Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
Lamaran?


__ADS_3

Shofia terbangun dari tidurnya saat sinar matahari menyapanya.


Shofia sedikit kaget karena dia tak tidur dikamarnya tapi malah dikamar lelaki.


Shofia sedikit mengingat. Dan ya, dia ingat. Semalam dia menghabiskan malam panas bersama Kabir.


Lebih tepatnya dia menyerahkan diri pada lelaki itu.


Dan lelaki yang dipikirkannya sekarang ada disampingnya. Memeluknya dengan erat.


Masih tertidur.


Dan jantung Shofia hanpir melompat saat menyadari kalau keduanya tak memakai apapun hanya selimut tebal yang menutupi mereka.


Banyak bercak merah ditubuhnya. Serta gigitan dipundak Kabir, pasti ulahnya saat pelepasan semalam.


"Morning kiss...cup~"


Ya, tiba tiba Kabir mengatakkan itu dan mengecup bibir Shofia sekilas.


"Kabir!!"


"Apa? Aku belum meminta kompensasi atas gigitan yang sakit ini!"


Kabir menunjukkan bekas gigitan Shofia dipundaknya, dan menampakkan wajah yang memelas.


Shofia menggeleng, lelaki ini memiliki sisi lain.


"Kita impas!"


"Kenapa bisa begitu?"


"Iya, karena kamu sudah memberiku sebanyak ini tanda merah, dan aku hanya menggigitmu"


"Kamu benar benar perhitungan!"


Shofia mengerutkan keningnya. Bisa bisanya Kabir mengatakkan itu.


"Terserah!"


Shofia berdiri begitu saja dan melangkah menuju kamar mandi dengan keadaan tanpa busana.


Shofia tampak biasa saja sedangkan jantung Kabir hampir lepas karena ulah Shofia.


"Wanita itu!"


Bagaimana mungkin Shofia begitu terlihat biasa saja, dengan kulit putih, mulus serta berisi dengan pas itu!


Kabir mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia takut kalau adik kecilnya memberontak, dan membuat ulah di pagi hari.


Kabir mencoba mengalihkannya dengan memeriksa beberapa file serta email yang masuk. Pekerjaannya lumayan banyak.


"Kabir..."


Konsentrasi Kabir hilang saat Shofia memanggilnya. Dan menoleh  adalah suatu kesalahan.


Bagaimana tidak? Kemeja lelaki yang kebesaran itu membungkus tubuh kecil Shofia, serta rambut basah itu menambah keseksian Shofia.


"Kenapa pakai itu?"


"Apa kamu memberiku baju? Kamu tahu tak memiliki baju cadangan, tapi kamu malah membuat gaunku robek semalam!!"


"Hahaha... baiklah, pakailah, aku akan mandi"


"Emm.. aku akan membuat sarapan!"


"Iya, kulkas sudah diisi dengan bahan makanan"


"Iya!"


**


Setelah meninggalkan Kabir dikamar, Shofia berkutat dengan dapur super mewah milik Kabir.


Tapi Shofia malah bingung dengan segala perabot canggih ini, dan alhasil dia memilih untuk membuat pancake dengan saus maple.


Entah Kabir suka atau tidak, dia benar benar tak tahu.

__ADS_1


"Darl..."


"Kabir! Jangan memanggilku seperti itu!"


"Why? Itu sangat manis, atau honey saja"


"Sekali lagi kamu memanggilku seperti itu, aku tak akan menghiraukanmu!"


"Baiklah, tak lagi!"


Kabir terlihat kesal dengan perkataan Shofia. Apa ada yang salah dengan panggilan itu? Wanita lain malah akan berteriak histeris saat mendengarnya.


"Pancake dengan saus maple?"


"Ya, apa kamu tak suka?"


"Emm.. makanan favoritmu?"


"Lumaya suka, kenapa?"


"Bisa ambilkan madu atau original saja?"


"Kamu tak suka maple?"


"Emmm begitulah..."


"Kalau begitu akan kubuatkan lagi"


"Eh.. ini saja.. tak apa! Makanlah"


Shofia terlihat mengerutkan kening saat melihat Kabir memakan pancake itu dengan raut akan muntah.


Shofia segera meraih piring Kabir dan menyingkirkannya.


"Hei! Aku sedang makan!"


"Kamu tak bisa memakan ini! Kenapa dipaksa?"


"Kamu sudah membuatkannya jadi aku tak boleh menyia nyiakannya, kan?"


"Bodoh! Sebentar aku akan membuat sarapan untukmu!"


"Baiklah"


Tak berapa lama, Shofia datang dengan roti isi yang menggiurkan.


"Aku tak tahu kamu suka atau tidak, tapi-"


"Aku suka... terima kasih"


Shofia tersenyum manis. Dia sangat suka saat melihat Kabir dengan tatapan itu. Tatapan manis.


Setelah sarapan selesai, Ar dengan antusias mengantarkan baju kantor serta pakaian dalam untuk Shofia.


Ya, bahkan Ar memanggil Shofia dengan panggilan 'nyonya muda', sangat berlebihan.


"Mau langsung kekantor atau mampir ke apart dulu?"


"Kekantor saja, hari ini ada rapat"


"Rapat apa? Desainer juga rapat?"


"Ya, sebentar lagi musim dingin, jadi merencanakan pakaian musim dingin serta pakaian natal dan tahun baru juga"


"Oh..."


"Kabir.."


"Ya ..."


"Berhenti di apotek"


"Untuk apa?"


"Emm..."


"Beli obat kontrasepsi? Tak usah!"

__ADS_1


"Tapi.. nanti.."


"Shofia, kalau kamu hamil, aku akan menikahimu, sudah! Aku tak mau membuatmu tersiksa karena obat itu"


"Maksutmu?"


"Aku tahu, obat yang kamu beli dulu itu memiliki efek samping mual sampai muntah yang para, jadi-"


"Kamu tahu!? Kamu sering memberikannya pada wanita lain?"


"Bukan-"


"Lalu? Jawab!"


"Hah.. iya iya... mommy yang memberitahuku, lebih tepatnya mommy dulu mengkonsumsi itu dan aku tahu"


"Kabir..."


"Emmm..."


"Ini bukan masalah kamu mau tanggung jawab atau tidak, tapi lebih kearah aku tak mau hamil diluar nikah, kamu tahu aku lahir karena hubungan seperti itu"


"Kita melakukannya berbeda, Shofia! Kita melakukannya dengan sadar! Jadi berhenti berfikir yang tidak tidak!"


"Baiklah"


"Shofia, percaya padaku!"


"Iya, aku pasti percaya"


Kabir tersenyum dan memastikan bahwa wanitanya benar benar mau bersamanya.


Ya, entah perasaan apa.


Tapi yang pasti saat bersama Shofia ada perasaan tenang, dan hangat. Walaupun wanita ini begitu galak. Ya, dia sangat tak tersentuh.


Shofia juga tersenyum menanggapi tingkah Kabir.


Shofia hanya tahu, kalau Kabir dapat dipercaya. Ya, Shofia merasa bahwa Kabir dapat dipercaya dan juga ada perasaan aman bersama dengannya.


"Jadi, jangan konsumsi obat itu lagi"


"Iya"


Shofia nampak bersandar dibangku penumpang. Jarak Brooklyn ke Manhattam memang dekat tapi saat jam berangkat kerja jangan harap akan secepat kemarin.


"Istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat sampai disana"


"Iya"


Kabir tersenyum, saat melihat Shofia memejamkan mata. Dia tahu kalau Shofia kelelahan karena ulahnya tadi malam.


Ya, bagaimana tidak. Kalau fantasinya untuk menyentuh Shofia terwujud. Dia tak akan menyia nyiakannya, bukan?


Dan tak mungkin membiarkan wanita secantik ini tidur dengan tenang.


Bahkan Shofia baru tidur setelah dini hari.


Kabir menggeleng, bagaimana mungkin dia begitu tak rela membiarkan Shofia istirahat dan terus beraktifitas diatas ranjang.


"Shofia, aku bisa gila karenamu"


Ya, dia ingin cepat cepat mengantar Shofia kekantor dan membiarkan wanita ini jauh darinya.


Ar sangat tak perperasaan. Memesankan pakaian kantor yang begitu seksi.


Rok selutut memperlihatkan cetakan bokong yang seksi, serta blouse putih dengan potongan dada rendah. Sangat tak berperasaan.


Kalau saja dia tak ingat kalau hari ini dia harus menghadiri tender yang bernilai ratusan juta dollar dia tak akan membiarkan wanita ini keluar dari penthousenya.


Make up yang natural, bibir berwarna peach, serta warna kulit yang putih pucat sangat mendukung kecantikannya. Apalagi rambut panjang berwarna blonde itu sangat menawan.


Ya, walaupun seingatnya warna rambut Shofia itu Dark brown. Wanita ini lumayan stylis.


Bagaimana tak stylis, kalau dia saja seorang desainer ternama. Hampir melupakan fakta itu.


Shofia oh shofia, kau membuat lelaki yang menjadi incaran wanita wanita luluh padamu.

__ADS_1


******


__ADS_2