
ALANICK CLINIC - ROMA, ITALIA
pagi-pagi sekali, Kabir dan Shofia sudah sampai didepan klinik milik Alan. Yang memang mereka membuat janji pukul 7 pagi.
Kabir begitu tampan dan seksi mengenakan kaos hitam dan training hitam pula dipadukan dengan sepatu putih, begitu jantan apalagi tercetak jelas dada bidang serta otot-otot tangannya. Apalagi dengan kacamata hitam itu. He's hot.
Sedangkan Shofia cantik mengenakan kaos dan training putih serta sepatu hitam. Terbalik dengan Kabir. Dia begitu cantik dan terlihat polos, apalagi Shofia mengikat rambutnya dengan kuncir kuda. Dengan make up natural, dia mrnghipnotis banyak kaum adam untuk memperhatikannya.
Bahkan tadi pagi saat sedang sarapan, Kabir menggeram saat tahu kalau para lelaki itu menatap istrinya.
Dan terjadilah, Kabir mencium Shofia begitu panas dan basah. Ciuman yang mengklaim kalau mereka berdua saling memiliki garis keras.
Ya berkat kejadian itu, bibir bawah Shofia bengkak. Dan malah terlihat seksi.
"Kenapa kamu mendiamiku? "
"Seharusnya kamu tahu!"
"Emmm apa gara gara aku menciummu tadi?"
"Ya iyalah... aku malu!"
"Kenapa malu? Malu memiliki suami sepertiku, "
"Bukan..."
"Lalu?"
"Itu didepan umum! Bagaimana bisa mengumbar keintiman didepan umum!"
"Jadi kalau dikamar, boleh? "
"Ya bolehlah- eh!?"
"Hahahaha.... sayang. .. kamu mengemaskan! "
Kabir dengan gemas mencubit pipi Shofia, dan ingin sekali menciumnya lagi. Tapi, kalau sampai Kabir melakukan itu, Shofia pasti benar-benar memukul Kabir.
"Ayo masuk!"
Mereka berdua yang sudah menunggu didepan klinik lumayan lama, akhirnya bisa masuk.
"Kamu lama sekali! "
"Aku tadi mandi... duduklah..."
"Darl... terima kasih untuk semalam. Kamu memang jantan..."
Kabir dan Shofia tersedak, saat melihat wanita berpakaian kurang bahan keluar dari pintu belakang, dan dia dengan tanpa segan mencium Alan.
"Iya, pergilah! "
"Panggil aku lagi nanti .. emuah! "
Kabir dan Shofia terus saja mencermati gerak gerik Alan dan wanita itu. Sampai akhirnya wanita itu keluar dari klinik.
"Masih main perempuan ternyata!?"
"Sesekali, penat rasanya melihat tumpukan berkas diklinik"
"Tak kembali saja dirumah sakit ayahmu!?"
"Tidak, aku akan menjadi bayangan kakakku terus menerus kalau disana... aku ingin semua orang mengenalkan menjadi Alan, bukan orang lain"
"Baiklah..."
"Jadi ini istrimu?"
"Ya.."
"Cantik..."
Alan meneliti Shofia, tak terlalu istimewa tapi sangat enak dipandang.
Dan Shofia juga melakukan hal yang sama, mengamati Alan. Seperti Lelaki Amerika lainnya.
"Ehm.... jangan kau pandangi istriku terus menerus! !!"
"Tidak... aku hanya berfikir, apa yang membuat seorang Kabir Dominic bisa menikah?"
"Kamu akan tahu kalau mendapat wanita yang tepat..."
"Oke... kita tak akan membahas ini lagi... aku akan memeriksanya sebentar "
Alan segera mengalihkan topik pembicaraan, dan segera mendekat kearah Shofia.
Berjangkit didepan wanita itu, dan tanpa memerlukan alat medis hanya menggunakan tangannya saja untuk menekan kaki Shofia yang sakit.
"Ini sakit?"
Alan menekan lutut Shofia kuat.
__ADS_1
"Tidak"
"Kalau yang ini?"
Alan ganti menekan jari jari kaki Shofia. Dan direspon dengan kernyitan dahi oleh Shofia.
"Iya. . Sakit"
"Baguslah... kamu bawa pakaian ganti? "
"Tidak..."
"Kamu kemari bilang kalau harus memakai pakaian kasual agar bisa bergerak bebas!"
"Aku tahu... emmm... kalau begitu bantu istrimu berbaring disana dan lepas celananya..."
"Maksutmu!? kamu mau apa?"
"Aku akan melakukan akupuntur, jadi lepas celananya dan tutupi menggunakan selimut yang disana"
"Baiklah. ..."
Kabir segera mengangkat Shofia, dan membaringkan Shofia di tempat tidur pasien.
"Kabir..."
"Ya..."
"Apa ini serius?"
"Ya..."
"Tapi, aku malu!!"
"Yang terbuka hanya lutut kebawah... dan aku juga disini, nanti kalau Alan melakukan sesuatu padamu, akan aku tendang"
"Hah... baiklah, tapi kamu harus menemaniku "
"Iya..."
Kabir melepas celana training Shofia, dan menutupi bagian paha keatas menggunakan selimut yang Alan sediakan.
Setelah Kabir keluar dari tirai, Alan segera beranjak dan membawa peralatan medisnya.
"Sudah?"
"Sudah. ..."
Shofia hanya mengangguk, dan berusaha untuk tenang.
Alan lekas memeriksa Shofia. Memeriksa detak nadinya di tangan dan memejamkan mata sebentar.
"Nadinya bagus, tak ada keluhan lain..."
Shofia mengernyit, lelaki ini memeriksa pasien hanya dengan menekan nadi.
Shofia berfikir sejenak saat Alan berbalik menyiapkan alat medisnya.
Dan saat itu, Shofia tahu kalau ini sebuah metode pengobatan terkenal.
"Alan..."
"Ya ada apa?"
Alan menjawab sambil berbalik, dia sudah membawa senampan jarum perak.
"Apa ini metode pengobatan Cina? "
"Ya. .. kamu tahu?"
"Aku pernah membacanya dulu"
"Dan kamu tertarik?"
"Tidak,...."
"Kenapa?"
"Aku tak tertarik dengan ilmu medis... dimana kamu mempelajari ini?"
"Di Cina, beberapa tahun lalu"
"Oh..."
"Bagaimana kamu mengenal Kabir?"
"Emmm.... aku mengenal Kabir karena ketidak sengajaan yang membawa malapetaka"
"Malapetaka?"
"Ya, mungkin Malapetaka karena setelah mengenal Kabir hidupku menjadi berubah "
__ADS_1
"Kalau itu aku tahu... Max dan Rio saja yang betah dengannya"
"Hahahaha. .. kamu benar... oh iya, kenapa kamu tak pernah ikut berkumpul dengan mereka? "
"Karena aku jauh, mungkin...."
"Pasti lebih dari itu?"
"Ya, aku sudah tak ingin ikut bergaul dengan mereka... wanita, club malam, alkohol... aku mencoba untuk jauh"
"Untuk?"
"Untuk diriku dan kerajaan bisnisku, coba kamu bayangkan, kalau aku masih bersama mereka, mungkin aku belum mempelajari pengobatan Cina "
"Kamu benar juga..."
"Baiklah, jangan bergerak dulu selama 30 menit. ... biarkan jarumnya disana "
Dan saat itu juga, Shofia baru saja sadar kalau seluruh kakinya yang sakit penuh dengan tusukan jarum.
"Kenapa aku tak berasa apapun? "
"Karena fokusmu teralih...."
"Kabir..."
"Ya, aku biarkan kamu dan Alan terus berbicara untuk mengalihkan fokusmu dan tak terasa sakit bukan?"
"Ya, terima kasih Kabir. ..."
"Everything for you "
"Baiklah, kalian mengobrol lah, aku akan menuliskan resep herbal untukmu, Shofia"
"Terima kasih. ..."
"Tak masalah"
Alan lekas berlalu, dan membiarkan pasangan itu berbicara sesuka hati.
Dia tahu kalau Kabir begitu mencintai Shofia, dengan bukti dia mau menemani Shofia berobat tanpa ada kesombongan darinya.
Setelah 30 menit lebih, Alan kembali kearah mereka. Alan menyerahkan kertas resep untuk Kabir.
"Ini, kamu bisa membelinya di toko obat Cina. Dan aku akan melepas jarum peraknya"
"Iya..."
Alan dengan cekatan melepas jarum yang berada di kaki Shofia. Ada ringisan disana.
"Baiklah... coba gerakan jari kakimu"
Shofia mengangguk, dan mencoba menggerakkan jarinya. Ini tak masalah, ini ringan.
"Kalau begitu putar persendian mata kaki"
"Auhhh. .."
Shofia menggerakkan memutar persendian mata kakinya, dan sedikit nyeri.
"Emmm.... angkat atau tekuk kakimu!"
Shofia kembali beraksi, menekuk kakinya keatas.
"Ini sakit dan kaku! "
"Tak apa, ini baru sekali... 2 hari sekali, kalian kemarilah..."
"Jadi,Bagaimana hasilnya?"
"Kakinya sudah membaik... sarafnya mulai terbangun..."
"Baiklah, lalu apalagi yang harus kami lakukan?"
"Berlatih lah nanti... belajar menggerakkan persendian mata kaki, dan menekuk kakimu"
"Hanya itu?'
"Perbanyak makan makanan yang mengandung kalsium"
"Baiklah... terima kasih..."
"Dua hari lagi, kemari untuk mengontrol kakinya"
'Baik"
"Kalian bisa pulang, have a Nice holiday"
"Terima kasih "
********
__ADS_1