Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Tristan Gila


__ADS_3

Sudah beberapa hari Shofia keluar dari rumah sakit dan sekarang dia tinggal di Brooklyn karena Luna sangat menghkawatirkannya.


Bahkan semua kakak kakaknya sangat perhatian.


Seperti Eliz yang pagi pagi akan datang untuk melihatnya serta membagikan tip tip hamil yang menyenangkan.


Tapi menjadi kendala adalah dia tak bisa bertemu dengan Kabir.


Apalagi saat pagi hari Shofia harus mengalami muntah muntah, dia harus merepotkan Luna ataupun Morgan.


Ya, seperti pagi ini. Morgan dengan sigap mengambilkan seluruh keperluan Shofia.


"Kak.. jangan kemari! Ini menjijikan!"


"Bagaimana mungkin!- hah"


Morgan tak melanjutkan perkataannya, dan memilih untuk menghampiri sang adik yang bersimpuh didepan closet kamar mandi.


Menyeka sudut bibir Shofia yang terkena bekas muntahan menggunakan tisu dan memeluknya sebentar.


"Kak.. hiks.. hiks... maafkan aku"


"Hei kenapa menangis? Ada yang sakit"


"Aku selalu menyusahkan kakak..."


Shofia mendongak, kakaknya juga ikut bersimpuh dilantai. Morgan tersenyum.


"Adikku tak pernah merepotkanku.. kamu tahu itu!"


"Mana mungkin tak merepotkan, bahkan ma-"


"Ssstt... kamu tahu.. mama sudah merelakan semuanya... "


"Maksut kak Morgan?"


"Ya, mama sudah memutuskan untuk tak mengganggungmu lagi... mama tahu kalau kehadiranmu juga tak dapat dicegah.. dia hanya tak rela menerima semua ini.."


"Kak..."


"Hari bahagiamu akan segera tiba... istirahatlah yang cukup, sekarang waktunya kamu bahagia..."


"Kak, terima kasih..."


"Aku walimu Shofia.. aku akan selalu ada untukmu"


Shofia memeluk Morgan dengan erat, dia benar benar beruntung memiliki Morgan dihidupnya.


Morgan dan Rio memang kakak yang sangat baik, walaupun Rio jarang sekali menemuinya tapi Shofia tahu kakaknya sangat peduli padanya.


Dibalik pintu kamar tidur milik Shofia, Luna mendengar semuanya.


Luna juga ikut meneteskan air mata.


Keluarganya dan keluarga suaminya memang tak ada yang beres, jadi bisa melihat pemandangan yang tulus seperti ini membuatnya terharu.


Melihat Morgan seperti itu, Luna merindukan kakak laki lakinya.


Kakak laki laki yang menyayanginya dari kecil berubah menjadi monster merenggut semuanya.


"Darl... kamu disini?"


Luna terjengat saat tiba tiba suara Morgan disampingnya.


Luna menoleh dan tersenyum pada suaminya. Dan memeluk lelaki itu dengan lembut.


"Ada apa?"


"Aku juga beruntung memiliki kamu dihidupku, Morgan"


"Sayang... kamu salah satu orang terpenting untukku, jadi jangan begitu lagi... susahmu menjadi susahku, bahagiamu menjadi bahagiaku"


"Iya, aku harap juga begitu..."


^^


Shofia meregangkan kedua tangannya saat dilihat pelayan datang membawakan cemilan untuknya.


Pukul 9 pagi, dia hafal. Ini waktunya memakan cemilan buah atau apalah yang bergizi.


Kakaknya, Luna sangat protektif dengan pola makan bahkan pola kegiatan Shofia semenjak tahu kalau Shofia hamil.


Ya, seperti hari hari sebelumnya setelah pulang dari rumah sakit kagiatannya sama.


Bekerja.


Jangan harap bekerja di kantor tempatnya bekerja di Manhattam. Tapi dirumah Kakaknya, Brooklyn.


Ya, kalau tentang dirumah Luna akan sangat protektif, kalau diluar Kabir yang sangat over.


Selama beberapa hari ini dia menyelesaikan setiap pesanan dari rumah bahkan presentasi dari rumah.

__ADS_1


Kabir akan segera meluncur ketempat  Shofia pergi kalau sampai tahu Shofia keluar dari rumah.


Dan dia pasti tahu kalau Shofia keluar, karena dia menempatkan beberapa penjaga.


Shofia benar benar tak habis pikir dengan pola pikir Kabir, bahkan dia sangat over dalam menjaga Shofia yang sedang hamil.


Apalagi tahu kalau Shofia sangat tersiksa saat pagi hari ataupun saat memakan makanan yang menurut perutnya tak enak, dia pasti muntah.


Ting...


From: Yohan


Ayo kepasar malam....


☆☆


^^^Kau akan mendapat masalah Yohan, kalau sampai aku kesana^^^


^^^☆☆^^^


Tak akan.. aku sudah mengatakkan pada Kabir, dan dia menyetujuinya


☆☆


^^^Kamu yakin?^^^


^^^☆☆^^^


Sangat yakin... bersiaplah...


☆☆


Shofia tak membalas pesan Yohan, tapi segera bersiap. Dia sangat suka kepasar malam.


Mengenakan dress berwarna soft pink serta flat shoes senada.


Shofia segera turun saat mendengar deru mobil datang. Itu pasti Yohan.


Shofia tersenyum karena mobil Yohan memang datang. Tapi setelah itu, dia mengkerutkan dahinya.


Didalam mobil bukan Yohan, tapi Tristan.


"Tristan? Kenapa disini? Kenapa mobil milik Yohan ada padamu?"


"Aku yang menyuruhnya mengirim pesan itu, karena kau akan menikah sebentar lagi, setidaknya ini menjadi salam perpisahan"


"Emmm baiklah..."


Shofia segera naik mobil van itu, dan Tristanpun segera melaju menjauhi kawasan yang sudah ada banyak penjaga.


"Berapa minggu?"


"Belum pasti..."


"Shofia...."


"Ya, ada apa?"


"Apa keputusanmu untuk menikah sudah bulat?"


"Tentu... ada apa?"


"Kabir bukan lelaki baik baik"


"Aku tahu, dia bukan lelaki seperti itu"


"Shofia..."


"Ini bukan jalan ke pasar malam... Tristan!"


"Kita kerumah dulu ya, ada hal yang ingin aku berikan"


"Apa?"


"Nanti juga tahu..."


Shofia lantas terdiam, terdiam dengan seribu pertanyaan serta kecemasan diotaknya.


Entah kenapa dia merasa terancam dengan sikap Tristan.


"Yohan, dimana?"


"Sedang berkumpul dengan teman temannya..."


"Jadi, dirumahmu?"


"Ada pembantu, tenang saja"


"Baiklah..."


Shofia terdiam lagi, sampai mobil van yang dia tumpangi berhenti disebuah rumah yang familiar untuk Shofia.

__ADS_1


Rumah Tristan.


Tristan segera turun dan membukakan pintu tempat duduk Shofia.


Tristan mengajak Shofia masuk.


"Duduklah dulu, aku akan ambilkan minum"


"Tak usah..."


"Tak apa, kamu pasti lelah"


Tristan segera kedapur untuk membuatkan minum Shofia. Tak berapa lama, Tristan datang dengan dua gelas kecil air putih.


"Ini... minumlah dulu,"


Tristan menyodorkan segelas kecil air putih, dan segelas lagi dia minum.


"Air ini sedikit pahit?"


"Iya, aku mengganti air galon dengan merk lain"


"Oh, apa tak apa?"


"Tak apa...ini baik untuk ibu hamil atau mennyusui, apalagi para lansia"


"Oh...."


Shofia segera menenggak habis minuman itu.


"


Aku ingin kekamar mandi sebentar, toilet dapur bisakan?"


"Kamar mandi atas saja, aku lupa memperbaiki krannya"


"Oh, baiklah"


Sampai di lantai atas, Shofia segera masuk kekamar utama. Ya, Shofia tahu letaknya karena saat dulu mereka kuliah, Shofia sering bermain kerumah Tristan.


Tapi hatinya berdebar dan sesak saat membuka pintu kamar utama.


Bukan, bukan sesuatu yang memukau tapi mengerikan dan menakutkan.


"Kamu suka?"


"Apa ini? Kamu gila!"


"Kenapa? Ini wujud cintaku untukmu, Shofia"


'Tristan! Ini tak lucu!"


"Aku tak bercanda soal ini!"


Tristan menarik Shofia masuk, dan semakin jelas isi dari kamar itu.


Kamar yang penuh dengan foto foto Shofia serta lukisan terpajang seisi ruangan.


Bahkan ada patung berbentuk dirinya di kamar itu, dengan mengenakan sebuah lingerie.


Shofia takut. Takut dengan Tristan serta segala obsesinya.


Shofia berjalan sedikit mundur, dan bersiap untuk melarikan diri.


Tapi sebelum Shofia sempat berlari, Shofia terduduk sambil memeras perutnya.


Ada sesuatu yang mencengkeram perutnya.


"Tristan! Apa yang kamu lakukan pada anakku, hah!"


"Anakmu? Dia mati Shofia! Mati! Hahaha aku memang memberimu obat kontraksi, ya agar kandunganmu tak terselamatkan!"


"Kamu kejam!!!"


"Aku kejam? Kamu kejam, Shofia!!"


"Akkhh sakit...."


Tristan membanting tubuh Shofia kedalam ranjang, dan menindihnya.


"Apa yang kamu lakukan!!??"


"Menidurimu, agar Kabir brengs*k itu tahu  bahkan kamu hanya milikku!!"


"Kamu gila!!"


Tangis Shofia pecah dan rasa sakitnya sangat mendalam, bahkan tulang tulangnya seperti patah satu per satu.


Semakin lama kesadaran Shofia semakin menurun dan perlahan pingsan.


Sedangkan Tristan terus saja melepas pakaian Shofia tanpa memperdulikan darah yang terus mengalir dari dalam tubuh Shofia.

__ADS_1


******


Gimana punya kabar? Sehat terus....


__ADS_2