
Kabir dan Shofia benar-benar bermalam di villa ini. Memakai kamar tidur utama yang berdinding kaca, ya mereka bisa melihat bintang dilangit dan juga pemandangan perdesaan.
Shofia duduk dikursi rodanya, menatap arah luar melalui balkon kamarnya. Angin berhembus lembut, membuat fikirannya begitu rileks.
Shofia membuka matanya saat Kabir mengusap kedua pundaknya dari belakang dengan lembut.
Kabir tersenyum pada Shofia saat Shofia mendongak melihat Kabir dibelakangnya.
"Suka?"
"Suka...."
"Jadi jangan sedih lagi"
"Iya, terima kasih. ..."
"Darl... setelah pulang dari Roma, kita kembali ke New York ya"
"Kenapa?"
"Pekerjaanku disana semua, dan juga di sana kamu akan lebih nyaman saat terapi"
"Pekerjaanku"
"Kamu akan mendapat pekerjaan yang kamu mau disana "
"Baiklah"
"Bagus, ayo tidur sudah malam...."
"Hmmm... iya"
"Kita ada penerbangan pagi bukan?"
"Iya"
Kabir segera mendorong kursi roda milik Shofia dan membaringkan Shofia di ranjang besarnya.
"Nice dream,darl....."
"Nice dream too, Kabir...."
Kabir segera menyelimuti Shofia dan dia juga memejamkan mata untuk tidur.
Tapi setelah satu jam Shofia memejamkan mata, wanita itu tetap tak dapat tidur.
Dia berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Menatap wajah damai Kabir, dia tersenyum. Tak menyangka kalau dia ada masalah bersama Kabir yang penuh cinta.
Shofia mengambil alat gambarnya dan segera menggambar.
Malam ini begitu indah, langit hitam sedikit biru yang penuh bintang tanpa bulan yang terlihat.
Shofia menggambar gaun panjang berwarna hitam kebiruan dengan sentuhan manik manik yang berkilau. Belahan dada sedikit rendah dan bahu yang sedikit terbuka.
"Ada yang kurang..."
"Angin"
Ya, angin yang lumayan dingin saat angin berhembus. Dan dia tahu apa yang kurang.
Akhirnya, Shofia menambahkan sepasang kain tile yang berwarna sama dengan gaunnya dikedua sisi belakang pundak.
Gaun ini terlihat sederhana karena tak ada payet lain selain manik manik jadi Shofia membuat satu set perhiasan untuk gaun yang dia gambar.
Shofia menggambar sepasang anting berlian berbentuk bulan sabit yang berwarna putih. Agar saat terkena cahaya, terlihat bersinar.
Shofia juga menggambar sebuah kalung rantai yang berliontin berlian berbentuk bintang dan ditengah nya sebuah mutiara kecil.
Shofia tersenyum. Kemampuan mendesain perhiasan sebenarnya lumayan payah tapi dia benar benar ingin mendesainnya.
Shofia tak kunjung bisa tertidur.
Akhirnya dia memilih untuk membuat tuxedo untuk pasangan gaunnya.
Tuxedo resmi pada umumnya berwarna senada dengan gaunnya tapi memiliki tampilan lebih bersinar menjadi pilihannya.
Dan juga bross berbentuk bulan sabit.
Hanya itu. Tapi ini lumayan bagus.
Shofia melihat jam pada nakas, rupanya sudah pukul 2 pagi.
Shofia meminum air putihnya dan mulai tertidur. Ya, dia mulai mengantuk dan sudah tak ingin membereskan alat gambarnya lagi.
Dia tertidur begitu nyenyak, mungkin karena dia tertidur larut malam.
Sampai pagi hari, saat Kabir sudah terbangun, Shofia tetap masih tertidur.
Kabir tersenyum dan melihat alat gambar Shofia begitu berantakan.
__ADS_1
"Semalam tak bisa tidur lagi, ya?"
Kabir menggumam sendiri, lalu Kabir membuka buku gambar Shofia.
Kabir tersenyum. Wanitanya memang sangat pandai dilurusan desain bahkan dia juga mendesain satu set perhiasan untuk gaun yang dia gambar.
"Bakatmu ini tak boleh disiapkan siakan, Darl.... aku akan secepatnya membukakan fashion house - mu sendiri"
Kabir meletakkan kembali buku gambar itu, dan melangkah pelan untuk mandi serta bersiap-siap.
Kabir memakai kaos putih serta celana jeans, turun ke lantai satu untuk mengambil Sarapan miliknya dan Shofia.
Sarapan dikamar.
"Darl... bangun"
Kabir menciumi wajah Shofia dengan lembut, dan perlakuan itu membuat Shofia terbangun dan memandang Kabir sejenak.
"Sayang...."
"Hmmm... ayo makan"
"Aku belum mandi"
"Nanti saja, sarapannya keburu dingin"
"Baiklah, Hmmmm.... Sup ayam? Biasanya roti isi?"
"Udara disini dingin.... sup ayam sangat cocok dengan udara disini"
"Oh... disini juga ada pengurus?"
"Ya.... 5 pegawai rumah tangga, dan 2 penjaga"
"Untuk rumah yang jarang ditinggali, sebanyak itu?"
"Ya, memang banyak, tapi aku ingin rumah ini dirawat dengan baik karena sewaktu-waktu aku akan kemari"
"Hmmm... begitu... sup ayam ini enak"
"Aku tahu kamu akan menyukainya"
"Kabir. ..."
"Ya...."
"Bolehkah aku berlatih berjalan?"
"Tapi..."
"Apa kamu yakin akan belajar sekarang?"
"Iya..."
"Baiklah, tapi saat kakimu merasa tak nyaman segera sudah ya...."
"Terima kasih, Kabir. ... oh iya penerbangan kita berapa jam lagi?"
"4 jam lagi. ... bersantailah"
"Iya...."
Kabir mencium kening Shofia, dan mereka kembali meneruskan acara makan pagi dengan tenang.
Setelah keduanya selesai sarapan, Shofia mencoba duduk dan berusaha berjalan.
Berkali-kali Shofia mencoba menggerakkan kakinya, tapi hasilnya nihil.
Dia memang bisa berjalan dua sampai empat langkah tapi setelahnya dia terjatuh dan kakinya sakit.
"Kakimu keseleo? Apa sakit?"
"Auhhh. ... sakit..."
Shofia berteriak lumayan kencang saat Kabir mencoba memijit kaki Shofia.
"Aku akan panggilkan dokter"
"Tapi..."
"Kakimu baru saja sembuh, jangan sampai sakit lagi"
"Baiklah"
Kabir segera memanggil dokter pribadinya, dan akhirnya Shofia diobati oleh dokter itu.
"Bagaimana?"
"Hanya keseleo, sudah aku obati... tapi ada kabar baik"
"Apa?"
__ADS_1
"Syaraf kakinya mulai berfungsi lagi... mungkin setelah keseleo nya sembuh, dia bisa berlatih lagi "
"Baguslah...."
"Jangan lupa diolesi salep, jangan banyak bergerak dan minum vitaminnya"
"Baiklah, terima kasih"
"Dan Kabir, jangan terlalu mengajaknya olahraga yang berlebih... lebih baik rencana kalian mendapat anak ditunda dahulu "
"Baiklah. ...."
"Shofia, katakkan pada Kabir kalau ada yang tak nyaman"
"Baik, terima kasih"
Dokter itu berlalu begitu saja, dan menepuk pundak Kabir. Shofia ganti menatap Kabir lekat.
"Ada apa?"
"Kamu mengenalnya?"
"Ya... dia teman kuliahku"
"Wanita cantik itu!?"
"Sayang.... kenapa ekspresimu itu?"
"Dia pasti begitu dekat, sampai dia berani menepuk pundakmu!"
"Hanya itu? Kamu cemburu?"
"Dan juga, kenapa menjadi dokter pribadimu!? Apa kamu begitu suka di obati oleh wanita!?"
"Sayang... Hei. .. dengarkan aku, dia hanya dokter pribadi, bukan yang lain..."
"Aku tak percaya"
"Kenapa kamu jadi begitu sensitif? "
"Kabir!!!"
"Baiklah, aku akan memecatnya. . Jangan begitu serius"
"Apa kamu ada apa apa?"
"Tidak!"
"Lalu kenapa kamu memecatnya? "
"Maumu bagaimana? "
"Aku hanya tanya, kenapa kamu begitu agresif? "
"Sayang... kamu mencurigaiku. .. astaga!!! Aku hanya mencintaimu. ."
"Benarkah!?"
"Iya sayang. ... kamu jangan berfikir aneh aneh..."
"Iya iya"
"Mari mandi"
"Aku tak bisa berjalan"
"Aku tahu, jadi hari ini mandi bersama saja "
"No!!! Mesum!!!!"
"Tidak... hanya mandi sayang"
"Serius?"
"Iya, kita akan ada penerbangan bukan?"
"Baiklah, aku akan mandi denganmu "
"Bathtube atau shower "
"Aku tak bisa berdiri!!!! Kamu mengejekku"
"Aku akan menggendongmu didepan"
"Mesum!!!"
"Hahahaha..... aku tak mesum... otakmu saja yang berfikir macam macam"
"Kamu mengejekku lagi!!"
"Tidak tidak... aku menyayangimu "
__ADS_1
Kabir mencium pelipis Shofia, dan menggendong wanita itu dengan mesra. Mandi pagi bersama.
*************