
Dominic mansion- Manchester, Inggris
Pagi ini Shofia, Kabir, dan baby Rafael sudah berada di depan mansion megah bergaya Victoria.
Sudah lama dia tak berkunjung kemari. begitupun Kabir, semenjak menikah dia belum datang berkunjung lagi.
Mereka segera disambut oleh pelayan dan pengawal yang bekerja di mansion ini.
Dan diruang keluarga sudah ada ayah dan ibunya yang sedang mengobrol.
"Dad... Mom...."
Pasangan paruh baya itu segera menoleh, dan melihat anak serta cucu datang. Nampak begitu bahagia.
"Kalian datang tak memberi kabar!?"
"Kami mendadak, mom.. lama tak kemari jadi rindu"
"Syukurlah kalau masih ada rindu... Ayo duduk, dan ahhh... Lihatlah jagoan gembul ini...."
Ellena, ibu Kabir segera menggendong sang cucu yang tengah tertidur lelap.
Sedangkan Leonard, ayah Kabir juga menghampiri tapi tak terlalu banyak bicara.
"Lihatlah cucu kita.. ya ampun..."
"Iya dia begitu tampan...."
"Bagaimana kalau biarkan dia disini saja...."
"Bagaimana bisa begitu?"
Kabir segera menyela, nampak tak setuju. Ya, dia juga tak bisa jauh dari Rafael.
"Ya mau bagaimana lagi, memiliki anak kembar... Tapi sama sekali tak bisa bersama.... Yang perempuan memilih tinggal di Turki dan bahkan menikah dengan pria India... Sedangkan yang lelaki, disuruh menetap malah sibuk di New York sedari remaja.... Memang nasib!?"
"Mom....."
"Kalian pasti lelah, kekamarlah... Biarkan Rafael bersama kami"
Ya, Leonard sudah berdiri menghampiri cucunya dan segera menggendongnya.
"Leo... Lihatlah dia begitu tampan ...."
"Iya.... Dia memiliki warna mata hijau...."
"Perpaduan yang bagus, bukan?"
"Hmm...."
Kabir dan Shofia hanya duduk, dan membiarkan kedua orang tua itu menumpahkan seluruh rindunya.
Shofia yang melihat itu begitu senang, setidaknya banyak orang yang menyayangi Rafael dengan tulus.
Kabir merangkul Shofia yang begitu terlihat senang. Setelah sekian lama banyak badai yang datang, akhirnya mereka dapat bersantai.
Shofia juga berfikir begitu. Banyak rintangan yang selalu mereka terima, sempat akan menyerah dengan semua ini tapi cerita Leonard serta Ellena selalu menguatkannya.
Shofia ingin menjadi wanita tangguh seperti Ellena, tetap menemani dan melawan semua hal bersama Leonard.
Dan Shofia melakukan itu.
"Ayo kekamar..."
"Hmm ..."
Sedari tadi melamun, sampai tak sadar kalau Rafael dan kedua mertuanya sudah pergi kekamar mereka.
Shofia akhirnya mengikuti Kabir masuk kedalam kamar lantai dua.
Sangat jarang Shofia kemari, dan hari ini dia datang lagi setelah insiden hilangnya Kabir dulu.
Shofia mengingat kembali, dulu saat tinggal dikamar ini dia selalu menangis memikirkan Kabir.
Shofia duduk disisi ranjang, sedangkan Kabir memilih untuk mandi.
Kabir memang tak terlalu banyak berbicara setelah datang kemari, mungkin dia begitu senang bisa kemari.
__ADS_1
Ya, Shofia beruntung memiliki Kabir yang selalu hangat pada keluarga.
Shofia membuka ponselnya, dan ada beberapa panggilan dari kakak kakaknya.
Menanyakan kabarnya, serta perkembangan kasus Adam dan Fio.
Tak sampai 20 menit, Kabir sudah keluar hanya dengan memakai kimono mandi.
"Mandilah, sudah aku siapkan air hangatnya"
"Ehm...."
Shofia segera meletakkan ponselnya dan beranjak kekamar mandi.
Benar, Kabir sudah menyiapkan air hangat di bak mandi serta menuangkan aroma terapi.
Setelah lebih dari 30 menit, Shofia keluar dari bak mandi dan mengambil jubah mandi serta handuk.
Shofia juga keluar dengan jubah mandi putih.
"Apa koper kita belum datang?"
Ya, koper mereka berdua ketinggalan karena kelalaian Rio. Dan koper itu masih diperjalanan.
"Belum... Pakai pakaianku saja dulu"
"Baiklah...."
Shofia kembali masuk kedalam kamar mandi dan segera mengambil kemeja hitam yang cukup besar.
Setelah memakai kemeja itu, Shofia akhirnya keluar.
"Bagaimana dengan ini?"
Kabir belum menjawab tapi dia memperhatikan Shofia dan tersenyum manis.
Shofia begitu seksi dengan memakai kemeja kebesaran ini serta rambut yang masih basah.
Kabir segera meletakkan laptopnya dan memperhatikan Shofia.
Shofia hanya mengangguk, dan duduk di sofa tampar Kabir duduk.
Kabir segera menuju laci penyimpanan dan mengambil hair dryer.
Kabir dengan pelan serta lembut mengeringkan rambut Shofia.
Menguar wangi Shofia yang sama dengannya. Mint.
"Sayang ...."
"Emmmm...."
"Rafael sedang berlibur dengan dad dan mommy...."
"Kemana?"
"Villa mereka mungkin... Pulang besok atau lusa"
"Bagaimana bisa? Bagaimana kalau Rafael menangis?"
"Tidak akan .... Mommy pasti bisa menjaganya.... "
Akhirnya Shofia tak menyela, dia percaya toh pola asuh Ellena begitu baik.
"Kapan pakaian kita akan sampai?"
"Mungkin nanti, atau aku akan menyuruh kepala pelayan untuk membelikan beberapa pasang baju..."
"Baiklah...."
Setelah selesai mengeringkan rambut Shofia. Kabir memeluknya dengan erat.
"Emm... Ada apa?"
"Lama bukan kita tak memiliki waktu yang begitu santai?"
"Iya... Semenjak menikah sepertinya banyak sekali hal yang harus diurus"
__ADS_1
"Hmmm..."
Kabir mengecup ringan leher Shofia dan yakin kalau Shofia tak memakai apapun dibalik kemejanya itu.
"Sayang...."
"Hmmm... Ada apa?"
"Apa kamu lelah?"
"Kenapa?"
"Ingin...."
"Iya..."
Dan ya, Shofia lelah tapi dia tak akan bisa menolak apapun yang diminta Kabir saat lelaki ini bersikap seperti bayi.
Kabir begit antusias dan membuka perlahan kancing kancing kemeja itu, tapi belum sampai terbuka semua, Shofia memilih untuk berbalik.
Kabir tersenyum rendah. Tubuh seksi Shofia benar-benar candu untuk Kabir.
Kabir dengan cepat mencium Shofia dan menuntut.
Shofia dengan senang hati menerimanya, dan mengalungkan tangannya di leher Kabir.
Dengan gerakan cepat, Kabir menganggap tubuh Shofia tanpa melepaskan ciuman mereka dan membaringkan tubuh cantik itu di atas ranjang besarnya.
Kabir dengan cepat melepas jubah mandinya dan menyisakan boxer pass body bermerknya.
Dengan susah payah Shofia menelan ludahnya.
Setelah sekian lama Shofia bersama Kabir, dia tetap menjadi wanita bodoh saat melihat Kabir seperti ini.
Otot perut serta tubuh atletis itu begitu menggoda.
Bahkan Shofia begitu gugup saat menyentuh dada bidang Kabir.
"Kau masih sama saja, hmmm?"
Shofia tak menjawab, dan tetap memuja tubuh Kabir.
Gen milik Leonard dan Ellena begitu bagus sampai tercipta lelaki setampan ini.
"Aku tetap menjadi bodoh saat kita seperti ini..."
Kabir terkekeh, dia tak menyangka kalau kalian itu yang keluar dari mulut mungil Shofia.
"Aku juga tetap menjadi tak terkontrol saat bersamamu seperti ini.."
Ya, Kabir sangat memuja tubuh istrinya ini. Dia bahkan tak bereaksi dengan wanita lain, karena pikirannya selalu dipenuhi oleh Shofia.
Akhirnya mereka tertawa bersama.
Shofia mengalungkan tangannya lagi di leher Kabir yang masih terkekeh.
"Benar benar tak menyangka, aku bisa bersamamu sekarang,darl...."
"Kenapa?"
"Iya.... Dulu kau sangat sulit didekati.... Dan sekarang memilikimu seperti mimpi...berdua denganmu.... Melewati masa sulit bersama... Dan sekarang tertawa disini...."
"Aku juga tak menyangka dapat menaklukkan seorang lelaki playboy sepertimu ..."
"Aku bukan playboy..."
"Bukan? Bagaimana bisa kamu mengklaim kalau kamu bukan playboy, kalau seluruh wanita New York tahu namamu"
"Hahaha... Tapi aku tak seperti itu sayang...."
"Hmmm....."
"I love you.... Kau benar-benar pawangku"
"I love you my lion...."
*****TAMAT*****
__ADS_1