
Shofia terbangun dipagi hari dengan keadaan pipi sembab, seperti hari hari sebelumnya.
"Aku lelah..."
Shofia segera mendudukkan badannya dan meminum air putih diatas nakasnya.
"Eh.. fotonya pindah ke nakas? Seingatku semalam aku bawa tidur"
Shofia ingat betul, semalam fotonya bersama Kabir dia bawa tidur tapi kenapa sekarang ada dinakas?
Entahlah, mungkin dia lupa.
Shofia segera beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi.
Hari pertama Shofia bekerja, dia sudah memiliki sebuah mobil. Lebih tepatnya lamborgini keluaran terbaru dari sang kakak.
"Memang terbaik..."
Banyak pasang mata yang melihat Shofia takjub tak terkecuali sepasang orang yang sedang menikmati sarapan dikedai depan apartment.
"Mereka memang serasi..."
Ya, salah besar kalau sosok Kabir tak menonjol.
Kaos putih yang menonjolkan otot lengannya serta celana jeans. Sangat bertolak belakang dengan penampilannya dulu.
Mungkin kalau Kabir bisa melupakannya begitu saja, Shofia juga bisa.
Memakai dress selutut serta kaca mata hitam dia mulai memasuki kedai tempat Kabir memakan sarapannya.
Sangat sengaja memperlihatkan penampilannya.
High heel yang dulu tak setinggi ini dia pakai. Serta rambut bergelombangnya sangat menarik perhatian.
Shofia sengaja duduk didepan Kabir dan berpura pura tak peduli. Sedangkan Kabir terlihat penasaran.
"Vanila latte dan roti isi..."
"Tunggu sebentar ya..."
"Oke.."
Sambil menunggu pesanannya, Shofia memilih untuk membaca majalah fashion.
Drrttt... drrrttt...
Daddy is calling...
Shofia tersenyum. Menghubungi pada wantu yang tepat.
"Morning dad..."
"Morning darl... bagaimana kabarmu? Mommymu terus saja menanyakanmu"
"Ya ampun.. aku baik dad.. kenapa mommy Ell tak menelpon saja? Aku juga merindukannya"
"Hah... dia begitu merasa bersalah Shofia.. bahkan dia menangis.. menantu idamannya semakin menjauh saja"
"Daddy tak usah risau... saat pernikahannya Zahra dan Sean, aku akan datang.. daddy dan mommy jangan risau"
"Baiklah... kau harus datang! Buat Kabir sadar akan masa depannya"
"Ya dad... terima kasih atas dukungannya"
"Jangan sungkan.. baiklah, kamu hati hati disana dan selamat bekerja, Shofia"
"Terima kasih dad... aku merindukan kalian"
Shofia meletakkan ponselnya kembali dan melihat didepannya sudah ada makanan yang dia pesan.
Memakan denga pelan tanpa melihat kearah Kabir, dia lebih memilih melihat kearah luar jendela.
Pemandangan di jantung kota Paris, di New York hanya ada gedung gedung tinggi.
Sedangkan disini, dia dapat melihat bangunan bangunan kuno yang sedikit berevolusi menjadi modern.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Shofia segera membayar tagihannya dan pergi begitu saja.
Tapi saat melewati Kabir, Shofia sengaja tersenyum.
"Cantik..."
__ADS_1
Tanpa Kabir sadari, kata itu muncul begitu saja. Cara berpakaian Shofia tak begitu mencolok tapi kecantikannya yang sangan mendominasi.
Bahkan Celline, gadis paling cantik di kampus dulu tak bisa dibandingkan dengan Shofia.
Kabir terus saja memperhatikan Shofia sampai wanita itu melajukan mobil sportnya.
Bahkan Kabir menebak kalau yang menghubungi wanita itu adalah daddy dan mommynya.
Mereka sangat perhatian dengan Shofia.
Mommy sepertinya sangat menyayangi Shofia, memikirkan wanita itu begitu keras sampai jatuh sakit juga.
Apa sebegitu istimewa?
Hanya tak menyangka, sebelum dia amnesia, dia dapat mengenal wanita secantik itu.
"Kenapa kamu melihat wanita tadi sangat antusias?"
"Hanya merasa aku pernah sangat dekat dengannya"
"Wajar! Dia wanita cantik! Kamu memang begitu, kalau ada wanita cantik!"
"Kamu cemburu..."
"Tidak, aku hanya takut kamu akan terpesona dan tidur dengannya"
"Maksutmu?"
"Kamu sendiri tahu, Kabir!! Kamu sama sekali tak mau tidur denganku bahkan menciumku, bisa jadi aku kurang cantik!"
"Celline jangan kekanakan!"
"Aku tak kekanakan... kamu yang terlalu alim! Kamu mau minum alkohol tapi kenapa tak mau tidur dengan wanita, hah? Hukum agama?"
"Celline!! Aku tak pernah memandang itu, apalagi cinta kita, kita berbeda agama dan aku masih mau mempertahankan hubungan ini.. dan sekarang?"
"Kabir, kamu tak seperti lelaki! Kamu tunduk pada keluargamu, ayolah! Aku ingin kamu tidur denganku untuk memastikan cinta kita.. aku tak mau menikah dalam hal seperti ini, Kabir!"
"Kamu gila? Kamu wanita! Kamu harusnya malu dengan perkataanmu! Aku kecewa"
"Kabir! Berhenti! Jangan pergi!! Aaakkkhh!!!"
Celline memang tak bisa mengerti dia sama sekali.
Drrtt... drrtt...
Mommy is calling...
Kabir mengerutkan keningnya, sangat jarang mommynya menghubunginya apalagi semenjak amnesia ini. Mommynya selalu memaksanya untuk mengingat kembali.
Dan ini, menghubunginya lebih dahulu?
"Hallo mom.. ada apa?"
"Son.. mommy boleh minta tolong"
"Apa mom?"
"Tolong kamu pergi ke Cava Fashion, bisa?"
"Untuk apa?"
"Perancang baju pengantinnya dari sana, tapi mommy lupa nama emailnya"
"Baiklah, aku akan kesana..."
"Terima kasih, son... oh iya desainnya mommy kirim di emailmu.. nanti nama desainernya Nayanika"
"Nayanika? Baiklah, aku harus bagaimana disana?"
"Kamu cukup memberikan rancangan itu, dan dia akan membenarkannya"
"Kan sudah dirancang? Kenapa dibenarkan lagi?"
"Dia pasti tahu... kamu kesana saja!"
"Iya... aku tutup mom"
"Ya son.. sehat selalu"
Kabir tak menjawab perkataan Mommynya. Dia segea menaiki mobil van-nya dan melajukan mobilnya kearah arrausement 8, tempat cava fashion berada.
__ADS_1
Kabir tak melihat keadaan yang mencurigakan, dia memilih cepat menyelesaikan tugasnya.
Apalagi ini menyangkut adik tersayangnya.
Jalanan tak terlalu macet, jadi dia cepat sampai di tempat fashion itu. Lumayan besar.
Sebelum masuk, Kabir mengecek lagi emailnya. Dan ada email dari ibunya.
Sebuah foto gaun pengantin warna putih yang sangat tertutup.
"Aku seperti kenal dengan gaun ini, tapi dimana?"
Ya, gaun indah ini. Gaun yang sangat indah tapi kenapa harus diperbaiki.
"Entahlah"
Kabir segera masuk dan berdiri didepan meja informasi.
"Saya mencari desainer bernama Nayanika"
"Nayanika? Emm.. Shofia Nayanika?"
"Mungkin, saya hanya mengenal nama Nayanika"
"Oh, baiklah... silahkan kelantai 3, miss Shofia ada diruangan nomor 4"
"Terima kasih"
"Sama sama"
Kabir segera menaiki lift dan mencari ruangan nomor 4. Tak susah.
Tok.. tok.. tok...
"Masuk!"
Kabir segera membuka pintu, dan terlihat Shofia sedang melukis mungkin.
"Ada yang bisa say- Kabir?"
"Emm.. maaf apa benar ini ruangan nona Nayanika?"
"Benar, ada apa?"
"Aku tadi disuruh untuk menyampaikan email dari Mommy"
"Mommy Ellena?"
"Kenapa kamu juga memanggil mommy dengan sebuatan itu?"
"Itu terserahku, mana emailnya"
Kabir menyerahkan ponselnya yang mati, benar dia sengaja matikan. Agar Kabir tahu seberapa dekat dia dulu dengan Shofia.
Dan tak menyangka, Shofia bisa membuka kunci ponselnya dengan mudah.
"Kamu mengetesku, bukan? Aku tahu!"
"Kamu..!?"
"Tak usah berbelit belit, gaun ini kenapa?"
"Katanya kamu desainernya adikku, pasti tahu"
"Aku memang tahu..."
"Jadi, gaun ini milik adikku?"
"Bukan"
"Lalu milik siapa?"
"Milikku"
"Kamu akan menikah? Lalu kenapa kamu begitu antusias dengan keluargaku?"
"Apa aku berkata akan menikah, tuan Ello Kabir Dominic?"
"Kau!!"
****
__ADS_1