlah kamu sudah sadar... kamu sudah tidur satu minggu"
"Satu minggu?"
"Ya"
"Tristan?"
__ADS_1
"Lelaki itu mati tertembak setelah 4 hari menjadi buronan"
"Aku tak menyangka akan seperti ini.."
"Ya, untung Kabir menghubungi Yohan"
"Kabir? Dimana Kabir, kak?"
"Kabir hilang, karena dia mengalami kecelakaan, mobilnya masuk kesungai... para polisi menyatakan kalau kemungkinan besar dia meninggal"
"Tak mungkin! Kalian berbohong!! Kabir tak mungkin meninggalkanku, aku sedang hamil!"
"Sayang maafkan kami, janinmu telah pergi"
"Apa? Kenapa semua kebahagaianku hilang!!!"
Shofia mengerang. Histeris. Dia benar benar tak bisa berpikir jernih.
Tangannya terus mencari barang baranf yang dapat dia lempar. Dia frustasi.
Morgan segera memeluk Shofia, menenangkan wanita yang dia asuh dari kecil. Tangan Morgan terus mengelus kepala serta punggung Shofia.
Tak dirasa, semua orang berubah sendu bahkan Luna dan Eliz sudah menangis tersedu sedu.
"Shofia.. tenang... Kabir sangat mencintaimu..."
"Pembohong!! Dia pembohong!!"
Tak berapa lama dokter sudah datang dan segera memberi Shofia obat penenang.
Akhirnya Shofia bisa tertidur lagi.
"Shofia tak bisa seperti ini saja, kak"
"Ya, Shofia harus menunggu Yohan untuk tahu hal sebenarnya"
"Seandainya Yohan tak mengijinkan Tristan untuk mengajak Shofia pergi, dia tak akan seperti ini"
"Bagaimanapun, Shofia benar benar terpukul dengan ini... "
"Semoga setelah ini, Shofia semakin kuat dan menjadi lebih baik"
"Ya, kak aku akan kembali ke Amsterdam, aku tak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaanku"
"Terima kasih, salam untuk Yohan dan Shofia"
"Tentu aku sampaikan"
Mereka lalu berpelukan, dan Eliz serta Rio segera pergi dari sana.
Sekarang hanya tinggal Luna, Morgan serta Shofia yang tertidur.
"Apa rencana kita selanjutnya"
"Melihat situasi saja, kita juga tak dapat mengendalikan Shofia.."
"Mor-"
Tok tok tok....
Luna tak meneruskan perkataannya tapi bergegas untuk pergi membuka pintu.
Dan rupanya, Ellena serta Leo yang datang mengunjunginya.
"Ell.. Leo.. masuklah"
"Terima kasih, Luna..."
"Iya, duduklah..."
Ellena dan Leo segera duduk disofa panjangng, serta Morgan yang segera menyusul mereka duduk.
"Maafkan kami yang terlambat kemari"
"Tak apa, aku juga tahu bagaimana kesulitanmu"
"Huh... ya, tim penyelamat terus menyisir seluruh perairan untukĀ menemukan Kabir..."
"Ya, aku berdoa agar Kabir cepat ditemukan"
"Terima kasih, bagaimana keadaan Shofia?"
"Dia tertidur setelah diberi obat penenang"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dia baru saja sadar, dan histeris saat mendengar bahwa Kabir belum ditemukan serta anak yang dia kandung meninggal"
"Awalnya aku sangat marah saat Kabir memberi kabar akan menikah karena Shofia sudah hamil... tapi disisi lain aku bersyukur karena Shofia-lah yang akan menjadi menantuku serta pendamping hidup Kabir..."
"Ya, aku dulu juga berpikiran seperti itu..."
Terlihat wajah sendu dari Ellena, bagaimanapun dia tak bisa menutupi kesedihannya. Anaknya juga menghilang akibat insiden ini.
Leo segera merangkul Ellena dan mengusapnya pelan untuk menenangkan istrinya. Walaupun Leo sendiri merasa terpukul.
"Saat kecelakaan terjadi, Aku dan Kabir sedang membicarakan bisnis dikantor, tiba tiba ada email yang masuk diponsel Kabir dan tak berapa lama juga ada panggilan... dia segera pergi begitu saja, tapi sayang, menurut pangawalnya, dia mengalami kecelakaan karena ada yang mencoba menghadang mobilnya..."
"Ya, itu kabar dari Yohan yang aku tahu... dan Kabir menghubungi Yohan untuk menyelamatkan Shofia, Yohan sedikit kaget tapi setelahnya dia malah panik karena Kabir mengirim e-mail"
"Menjadi pertanyaanku apa isi e-mail itu?"
"Tentang latar belakang Tristan..."
"Maksutmu?"
"Kabir tak mungkin membiarkan orang asing mendekati Shofia, jadi dia memilih mencari informasi tentang Tristan..."
"Informasi?"
"Ya, hanya Kabir dan Yohan yang tahu tentang isi informasi itu... tapi barang barang yang dibawa Kabir tak ada yang ditemukan... jadi kami kemari untuk menanyai Yohan juga"
"Dia dalam 30 menit akan sampai disini... kalian tunggu saja"
"Baiklah, emm.. walaupun Tristan secara harfiah sudah dibasmi oleh Ar, tapi aku tetap ingin mengetahui informasi itu"
"Ya, kamipun sama... kasihan adik kami yang baru saja bahagia harus merasakan hal yang menyakitkan seperti ini"
"Aku tahu..."
Akhirnya mereka menyelesaikan pembicaraan berat ini, dan berganti topik dengan pembicaraan ringan.
Morgan dan Leo membicarakan bisnis serta politik. Sedangkan, Luna dan Ellena membicarakan tentang fasion serta hal hal berbau perempuan lainnya.
Sambil menikmati secangkir teh mereka terus saja menunggu Yohan.
Ya, kamar Shofia adalah kamar Khusus keluarga Lee.
Kamar dengan fasilitas seperti hotel bahkan ada kamar istirahat untuk para penunggu yang berbilik sendiri. Mini pantry juga ada.
Mata Shofia terbuka saat mendengar suara tawa dari Ellena serta Luna. Bukan terganggu tapi merasa damai.
Shofia menoleh rupanya, orang tua Kabir serta kakak kakaknya.
"Kak..."
"Oh Shofia.. kamu sudah sadar? Ada yang sakit"
"Tak ada.. hanya..."
"Sayang... kami disini untuk menemanimu.. maafkan kami belum bisa menemukan Kabir"
Ellena dan Leo mendekat pada Shofia sedangkan Shofia hanya tersenyum saat Ellena menggenggam tangannya dengan lembut.
"Aunty-"
"Mommy... kamu harus memanggilku Mommy serta ini daddy"
"Tap-"
"Kamu anak kami sayang, kamu adalah anggota Dominic"
"Mom... maafkan aku, aku tak bisa menjaga bayiku, huhuhu"
"Tak apa sayang, kamu tak salah... ini semua pasti ada hikmahnya.. kamu harus bangkit"
"Terima kasih mom..."
"Cepatlah sembuh..."
"Iya..."
Shofia tersenyum, ya dia menutupi semua kesakitannya.
Dia sadar kalau rintangan ini begitu berat. Kalau sampai ada hal yang menimpanya lagi, mungkin dia menjadi gila.
*******
__ADS_1