Perfect Twins Book I : Oh Darling

Perfect Twins Book I : Oh Darling
uncle??


__ADS_3

"saya yang akan mendonorkan darah saya...."


Semua orang menoleh, dan berdiri seorang lelaki paruh baya dilorong agak jauh.


Lelaki berkulit tanning, dengan kemeja putih.


"Siapa anda??"


"Kamu tak tahu saya? Saya adalah orang yang berhak atas Mariska"


"Maksud anda apa?"


Lelaki itu melangkah pergi dan mengajak suster untuk pengecekkan laboratorium.


Tak berapa lama, datanglah orang tua Kabir beserta kakak kakak dari Shofia.


"Bagaimana keadaannya?"


"Masih didalam kak, Shofia masih memerlukan transfusi darah"


"AB Rhesus positif, kan???"


"Iya kak... Sangat sulit mendapatkannya"


"Ya, dulu juga sangat sulit saat ibu Shofia kekurangan darah... Lalu kamu masih mencari??"


"Tidak, Ada seorang lelaki yang mengenal Shofia, dan dia mendonorkan darahnya"


"Siapa?"


"Entah, dia lelaki berkulit tanning dan berkata kalau dia yang berhak atas Shofia"


"Adam?"


"Siapa Adam?"


"Kalau benar itu Adam, berarti dia adalah paman Shofia, adik dari mama kandung Shofia, Retta"


"Tapi dia memiliki tatapan kebencian"


"Ya ... Sebentar lagi kamu akan tahu, Kabir"


Setelah memastikan semuanya baik baik saja, keadaan Shofia mulai stabil dan bayinya tak ada masalah, orang tua Kabir serta Luna, kakak Shofia berpamitan untuk pulang.


Sedangkan Morgan tetap disana untuk menemani Kabir dan menunggu si lelaki pendonor darah.


Dan benar, 30 menit kemudian lelaki itu datang. Dan tersenyum remeh pada kedua lelaki yang berada diruang tunggu.


"Nak Morgan, lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?"


"Saya baik, anda kenapa disini?"


"Menyelamatkan keponakan saya"


"Oh begitu... Terima kasih, anda bisa pulang sekarang?"


"Kenapa buru buru mengusirku? Aku masih ingin melihat keponakanku dan juga bayinya"


"Apa anda hilang ingatan?"


"Maksudmu apa?"


"Saya tahu, Anda kemari hanya untuk mencari keributan dibalik sikap baik anda.. benar bukan?"


"Kamu salah besar!"


"Saya salah besar? Anda yang membuat saya seperti ini, siapa dulu yang tak mau mengakui Shofia? Bahkan ditelantarkan dibandara seorang diri karen tahu kalau semua warisan papa masih ditangan saya"


"Itu hanya kesalahan masa lalu"


"Hanya??? Perbuatan anda sangat membekas asal Anda tahu itu!!! Gara gara anda adik saya menjadi down!!"


"Hei... Anda jangan melimpahkan semua kesalahan pada saya, anda dan keluarga anda juga membuatnya jatuh!"


"Tapi, kami masih peduli, kami sayang...."

__ADS_1


"Tolong, jangan bertengkar disini"


Kabir bersuara setelah mendengar semua itu. Dia tak tahan saat mendengar peristiwa peristiwa yang membuat istrinya sedih.


"Biarkan Shofia yang memutuskan, anda bisa disini atau pergi"


"Oke.... Aku akan menunggu keputusan itu"


Kabir dan Morgan tak menjawab, mereka lantas duduk. Dan diseberang mereka ada Adam yang duduk dengan angkuh.


Kabir mengamati lelaki paruh baya didepannya. Sepertinya yang dikatakan Morgan ada benarnya.


Lelaki ini berperawakan tak terlalu tinggi, berkulit tanning, serta pakaian formal mewah. Serta jangan lupakan kalung emas besar itu.


Kabir nampak menyayangkan sikap dan penampilan Adam.


Lelaki didepannya ini terlihat seperti maniak harta.


Bahkan dia dengan santai, mengamati cincin cincin yang terselip dijari jemarinya.


Nampak sombong.


Insting Kabir bekerja, lelaki ini tak cukup baik.


Kabir mencoba tenang. Dia tak akan mencari masalah pada Adam selama Adam tak berbuat aneh.


3 jam menunggu, Adam masih disana. Sesekali tersenyum licik dan mengetik sesuatu pada layar ponselnya.


Dan setiap gerak geriknya terekam oleh mata Kabir dan Morgan.


Kabir dan Morgan pun sesekali bertetapan. Mengatakan sesuatu tanpa bersuara.


Mereka tak akan tinggal diam saat sesuatu menimpa pada keluarga mereka.


"Suami dari nyonya Shofia...."


"Saya suaminya...."


Kabir segera berdiri dan suster itu mempersilahkan Kabir masuk. Tetapi sebelum Kabir masuk, sudah dihadang oleh Adam.


"Saya paman sahnya, seharusnya saya lebih dulu yang menengoknya"


"Ini tak bisa!! Pasti ini tipuan kalian!!"


"Tuan Adam... Tolong jangan buat keributan, ini rumah sakit... Pasti istri saya belum tahu kalau anda datang"


"Saya bukan hanya datang, tapi meendonorkan banyak darah saya!!"


"Saya tahu... Silahkan anda tunggu, saya akan berbicara dengan istri saya"


"Kamu memang harus berbicara!!"


Kabir tak menjawab dan segera masuk.


Istrinya terlihat pucat dan tak berdaya dengan semua alat bantu medis tapi wanita itu masih bisa tersenyum saat melihat Kabir.


"Sayang.... Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik, anak kita?"


"Lelaki sayang, dia sedang diruang berbeda"


"Hmmm .... Siapa yang diluar??"


"Kak Morgan dan uncle Adam"


"Uncle Adam??"


"Ya... Kamu mengenalnya?"


"Ya.... Kenapa dia kemari?"


"Dia pendonor darah untukmu, sayang"


"Oh.... Ucapkan terima kasihku untuknya, sayang"

__ADS_1


"Tentu.... Dia mendesak untuk masuk"


"Aku hanya ingin kamu temani...."


"Aku mengerti...."


"Kabir.... Siapa nama anak kita??"


"Bagaimana kalau Rafael Ravindra Dominic?"


"Nama yang bagus....."


"Shofia.... Terima kasih untuk perjuanganmu selama ini"


"Kabir... Aku tak berjuang sama sekali"


"Tapi kamu sudah sejauh ini berkorban untuk keluarga kita, aku berjanji akan menjadi tamengmu dan menjaga keluarga kecil kita"


"Kabir... Aku mencintaimu...."


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang...."


"Permisi, tuan dan nyonya.... Tuan Adam memaksa untuk masuk kedalam kamar ..."


"Tolong, bawa masuk saja, suster"


"Baik nyonya"


Perawat itu lantas pergi dan Kabir segera menatap Shofia yang tengah memejamkan mata.


"Keponakanku ... Bagaimana keadaanmu?"


"Saya baik, paman"


"Ah ... Jangan begitu denganku.... Aku ini walimu.... Jangan terlihat jauh"


"Kita memang jauh, paman... Paman seorang pengusaha, dan saya hanya wanita yang menumpang hidup pada kakak dan suami saya"


"Halah... Menumpang apa? Kamu memiliki semua yang kamu mau... Jangan merendah"


"Paman ada apa kemari??"


"Paman merindukanmu, bertahun-tahun tak bertemu..."


"Paman, langsung pada inti pembicaraan saja"


"Baiklah ... Sebenarnya, paman tadi kerumah kalian dan para pengawal disana mengatakan kalau kalian sedang kerumah sakit jadi paman kemari..."


"Lalu???"


"Paman ingin tahu kabarmu... Maafkan paman karena paman dulu sangat ceroboh dan bodoh, menelantarkan keponakan secantik dan sebaik kamu"


"Paman...."


"Dan sebenarnya, paman tadi ingin menitipkan anak paman dirumahmu, karena dia tak mau ikut pulang paman ke Indonesia..."


"Kenapa harus dirumahku???"


"Karena paman akan sangat percaya padamu, Maris-"


"Namaku Shofia, bukan Mariska"


"Baik, Shofia... Paman percaya padamu, paman tak mungkin meninggalkan anak gadis paman di kota besar ini, dia begitu polos bagaimana kalau terjadi apa apa pada anak gadis paman?"


"Paman orang kaya, paman bisa menyewa apartemen dan pengawal untuk anak gadis anda!"


Kabir mulai tak santai lagi, dia tahu ada niat terselubung dipermintaan tolong itu.


"Tapi Kabir, apa ada salahnya kalian menolong paman.... Paman tak akan tenang, paman pulang ke Indonesia untuk merawat bibi kalian... Jadi tolong bantulah paman"


"Apa paman ingin membuat sesuatu hal pada keluarga kami??"


"Jangan berprasangka buruk seperti itu, paman akan secepatnya kembali agar kalian tak terbebani terlalu lama"


"Baiklah paman, tapi jikalau anak paman berbuat hal aneh, kami berhak untuk mengusirnya ataupun menghukumnya"

__ADS_1


"Baiklah baiklah... Terima kasih banyak, Shofia.. Kabir..."


*****


__ADS_2