
Hari mulai malam, acara makan malampun juga sudah selesai.
Kabir dan Shofia masih bersama untuk menonton tv. Ya, Kabir memaksa Shofia untuk memperbolehkannya menginap. Dan tentu Shofia menurut karena dia hampir ditelanjangi diatas meja bar.
"Tidurlah..."
"Em... kamar tamu ada disana"
"Aku tahu"
"Jangan keatas!"
"Iya, aku tahu... tidurlah"
"Baiklah.."
Shofia berajak dari duduknya dan segera keatas untuk tidur.
Entah kenapa bersama Kabir, dirinya merasa aman dan nyaman.
Apa dia mulai menyukai Kabir?
Ya ampun, kalau memang benar, dia memilih untuk bertahan walau banyak resiko yang datang.
Shofia siap tertidur sedangkan Kabir masih setia didepan televisi.
Sampai Ar menelponnya, Kabir beranjak menjauh.
"Ada apa?"
"Informasi tentang lelaki yang dekat dengan Shofia"
"Lanjutkan!"
"Dia bernama Leon McLard, dia berumur 28 tahun dan sudah menikah. Menurut informasi, kalau Shofia berteman dekat dengannya dan sempat menyukainya... sampai saat ulang tahun Leon, Leon mengumumkan pertunangannya dengan Laura,istrinya sekarang"
"Oh..."
"Dan baju yang kau pakai merupakan baju yang dibeli dihari yang sama dengan ulang tahun Leo"
"Dia tinggal dimana?"
"Brooklyn"
"Oh... baiklah, ada laporan lain?"
"Tidak, tapi dalam waktu dekat kita akan bertemu dengan Leon"
"Baguslah..."
Kabir menutup sambungan telponnya, dan ponselnya kembali berdering.
Mommy
"Hallo mom.."
"Kamu dimana?"
"Kenapa mom?"
"Max dan Rio mencari kamu!"
"Aku sedang ada di apartment calon istriku, mom.."
"Siapa?"
Akkhhhhh... jangann.. tollong.. jangan akhhh
"Shofia!!!"
Tanpa mematikan sambungannya, Kabir berlari kearah kamar Shofia dan Shofia mengenaskan.
Dia terus berteriak meminta tolong, dan bergerak kesana kemari sambil menangis histeris.
"TOLONG... JANGAN SENTUH AKU.. AKKHH MAMA JAHAT!!"
"Shofia.. bangun sayang.. hei.."
Kabir mencoba memeluk Shofia, dan menenangkannya. Sampai Shofia terbangun dan terengah.
"Hah.. hahh.. Kabir..aku takut"
"Aku ada disini, tenang saja..."
Kabir segera mengulurkan air minum dan segera diminum oleh Shofia.
"Kamu mimpi buruk?"
Shofia hanya mengangguk, dan nafasnya masih memburu akibat mimpinya.
"Mau cerita?"
"Aku takut, Kabir.. mama ingin membunuhku.. Kabir, aku.. huhuhuhu"
Shofia terisak, dia tak sanggup menceritakan semuanya. Dia benar benar tak tahu harus bercerita bagaimana.
"Tak apa, aku disini akan selalu menemanimu... tidurlah lagi.."
"Kabir..."
"Emmm? Kamu setiap malam seperti ini?"
__ADS_1
Shofia kembali tak menjawab, dan Kabir tahu jawabannya.
"Kenapa tak konsultasi?"
"Mereka menganggapku gangguan jiwa.."
"Shofia! Kamu cantik, kamu pintar, kalau ada yang mengatakkan kalau kamu gila, mereka juga gangguan jiwa"
"Kabir..."
"Tidurlah... aku akan menemanimu..."
Kabir memeluk Shofia, sampai wanita itu benar benar tidur lagi. Ya, Kabir sudah mendengar dengkuran halus Shofia.
"Mimpilah indah sayang..."
"ELLO KABIR DOMINIC!!!!!"
Kabir tertengat saat mendengar sayup sayup nama panjangnya disebut.
Sial. Itu suara mommynya.
Kabir segera turun lagi kelantai dasar. Dia benar benar bingung akan menjawab apa saat ditanya sang ibu.
"Ya mom... ada apa?"
"Apa katamu? Kamu tanya ada apa? Otakmu kamu taruh dimana?"
"Dikepala mom!"
"Tadi menuntut ibunya, sekarang tinggal dengan anaknya, maumu apa?"
"Mom..."
"Kalau anaknya tahu kamu menjebloskan ibunya-"
"Dia sudah tahu! Shofia yang kena tampar"
"Maksutmu?"
"Sebenarnya begini mom"
Kabir menceritakan detail ceritanya, serta bagaimana peringai Anita.
"Jadi... kamu menyukai Shofia?"
"Sepertinya..."
"Kabir, jangan memainkan hati perempuan.."
"Mom.."
"Aku melihat dimata Shofia, ada kilatan kepedihan yang tak tergambarkan, jadi kalau kamu ingin main main carilah wanita lain"
"Kuharap, kamu seperti harapanku, Son"
"Ya mom..."
Ellena sudah mematikan sambungannya.
Kabir tahu itu. Kabir sangat ingin melindungi Shofia.
Wanita berkulit putih itu sudah mengisi setiap pandangannya.
Kabir naik lagi keatas untuk melihat Shofia, dan saat melihat sekeliling, Kabir melihat obat obatan.
Rasa penasarannya tumbuh. Dan sangat tercengang dengan tanggal dari obat obatan itu.
Hari dimana setelah malam panas itu.
Obat penenang serta kontrasepsi darurat.
Botol obat penanangnya sudah tinggal separuh, tapi botol pil kontrasepsi itu masih penuh.
Kabir segera membuka botol pil kontrasepsi itu dan menghitungnya, hanya terminum 2 pil.
Jadi, dia benar benar takut hamil.
"Shofia, kenapa kamu menyiksa badanmu dengan obat obatan ini..."
Kabir tahu, obat obatan ini sangat mempengaruhi kesehatan Shofia secara mental ataupun fisik.
"Shofia, jadikan aku tamengmu, jadikan aku pohonmu yang meneduhkanmu... aku ingin Shofia"
Kabir mengelus wajah pucat Shofia, lalu mengecup kening Shofia.
Mimpilah indah...
***
Dialam mimpi, Shofia memimpikan sebuah taman yang luas banyak bunga lili dan mawar disana.
Shofia menyusuri taman itu dan menemukan seorang lelaki yang berdiri membelakanginya.
Tinggi dan tegap.
"Kabir..."
"Shofia... ayo..."
Shofia menerima uluran tangan Kabir dan menyusuri setiap pohon mawar, dan Kabir memetik mawar merah untuk diselipkan ditelinga Shofia.
__ADS_1
"Kamu terlalu pucat, aku akan mewarnaimu..."
"Kabir..."
"Mau naik itu?"
Kabir menunjuk pohon rindang diseberangnya. Ada ayunan disana.
Shofia yang melihat ayunan dengan tanaman rambat ditali talinya segera berlari menghampirinya.
"Kabir, maukah kamu mengayunku?"
"Tentu..."
Shofia segera duduk dan Kabir mengayunkan ayunan itu.
Terlihat raut wajah senang pada Shofia. Dia melupakan segalanya.
"Shofia..."
"Ya?"
"Apa kamu bahagia?"
"Tentu.."
"Kalau begitu, tutup matamu.."
"Kenapa?"
"Tutup saja"
"Baiklah"
Shofia segera menutup mata dan menunggu Kabir menyuruhnya membuka mata.
"Kamu boleh melihatnya..."
Shofia lantas membuka mata dan bukan lagi terlihat hamparan taman bunga tapi pantai dengan pasir putih serta lautan yang luas.
"Pantai?"
"Ya, ayo..."
Kabir menggandeng tangan Shofia dan berlari menuntunnya. Melewati pasir pasir putih yang basah akibat air laut.
Shofia berhenti saat kakinya menginjak sebuah benda.
Kabirpun juga berhenti untuk melihat Shofia yang berhenti tiba tiba.
Shofia segera melihat apa yang dia injak, dan rupanya sebuah batu.
Batu yang berkilau.
"Wow..."
"Ada apa?"
"Lihat Kabir, ini begitu indah..."
"Itu hanya batu biasa"
"Bukan... ini berkilau..."
"Itu hanya batu...."
"Kabir..."
"Apa? Aku benar Shofia, itu hanya batu, dan kamu adalah rubi yang langka"
"Aku, kamu samakan dengan Rubi?"
"Ya, lebih berharga daripada Rubi...."
"Bermimpi apa aku, sampai menjadi lebih berharga daripada Rubi? Hidupku sudah tak sepantas itu, Kabir"
"Kenapa tak pantas? Kamu cantik, kamu pandai, kamu baik..."
"Karena aku memang tak sebaik itu dan tak sesuci itu..."
"Apapun kamu, kamu yang terbaik Shofia... kamu wanita terbaik"
"Aku lemah, aku siap hancur kapanpun, Kabir"
"Aku akan selalu mengokohkanmu, Shofia... membuatmu menjadi rubi bahkan giok terbaik sedunia"
"Kamu membuat aku berharap banyak padamu, Kabir"
"Bahkan aku ingin kamu membuat diriku sebagai pelindungmu, penyokongmu... bahkan tempatmu berlabuh, Shofia"
"Kabir..."
"Jadilah alasanku untuk bertahan disini, bersamamu Shofia... akan kubuat mereka memandangmu tinggi"
"Aku tak memiki harapan sebesar itu Kabir... bahkan nafasku saja sudah milik orang lain..."
""Shofia, jadikan aku tamengmu, jadikan aku pohonmu yang meneduhkanmu... aku ingin Shofia"
********
@alister_weis
__ADS_1
follow ya....