
Setelah hampir sore mereka menjalani terapi, Shofia memilih untuk kembali ke hotel.
Beristirahat adalah pilihan yang terbaik.
"Mau makan apa?"
"Terserah, aku lelah"
"Istirahatlah, aku akan memesan makanan"
"Baiklah"
Kabir segera mencium kening Shofia, dan berbalik untuk menelpon pihak pelayanan hotel dengan intercom yang ada di kamar.
Memesan makan siang yang tertunda dan juga kopi.
Setelah memesan, Kabir segera kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Berganti baju dengan kemeja hitam serta celana juga hitam, ditambah dengan rambut acak acakan. Kabir terlihat tampan.
Kabir tersenyum, wanitanya sudah tertidur rupanya.
Kabir segera mendekat, dan mengecup kening Shofia.
Tak menyangka kalau Shofia sekarang sudah menjadi istrinya. Sebuah kebahagiaan tersendiri baginya.
"Shofia, terima kasih sudah hadir untukku"
Kabir terus saja memandangi wajah damai Shofia, sampai sebuah ketukan pintu menggema.
Mungkin pelayanan kamar.
Kabir segera membuka pintu kamar, dan terpampang seorang wanita pelayan yang sedang mendorong troli makanan.
"Permisi tuan, makanan yang anda pesan"
"Ya, letakkan dimeja!"
"Baik tuan"
Pelayan itu segera masuk dan keluar tanpa menoleh kearah ranjang. Dia segera menyusun makan malam, tapi tak langsung pergi.
"Tuan, apa perlu bantuan lain?"
"Tidak"
"Pijat mungkin? "
"Tidak..."
"Tuan...."
Pelayan itu mendekati Kabir, siap menyentuh dada Kabir sebelum suara lain menyahut.
"Apa ini termasuk pelayanan kamar!?"
Kabir dan pelayanan itu menoleh. Kabir nampak tersenyum, sedangkan si pelayan nampak terkejut.
Ya, yang berbicara adalah Shofia, wanita itu sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sudah bangun, sayang! ?"
"Sudah, aku lapar...."
"Mau aku suapi atau makan sendiri?"
"Suapi...."
"Baiklah.... eh, kamu kenapa masih disini? Tugasku sudah selesai"
"Baik tuan..."
Kabir dan Shofia melihat pelayan itu pergi. Dan setelah kamar tertutup, Shofia segera menatap Kabir dengan seksama.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kenapa kamu digoda wanita itu?"
"Aku juga tak tahu..."
"Kamu serius?"
"Aku serius..."
"Tapi..."
"Tapi apa? Hmmm..."
Kabir segera memposisikan badannya didepan Shofia, mengintimidasi Shofia dengan tatapan nya.
"Kabir..."
"Iya..."
"Mau apa?"
"Bagaimana kalau kita berolahraga panas sekarang?"
"Kita kan akan makan?"
"Nanti saja... juniorku menahan ini sedari tadi..."
"Kamu terangsang gara gara wanita tadi?"
"Tidak.... aku menahan untuk tak menerkammu dari tadi saat di mobil"
"Kenapa? Aku tak menggodamu"
"Tapi aku ingin... bagaimana? "
"Emmmbbb. ..."
Kabir membaringkan Shofia dan segera menuntaskan semua keinginannya untuk menguasai Shofia.
Sedangkan Shofia nampak pasrah dibawah kekuasaan Kabir yang terus memporak porandakan tubuhnya.
__ADS_1
Sampai pelepasan terakhir dan desahan itu berhenti.
"Lelah?"
"Menurutmu? "
"Aku masih ingin lagi..."
"Apa kamu tak lapar?"
"Lapar... kalau begitu kita makan dahulu... kamu tunggu disini "
"Makanannya pasti sudah dingin ...."
"Ada microwive kan?"
Kabir menunjuk sebuah benda diatas meja samping pintu kamar. Dan dia baru sadar kalau kamar ini ada microwive serta kulkas portablenya. Kecil dan rapi diatas meja.
"Eh.. aku baru sadar..."
"Aku juga... hahhaha"
Kabir segera memakai boxernya dan membawa nampan makanan kearah microwive.
Sedangkan Shofia memilih tiduran diatas ranjang tanpa memakai baju.
Toh sudah tertutup selimut.
Kabir juga tak malu memakai boxer saja.
Setelah 10 menit, Kabir akhirnya kembali dengan nampan yang berisi makanan panas. Terlihat asap mengepul disetiap piring dan mangkuk.
"Ayo makan..."
"Emmm aku tak kau ambilkan kimono?"
"Tak usah... kamu seksi seperti ini..."
"Hah?"
"Seksi... dada terlihat setengah, mulus, putih serta beberapa Kissmark, sangat menggoda"
"Kamu mesum! "
"Tidak... lihat raut wajahmu dan juga rambutmu"
"Kenapa?"
"Terlihat selesai bercinta"
"Memang kita selesai bercinta bukan?"
"Tidak. .. kita tadi baru pemanasan"
"Kamu gila..."
"Hahahaha. ... ayo makan"
"Emmm...."
Mereka akhirnya memakan makanan Mereka.
"Mau apa?"
"Membawamu kekamar mandi!"
"Oh.... ambilkan kimono dulu"
"Iya iya..."
Akhirnya Kabir mengalah, dan mengambilkan kimono mandi untuk Shofia.
Setelah dipakai, tanpa aba-aba Shofia mencoba berdiri dengan cara memeluk Kabir.
"Darl... jangan dipaksa"
"Apa? Ini tak sakit"
"Tapi..."
"Alan tadi bilang kalau aku harus banyak berlatih"
"Aku tahu, tapi kamu baru saja menjalani terapi"
"Tak apa .. aku ingin berjalan pelan"
"Baiklah...."
Kabir akhirnya menuruti kemauan Shofia. Memegang kedua tangan Shofia dengan erat, takut kalau Shofia hilang keseimbangan dan jatuh.
Shofia berjalan begitu pelan. Sedikit diseret. Ya, karena sebenarnya ada rasa nyeri sedikit.
Shofia tersenyum begitu lebar saat sampai didepan bathtube.
"Sakit?"
"Tidak"
"Kamu berbohong kan? "
"Kabir. ..."
"Mana yang sakit?"
"Pergelangan kaki"
"Bekas keseleo kemarin?"
"Sepertinya begitu"
"Kalau begitu istirahat dulu ya, setelah sembuh baru latihan lagi"
"Iya iya...."
"Shofia. .."
__ADS_1
"Iya..."
"Jangan paksakan dirimu untuk sembuh, aku tetap menerimamu bagaimanapun kondisi kamu"
"Aku tahu itu...."
"Kabir ini tetap milik Shofia"
"Kabir "
Shofia memeluk Kabir dengan erat. Dia bahagia saat Kabir mengatakan hal hal manis untuknya.
"Mandilah. .. dan kita akan berjalan jalan didepan "
"Istirahat di hotel saja ya..."
"Kamu lelah? "
"Hmm. ..."
"Baiklah... nikmati waktumu mandi, setelah itu kita istirahat "
"Terima kasih "
"Untuk apa?"
"Semuanya.... semua hal yang kamu berikan untukku"
"Aku suamimu, apapun akan aku lakukan selagi aku bisa"
Shofia tak mampu membalas perkataan Kabir lagi, dia hanya tersenyum dan lekas berendam.
"Panggil aku kalau kamu sudah selesai"
"Iya...."
Kabir berjalan menjauh. Shofia tersenyum saat Kabir duduk di ranjang dan mengambil laptopnya. Setidaknya suaminya tetap Ello Kabir yang dulu, gila kerja.
30 menit Shofia berendam, akhirnya Shofia memanggil Kabir. Dan saat itu pula Kabir tersenyum sambil membawa kimono mandi serta handuk bersih.
"Sudah?"
"Iya..."
Kabir segera mengangkat Shofia, dan Shofia mencoba berdiri di depan Kabir dengan berpegangan pada Kabir.
Kabir dengan pelan membantu Shofia memakai kimono dan menyelimuti rambutnya dengan handuk.
Dengan sigap Kabir menggendong Shofia dan didudukkan di depan meja rias.
Dengan telaten Kabir mengeringkan rambut Shofia dan membantunya memakai piyama tidur.
"Aku ingin cepat cepat berjalan"
"Kenapa? "
"Aku selalu merepotkanmu "
"Aku tak merasa direpotkan "
"Hmmm... kamu selalu begitu "
Kabir tersenyum dan membantu Shofia berdiri. Menuntun Shofia untuk berjalan pelan kearah ranjang.
"Aku selalu bersedia untuk kamu repotkan, sayang "
"Terima kasih "
"Hmm... istirahatlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar "
"Hmmm.... apa ada masalah?"
"Tidak, hanya laporan yang harus aku koreksi"
"Oh .... Kabir. .."
"Ya... ada apa?"
"Kapan kita pulang?"
"Satu minggu lagi, atau setelah pengobatanmu selesai "
"Itu pasti lama"
"Tidak... Alan berkata kalau hanya memerlukan sekitar 3 kali terapi akan mengalami kemajuan pesat"
"Semoga saja"
"Berdoa dan berusaha, ya?"
"Iya... Shofia. ..."
"Iya..."
"Apa kamu mau untuk segera hamil?"
"Kenapa menanyakan itu?"
"Aku ingin segera memiliki anak"
"Berdoa ya....."
"Apa kamu keberatan? "
"Tidak... kenapa harus keberatan?"
"Karena jaman sekarang, banyak yang menunda kehamilan karena beberapa hal"
"Kabir... dengarkan aku, anak adalah hadiah, kenapa kita menolak hadiah. Seharusnya bahagia"
"Shofia, terima kasih. ..."
"Jangan berterima kasih, aku istrimu"
"Aku tahu.... istirahatlah "
__ADS_1
"Iya...."
***********