
Hari ini, mereka semua pulang. Rafael juga pulang dengan suster yang tetap menjaganya.
Sedangkan dibelakang mobil mereka, terdapat mobil lain. Ya, mereka adalah Adam, paman Shofia serta anaknya, Fio.
Kabir menatap mereka, pandangannya menuju mereka berdua. Jangan salah, Kabir sangat lihai membaca gerak gerik lawan.
Menyunggingkan senyum, dan mengedipkan sebelah matanya saat Fio menatapnya.
Semua rencana Kabir semalam sudah Kabir bahas dengan Shofia, Rio, Max dan Morgan. Dan mereka setuju.
Tinggal menunggu para orang bodoh itu masuk jebakan.
"Shofia... Kabir. ... aku titip anak paman ya"
"Iya paman tenang saja...."
"Ayah... kamu cepat pulang kemari ya"
"Tentu nak... jangan khawatir...."
Setelah itu, Adam segera pergi. Shofia tak habis pikir, bisa bisanya Adam memiliki niat ini.
Gadis didepannya mungkin seumuran dengan Shofia. Memakai rok panjang dan kaos panjang, terlihat lugu tapi setelah dicari identitasnya rupanya dia tak lebih dari wanita peliharaan Adam.
Sial.
"Fio.. kamarmu ada lantai satu... Biarkan Max memandumu"
"Terima kasih kak..."
"Hmmm. .."
Rio mendorong kursi roda Shofia, sangat disengaja. Shofia bisa berjalan dengan normal tapi untuk memuluskan jalan menuju neraka milik Adam dan Fio, mereka harus melakukannya.
Rio mengobrol sepanjang mendorong kursi roda Shofia, sedangkan Kabir nampak cuek dan segera memasuki ruang kerjanya. Dan sang bayi mungil, bersama pengasuhnya.
Fio nampak mendapat celah dari berbagai arah. Sangat mudah menggoda Kabir dan menjatuhkan Shofia.
Sesampainya didalam ruangan kerja, Kabir segera merobohkan ponselnya dan mengirim pesan untuk Shofia.
"Aku rindu"
"Aku juga... cepat kemari"
"Tentu...."
Setelah membalas pesan dari Shofia, Kabir segera mengunci pintunya dan membuka lemari dinding miliknya.
Kamar utama ada tepat diatas ruang kerjanya, dan sengaja membuat tangga penghubung yang ditutupi oleh lemari dinding.
Shofia yang melihat kemunculan Kabir dari balik lemari begitu terkejut.
"Bagaimana bisa?"
"Tentu bisa... aku membangun rumah ini dengan segala perencanaan..."
"Lalu...."
"Apa? Kita bisa berduaan walau drama ini kita mainkan...."
Kabir mengunci pintu kamar dan segera berbaring disisi Shofia.
"Bagaimana menurutmu tentang wanita itu?"
"Dari tatapannya, dia sudah masuk kedalam jebakan..."
"Apa kita akan berhasil?"
"Tentu... kalau mereka tak ada ada niat buruk, pasti tak memasuki jebakan kita"
"Iya juga...."
"Sekarang, jangan bahas ini... mari kita bahas tentang aku, kamu, dan Rafael"
"Memang ada apa?"
"Bagaimana kamu menjalani kehamilanmu, darl.... aku sungguh merasa bersalah"
"Aku seperti wanita lain yang hamil sayang.... aku mual, muntah, ingin memakan sesuatu secara mendadak...."
"Apa kamu kesulitan?"
"Ya... aku akan menangis sampai perutku kram, setelah itu aku baru akan tertidur"
__ADS_1
"Apa tak kamu coba perikanan? "
"Sudah... dan itu akan tetap terulang walau sudah meminum obat... dan kamu tahu apa penyebabnya?"
"Apa?"
"Kamu... setiap aku mengingatmu, aku selalu menangis apalagi saat malam hari dan sendiri"
"Maafkan aku... selalu membuatmu sedih dan menangis..."
"Bukankah, kamu sekarang sudah ada disini???"
"Aku beruntung memiliki wanita sepertimu...."
"Aku juga beruntung memilikimu sebagai suamiku"
Mereka berpelukan, dan saling meluapkan kerinduan mereka.
"Stop! Aku belum bisa~.."
"Aku tahu. .. aku hanya ingin tidur disampingmu. ..."
Akhirnya, Shofia dan Kabir tertidur sambil berpelukan. Dan mereka terbangun saat terdengar ketukan pintu.
"Siapa yang mengganggu?"
"Ini waktunya Rafael minum asi"
"Oh... aku akan kembali keruang kerja"
"Ehmmmmm. .."
Kabir mencium Shofia lagi dan meninggalkan bekas dileher Shofia.
Kabir segera membuka pintu rahasianya dan Shofia juga membuka pintu kamar.
"Eh. .. Fio? Ada apa?"
"Ehm. .. kak, itu... aku lapar..."
"Oh.. cari saja pelayan..."
"Baiklah "
Tapi, mata Fio menangkap ranjang yang kusut didua sisi dan juga bekas merah dileher Shofia.
Fio berfikir, mungkin rumah tangga ini memang bermasalah.
Fio segera pergi, dan menuju lantai dasar untuk keruang kerja Kabir. Dia akan menggoda lelaki panas itu.
Tok tok tok ....
Fio mengetuk pintu kayu itu, dan tak berapa lama Kabir membukanya.
Kabir masih mengenakan setelan jasnya.
"Ada apa?"
"Emm... kak, dari tadi aku lihat kakak belum keluar dari ruangan ini jadi aku ingin mengecek sekalian membawa kopi?"
"Terima kasih..."
Kabir menerima kopi itu, dan mencium aroma dari kopi itu. Walau samar, Kabir tahu kalau kopi ini ada campuran bahan lain.
"Aku akan membawanya kedalam?"
"Baiklah. ... sebentar lagi akan makan malam, kakak segeralah keluar aku memasak soup"
"Iya...."
Setelah menutup pintu, dia membuang kopi itu. Setelahnya dia membuka ponselnya dan mengirim pesan untuk semua orang yang terlibat direncanakan untuk berhati-hati dengan makan malam.
Shofia, Rio dan Max hanya tersenyum. Wanita itu tak sabaran.
Saat makan malam, Shofia sengaja memakai dress dengan tali spaggeti memperlihatkan tulang selangkanya serta tanda merah.
Semua orang disitu hampir tersedak dengan pakaian Shofia, apalagi sengaja memamerkan tanda itu.
Rio dengan sengaja mengalungkan jasnya pada Shofia.
"Diluar dingin, tak usah pamer tulang kurusmu"
Max hanya menahan tawa, Fio dengan percaya diri tersenyum, menganggap kedua orang itu memiliki hubungan.
__ADS_1
Sedangkan Kabir nampak diam saja, padahal dia ingin sekali tertawa. Ya, bagi istrinya tulang kurus itu begitu berharga dan tak dapat dihina.
"Kau!!"
Dan sebenarnya, Rio menutupi tanda itu karena sangat mengganggu pemandangan seorang yang sedang berpacaran jarak jauh.
"Kalian mau makan, atau bertengkar?"
"Makan..."
Dan soup itu tersaji, ketiga lelaki itu segera mencium bau yang tak biasa.
"Ya Tuhan, aku lupa meninggalkan berkas meeting besok dilobi hotel!"
"Kau ceroboh!"
Max segera berlari pergi, sedangkan Kabir, Shofia, dan Rio tetap memakan soup itu.
"Lumayan..."
Setelah makan malam, mereka segera pergi.
"Rio, antar Shofia naik, dan aku tunggu kamu di ruang kerja"
"Baik boss"
Sedangkan Kabir masih duduk, dan mengambil kesempatan untuk menyerang balik Fio.
Kabir perlahan menyentuh pundak Fio, dan mengajaknya keruang kerjanya.
"Nanti kak Shofia tahu..."
"Tak akan...."
Fio menurut saja, dan segera mengikuti Kabir.
Setelah masuk, Kabir menuang wine kedalam gelas dan memberikannya pada Fio.
"Ada apa kakak menyuruhku kemari?"
"Aku ingin memberimu ini..."
Kabir membuka laci nya, dan memberikan sebuah parfum ternama untuk Fio, ini?
"Cobalah"
Dengan senang, Fio menyemprotkan parfum itu kepergelangan tangan serta lehernya.
"Wanginya begitu elegan"
"Benarkah...."
Tapi tak berapa lama, wanita itu jatuh pingsan.
Setelah menunggu beberapa menit, Kabir memanggil para pengawalnya untuk membawanya kekamar.
Sedangkan dari belakang, sudah ada Max dan Rio.
"Gila. .. gadis itu begitu tak sabaran?"
"Dia sudah buta...."
Ketiga lelaki itu tertawa, dan didalam kamar utama Shofia juga tertawa melihat tingkah suami dan teman temannya. Urusan tak tik memang Kabir pemenangnya.
Sedangkan didalam kamar Fio, gadis itu masih tidur.
Ya, parfum itu sudah ada campuran obat tidur dan obat halusinasi.
Jadi, dalam keadaan tidurnya dia akan merasa sedang melakukan apa yang dia pikirkan.
Fio tak akan menyangka kalau parfum itu mengandung obat seperti itu.
Ya, Kabir tahu kalau Fio pasti akan mencium aroma itu di wine.
*****(
__ADS_1